
"Ya ampun, aku tidak menyangka ternyata Tuan galak itu jatuh cinta padaku. Hihihi, kenapa secepat itu." Rumanah mengoceh dalam hati.
Sejak Rumanah tak sengaja menguping pembicaraan antara Andre dengan kedua orang tuanya. Rumanah benar-benar menganggap jika Andre telah jatuh cinta padanya. Tak jarang ia memberikan perhatian-perhatian kecil pada majikan galaknya itu.
Seperti pagi ini, tanpa diminta oleh Andre, gadis Desa itu dengan telaten menyiapkan sarapan pagi untuk majikan galaknya itu. Padahal sudah ada yang memegang tanggung jawab itu.
"Biarkan aku saja, Den." ucap Rumanah pada Deni, seksi pelayanan Tuan Andre.
"Tidak bisa, Rum. Ini sudah menjadi tugasku." tolak Deni.
Rumanah memelototkan kedua bola matanya lalu tersenyum semanis mungkin pada Deni.
"Pliiiiis yaa, biar aku saja yang menyiapkan sarapan untuk Tuan. Tenang saja, aku tidak akan memberitahu Tuan jika aku yang menyiapkan sarapan untuknya." mohon Rumanah penuh pemaksaan.
Deni mengerutkan dahinya setengah tak mengerti.
"Kau mau meracuni Tuan ya?" tuding Deni yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.
"Apaaa??? Kau jangan asal menuduhku, Denooot!" sungut Rumanah tak terima.
Deni memelototkan kedua bola matanya dan menatap tajam pada pengasuh putri sematawayang majikan duda itu.
"Dunat Denot, sembarangan kau mengganti namaku!" Deni tampak mengomentari panggilan mendadak dari Rumanah.
"Terserah aku saja. Sudah sana kau pergi ke liang lahat, biarkan aku saja yang menyiapkan sarapan untuk Tuan." balas Rumanah yang tampak ngotot dan tidak memiliki rasa takut.
"Hei, berani sekali kau bicara lancang padaku. Memangnya kau siapa di rumah ini? Nyonya besar? Hahahaha, jangan mimpi deh kamu!" sungut Deni.
"Diaaam! Kau tidak berhak mengatakan itu padaku! Nyatanya, kau dan aku memiliki harkat martabat yang sama. Kau sebagai pelayan pribadi Tuan Andre, dan aku sebagai pengasuh putrinya. Paham!?" balas Rumanah yang kini tampak semakin nyolot pada Deni.
Deni tampak mengeraskan rahangnya dan memelototkan kedua bola matanya.
"Kau!" ucapnya seraya mengepalkan tangannya dan mengarahkan pada wajah Rumanah.
Refleks Rumanah memukul tangan Deni mengenakan sebuah panci yang ia pegang. Tentu saja hal itu membuat Deni terkejut dan kesakitan.
"Aaaaargh! Sialan kau curut got!" umpat Deni seraya meringis kesakitan.
"Rasakan, jangan macam-macam pada gadis Desa seperti diriku." ketus Rumanah seraya menyilangkah kedua tangannya di atas dadanya.
"Ciiih, aku akan membalas perbuatanmu padaku. Rasakan ini!" Deni berdecak. Kemudian dengan kesal ia melemparkan dua buah tomat tepat mengenai wajah Rumanah.
Rumanah tampak terbelalak kaget dan tidak bisa menghindari serangan Deni.
"Aaaaaaaa!" pekik Rumanah seraya menutupi wajahnya dan mencoba menangkis setiap tomat yang dilempar oleh Deni.
Dua buah tomat berhasil mendarat di wajah manis Rumanah. Tentu saja hal itu membuat Rumanah kesakitan dan wajahnya belepotan tak karuan.
__ADS_1
"Hahahahaha!" Deni tertawa terbahak-bahak, sementara Rumanah tampak membusungkan dadanya dan menggertakan gigi-giginya.
"Awas kau!" Rumanah berkata penuh ancaman. Dengan cepat ia melemparkan beberapa buah wortel pada Deni. Namun ternyata Deni bisa menghindari semua serangan Rumanah.
Rumanah tampak menatap kesal pada Deni yang tengah berseringai jahat. Tanpa Rumanah duga, saat itu Deni melemparkan buah wortel yang berhasil ia hindari. Dan..
"Aaaaaaaaa!" Rumanah memekik saat wortel-wortel itu tepat mengenai wajah dan seluruh tubuhnya. Sementara Deni tampak tertawa puas karena sudah membalas Rumanah.
Di saat yang bersamaan, Andre tampak baru saja turun dari kamarnya. Seperti biasa dia akan menikmati kopi hangat di ruang makan. Namun saat kakinya hendak melangkah ke meja makan, betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah minibar yang berantakan. Di tambah saat itu Rumanah yang sedang menangis juga wajahnya berantakan dan memerah.
"Kau, beraninya kau bergelut dengan perempuan." sungut Rumanah dengan suara yang bergetar. Air matanya sudah banjir sedari tadi.
"Hei, ada apa ini?" Andre datang seraya bertanya penuh intimidasi. Tatapannya tertuju pada Rumanah yang sedang menangis dan memegangi pipinya yang merah.
"Astaga, Tuan." ucap Deni setengah berbisik. Ia tampak terbelalak kaget saat tiba-tiba Andre datang.
"Tuaaaaaan, lihat pelayan ini. Dia sangat kejam menyiksa saya. Hiks hiks hiks." rengek Rumanah yang tampak manja. Ia mengadukan perbuatan Deni padanya.
Deni tampak terbelalak kaget.
"Tidak Tuan, saya bisa jelaskan." sanggah Deni mengeluarkan pembelaan.
"Pelayan ini tega melempari saya menggunakan tomat dan wortel ini, Tuan. Huhuhu, sakit sekali." kembali Rumanah mengadu pada majikan galaknya.
Andre tampak memperhatikan wajah Rumanah yang memang terlihat jelas bekas benturan tomat dan wortel.
"Saa, saya bisa jelaskan, Tuan. Dia yang memulainya." jawab Deni mencoba membela diri.
"Tidak, kau yang memulai melakukan perbuatan kasar padaku." timpal Rumanah mempertahankan dirinya.
"Enak saja kau, kau itulah yang memulainya!" sungut Deni.
"Kau!" Rumanah tak mau kalah.
"Kau!" Deni pun lebih tak mau kalah.
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
Andre tampak pusing dan kesal melihat kedua manusia yang sedang bergelut di hadapannya. Dengan kesal ia melemparkan sebuah gelas dan...
"Praaaaank!" gelasnya pecah deh.
Rumanah dan Deni tampak terbelalak kaget dan keduanya menatap takut pada majikan duda itu.
__ADS_1
"Kalian membuat kepalaku sakit!" ucap Andre yang tampak terlihat kesal.
Rumanah dan Deni tampak saling menundukan wajah mereka.
"Coba katakan bagaimana ini bisa terjadi."lanjut Andre.
"Dia yang memulainya, Tuan." ucap Deni.
Rumanah tampak mendelikkan matanya dan menatap penuh permusuhan pada Deni.
"Benarkah begitu, Annabelle?" selidik Andre.
Rumanah menelan ludahnya kasar. Terpaksa dia harus mengatakan kebenarannya.
"Sebenarnya saya hanya ingin menyiapkan sarapan untuk Tuan. Tapi pria ini melarang saya." ucapnya dengan suara yanng lemas.
"Saya melarangnya karena ini sudah menjadi kewajiban saya, Tuan." timpal Deni.
"Saya hanya ingin membantuya saja, Tuan. Karena saya melihat dia sangat kerepotan dan sesekali mendengus kesal." balas Rumanah sedikit mengada-ngada.
"Tidak! Kau jangan bicara di luar fakta." sungut Deni.
"Saya bicara yang sebenarnya. Jika saya berbohong, maka saya rela dipecat dari pekerjaan saya." ucap Rumanah sok melas.
"Astaga." Deni hanya mendesis kesal.
"Deni, sepertinya perbuatanmu sudah keterlaluan. Tak sepantasnya kau berbuat kasar padanya. Apalagi dia seorang wanita." ucap Andre yang tampak membela Rumanah.
"Yes!" Rumanah bersorak dalam hati.
Deni terdiam dan tak bisa lagi protes. Dari pada ia dipecat, lebih baik dia diam dan pasrah. Terima kenyataan jika Rumanah yang menang.
"Dan kau, lain kali tidak usah mencampuri urusan orang lain. Lakukan saja apa yang harus kau lakukan. Paham!?" tegas Andre pada Rumanah.
Rumanah mengangguk kecil dan memegangi wajahnya yang lumayan terasa sakit.
"Deni, kau minta maaf pada Rumanah." perintah Andre.
Deni tampak terhenyak kaget. Namun tanpa berkata apa-apa lagi Deni pun mengulurkan tangannya pada Rumanah.
"Maafkan aku." ucapnya lirih.
Rumanah tersenyum bangga dan penuh kepuasan.
"Tidak apa-apa, Den. Lain kali kau jangan nakal lagi, ya! Aku sudah memaafkan kesalahanmu." ucapnya seraya tersenyum sumringah.
Deni tampak menatap tajam dan kesal pada Rumanah. Sementara Andre tampak berdecak kagum pada pengasuh putrinya.
__ADS_1
***