Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Chaisay


__ADS_3

Andre memeluk hangat tubuh istrinya dari belakang. Angin sepoi-sepoi masuk ke dalam kamar di villa itu. Pria tampan itu mengecup manis tengkuk istrinya yang putih mulus sehingga membuat si wanita yang ia peluk memejamkan mata dan bergidik geli.


"Aku benar-benar tidak menyangka dengan semua yang kau miliki, darling." Ucap Andre dengan suara yang lembut. Tangan kekarnya masih memeluk hangat tubuh wanita cantik itu.


Rumanah tersenyum kecil serta membuka matanya. "Apa yang aku miliki, hubby? Yang aku miliki, semua yang ada pada tubuhku. Dan rasa cinta yang besar untukmu. Kenapa kau masih tidak menyangka?"


Andre tersenyum kecil seraya menyibakkan rambut panjang istrinya ke sebelah kanan. "Maksudku, semua kekayaan ini. Aku benar-benar tidak menyangka. Ternyata kau pandai berakting, darling. Kau bisa berpura-pura menjadi orang kismin dan menyembunyikan identitasmu. Dan, itu nyaris sempurna! Tapi, aku berharap, cinta dan kasih sayang yang kau berikan padaku benar-benar nyata dan bukan hanya sekedar akting belaka." Ucapnya panjang kali lebar kali tinggi.


Ya, semua orang pasti akan kaget dan tidak menyangka dengan kehidupan Rumanah yang sebenarnya. Siapa yang tahu jika seorang gadis desa yang kabur ke Jakarta dengan penampilan yang kumel dan benar-benar compang-camping, ternyata adalah putri tunggal seorang juragan kaya.


"Ini semua milik kedua orang tuaku, hubby. Aku sama sekali tidak berhak menyombongkan ini semua. Lagi pula, apa yang sedang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, tidak pantas kita menyombongkan apa yang hanya menjadi titipan. Semuanya milik Tuhan, hubby." Ujar wanita cantik itu dengan senyuman manisnya.


Andre tampak terdiam dan manggut-manggut mencerna setiap kata yang keluar dari mulut istrinya itu.


"Soal akting, itu kulakukan karena aku sedang kabur dari rumah, sayang. Tidak mungkin aku memberitahu siapa diriku, itu bisa membuat anak buah Phoo mudah menemukanku. Dan, apa yang kau katakan tadi?" Rumanah memutar tubuhnya menghadap suaminya. Manik matanya menatap lekat wajah tampan suaminya.


Andre menaikkan kedua alisnya dan menatap serius wajah cantik istrinya.


"Kau meragukan kasih dan sayangku padamu? Astaga! Tentu saja aku tidak pernah berakting tentang perasaanku, hubby. Kau tahu? Aku tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Tidak ada pria yang mampu membuat jantungku berdetak saat menatap wajahnya selain dirimu." Lanjut wanita cantik itu seraya mengusap lembut wajah tampan suaminya.


Andre tersenyum manis dan menangkap tangan istrinya lalu menciumnya manja. "Muach!"


Rumanah tersipu dan memalingkan wajahnya yang memerah merona.


"Manis sekali. Ternyata, walaupun aku seorang duda, tapi ... aku mampu membuat seorang gadis cantik seperti dirimu jatuh cinta kepadaku. Aku hebat 'kan, darling?" ucap Andre penuh percaya diri. Tangannya membelai lembut wajah cantik istrinya.


"Ya, hebat sekali. Kau memiliki seribu cara untuk mendapatkan gadis desa yang lugu dan polos seperti diriku." Seloroh Rumanah sambil mengerucutkan bibirnya bertingkah manja.


Andre terkekeh kecil dan gemas mendengar ucapan istrinya itu. Ya, dia memang tak sengaja jatuh cinta dan tertarik pada gadis desa yang menjadi pengasuh putrinya itu.


"Tapi 'kan kau juga jatuh cinta padaku, darling." Ucapnya sembari mencubit gemas hidung mancung istrinya.


Rumanah tersenyum dan mengangguk kecil. Kepalanya ngusel pada dada bidang suaminya.


"Aku bahagia, sangat bahagia. Akhirnya aku bisa bertemu dengan mertuaku dan mendapatkan restu dari mereka. Sekarang, tinggal pikirkan acara resepsi dan mengurus pernikahan kita, sayang. Aku ingin pernikahan kita sah secara hukum agama dan negara." Ucap Andre sambil menarik tubuh istrinya dan memeluknya hangat. Mengusap puncak kepala dan punggung istrinya.


Rumanah mengangguk kecil tanpa menjawab. Tentu saja ia pun tidak ingin hanya menjadi istri siri suaminya. Dan, kedua orang tuanya pun tidak akan mengizinkan itu.


"Tapi...." Andre melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya pada wajah cantik istrinya. "Jangan lupakan lima ronde yang kau janjikan padaku, darling." Ucapnya dengan suara yang sedikit berbisik.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan tersentak kaget mendengar ucapan suaminya.


"Aku sudah mengangkut keranjang bunga sampai sepuluh kali balikan. Sesuai yang kau janjikan, aku menagihnya sekarang, darling!" bisik Andre pada telinga istrinya.


Rumanah bergidik geli dan menjauhkan wajahnya dari suaminya. "Aku tidak mengatakan akan melakukannya saat ini juga, hubby." Ucapnya sedikit berkilah.


"Tapi, aku ingin sekarang juga, darling. Oh ayolah, istriku. Suasana pagi ini sangat mendukung untuk berolahraga di atas ranjang." Rengek Andre sembari meletakkan tangan istrinya di dada bidangnya.


Rumanah tersenyum kecil dan memutar bola matanya. "Setiap hari dan setiap waktu selalu mendukung bagimu, hubby!" selorohnya yang tampak menekan setiap ucapannya.


Andre terkekeh kecil dan memeluk manja tubuh istrinya. "Kau sudah tahu, ya. Jadi, harusnya kau mengerti, darling." Ucapnya penuh paksaan.


"Ya, aku mengerti. Tapi, bukankah tadi kau bilang ingin rebahan?" Seloroh Rumanah sembari melepaskan pelukan suaminya dan melangkahkan kakinya ke jendela.


Andre tersenyum. "Ya, kau benar. Sepertinya aku harus rebahan terlebih dahulu untuk mengumpulkan tenagaku." Jawabnya sembari menghempaskan bobot tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Terserah dirimu saja!" desis wanita cantik itu dengan suara yang pelan.


Pemandangan indah terpampang nyata di hadapan Rumanah. Pegunungan dan air terjun membuat siapa saja akan merasa nyaman berada di sana.


"Benar, waktu memang terasa cepat berputar. Perasaan, baru kemarin aku berlari mengelilingi perkebunan milik orang tuaku. Bermain di desa bersama teman-teman kecilku. Memetik bunga dan bernyanyi bersama. Dan sekarang, aku sudah menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu. Aku benar-benar tidak menyangka takdir secepat ini menghampiriku. Tetapi, apa pun yang terjadi, aku akan tetap menjadi seorang istri yang patuh pada suami. Memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus pada suami dan juga anakku. Karena, aku sangat mencintai mereka." Ucap Rumanah dalam hati.


Tak terasa, lima belas menit sudah Rumanah berada di depan jendela. Menikmati angin sepoi-sepoi menjelang jam dua belas siang. Sementara sang suami sepertinya benar-benar terpejam menghilangkan lelahnya.


Ting toooong!


Terdengar suara bel berbunyi, sontak saja Rumanah mengerjapkan matanya dan meninggalkan lamunannya. "Siapa, ya?" gumamnya sembari melangkahkan kaki membuka pintu kamar.


"Hai," sapa seorang pria tampan berwajah oriental dan memiliki mata yang sipit. Hampir sama dengan Phoo Boon-Nam.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan terkesiap melihat sosok pria di hadapannya. Sementara si pria tampak tersenyum manis padanya.


"S̄bāy dī h̄ịm, Shanee?" tanya pria tampan bernama Chaisay itu.


(Apa kabar, Sanee)


Rumanah mengerjapkan matanya berkali-kali dan mencoba memastikan apa yang ada di hadapannya itu nyata atau hanya mimpi belaka.


"Ada apa denganmu, Sanee? Kenapa kau terlihat bingung seperti itu?" tanya Chaisay yang kembali membuat Rumanah tersentak kaget.


"Astaga, ini benar-benar Chaisay. Untuk apa dia datang kemari. Ya Tuhan, apakah dia mau melamarku? Tapi, aku sudah pernah bilang kalau aku tidak mencintainya. Dan, sepertinya dia bisa mengerti." Cerocos Rumanah di dalam hati.


"Sanee, Khuṇ lụ̄m c̄hạn h̄rụ̄x yạng?" tanya pria tampan itu sembari meraih tangan mungil wanita cantik di hadapannya.


(Sanee, apakah kau telah melupakanku)


Rumanah tampak terbelalak kaget dan buru-buru ia melepaskan tangannya dari genggaman pria di hadapannya itu.


Pria tampan berdarah Thailand itu tersenyum manis dan menatap penuh rindu pada wanita cantik di hadapannya. Sementara sang wanita tampak terlihat tegang dan gugup. Tentu saja ia takut sang suami melihat kebersamaannya dengan Chaisay.


"Aku merindukan dirimu, Sanee!" Ucap Chaisay sembari memeluk hangat tubuh Rumanah.


Rumanah tampak terbelalak kaget dan secepat kilat ia mendorong tubuh Chaisay. Ia benar-benar tidak menyangka jika pria itu akan memeluknya seperti itu. Jika tiba-tiba sang suami melihatnya berpelukan dengan pria berdarah Thailand itu, sudah pasti suaminya akan marah dan salah paham.


"Apa yang kau lakukan, Chaisay? Ceroboh sekali!" Omel Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.


Chaisay tampak menatap heran pada wanita cantik di hadapannya itu. Padahal, mereka sudah lama berteman, berpelukan melepas rindu seperti itu wajar-wajar saja baginya.


"What happened? Apa yang aku lakukan, Sanee? Aku hanya memelukmu, kau tahu jika aku merindukan dirimu? My God!" cicit pria tampan berdarah Thailand itu.


Rumanah mengusap wajahnya kasar dan menolehkan wajahnya ke belakang, khawatir sang suami tiba-tiba keluar dari kamar dan melihat dirinya dengan Chaisay.


"Kenapa kau bisa masuk ke sini? Apakah penjaga tidak mengatakan sesuatu padamu, hah?" sungut Rumanah dengan raut wajah yang terlihat kesal.


Chaisay tersenyum kecil dan santai. Ia menggeleng pelan. "Tidak sama sekali. Aku yang mengatakan sesuatu padanya," jawabnya.


Rumanah mengerutkan dahi tak mengerti. Ia benar-benar tak habis pikir mengapa si penjaga berani mengizinkan Chaisay masuk ke dalam villa itu.


"Apa yang kau katakan? Apakah kau tidak tahu tentang diriku?" sosor Rumanah memberondong dengan pertanyaannya.


"Yes, I know. You wanita cantik yang sangat menarik, Sanee." Jawab Chaisay santai dan enteng.

__ADS_1


Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap sebal pada pria di hadapannya. "Bukan itu maksudku! Dengar, kau sudah tidak bisa lagi memuji kecantikanku seperti itu, Chaisay!" tegasnya penuh penekanan.


Chaisay tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya lalu duduk di sofa. "Kenapa? Bukankah kau akan dijodohkan denganku?"


"Astaga! Itu tidak benar. Ck, ngapain sih kamu duduk di situ. Ayo kita bicara di luar saja!" decak Rumanah seraya menarik tangan Chaisay dengan paksa dan mengajaknya keluar dari villa.


Chaisay tersenyum kecil dan hanya menurut pada teman wanitanya itu. Mereka pun menuruni anak tangga dan benar-benar menjauhi villa. Rumanah mengajak Chaisay bicara di tempat yang jauh dari jangkauan suaminya. Tentu saja ia tidak ingin sang suami melihat dirinya dengan Chaisay.


"Sanee, apakah kau tidak merindukan diriku? Setelah beberapa bulan kau kabur dari rumah, kini kau kembali dengan sikapmu yang seperti ini padaku. Astaga, kau tidak tahu, ya, jika aku hampir setiap minggu datang ke sini untuk bertemu denganmu." Ucap Chaisay sembari menatap lekat wajah cantik Rumanah.


Rumanah melipat kedua tangannya di dadanya. Wajahnya ia buang ke tempat yang jauh. "Aku bukan Sanee yang dulu, Chai. Kau harus mengerti dan terima jika aku sudah menikah dengan pria yang aku cintai." Ungkapnya yang berhasil membuat Chaisay terbelalak kaget.


"Apaaa? Menikah?"


Chaisay membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tak percaya pada wanita cantik di hadapannya.


"Kenapa kau harus terkejut, Chai? Kita ini 'kan hanya sebatas sahabat. Harusnya kau senang mendengar kabar dariku ini," ucap Rumanah sembari menolehkan wajahnya pada temannya itu.


Chaisay mengerjapkan matanya dan menggeleng kecil. "Tidak! Emh, maksudku ... Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis ingin menjodohkanku dengan dirimu, Sanee. Tidak mungkin kau sudah menikah dengan pria lain." Protesnya sedikit tak percaya.


Rumanah tersenyum kecil dan mengangguk. Kembali ia memalingkan wajahnya dan kini menatap sungai kecil yang begitu mengalir jernih di hadapannya.


"Itu benar. Tapi, saat aku kembali bersama pria yang aku cintai, Phoo dan Maae tidak memaksaku untuk menikah denganmu, Chai. Mereka memberikan restu pada pernikahanku dengan suamiku." Ujar Rumanah penuh penegasan.


Chaisay menggeleng kecil dan seakan masih tidak percaya.


"Dan kau tahu? Suamiku ada di villa sekarang. Untung saja dia tidak melihat kita. Aku harap, kau mengerti dalam hal ini, Chai. Lagipula, kita sudah sepakat untuk bersahabat, bukan? Jadi, tidak menikah pun tidak apa-apa." Lanjut wanita cantik itu seraya menatap serius wajah tampan Chaisay.


"Jadi, kau benar-benar sudah menikah?" tanya Chaisay memastikan.


Rumanah mengangguk tanpa ragu.


"Jika seperti itu. Untuk apa Phoo Boon-Nam memintaku datang ke sini dan tadi menyuruhku datang ke villa menemuimu tanpa mengatakan jika kau sudah punya suami." Kata Chaisay lagi.


Rumanah mengerutkan keningnya tak mengerti. Benar, untuk apa ayahnya menyuruh Chaisay ke sini? Apakah ada maksud tujuan lain?


Sementara itu, Andre yang sudah terlelap beberapa menit tampak terbangun dari tidurnya saat mendengar dering di gawainya. Pria tampan itu tampak mengerjapkan matanya dan beringsut bangun mencari gawai yang masih berada di saku Jeansnya.


"Astaga, aku benar-benar tidur." Desisnya sembari merogoh saku Jeansnya.


Ditatapnya layar gawainya, sebuah panggilan masuk dari sang Mami yang ada di Jakarta. Tanpa membuang waktu, ia pun menggeser tombol jawab.


"Hallo, Mam." Ucapnya sembari beringsek turun dari ranjang.


"Hallo, Ndre. Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Nak?" terdengar suara Mami Purwati di seberang sana.


Andre mengucek matanya dan melangkahkan kakinya ke arah jendela. "Baru bangun tidur, Mam. Mami sedang apa? Apakah princess menanyakan kami?"


Pria tampan itu mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Mencari sosok wanita cantik yang sudah lama menjadi istrinya.


"Di mana istriku?" ucapnya dalam hati.


"Astaga, apa yang kau lakukan, Andre! Kenapa jam segini baru bangun? Kau tidak malu pada mertuamu?" semprot sang Mami.


"Hmm, Andre sedang di villa, Mam. Tidak usah khawatir, mertua Andre sangat baik, kok." Balas Andre enteng.

__ADS_1


Pria tampan itu melangkahkan kakinya ke kamar mandi mencari istrinya. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.


BERSAMBUNG...


__ADS_2