
"Annabelle, apa yang kau rasakan saat ini? Lihat tanganmu, sudah lebih baik, bukan." ucap Andre dengan ekspresi wajah yang terlihat senang gembira.
Rumanah yang lemas sehabis di operasi itu nampak perlahan mengangkat tangan kirinya. Tidak terasa sakit ataupun perih. Hanya saja jahitan dan balutan kain kasa di jari jemarinya terasa sedikit kaku untuk digerakkan.
"Hah, saa saya sudah di operasi, Tuan?" ucap gadis desa itu yang nampak terkejut.
Andre mengangguk seraya tersenyum. "Tentu saja, Belle. Kau sudah di operasi dan sudah terbebas dari yang nama namanya cacat." jawab duda tampan itu yang nampak sumringah. Entah mengapa Andre memang merasa senang kala melihat pengasuh putri cantiknya sudah selesai di operasi.
Rumanah tersenyum bahagia. "Terima kasih, Tuan. Ini semua berkat kebaikan Tuan pada saya." ucap gadis desa itu penuh syukur.
Andre tersenyum kecil. "Santai saja, Belle. Ini sudah menjadi tanggung jawabku." jawab duda tampan itu.
Rumanah tersenyum dan masih memandangi tangannya yang terasa lebih baik. "Syukurlah aku sudah selesai di operasi. Tapi kok aku tidak merasa apa-apa, ya. Perasaan tadi dokter ngajakin aku ngobrol, tapi tiba-tiba aku mengantuk dan langsung tidur. Astaga, hebat sekali euy." ucap Rumanah dalam hati.
Rumanah mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya. Tentu saja ia sangat senang karena kini tangannya sudah tidak begitu buruk. Setelah ini gadis desa itu hanya tinggal menunggu kering jahitan dan setelah itu baru bisa melepas jahitannya.
"Annabelle, jangan banyak bergerak! Tanganmu masih harus istirahat, aku takut jahitannya putus atau urat di dalamnya yang putus." tegur Andre seraya menatap tajam dan penuh peringatan pada pengasuh putri kecilnya itu.
"Iiiiii, menyeramkan sekali, Tuan." Rumanah bergidik ngeri.
"Makanya kau diam dan jangan banyak tingkah!" tegas Andre.
Rumanah mengangguk kecil, gadis desa itu pun menurunkan tangannya dan meletakannya di samping tubuhnya. "Tuan, kapan saya bisa pulang dari sini? Saya sudah tidak kuat ingin keluar dari tempat ini. Oh ya, mulut saya terasa pahit sekali, bisakah tolong berikan air minum itu pada saya?" cerocos Rumanah dengan suara yang serak-serak banjir karena tenggorokannya kering.
Andre memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Hng, aku bukan dokter yang bisa menentukan kapan kau bisa pulang dari sini, Annabelle. Dan kau denger ini, tidak ada dalam kamus besar seorang majikan mau disuruh-suruh oleh bawahannya. Astaga, hal ini kulakukan karena kau sedang dalam zona emergency, Annabelle!" ucap duda tampan itu yang nampak menekan setiap ucapannya.
__ADS_1
Rumanah tersenyum kecil, tentu saja ia pun tahu akan hal itu. "Owalah, saya pikir Tuan tahu segalanya." ucap gadis desa itu sekenanya. "Besok dan seterusnya saya tidak akan lagi menyuruh Tuan." lanjut gadis desa itu tanpa ragu.
Andre memencengkan bibirnya dan mengangkat kedua alisnya. "Aku bukan Tuhan, Annabelle!" sungut duda tampan itu. "Baiklah." lanjutnya seraya meraih sebotol air mineral lalu memberikannya pada pengasuh putri cantiknya.
Rumanah tersenyum dan meraih sebotol air mineral yang majikan galaknya berikan padanya. Tak membuang waktu lagi Rumanah pun meneguk air mineral yang mampu mengusir rasa pahit di tenggorokannya.
"Aaaaaaaaaah, segar sekali." ucap Rumanah saat ia telah meneguk sebotol air mineral.
Andre melirikkan matanya pada baju operasi Rumanah yang masih melekat di tubuh gadis desa itu. "Haruskah aku lagi yang membuka pakaian itu? Duh, kenapa aku merasa ingin melihat lagi setiap objek yang ada pada tubuh gadis desa ini." ucap Andre dalam hati.
Rumanah menatap manik mata majikan galaknya yang sedang menatap buah dadanya. "Astaga, apa yang dia lihat. Dasar majikan mesum. Ternyata galak-galak juga doyan dengan yang bening-bening seperti milik gue." ucap Rumanah dalam hati.
Rumanah merebahkan tubuhnya kembali, dan hal itu membuat Andre harus meninggalkan lamunannya. "Astaga, apa yang aku pikirkan. Kenapa aku tidak bisa melupakan dua balon kecil mungil miliknya. Sial." batin Andre berucap.
Ceklek!
"Dewi periiii!" teriak gadis kecil berusia lima tahun itu. Ia sangat terlihat gembira bertemu dengan pengasuhnya.
Rumanah menyunggingkan senyumannya dan siap menyambut pelukan hangat dari asuhannya itu. "Princessss, apa kabarmu sayang?" ucap Rumanah seraya mengusap lembut kepala asuhannya yang bersandar pada dadanya.
Sandrina tersenyum hangat. "Seperti yang kau lihat, dewi peri. Princess sehat dan semangat menjalani hidup." jawab gadis kecil itu yang membuat Rumanah, Andre serta Meliza tertawa kecil mendengar jawaban dari mulutnya.
"Princess, kau pintar sekali." puji Rumanah seraya mencubit gemas pipi chubby asuhannya itu.
"Ya dong, siapa lagi Daddynya, Andreeeee!" timpal Andre membanggakan diri.
__ADS_1
"Nyeh, Daddy mesum aja bangga." protes Rumanah dalam hati.
"Rumanah, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah sudah merasa lebih baik?" tanya Meliza penuh kelembutan.
Rumanah mengangguk serta tersenyum hangat. "Tentu saja, Mbak Mel. Mungkin hanya tinggal menunggu keputusan dokter tentang kepulangan saya." jawab gadis desa itu.
"Sepertinya kau belum bisa pulang sampai keadaanmu membaik, Annabelle." timpal Andre.
"Membaik bagaimana, Tuan? Dari kemarin kesehatan saya sangat baik. Hanya luka di jari saya saja yang membuat saya harus disuntik dan dipasang infus seperti ini. Astaga!" seloroh gadis desa itu.
Meliza tersenyum kecil mendengar ucapan Rumanah. "Ya, kau benar, Rumanah." ucap sekretaris cantik itu. "Tetapi, benar juga yang dikatakan oleh Pak Andre. Biasanya dokter menyarankan pasien untuk tetap dirawat dalam beberapa hari ke depan." lanjut sekretaris cantik itu.
Rumanah manggut-manggut tanda mengerti. Sementara Andre nampak menatap kesal pada Meliza, tentu saja ia kesal karena telah mendengar kabar yang membuat hatinya merasa remuk dan darahnya terasa mendidih.
"Jangan menginap lagi, dewi peri. Pulanglah bersama kami, princess sangat merindukan dewi peri." rengek gadis kecil itu dengan tingkahnya yang manja.
Rumanah tersenyum simpul dan mengusap lembut puncak kepala asuhannya. "Dewi peri juga sangat merindukan princess. Baiklah, dewi peri akan memaksa pada dokter agar bisa pulang bersama princess." ucap gadis desa itu yang berhasil membuat Sandrina bersorak ria.
"Horrreeeee!!!! Dewi peri pulang bersama princess, ye ye ye ye!" sorak gadis kecil itu yang nampak bahagia.
Andre mengamati ekspresi dan kebahagiaan putri kecilnya yang sangat antusias dan semangat. "Putriku sangat menyukai gadis desa ini. Padahal aku ingin Meliza merebut perhatian putriku agar membuat princess ingin menjadikan Meliza sebagai Ibu untuknya." ucap Andre dalam hati.
"Princess, tapi bagaimana kalau dokter meminta dewi peri untuk tetap berada di sini beberapa hari?" tanya Rumanah.
Sandrina mengerucutkan bibirnya bertingkah mania. "Itu tidak boleh terjadi! Dewi peri harus pulang bersama princess." jawab gadis kecil itu penuh paksaan.
__ADS_1
"Princess, jangan seperti itu. Kau bisa ditemani oleh Aunty Meliza. Anggap saja Aunty Meliza sebagai Mommy mu." seloroh Andre yang berhasil membuat Meliza dan Rumanah terhenyak kaget.
****