Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Jangan terlalu akrab


__ADS_3

"Princess, dewi peri sangat takjub sekali pada princess. Semakin hari, princess semakin pintar dan mandiri. Daddy pasti sangat bangga sekali pada princess," puji Rumanah yang sedang mengikat rambut putri sambungnya itu.


Sandrina tersenyum senang dan penuh manja. "Benarkah begitu? Daddy akan bangga pada princess?" tanya gadis kecil itu antusias.


"Tentu saja, sayang. Makanya princess harus terus belajar dan berlatih agar menjadi anak yang baik dan pintar. Dengan begitu, Daddy akan semakin bangga dan senang," jawab Rumanah dengan senyuman hangatnya. Ia sangat menyayangi gadis kecil itu seperti anak kandungnya sendiri.


"Oke, princess akan terus belajar agar dapat selalu menjadi kebanggan Daddy!" sorak Sandrina antusias.


"Bagus, dewi peri sangat senang melihat semangat princess," sahut Rumanah.


"Tok tok tok!" terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Siapa itu, dewi peri?" tanya Sandrina.


Rumanah menggeleng kecil. "Entah, dewi peri juga tidak tahu. Emh, tunggu sebentar, ya. Dewi peri akan melihatnya," ucapnya yang kemudian beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kaki menghampiri pintu.


Ceklek!


Rumanah membuka handle pintu, dan ternyata seorang pria sedang berdiri di hadapannya.


"Oh, kau rupanya. Ada apa?" tanya Rumanah.


"Tuan Andre memintamu untuk membawakan air hangat ini ke kamarnya." Deni menjawab sembari menyodorkan segelas air hangat kepada Rumanah.


Rumanah mengerutkan dahi. "Kenapa harus aku? Kau saja, ya. Aku akan—" belum selesai bicara, dengan cepat Deni menyela.


"Kau tidak dapat membantah perintah Tuan besar, Rumanah! Aku tidak bisa mengantarkannya karena Tuan ingin kau yang mengantarkan air hangat ini!" tegas Deni penuh penekanan.


Rumanah terdiam dan tak mampu menjawab. Tentu saja semua orang tahu bagaimana sifat sang pemilik rumah itu.


"Ada apa, dewi peri?" tanya si cantik Sandrina yang tampak menghampiri Rumanah.


"Emh, ini sayang. Daddy meminta dewi peri untuk mengantarkan air hangat ini ke kamarnya." Rumanah menjawab dengan suara yang lembut dan sangat hati-hati.


"Ooooh, begitu. Ya sudah kalau gitu antarkan saja, nanti Daddy marah lhooo pada dewi peri," ucap gadis kecil itu. Bahkan, putri mahkotanya yang masih kecil itu pun sangat hafal dengan sifat Daddy nya itu.


"Naaah! Betul sekali, princess! Bahkan nanti Om Deni pun akan kena marah oleh Daddy princess." Deni yang tak lain adalah pelayan pribadi Andre tampak menimpali.


"He he he, benar sekali. Soalnya ... Daddy itu kalau sedang marah akan seperti pohon ubi," sahut Sandrina.


"Hah? Kok seperti pohon ubi, sayang?" tanya Rumanah.


"Ya, seperti pohon ubi yang menjalar ke mana-mana. He he he," jawab Sandrina disertai cengengesnya.


Rumanah dan Deni tampak tertawa kecil mendengar ucapan princess Sandrina.


"Ha ha ha, princess ini ada-ada saja." Deni tertawa.


"Ha ha ha, benar sekali. Dari A sampai Z pasti disebut semua. Ha ha ha," timpal Rumanah yang juga tertawa.


"Hahaha!" mereka bertiga tertawa.


Sesaat kemudian...


"Ssssst! Jangan tertawa, Tuan akan marah jika tahu akan hal ini," ucap Deni.


Rumanah dan Sandrina melipat bibirnya ke dalam dan diam tak melanjutkan tawanya lagi.


"Ya sudah, kalau gitu sekarang princess sarapan dulu, sementara dewi peri akan ke atas sebentar, ya," ucap Rumanah pada putri sambungnya.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya," jawab Sandrina.


Rumanah mengangguk serta tersenyum.


"Kalau gitu biar Om Deni gendong belakang, mau tidak?" tawar Deni.

__ADS_1


"Mau mau mau!" sorak Sandrina yang tampak antusias.


Deni pun menggendong Sandrina menuju meja makan. Sementara Rumanah tampak bergegas masuk lift yang akan mengantarkannya ke lantai lima.


Tring!


Pintu lift terbuka. Dengan cepat ia melangkah menuju kamar suaminya.


Sreeeetttt!


Pintu kamar terbuka sendirinya, kini ia sudah mahir menekam tombol di samping pintu itu.


"Apa lagi yang dia inginkan? Aku sangat kesal pada perbuatannya tadi," cicit Rumanah dalam hati.


Di dalam, Andre tampak sedang berdiri di depan jendela. Pria tampan itu tampak belum mengenakan pakaiannya.


"Astaga, kenapa dia senang sekali seperti ini? Apakah tidak masuk angin keseringan tidak pakai baju di dalam kamar yang dingin ini," cerocos Rumanah dalam hati.


Rumanah meletakkan segelas air hangat untuk suaminya di atas meja. "Ini air hangatnya, Tuan." ucapnya.


Andre tersenyum seraya melangkahkan kakinya menghampiri istrinya. "Terima kasih, sayang." ucapnya seraya melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya.


Rumanah tampak sedikit terlonjak laget. Namun, ia tidak melepaskan pelukan suaminya.


"Kenapa Anda belum siap-siap, Tuan?" tanya Rumanah seraya menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


"Aku ingin kau yang menyiapkan dan memakaikan pakaianku, sayang," jawab Andre yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.


"Hah? Anda ingin seperti princess, gitu? Astaga, ini tidak lucu, Tuan. Anda sudah tua, sudah bisa melakukan apa pun sendirian." Rumanah mengomel seraya melepaskan tangan suaminya.


Andre tersenyum kecil. "Sepertinya kau memang masih bocah, Annabelle." ucapnya.


Rumanah menaikkan alisnya tak mengerti.


"Di dalam pernikahan, seorang istri harus menjadikan suaminya sebagai raja. Dan, sang suami pun harus menjadikan istrinya sebagai ratu. Artinya, kau harus melayaniku dari hal sekecil apa pun. Kau tahu? Hal yang aku minta ini ... tidak pernah dilakukan oleh ... lintah darat itu. Jadi, aku sangat ingin kau yang melakukannya. Dengan begitu, kau sangat terlihat seperti istriku sungguhan," terang Andre yang tampak teredengar serius.


"He he he, bukan begitu." Andre mengelak. "Maksudku, agar kau benar-benar seperti seorang istri. Aku rasa kau dapat mengerti," lanjutnya.


Rumanah mengangguk. "Ya, saya mengerti." jawabnya.


Andre tersenyum.


"Tunggu di sini, saya akan mengambil pakaian Anda." wanita cantik itu bergegas melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaian suaminya.


Melihat antusias sang istri, diam-diam Andre tersenyum kagum dan senang. Ia bahkan sempat berpikir untuk secepat mungkin mengungkap pernikahannya pada sang putri mahkota.


"Yang ini?" tanya Rumanah seraya menunjukkan satu stel pakaian kerja suaminya yang berwarna milo.


"Tidak masalah. Karena tubuhku selalu cocok mengenakan pakaian berwarna apa pun," jawab Andre penuh percaya diri.


Rumanah memutar bola matanya malas dan memencengkan bibirnya. Kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati suaminya.


"Rentangkan tangan Anda," perintah Rumanah.


"Pakaian dalamku mana? Kau mau suamimu membiarkan senjata tajamnya tidak terbungkus rapi?" seloroh pria tampan itu.


Rumanah tampak menyengir kudanil dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "He he he, benar juga. Tunggu sebentar, ya." ucapnya yang kemudian melangkahkan kakinya kembali.


Andre tersenyum gemas.


"Ini, silakan dipakai. Anda tidak mungkin seperti bayi, bukan?" ucap Rumanah seraya menyerahkan pakaian dalam suaminya.


"Hmmm, of course," sahut Andre.


Andre pun mengenakan pakaian dalamnya di hadapan istrinya.

__ADS_1


"Ck, tidak bisakah tanpa membuka handuk? Benar-benar meresahkan!" cicit Rumanah sebal.


"He he he, tahan dirimu, Belle. Jangan tergoda. Hm, okey, sudah selesai." ucap Andre.


Rumanah membuang napasnya kasar. "Princess pun sudah belajar memakai pakaiannya sendiri, Tuan." ucapnya sembari memakaikan kemeja suaminya.


"Oh ya? Aku sangat terkejut, apakah dia sudah bisa?" tanya Andre antusias.


"Saya bilang, sedang belajar, jadi ... belum seutuhnya bisa. Hehe," jawab Rumanah seraya memasangkan satu persatu kancing kemejanya.


"Hmmmm, begitu. Tapi, kau sangat cantik hari ini, bay the way, untuk siapa cantikmu itu?" ucap Andre seraya menoel hidung istri cantiknya.


Rumanah mengerutkan dahi. "Ish, gak nyambung deh!" desisnya.


Andre terkekeh.


"Memangnya Anda baru sadar kalau saya cantik? Hihi," godanya disertai cekikikannya.


Andre tersenyum gemas dan menangkap tangan kanan istrinya. "Tidak, aku sudah menyadarinya sejak kau berada di dalam kandungan ibumu." jawabnya.


"Hah? Jangan ngawur! Kita saja baru bertemu saat saya sudah dewasa seperti ini. Astaga!" cicit Rumanah.


"Hehehe, tapi aku sudah dapat menebak jika ada seorang wanita cantik di muka bumi ini. Dan ternyata itu adalah kamu!" ucap Andre.


"Hmmm, gombal!" sosor Rumanah.


Andre terkekeh. "Oh ya, Belle. Aku tidak suka melihatmu terlalu akrab dengan pria itu." ucapnya.


"Pria?" Rumanah mengerutkan dahi.


"Ya, sepertinya dia jatuh cinta padamu," lanjut Andre.


Rumanah tampak mengerutkan dahinya tak mengerti. "Pria siapa, Tuan?" tanyanya.


Andre terdiam sejenak dan membuang napasnya kasar. "Muhsin!" jawabnya dengan suara yang dingin.


"Haaaahh???" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan sangat terkejut mendengar ucapan suaminya.


"Mulai saat ini, kau harus menjaga jarak dan sikapmu. Aku tidak ingin siapa pun memperlakukanmu seperti tadi. Pipimu ... disentuh oleh pria itu. Ck, menyebalkan!" tegas Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah tampak menelan ludahnya kasar dan menatap ngeri pada suami tampannya yang sedang cemburu itu.


"Kenapa kau diam? Kau tidak mau menuruti perintah suamimu ini?" desak Andre seraya memelototkan matanya.


"Hah, tidak tidak tidak, Tuan!" sanggah Rumanah dengan cepat. "Tentu saja saya akan menuruti segala perintah dan keinginan suami saya yang paling tampan ini," ucapnya seraya membelai lembut dada bidang suami tampannya itu.


Andre tersenyum senang dan menangkap tangan istrinya.


Cup!


Pria tampan itu mengecup lembut tangan istri sirrinya. Tapi, ada yang mengganjal di sana. Andre tidak menemukan cincin kawin yang ia sematkan di jari manis Rumanah. Ya, cincin yang serba salah. Cincin yang tidak pas di jari mana pun.


"Ke mana cincin yang kusematkan di jari manismu, Annabelle?" tanya Andre seraya menatap penuh selidik pada istri cantiknya itu.


Rumanah tampak menyengir kuda tanpa dosa. "Hehehe, itu, emh ... cincinnya ... ini!" jawabnya seraya menunjuk pada kakinya.


Andere menundukkan wajahnya saat itu juga. Dan, betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah cincin permata indah yang harganya tidaklah murah, kini bersarang di jari telunjuk kaki istrinya.


"Whaaaattt?????" pria tampan itu tampak membulatkan kedua bola matanya penuh.


"Ada apa, Tuan?" tanya Rumanah tanpa dosa.


"Kenapa kau pakai di sana, Annabelle!?" tanya Andre penuh desakan.


"Hehehe, sebab tidak dapat dipakai di jari tangan saya, Tuan. Lagi pula sengaja saya sembunyikan agar tidak menyita kecurigaan publik tentang cincin ini," jawab Rumanah dengan entengnya.

__ADS_1


"Adeeuuhhh!" Andre tampak menepuk jidatnya, pusing.


BERSAMBUNG...


__ADS_2