
"Kalian saling mengenal?" tanya Pak Rahman dengan tatapan keheranannya.
Ririn mengangguk. Sementara Ferhat tampak mepet padanya dan begitu terlihat seolah mereka begitu sangat akrab. Padahal aslinya tidak seakrab itu. Semenjak Ferhat tahu jika Ririn sudah memiliki kekasih, pria tampan itu jarang sekali menemui Ririn bahkan mengobrol enteng seperti biasa. Ia hanya menjadi penggemar rahasia dan mencintai dalam hati.
"Ya, Om. Dia Ferhat, adik ipar bos Ririn," jawab Ririn yang berhasil membuat Marco dan juga Pak Rahman begitu terbelalak kaget.
Marco tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tak mengerti dengan apa yang terjadi. Pasalnya, ia benar-benar pernah melihat Ferhat di perusahaan Naga Mas Group tempat kekasihnya bekerja. Dan saat itu ia melihat jelas jika Ferhat hanya sebagai staf di perusahaan itu.
"Oooooh, begitu rupanya. Jadi, kau adik ipar bos Ririn? Pantas saja kalian saling mengenal," ucap Pak Rahman.
Ririn mengangguk. Ia sebenarnya bingung, kenapa Ferhat bisa ada di sana?
"Ya. Dan Ferhat memang bekerja di perusahaan Naga Mas Group, Om. Ferhat menjadi staf manager di sana," ungkap Ferhat tanpa ragu.
Pak Rahman tampak mengerutkan dahinya dan menatap tak percaya pada Ferhat, "Apa? Bekerja di perusahaan itu sebagai staf manager?" ucapnya yang tampak syok dan kaget.
Ferhat mengangguk, "Benar, Om," jawabnya singkat.
"Nah 'kan! Benar yang Marco katakan tadi, Pap. Dia itu staf di perusahaan Naga Mas Group, bukan putra almarhum Tuan Zaki yang teman Papa itu!" timpal Marco dengan raut wajah yang sinis dan tidak bersahabat.
Ferhat hanya tersenyum kecil dan menatap datar pada Marco.
"Marco, sebaiknya kau kenalan dulu dengan Ferhat. Dia benar-benar put—" belum sampai Pak Rahman menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Marco menyelanya.
"Tidak sudi, Pap!" tolak Marco dengan cepat menyela ucapan Papanya.
Pak Rahman tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap jengkel pada putra tunggalnya itu. Sementara Ririn tampak menatap heran pada kekasihnya yang sangat terlihat egois dan songong. Sedang Ferhat, ia tampak tetap santai dan tersenyum tanpa dosa.
"Marco tidak sudi kenalan dengan staf yang berani mengintip kekasih Marco ketika bekerja!" lanjut Marco yang berhasil membuat Ferhat terbelalak kaget.
"Apaa??" Ririn tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh kekasihnya.
"Marco! Astaga. Kau jangan asal bicara," tegur Pak Rahman dengan raut wajah yang terlihat tidak nyaman. Tentunya ia merasa tidak enak hati pada Ferhat.
"Wah, sepertinya kau sedang mabuk," desis Ferhat yang tampak sedikit kesal.
Marco tampak memelototkan kedua matanya dan menatap tajam pada Ferhat. Sementara Ririn begitu tidak mengerti dengan keadaan di hadapannya.
"Sayang, apakah kau bicara fakta? Itu sangat tidak mungkin," ucap Ririn pada kekasihnya.
"Aku bicara jujur dan sesuai fakta, sayang!" jawab Marco penuh penekanan, "Dia, kau ingat tempo hari saat aku menemuimu di tempat kerjamu? Aku bilang saat itu ada yang mengintipmu, bukan?" lanjutnya sembari menatap serius pada kekasihnya.
Ririn terdiam dan memutar otaknya berpikir keras. Tak lama kemudian ia mengangguk mengiyakan.
"Nah! Ini orangnya. Dia ini, dia yang mengintipmu, sayang." Marco bicara sembari mengarahkan telunjuknya pada wajah Ferhat.
"Apaaa??" Ferhat tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kesal pada kekasih Ririn yang tersenyum licik padanya.
"Marco, sebaiknya kau jangan asal bicara. Mungkin kau salah melihat," ucap Shinta yang tak lain adalah Mama Marco.
Marco menggeleng dengan cepat, "Tidak, Mam. Marco benar-benar tidak salah melihat. Mata Marco masih normal, Mam! Dia benar-benar sedang mengintip Ririn yang sedang bekerja di dalam ruangannya. Aku yakin kau juga pasti masih ingat hari itu, Ferhat!" ujarnya yang tampak menekan setiap ucapannya.
Ferhat tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya, "Ya, benar. Aku masih ingat. Waktu itu kau tiba-tiba mengejutkanku dengan dehamanmu, 'kan? Ya ya ya, aku sangat ingat. Tapi, waktu itu aku bukan sedang mengintip, bro. Aku hanya sedang membersihkan debu yang menempel di kaca. Aku tak sengaja melihat sedikit debu yang membuat kaca terlihat kurang bersih, itu saja. Bukan mengintip atau memerhatikan Ririn, No!" ucapnya panjang kali lebar kali tinggi.
Ferhat membuat alasan yang mungkin masuk akal. Ya, tentu saja ia harus berbohong saat itu juga. Karena, ia tidak mau dianggap remeh oleh Ririn, keluarga Pak Rahman dan juga para tamu undangan yang menjadi pendengar dan penonton di sana. Ia juga tak ingin jika Ririn sampai marah dam membenci dirinya.
"Tidak mungkin! Itu alasan yang sangat konyol!" sanggah Marco dengan seringai liciknya.
Ferhat tetap tersenyum santai dan terlihat tenang.
"Ya, benar yang Ferhat katakan, Beby. Dia memang sedang membersihkan debu. Memang terkadang OG atau OB di sana suka ngasal dan teledor, sayang. Jadi, hal itu memang sudah sering terjadi. Bahkan bukan Ferhat saja yang melakukan itu. Semua staf dan jajarannya juga terkadang suka risih ketika melihat debu, lalu mereka bersihkan dengan tangan mereka sendiri. Ya Tuhan, semestinya aku yang berterima kasih pada Ferhat dan juga yang lainnya," ujar Ririn panjang lebar.
Ririn ikut berbohong demi kebaikan Ferhat. Ya, tentu saja ia melindungi pria tampan itu dari cibiran para tamu undangan. Ia tidak mau sampai Ferhat dipermalukan. Bagaimana pun, ia harus melindungi keluarga bosnya yaitu Andre.
Sementara itu Marco tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap jengkel pada kekasihnya yang malah membela Ferhat. Tentu saja ia sangat kesal dan cemburu.
..."Sialan! Kenapa dia malah membela lelaki ini!" desis Marco di dalam hati....
__ADS_1
Ferhat tampak tersenyum manis dan penuh kemenangan, sementara Marco tampak mengepalkan tangannya menahan kesal.
"Tuh 'kan, sekarang sudah jelas, ya. Berarti Ferhat tidak mengintip. Jadi, sudah ya, Marco. Kau jangan menudingnya lagi. Jangan marah lagi padanya, Papa ingin kalian berteman. Sebab, dulu Papa juga berteman dengan almarhum Tuan Zaki yaitu Papinya Ferhat. Dan, Tuan Zaki lah yang sudah membantu Papa untuk merintis usaha Papa dari nol. Dia yang sangat berjasa dalam usaha Papa," ucap Pak Rahman panjang lebar.
Ririn tampak tersentak kaget mendengar setiap kata yang terucap dari mulut calon mertuanya. Tentu saja ia baru tahu jika ternyata orang tua Ferhat sangat berjasa bagi orang tua Marco.
"Salam kenal, Marco. Kurasa kita bisa berteman," ucap Ferhat sembari mengulurkan tangannya pada Marco.
Marco tampak memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. Dengan terpaksa ia menjabat tangan Ferhat dan tersenyum malas padanya, "Ya," balasnya singkat.
"Hahaha, syukurin loe. Akhirnya los sendiri 'kan yang malu. Hahaha!" ucap Ferhat di dalam hati.
"Ya sudah, sebaiknya kita lanjutkan lagi acaranya, Marco. Sepertinya tadi sempat terpotong," kata Bu Shinta.
"Benar, ayo kita lanjut lagi. Waktunya juga masih lama," jawab Pak Rahman.
"Tidak!" tolak Marco tanpa ragu.
Ririn dan kedua orang tua Marco tampak menatap heran pada pria itu. Sedangkan Ferhat tampak tersenyum usil dan menatap geli pada Marco.
"Hahay, dahlah! Ternyata loe bijak juga. Jika acaranya tidak dilanjutkan, aku sangat senang. Dengan begitu, Ririn tidak akan menciummu," cerocos Ferhat di dalam hati.
"Kenapa, sayang?" tanya Ririn dengan tatapan herannya.
"Aku sudah tidak tertarik dengan pesta yang berantakan ini!" jawab Marco yang tampak sewot.
Ririn tampak mengerutkan dahinya dan menatap heran pada kekasihnya itu. Tetapi, dia pun tidak berhak melarang atau mengatur-atur Marco. Sebab, itu memanglah acara Marco sendiri.
"Janganlah seperti itu, Marco. Lihat para tamu undangan, mereka masih semangat dan masih menunggu kelanjutan acara ini," bisik Pak Rahman yang tampak membujuk putra tunggalnya itu.
Marco menggeleng dengan cepat, "Tidak!" ucapnya penuh penegasan.
"Dasar! Dia begitu kekanak-kanakan!" desis Ferhat di dalam hati.
"Sayang, apakah kau tid—" Ririn tampak menggantung ucapannya saat Marco dengan cepat menyelanya.
"Mohon maaf, guys. Sebaiknya kita sudahi saja acara ini. Aku sangat berterima kasih karena kalian semua sudah hadir memeriahkan acara ulang tahunku," ucap Marco pada para tamu undangan.
"Marco! Apa yang kau lakukan?" desis Bu Shinta.
"Marco melakukan apa yang harus Marco lakukan, Mam." Marco bicara dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Bu Shinta tampak menggelengkan kepalanya dan menatap miris pada putranya yang selalu egois dan keras kepala. Sementara itu, Marco sendiri sudah berlalu melangkahkan kakinya meninggalkan mereka semua.
"Astaga!" desis Ririn sembari menggeleng kecil.
"Sudah, tinggalkan saja pria seperti itu. Masih ada pria idaman sepeti aku. Hihihi," ucap Ferhat dalam hati.
"Sebentar, ya, Om, Tante, Ririn susul Marco dulu," ucap Ririn yang kemudian melangkahkan kakinya menyusul kekasihnya yang sedang ngambek.
"Anak itu benar-benar manja," desis Pak Rahman sembari mengusap kasar wajahnya.
"Wajarlah, Pap. Dia putra kita satu-satunya. Lagipula, Papa yang terlalu sering memanjakannya," ucap Bu Shinta.
Ferhat yang mendengar pembicaraan Pak Rahman dengan Bu Shinta tampak tersenyum kecil dan begitu puas karena telah membuat Marco malu. Padahal, tadi ia sangat takut jika dia bakalan dipermalukan oleh Marco. Tetapi terkaya permainannya lebih keren dan cantik daripada permainan Marco.
"Nak Ferhat, maaf ya atas kecerobohan Marco. Dia memang seperti itu. Om Rahman harap, Nak Ferhat bisa memakluminya," ucap Pak Rahman dengan tatapan penuh harap.
Ferhat tersenyum kecil dan mengangguk mengiyakan, "Ferhat sangat mengerti, Om. Jangan khawatir," jawabnya.
Pak Rahman tersenyum hangat dan mengangguk. Ia sangat senang karena Ferhat tidak marah pada Marco yang sudah berusaha mempermalukannya.
Sementara itu, Ririn tampak menghampiri kekasihnya yang sedang duduk di taman yang ada di hotel itu.
"Sayang," panggil Ririn sembari menghentikan langkahnya tepat di hadapan Marco yang sedang duduk.
Marco mendongakkan wajahnya dan menatap malas pada kekasihnya itu. Ia tak menjawab dan tak berkata apa-apa.
__ADS_1
"Boleh aku duduk?" tanya Ririn dengan nada yang lembut dan sangat hati-hati.
"Sejak kapan aku melarang orang untuk duduk?" ucap Marco yang tampak sinis.
Ririn melipat bibirnya ke dalam dan mengangguk kecil tanda mengerti.
"Duduklah!" perintah Marco.
Ririn pun mendudukkan bokongnya di samping kekasihnya. Suasana pun hening untuk sesaat. Keduanya tak ada yang memulai pembicaraan.
"Ehem!" terdengar deheman seseorang yang berhasil membuyarkan lamunan kedua orang di sana.
"Sorry ganggu," ucap Ferhat seraya melangkahkan kakinya ke hadapan Marco dan Ririn.
Ririn tampak mengerutkan dahinya dan menatap heran pada Ferhat, "Ada apa, Ferhat?" tanyanya.
"Ck! Jangan tanyakan ada apa padanya, sayang. Dia pasti hanya ingin mengganggu kita," decak Marco sebal.
"Hah?" desis Ririn sembari menatap penuh selidik pada Ferhat.
Sementara Ferhat tampak tersenyum santai dan menggeleng kecil, "Sepertinya kau selalu berprasangka buruk terhadapku," ucapnya.
Marco memutar bola matanya malas dan berseringai licik.
"Kedatanganku kemari hanya ingin memberikan hadiah ulang tahun untukmu," kata Ferhat sembari merogoh saku jasnya dan tersenyum kecil.
Marco tampak menatap jengah dan sedikit tengsin karena sudah menuding Ferhat akan mengganggunya dengan Ririn.
"Wah, dia mau ngasih hadiah buat kamu, Beby!" sorak Ririn sembari menggenggam tangan Marco.
Marco hanya mengangguk kecil dan tersenyum secara terpaksa. Sementara Ferhat tampak menahan kesal di hatinya. Menahan sesak di dadanya karena melihat Ririn menggenggam tangan Marco.
"Sepertinya dia memang sangat mencintai pria ini. Astaga! Apa yang membuatnya secinta itu, sih? Padahal, aku dan dia ... argh! Sudahlah, mungkin ini sebuah keberuntungan bagi Marco. Hahaha," celoteh Ferhat dalam hati.
Ferhat mengerjapkan matanya dan mengusir lamunannya, "Emh, ini hadiahnya. Mungkin harganya tidaklah mahal. Tapi, aku sangat tulus membelikannya untukmu," ucapnya sembari memberikan sebuah kotak kecil pada Marco.
Marco tampak tersenyum sinis dan menerima hadiah kecil dari Ferhat, "Thank you," ucapnya yang tampak terlihat meremehkan hadiah dari Ferhat.
"Oke, silakan dibuka." Ferhat menjawab sembari tersenyum.
"Ayo dibuka, beby!" sorak Ririn yang tampak semangat empat lima.
Marco tersenyum kecil dan mengangguk, ia pun bergegas membuka kotak hadiah dari Ferhat.
"Aku harap kau suka," ucap Ferhat.
Marco hanya tersenyum sinis dan tampak tidak bersahabat. Tetapi, saat kotak kecil itu sudah terbuka dan hadiah di dalamnya terlihat. Tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi tercengang dan begitu terlihat kaget.
"Apa hadiahnya, sayang?" tanya Ririn penasaran.
Marco terdiam dengan wajah yang tampak tercengang dan mata membulat.
"Nah lho! Kaget 'kan loe! Hahaha," celoteh Ferhat dalam hati.
"Ini, jam tangan Gucci yang paling trending, Beby." Marco menjawab dengan suara yang lirih.
"Waaah! Keren banget, sayang. Ini sih bukan tidak mahal, tapi ... mahal bangeeeeet!" sorak Ririn sembari menatap binar pada kekasihnya.
"Lah, kok jadi Ririn yang senang, sih?" desis Ferhat dalam hati.
Marco tersenyum dan mengangguk. Ia lupa jika tadi ia sempat mengira bahwa hadiah yang Ferhat berikan hanyalah hadiah kecil dan tidak ada harganya.
"Kalau gitu, aku cabut dulu, ya! Bye," ucap Ferhat sembari tersenyum manis pada Ririn.
"Loh, kenapa buru-buru sekali, Ferhat?" tanya Ririn.
"Mmmh, pakaianku basah dan kotor, Rin." Ferhat menjawab sembari menunjukkan jasnya yang masih sedikit basah.
__ADS_1
"Oh, ya sudah kalau begitu. Bye," balas Ririn sambil melambaikan tangannya.
BERSAMBUNG...