Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Parfum bau


__ADS_3

Satu minggu sudah setelah Rumanah dan Andre kembali ke Jakarta. Andre yang memiliki perusahaan besar tampak selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Setiap hari ia berangkat pagi pulang malam. Banyaknya pekerjaan membuatnya harus membagi waktu untuk keluarga dan perusahaanya.


Beruntungnya sang istri selalu mengerti dan tidak curiga padanya. Mereka tetap hidup rukun dan bahagia. Saling mengerti dan memahami satu sama lain. Princess Sandrina pun selalu diajarkan oleh Bundanya yang tak lain adalah Rumanah untuk belajar mengerti dan penyabar.


Hari ini, tepat satu minggu lagi Andre akan mengumumkan pada dunia jika ia telah memiliki seorang wanita cantik penghuni ruang di dalam hatinya. Ya, satu minggu lagi mereka akan menikah kembali. Tentunya mengesahkan pernikahan mereka di mata hukum negara.


"Darling, hari ini aku ada jadwal temu dengan klient-ku yang dari Sumatera Barat. Aku rasa, bakalan pulang malam lagi." Andre bicara dengan raut wajah yang terlihat murung dan sedih.


Rumanah yang sedang menyisir rambutnya tampak menoleh dan tersenyum hangat. Tentu saja ia mengerti. Lagi pula, sang suami bekerja dan menghabiskan waktu di luar bukan untuk poya-poya, tetapi untuk mengais rezeki.


"It's oke, hubby. Aku sangat mengerti," ucap Rumanah sembari meletakkan sisir di meja rias. Lalu ia melangkahkan kakinya mendekati suaminya yang sedang memakai seragam kerja yang sudah disiapkan.


Andre membuang napasnya berat dan melipat bibirnya ke dalam. Nampak jelas kesedihan di wajah tampannya. Ya, tentu saja Andre merasa bersedih. Karena ia harus sering meninggalkan istri dan anaknya sampai malam hari. Hal itu tentu saja membuat waktu kebersamaan mereka tidaklah lama setiap harinya.


Rumanah tersenyum hangat dan begitu me mengerti dengan apa yang suaminya rasakan saat ini. Tentu saja ia pun sebenarnya sangat merindukan kebersamaan yang selalu mereka lalui. Tapi, tidak ada alasan untuknya mencegah suaminya untuk bekerja. Toh, itu semua untuk kebaikan mereka semua.


"Jangan bersedih, sayang. Aku tahu ini suatu pilihan yang sangat berat untukmu. Tapi, kau juga harus melakukan ini semua, karena ini sudah menjadi kewajiban dirimu. Kamu tenang saja, aku dan princess tidak akan marah dan akan selalu mengerti. Toh, hal ini tidak akan selamanya terjadi, bukan? Ada kalanya kau bekerja seperti semula. Berangkat pagi dan bisa pulang sore lagi. Jangan memberatkan diri, ya!" ujar Rumanah panjang kali lebar kali tinggi. Tangannya memasangkan kancing kemeja suaminya satu persatu.


Andre menatap lekat wajah cantik istrinya yang selalu membuatnya tenang dan senang ketika melihat senyuman manisnya, "Sungguh? Kalian tidak apa-apa? Aku hanya bersedih dan kesal pada diriku sendiri. Aku seperti terlalu mementingkan pekerjaanku daripada kalian berdua," ucapnya sembari menangkap tangan mungil istrinya.


Rumanah tersenyum, "Ya, hubby. Kami sungguh tidak apa-apa. Kami sangat mengerti akan semuanya. Dan, sudahlah tidak usah kesal atau menyalahkan dirimu sendiri, ya. Semuanya memang harus kamu lakukan," balasnya mencoba menenangkan hati suaminya.


Muach!


Dengan manis Andre mengecup punggung tangan istrinya. Manik matanya menatap lembut wajah cantik di hadapannya itu, "I love you so much, darling. Aku janji aku tidak akan pernah mengecewakan dirimu. Aku tidak akan membuatmu terluka. Aku janji, sayang dan cintaku hanya untukmu!" ucapnya dengan raut wajah yang begitu serius.


Rumanah mengangguk dan tersenyum manis. Tentu saja ia sangat bahagia dan tersanjung mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya, "I love you too, hubby! Aku percaya semua kata-kata yang keluar dari mulutmu," balasnya yang kemudian memeluk hangat tubuh suaminya.


Andre memejamkan matanya sejenak sembari menghirup aroma shampoo dan conditioner dari rambut panjang istrinya. Diusapnya punggung istrinya dan ia begitu tenang dalam pelukan wanita kesayangannya itu.


"Sudah, sekarang cepat selesaikan pakai bajunya, sayang. Sementara aku akan menyiapkan mocachino hangat untukmu. Menyiapkan bekal untuk princess juga," ucap Rumanah sembari melepaskan pelukannya.


"Sayang, apakah kau tidak berminat untuk menyewa pengasuh untuk princess? Aku tahu pekerjaan seperti itu tidaklah mudah. Jadi, untuk meringankan bebanmu, aku rasa sebaiknya kita menyewa pengasuh saja, ya?" usul Andre yang sedikit membuat Rumanah tersentak kaget.


Jujur saja Rumanah sama sekali tidak pernah memikirkan pengasuh untuk putrinya itu. Ia berpikir dirinyalah yang wajib dan pantas mengasuh juga mengurus putri sambungnya itu.


"Menyewa pengasuh?" Rumanah memutar tubuhnya menghadap suaminya, "Itu ide yang sangat konyol," lanjutnya sembari tersenyum sinis.


Andre tampak mengerutkan keningnya tak mengerti, "Ide konyol? Kupikir ini ide yang sangat bagus," protesnya dalam hati.


"Aku sama sekali tidak merasa keberatan ataupun terbebani oleh hal ini, hubby. Princess anakmu, tentunya kini telah menjadi anakku juga! Jadi, semua yang aku lakukan semata-mata karena aku sangat menyayangi princess. Juga karena hal itu sudah menjadi kewajibanku," ujar Rumanah penuh penekanan dan penjelasan.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Ia benar-benar tak habis pikir pada istrinya yang bijak dan begitu baik hati. Ia mengira jika istrinya akan setuju dengan usulannya itu. Ternyata oh ternyata, sang istri menolak dan sama sekali tidak tertarik.


"Ini celana dan jasnya. Sudah cepat dipakai, ya! Aku menunggu di meja makan," ucap Rumanah sembari memberikan jas dan celana yang akan suaminya kenakan.


Andre tersenyum lantas mengangguk. Sementara Rumanah tampak sudah memutar tubuhnya hendak melenggang pergi meninggalkan suaminya.

__ADS_1


"Cantik, baik, cerdas. Idaman sekali," gumam Andre dalam hati.


Pada saat Rumanah berada di ambang pintu, tiba-tiba Andre memanggil namanya. Hal itu membuat Rumanah harus menghentikan langkahnya dan menolehkan wajahnya.


"Darling!" panggil Andre.


"Ya," sahut Rumanah sembari menolehkan wajahnya.


Andre tersenyum manis dan membentuk love dengan jari jemarinya. Hal itu membuat Rumanah tersenyum manis dan begitu tersipu malu. Ia pun membalas love yang suaminya berikan padanya.


"Sudah ya," ucap Rumanah sembari menyelipkan anak rambutnya yang hitam pada telinganya.


"Wait," cegah Andre sembari melangkahkan kakinya mendekati istrinya.


Rumanah tampak menatap heran dan penasaran apa yang akan suaminya lakukan padanya. Bukannya cepat selesaikan kegiatannya, ia malah membuang-buang waktu dengan hal yang sangat tidak jelas.


"Ada apa, hubby?" tanya Rumanah saat Andre telah berdiri di hadapannya.


Andre tersenyum dan menangkap wajah cantik istrinya dengan kedua tangannya, "Aku ingin berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan padaku dan princess. Dan, aku mungkin tidak akan pernah bisa membalas semua yang telah kau lakukan pada kami. Tapi, satu hal yang harus kau tahu! Aku akan berkorban hidup dan matiku demi kebahagiaanmu, darling," ucapnya penuh penghayatan.


Rumanah tampak tersenyum kecil dan tak terasa manik matanya begitu berkaca-kaca. Ia benar-benar terharu dan sedih mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Jangan menangis, darling. Karena aku tidak sedang bersedih. Aku sangat bahagia memiliki istri seperti dirimu," ucap Andre sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya.


Rumanah tak dapat menjawab apa pun dengan lisannya. Ia hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.


"Manis sekali," puji Andre disertai senyuman manisnya. Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


Cupp!


Dengan manis Andre mendaratkan bibirnya pada bibir ranum istrinya. Ia tahan sejenak dan dihirupnya dengan penuh cinta. Setelah beberapa saat, ia pun melepaskan bibirnya dan membuka matanya. Begitu pun dengan Rumanah, ia juga membuka matanya dan begitu malu-malu pada suaminya.


"Aku menyayangimu," ucap Andre seraya mengacak rambut di puncak kepala istrinya.


Rumanah tersenyum manis dan memalingkan wajahnya yang bersemu merah, "Aku juga," balasnya.


***


Seperti biasa, Rumanah akan menemani putri kecilnya bersekolah. Ia memang sudah menjadi istri Daddy princess Sandrina. Tapi, hal itu tidak membuatnya menghentikan kegiatan sehari-harinya yaitu mengantar dan menemani Sandrina sekolah.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Ferfer. Semenjak dia resmi menjadi bagian dari perusahaan milik suamiku, dia sudah jarang menemui keponakannya. Dirasa-rasa, kangen juga aku sama pria itu," ucap Rumanah sembari memainkan gawainya.


Saat ini Rumanah sedang menunggu putri kecilnya yang sebentar lagi keluar dari kelasnya. Ia tak sengaja melihat story WhatsApp Uncle putri kecilnya itu. Seketika rasa rindu menerpanya. Ya, bagaimana pun Ferhat adalah orang pertama yang peduli dan bersimpatik padanya ketika ia kabur ke Jakarta dan menjadi pengasuh Sandrina.


Dari kejauhan, sepasang mata tampak sedang menatap ke arah Rumanah dengan tatapan penuh api permusuhan. Ya, orang itu adalah Luna. Beberapa saat yang lalu, Luna baru saja menepikan mobilnya di depan sekolah putri kecilnya. Tujuannya tak ada lain hanya untuk bertemu dengan Sandrina yang sama sekali tidak ingin hidup dengannya.


"Dasar wanita kampungan! Berani sekali dia bertingkah seperti ibu kandung putriku. Ck, benar-benar membuatku muak! Aku berjanji akan membuat pernikahanmu berantakan dengan Andre!" sungut Luna dengan suara yang dingin.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lagi Luna pun menurunkan kakinya dari mobilnya. Berjalan menghampiri wanita yang kini sudah menjadi rivalnya. Sementara itu Rumanah sama sekali tidak menyadari kehadiran Luna di sekitarnya.


"Senang, ya! Bisa menghabiskan waktu dengan putri orang lain!" cibir Luna saat ia sudah berdiri di belakang Rumanah.


Rumanah tampak sedikit terjingkat kaget mendengar suara seorang wanita yang sudah tak asing lagi baginya, "Luna!" gumamnya dalam hati.


Secepat kilat wanita cantik itu menolehkan wajahnya ke belakang. Menatap datar mantan istri suaminya itu.


"Aku rasa princess terlalu sering kau suguhi dengan hasutan yang menyesatkan," tuding Luna dengan wajah yang jutek dan tidak bersahabat. Ia tampak melangkahkan kakinya dan lebih mendekati Rumanah.


Rumanah memutar kedua bola matanya dan membuang napasnya perlahan. Saat Luna mendekat, tiba-tiba saja perutnya terasa mual dan penciumannya terasa tidak enak karena aroma parfum milik Luna yang begitu menyengat masuk ke dalam indera penciumannya.


“Eeemh! Parfum-mu, bau sekali,” ucap Rumanah sembari mengipaskan tangannya di depan hidungnya.


"Enak saja kau! Ini parfum mahal dari Paris, tahu!? Dasar kau kampungan, parfum mahal dan bermerek begini kau bilang bau. Benar-benar katro sekali! Memang hidungmu tidak cocok mencium parfum mahal dan bermerek seperti ini!" cicit Luna tak terima.


Rumanah menatap malas dan menutup hidungnya dengan tangannya. Ia benar-benar merasa tidak enak perut dan kepala saat mencium aroma parfum yang Luna kenakan.


“Terserah apa katamu, Tante. Tapi, dengar! Sebaiknya jangan asal bicara, Tante. Karena terkadang, apa yang kita bicarakan, itulah yang akan menyesatkan kita. Jadi, tolong dipikir-pikir dulu ya kalau mau bicara. Aku sama sekali tidak pernah menghasut apa-apa pada putrimu," ujarnya sambil bergegas bangun dari duduknya.


“Cih! Sok bijak,” desis Luna sembari menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


“Kalau ingin bertemu dengan princess, katakan saja. Kau bisa bicara baik-baik dengan kami. Tapi, jangan kau memaksanya lagi. Karena itu hanya akan membuatnya semakin jengkel dan membencimu. Kalau mau, bujuklah dia dengan lembut dan tunjukkan jika dirimu benar-benar sudah berubah. Jika kau masih sama seperti yang putrimu kenal, maka hal itu tidak akan membuat putrimu sudi hidup denganmu!” ujar Rumanah penuh penegasan.


Luna tampak tersentak kaget mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Rumanah. Tentu saja ia merasa sangat terhina karena sudah diajari oleh manusia yang lebih muda darinya.


“Berani sekali kau mengajariku, kampungan!” umpat Luna dengan raut wajah yang terlihat kesal, “Kau dan aku, jauh lebih baik diriku! Jadi, jangan sok pintar dan tahu segalanya. Padahal, kau sendiri yang telah menghasut putriku agar semakin membenciku. iya, kan?" tudingnya sebal.


Rumanah menggeleng cepat. Kemudian ia melepaskan tangannya yang berguna menutupi hidungnya. Ia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Namun lagi-lagi aroma parfum Luna benar-benar menyengat dan membuat kepalanya sakit.


"Oh Ya Tuhan! Parfum macam apa yang membuat seseorang sampai sakit kepala. Astaga!" desis Rumanah sembari kembali menutupi hidungnya.


Luna menatap kesal dan benar-benar tak terima jika parfumnya dikatai bau oleh Rumanah, "Sembarangan kau, ya!" cicitnya sembari merogoh tasnya dan mengambil parfum yang ia kenakan.


Rumanah tampak memegangi perutnya yang kini terasa mual saat aroma parfum Luna menerpa indera penciumannya lagi.


"Ini! Kau lihat ini! Parfum mahal dan bermerek milikku kau katai bau? Aku ingin kau menciumnya agar kau tahu mana parfum yang mahal dan bagus seperti milikku ini!" cicit Luna sambil menunjukkan parfum mewah miliknya ke hadapan mata Rumanah.


Rumanah benar-benar dibuat kaget karena aroma parfum itu semakin mencuat hingga masuk lagi ke dalam indera penciumannya, "Emhh! Jauhkan dariku! Uuweeek! Bauuu!" kali ini ia tampak seperti hendak muntah.


"Sialan kau, ya! Rasakan ini!" desis Luna yang kemudian menyemprotkan parfum di tangannya pada pakaian Rumanah.


"Aaaa! Tidaaak! Jangaaan!" pekik Rumanah seperti sedang ketakutan. Benar saja, sakit di kepalanya kembali terasa dan perutnya pun kini kembali mual saat parfum itu masuk ke dalam indera penciumannya.


"Hirup aromanya agar hidungmu tidak alergi mencium aroma parfum mahal seperti ini!" hardik Luna kesal.


"Uwwweeeek!" kembali Rumanah seperti hendak mengeluarkan semua isi di dalam perutnya. Hal itu benar-benar membuat Luna semakin kesal.

__ADS_1


"Dia benar-benar menghinaku!" gerutu Luna dalam hati.


BERSAMBUNG...


__ADS_2