Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Memelas


__ADS_3

Dua hari menginap di rumah sakit membuat Rumanah sedikit bete dan bosan. Ia sangat rindu dengan suasana kamar di rumah mewah milik suaminya itu. Ia juga sudah merasa bosan dan mual dengan obat-obatan yang harus ia konsumsi setiap hari selama di rumah sakit. Ia juga merasa muak dengan makanan dan minuman yang disuguhkan oleh pihak rumah sakit untuknya. Semua itu, tentunya semakin membuat Rumanah ingin cepat pulang.


Malam ini, Rumanah sangat merasa jenuh dan bosan berada di dalam ruangan VVIP yang menjadi tempat ia dirawat selama dua hari. Sang suami yang masih sibuk dengan pekerjaannya tampak belum datang menemaninya. Tentu saja ia merasa kesepian karena berada sendirian di kamar itu.


"Huffft! Kapan sih aku bisa pulang? Astaga! Tanganku pegal sekali karena terus-terusan seperti ini. Ck! Dasar infus menyebalkan!" decak Rumanah yang tampak kesal.


Ya, Rumanah memang masih dipasang selang infus di tangannya. Tentunya hal itu berguna untuk memberikan nutrisi dan vitamin pada tubuh Rumanah agar tidak lemas akibat darah yang terlalu rendah. Beruntungnya ia tidak sampai diharuskan melakukan transfusi darah oleh dokter.


"Jika bukan demi baby, aku tidak mau berada di tempat ini. Duh! Bete bete bete. Nanti kalau suamiku sudah sampai, aku ingin pulang saja lah!" cerocos Rumanah sembari menatap bintang di angkasa raya yang terlihat di balik jendela kamarnya.


Ya, dokter memang menyarankan Rumanah untuk dirawat selama tiga hari. Karena, kondisi fisik Rumanah yang lemah karena hamil muda membuat janin di dalam kandungannya rentan mengalami keguguran. Hal itu benar-benar membuat Rumanah sedikit terterkan karena merasa sangat sulit menjaga janin di dalam rahimnya. Kendati demikian, ia pun harus siap dan sigap menghadapi segala tantangan dan konsekuensi yang ada.


"Bunda akan selalu menjagamu, baby boy or baby girl." Rumanah berkata sembari mengusap lembut perutnya yang masih rata.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Dengan cepat Rumanah menolehkan wajahnya dan betapa senangnya ia saat melihat sang suami datang dengan dua plastik kecil di tangannya.


"Hubby!" sorak Rumanah yang tampak tersenyum sumringah.


Andre tersenyum dan melangkahkan kakinya dengan cepat, "Darling, aku sangat merindukanmu!" seru Andre sembari memeluk manja istri cantiknya itu.


"Aku juga, sayang. Rinduuuu banget," balas Rumanah penuh ceria.


Mereka berdua saling rindu. Padahal, baru beberapa jam saja mereka tak bertemu. Mungkin karena mereka sedang dalam zona bahagia.


"Bagaimana kesehatanmu, darling? Apakah semakin membaik?" tanya Andre sembari mendudukkan bokongnya di sisi ranjang.


Rumanah mengangguk lantas tersenyum, "Seperti yang kau lihat, hubby. Aku sangat membaik dan ceria seperti ini. Apalagi karena kau datang dan berada di sampingku saat ini. Aku sangat sehat dan baik-baik saja!" jawabnya penuh ceria dan antusias.


Andre terkekeh kecil mendengar setiap kata yang keluar dari mulut istrinya, "Sepertinya kau hanya memaksakan diri untuk terlihat sehat dan baik-baik saja, darling," ucapnya sembari meletakkan plastik dua kantung plastik yang tadi ia bawa, "Nyatanya, kau baru bisa pulang besok sore, kata dokter Zahra," lanjutnya sembari membuka plastik di hadapannya.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap sebal pada suaminya, "Apa? Kenapa kau terlihat bahagia sekali melihatku dikurung di rumah sakit ini!? Ya Tuhan! Ini benar-benar menyebalkan!" cicitnya yang tampak menekan setiap ucapannya.


Andre terkekeh kecil dan menepuk jidat istrinya pelan, "Hehehe! Tentu saja aku senang karena kau bisa beristirahat dan tidak melakukan pekerjaan apa pun, darling," ucapnya.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kesal pada suaminya, "Itu penyiksaan namanya!" desisnya.


"Penyiksaan?" ucap Andre sembari menatap heran pada istrinya.


"Ya! Aku merasa tersiksa karena jenuh dan bete berada di sini." Rumanah menjawab dengan nada yang dingin dan raut wajah yang terlihat sebal.


Andre membuang napasnya berat dan merangkul istrinya penuh manja, "Apa pun itu, yang terjadi padamu sekarang, tak lain dan tak bukan adalah demi kesehatanmu, kebaikanmu, kebaikan baby kita, darling!" ujarnya penuh penegasan.


Rumanah terdiam dan hanya mengerucutkan bibirnya bertingkah sebal.


"Sudah jangan ngambek seperti itu, darling. Lebih baik sekarang kau makan ini dulu. Aku belikan salad buah untukmu, kau suka, bukan?" ucap Andre sembari membuka kotak salad di tangannya.


Rumanah mendelikan matanya dan menatap malas pada salad di hadapannya, "Setelah ini kita pulang, ya!? Kumohon, hubby. Aku benar-benar jenuh berada di sini," rengeknya manja.


Andre mengusap wajahnya dan membuang napasnya kasar, "Tidak bisa, darling. Kau masih harus di sini sampai besok sore, ya!" tegasnya penuh penekanan.


Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar, "Malas!" desisnya sembari membaringkan tubuhnya kembali.


Andre tersenyum kecil melihat kemanjaan istrinya itu. Ya, tentu saja ia sangat gemas karena kini istrinya terlihat seperti dirinya sendiri. Karena yang ia tahu selama ini, sang istri sangat mandiri dan menyembunyikan kemanjaannya.


"Kok ngambek, sih, istriku ini." Andre bicara sembari memeluk manja perut rata istrinya.


Rumanah tampak diam dan tidak menanggapi. Tampaknya ia benar-benar kesal dan marah pada suaminya itu.


"Darling, ayo makan saladnya dulu. Tadi 'kan kau ingin ini, bukan?" bujuk Andre.


"Tidak mau! Aku hanya ingin pulang!" tolak Rumanah merajuk manja.


Andre membuang napasnya berat, "Ya Tuhan, baby. Lihatlah Bundamu ini, dia sedang ngambek seperti anak kecil," ucapnya sembari mengelus lembut perut rata istrinya.

__ADS_1


"Ish!" desis Rumanah sebal.


"Kalau kau tidak mau makan, aku akan pergi lagi," ancam Andre.


Rumanah mendelikan matanya dan menatap tajam pada suaminya, "Ya sudah sana! Itu artinya kau sangat tega padaku! Sudah sana pergi! Tinggalkan saja aku sendiri! Aku memang tidak butuh siapa-siapa. Mungkin aku memang harus sendiri untuk selamanya," sososrnya yang tampak berhasil membuat Andre terbelalak kaget.


"Busyet! Kok malah begini," gumamnya dalam hati.


Rumanah menarik selimutnya dengan kasar. Menutupi seluruh tubuhnya hingga ke wajahnya. Sementara Andre tampak bingung dan mematung di tempat.


"Ck, benar-benar keras kepala!" desis Andre dalam hati.


Melihat sang istri yang semakin ngambek padanya, membuat Andre tidak bisa marah ataupun membasal ngambek lagi. Akan tetapi ia lebih ingin membujuk istrinya agar tidak marah dan mau memakan salad yang sudah ia beli tadi.


"Darling, maafkan aku karena sudah bicara asal seperti tadi. Aku sungguh hanya bercanda saja, sayang. Kumohon jangan marah lagi, ya! Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapan pun. Darling, lihat aku, sayang!" ucap Andre panjang lebar.


Andre tampak berusaha membujuk istrinya agar tidak ngambek padanya. Sementara Rumanah kini tampak masih diam dan seakan enggan menggubris ucapan suaminya.


"Astaga!" desis Andre pusing.


Dengan pelan Andre membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya, "Darling, jangan marah lagi, ya. Aku janji kita akan pulang malam ini," ucapnya yang berhasil membuat Rumanah membuka mata dan tersenyum ceria.


"Are you serius?" tanya Rumanah penuh selidik.


Andre mengangguk tanpa ragu. Walaupun ia belum tahu bisa atau tidak membawa Rumanah pulang malam ini, yang pasti ia harus mengangguk mengiyakan terlebih dahulu agar istri cantiknya tidak marah lagi padanya.


"Yes, I serius! Sangat serius, darling!" jawab Andre sembari tersenyum manis.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap penuh binar pada suaminya. Dengan cepat ia menyibakkan selimutnya dan beringsut bangun dari tidurannya.


"Eh eh eh, hati-hati, sayang. Kau masih memakai infus," ucap Andre mengingatkan.


"Hehehe, jangan khawatir. Sebentar lagi 'kan infusnya dilepas, sayang," jawab Rumanah sembari menatap binar pada suaminya.


Rumanah merapikan rambutnya yang sedikit kusut dan berantakan. Tentu saja ia sangat semangat karena akan pulang malam itu juga.


"Ya sudah, sekarang dimakan dulu ya, saladnya. Nanti aku akan coba bicara dengan dokter Zahra," ucap Andre sembari menyendok salad.


"Suapin!" rengek Rumanah manja.


Andre tersenyum kecil serta mengangguk, "Tentu saja," jawabnya sembari mengarahkan sesendok salad pada mulut istrinya, "Aaaaaa!" ucapnya.


"Aaaaaammm!" Rumanah pun melahap salad yang suaminya berikan padanya.


"Pintar! Habiskan, ya. Biar baby kita sehat dan cepat tumbuh besar," puji Andre sembari tersenyum manis.


Rumanah mengangguk sembari mengusap perutnya beberapa kali.


*


*


*


Mentari di pagi hari sinarnya menelusup masuk ke dalam celah pentilasi kamar Rumanah dan Andre. Dering di jam beker begitu memekakan telinga.


Rumanah membuka matanya dan meraih jam beker di atas nakas. Mematikan bunyinya karena ia merasa sudah terbangun dari tidurnya.


"Sudah pagi rupanya," gumam wanita cantik itu dengan suara yang serak, khas bangun tidur.


Diliriknya sang suami yang masih terpejam di sampingnya. Seketika senyumnya mengembang saat ia membayangkan apa yang terjadi semalam. Ya, saat malam tadi, Andre tak kuasa menahan hasrat bercintanya. Pria tampan itu begitu uring-uringan dan memohon pada istrinya untuk melakukan peraduan di atas ranjang.


Namun, tentu saja Rumanah sedikit takut karena dokter dan kedua mertuanya menyarankan untuk tidak melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu sebelum hamilnya sampai dua bulan.

__ADS_1


Dan hal itu membuat Rumanah menolak sembari tak henti-hentinya mengingatkan sang suami perihal larangan yang dokter jelaskan pada mereka. Andre sangat mengerti dan memahami. Tetapi, tentu saja hasratnya yang menggunung tidak dapat ia bendung begitu saja. Hal itu membuat Rumanah terpaksa harus melayani suaminya dengan tangannya saja.


"Astaga! Aku benar-benar kasihan padanya. Dia pasti sangat merindukanku. Tapi, mau gimana lagi? Itu semua demi kebaikan baby kami," gumam Rumanah sembari menatap penuh cinta wajah tampan suaminya yang sedang terlelap.


Setelah dirasa cukup mengumpulkan nyawanya setelah bangun tidur, Rumanah pun bergegas turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya dengan sangat pelan. Ia begitu hati-hati sekali dan merasa ngeri karena saat ini di dalam rahimnya sudah tumbuh sesosok janin hasil buah cintanya dengan Andre.


"Sepertinya aku harus sangat berhati-hati. Aku takut kepeleset," gumam Rumanah seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu, Andre tampak terbangun saat ia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Seketika matanya terbuka lebar dan sesegera mungkin ia berlari ke kamar mandi.


"Darling!" panggil Andre dengan raut wajah yang terlihat cemas.


Rumanah menoleh dan tampak tersentak kaget saat tiba-tiba suaminya memanggilnya, "Astaga! Ada apa, sayang? Ih, kau membuatku terkejut," desisnya yang tampak membulatkan mata dan menutupi dada serta mis vagsnya menggunakan tangannya.


Andre membuang napasnya kasar dan melangkah cepat menghampiri istrinya yang sedang berada di bawah guyuran shower, "Aku takut kau kepeleset, darling," ucapnya sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya.


Rumanah tersenyum kecil dan menatap lembut wajah tampan suaminya, "Jangan khawatir, hubby. Aku sangat berhati-hati, kok!" jawabnya enteng.


"Tetap saja, aku sangat khawatir padamu, darling." Andre berkata sembari menyandarkan kepalanya pada dada istrinya yang basah.


"Astaga!" desis Rumanah dalam hati.


Untuk sesaat Andre berada dalam dekapan istrinya. Terasa nyaman dan damai ketika ia mendengar detak jantung wanita kesayangannya itu.


"Sudah ya, sayang. Aku mau lanjutin mandi," ucap Rumanah sembari mengangkat wajah suaminya.


"Mau aku temani?" tanyanya dengan tatapan mesumnya.


Rumanah tersenyum lantas menggeleng, "Tidak usah, sayang. Aku berani, kok!" tolaknya dengan halus.


Andre tersenyum kecil dan menangkap pinggang ramping istrinya, "Tapi aku ingin menemanimu, darling," bisiknya sembari menciumi bahu istrinya.


Rumanah tampak memejamkan matanya dan bergidik menahan geli, "Hubby! Hentikan. Bukankah aku sudah memberitahumu? Emh, sebaiknya tahan saja dulu, sayang," ucapnya meminta pengertian.


Andre tampak membuang napasnya berat dan menatap melas pada istrinya, "Tapi aku ingin melakukannya, darling. Aku sangat merindukanmu," rengeknya penuh permohonan.


Rumanah terdiam dan begitu bingung dan menatap kasihan pada suami tampannya itu. Dengan lembut ia mengusap wajah tampan suaminya dan tersenyum dengan manisnya, "Kasihan sekali," ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya pada wajah tampan suaminya.


Andre mengangguk kecil dengan wajah yang masih memelas.


"Sebentar saja, ya!? Pelan dan hati-hati!" ucap Rumanah sembari mengusap lembut dada bidang suaminya.


Andre tampak tersenyum sumringah dan mengangguk dengan cepat, "Oke, darling. Pasti! Oh My God, aku senang sekali mendengarnya," serunya yang tampak antusias.


Rumanah tersenyum kecil dan mengusap lembut perutnya yang masih rata. Sementara Andre tampak sudah melucuti pakaiannya satu persatu.


"Darling, ooucchh! Aku sudah tidak tahan!" desis Andre saat Rumanah membelai dada hingga ke perutnya.


"Ingat, ya! Pelan dan hati-hati!" ucap Rumanah yang kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir suaminya.


Andre tampak menyambut dengan buas dan ganas. Ia begitu sangat merindukan istrinya itu. Keduanya benar-benar melakukan peraduan di dalam kamar mandi dengan pelan, santai dan sangat hati-hati. Tentunya tidak seperti yang biasa mereka lakukan.


Muach!


Andre mengecup manis bibir istrinya. Setelah ia melepaskan cairan kenikmatannya, pria tampan itu tampak tersenyum manis dan berseri-seri.


"Thank you ya, darling. Kau memang sangat mengerti," ucap Andre dengan lembut dan tatapan penuh cinta.


Rumanah mengangguk serta tersenyum, "Semoga baby kita tidak kaget ya, sayang," kelakarnya.


Andre terkekeh kecil, "Tidak akan, dong! Daddy nya 'kan bermain dengan santai dan hati-hati," ujarnya.


Rumanah tersenyum seraya memeluk tubuh suaminya yang terasa hangat.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2