Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Aku akan bertanggung jawab


__ADS_3

Warning : Terdapat beberapa adegan yang harus dihindari bagi kalian yang belum cukup umur dan bagi yang belum memiliki suami atau istri.


___________


Meliza menggandeng tangan putri kecil bos dudanya menuruni anak tangga. Sekretaris cantik itu tampak sudah selesai memakaikan seragam sekolah princess Sandrina dan mengikat rambut panjangnya dengan gaya kuncir kuda.


"Dewi peri ke mana, Aunty? Kok tidak kembali ke kamar princess, ya." ucap gadis kecil itu yang mungkin heran pada pengasuhnya yang tak kunjung kembali menemuinya.


"Mungkin masih di bawah, sayang. Makanya sekarang princess sarapan dulu, ya. Siapa tahu Daddy sudah menunggu di meja makan." jawab sekretaris cantik itu dengan penuh kelembutan.


Ya, Meliza memang sangat cantik, di samping itu juga wanita itu memiliki sifat yang lembut bagaikan sutra. Kendati demikian, sang putri mahkota duda tampan itu tetap saja lebih suka pada dewi peri-nya.


Saat mereka berdua sudah berada di lantai bawah, keduanya tampak tidak menemukan siapa-siapa di sana. Rumanah tak terlihat batang hidungnya, Andre pun tak terlihat bola matanya. Tentu saja mereka masih berada di dalam kamar sang duda tampan itu.


"Kok, tidak ada siapa-siapa di sini?" ucap gadis kecil itu yang tampak keheranan. Benar, tidak ada siapa-siapa di sana. Muhsin pun sudah tak terlihat topi muncungnya. Hanya terlihat beberapa menu makanan di atas meja.


"Benar, tidak ada siapa-siapa. Lantas, ke mana perginya Rumanah? Dan, kenapa Pak Andre belum nampak walau sudah jam segini?" ucap Meliza di dalam hatinya.


Meliza tampak celingukan ke sana kemari. Mencari sosok manusia yang telah beberapa hari belakangan menjadi temannya.


"Aunty, Daddy kok belum turun? Sekarang sudah mau jam delapan, biasanya Daddy sudah tampil duduk di sini. Hmmm, apa jangan-jangan Daddy belum bangun? Mungkin karena hujan lebat ini." cerocos gadis kecil itu yang tampak penasaran.


Meliza memutar otaknya dan mencerna setiap ucapan gadis kecil di hadapannya. "Eeeemh, mungkin saja begitu, sayang." jawabnya seraya mendekatkan segelas susu hangat ke hadapan putri bos dudanya itu.


"Huh, kalau begini caranya, princess juga jadi malas sekolah." cicit gadis kecil itu seraya menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Hah? Jangan begitu dong, sayang. Walaupun pagi ini sedang dilanda hujan lebat, tetapi princess harus tetap sekolah. Dan, mungkin saja Daddy sedang siap-siap." seloroh Meliza mencoba mengingatkan gadis kecil itu.


Sandrina mengangguk tanda mengerti, gadis kecil itu pun mulai menyantap sarapan paginya. Sedangkan Meliza tampak masih mengedarkan pandangannya, mencari Rumanah yang entah ke mana.


"Ke mana perginya Rumanah. Dan, ini bekal princess masih ada di sini." ucap Meliza dalam hati. Manik matanya menangkap wadah bekal milik Sandrina yang masih tergeletak di atas meja.


Sementara itu di dalam kamar Andre...


"Uhhhmmmmm," Andre bergumam saat ia meluma*t habis bibir ranum Rumanah. Rasa manis dan lezat yang terdapat pada bibir original itu tampak begitu membuat Andre enggan menghentikan kegiatannya.


Duda tampan itu bahkan terlupa pada sang putri mahkota dan pada pekerjaannya. Semburan air hujan yang lebat itu pun mampu membuat kedua insan yang ada di kamar itu menjadi semakin bernafsu.


Hawa dingin, menusuk ke dalam tulang. Harumnya aroma tubuh kekar duda tampan itu mampu menghangatkan tubuh Rumanah. Gadis desa itu sesekali melenguh, lalu disambung dengan meringis kecil tatkala tangan kekar milik duda tampan itu meremas dua balon kenyal milik gadis desa yang polos itu.


Namun kini, seorang gadis manis yang berasal dari desa itu mampu membuat Andre kembali membangunkan hasratnya. Menginginkan sebuah rasa yang indah dan nikmat hingga membuatnya merasa terbang jauh ke awang-awang. Namun, akankah hasrat itu mampu ia terbangkan?


"Aaaaaacch!" Rumanah mengerang, tangan kekar itu begitu dahsyat meremas bukit kembar yang masih asri.


Refleks Andre menghentikan ciumannya. "Ada apa?" tanyanya seraya menghentikan remasan tangannya.


Rumanah menundukkan wajahnya, bibir bawahnya tampak terlihat merah dan sedikit lecet. Gadis desa itu menggeleng, kemudian ia melepaskan tangan kekar majikan dudanya yang masih menggenggam kedua balon kenyalnya itu.


"Sakit, Tuan." jawab gadis desa itu dengan nada yang sangat lirih.


Andre tersenyum kecil, gemas ia melihat wajah manis pengasuh putri kecilnya itu. "Sakit, ya? Padahal aku sangat pelan melakukannya." ucap duda tampan itu seraya mengusap paha Rumanah yang masih terlindungi oleh celananya.

__ADS_1


Rumanah terdiam dan seperti sedang berpikir keras, nampak jelas raut penyesalan di wajah manisnya. "Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku diam saja diperlakukan seperti ini oleh majikan galak ini. Padahal, dia bukan suamiku, tapi kenapa aku hanya diam dan menurut." ucap gadis desa itu di dalam hati.


Andre tersenyum kecil, ia tahu jika pengasuh putrinya sedang ragu. "Kenapa? Apakah kau tidak suka?" tanya Andre penuh kelembutan. Tangannya kini kembali merayap pada bukit kembar milik gadis desa itu yang masih tertutup oleh kemeja dan bra-nya.


"Eeeeemh, hentikan, Tuan. Saya tidak ingin melakukannya lagi. Saya takut, Tuan sudah terlalu melebihi batas. Saya tidak mau menyesali apa yang telah saya lakukan." ujar gadis desa itu seraya membuang wajahnya ke jendela yang terbuka. Guyuran air hujan masih setia membasahi bumi.


"Kau tidak akan menyesal, Annabelle. Sudah kukatakan bahwa aku akan bertanggung jawab. Kau harus percaya padaku, aku pasti bertanggung jawab atas semua yang kulakukan padamu. Ayolah kau tidak usah munafik, kau juga sangat menikmatinya, bukan?" desak Andre yang tampak memaksa.


Rumanah terdiam sejenak. "Benarkah aku menikmatinya? Tetapi, ini kali pertamanya aku melakukan ini. Dan, kenapa harus dengan majikan galak ini. Aku takut..." ucap gadis desa itu di dalam hati.


"Cupppp!!"


Andre mendaratkan bibirnya kembali pada bibir ranum pengasuh putri kecilnya itu. "Annabelle, bibirmu.." ucap duda tampan itu seraya menyentuh bibir Rumanah yang lecet dan jontor. Tentu saja itu karena perbuatannya, padahal gadis desa itu belum bisa dan belum lihai melakukan ciuman bibir. Tetapi duda tampan itu tampak bermain dengan ganas dan buas.


"Emh, ini karena ulahmu, Tuan." ucap Rumanah seraya menepis tangan majikan galaknya itu.


"He he he he, habisnya bibirmu sangat manis dan lezat, Belle." ungkap duda tampan itu seraya terkekeh kecil.


"Huh, memangnya lapis legit." cicit Rumanah.


Andre kembali terkekeh mendengar ucapan gadis desa itu.


"Sudahlah, Tuan. Saya tidak ingin melanjutkan ini lagi, saya terlalu takut melakukannya." sergah Rumanah seraya beranjak dari tempatnya, kini tangan dan kakinya sudah bisa bergerak bebas, karena Andre sudah melepas ikatannya.


***

__ADS_1


__ADS_2