
Andre tampak tertunduk lesu dengan wajah yang begitu sangat kusut. Dadanya benar-benar sesak dan bergemuruh. Ia begitu takut dan khawatir pada kondisi istri dengan anaknya yang berada di dalam kandungan istrinya.
Sementara sampai saat ini dokter dan para suster belum selesai menangani Rumanah di dalam ruang observasi. Entah apa yang terjadi pada wanita cantik itu. Yang jelas, sepertinya saat ini keadaan begitu mencekam dan menegangkan.
Maae Lilis dan Mami Purwati yang turut menemani Andre di rumah sakit pun tampak khawatir dan panik sedari tadi. Mereka semua tidak bisa tenang sebelum mengetahui kondisi Rumanah dengan janin di dalam rahimnya.
"Bagaimana dengan Rumanah dan cucu kita, Lis? Ya Tuhan, aku benar-benar sangat takut," ucap Mami Purwati dengan kecemasan yang begitu dalam.
Maae Lilis menggeleng sembari menggigit ujung kukunya. Ia pun sama seperti Andre dan Mami Purwati, sangat cemas dan takut. Takut sang putri tunggalnya akan mengalami hal buruk, dan juga takut si calon cucu yang ada di dalam rahim Rumanah tidak dapat diselamatkan.
"Semoga tidak terjadi apa-apa, Mbak." Maae Lilis menjawab dengan suara yang lemah.
Andre yang tampak frustasi dan sedih kini tampak bertopang wajah dan menunduk begitu dalam. Banyak sekali ketakutan-ketakutan yang menyerangnya saat ini. Banyak sekali penyesalan dan kemarahannya saat ini.
"Maafkan aku, darling. Mungkin ini semua karena aku lalai menjagamu. Harusnya, aku selalu ada di sampingmu. Aku memang suami yang tidak becus! Jika kau sudah sadar, kau berhak marah dan benci padaku. Karena, aku memang telah bersalah padamu. Aku menyesal telah meninggalkanmu sendirian di dalam kamar. Aku menyesal tidak mengawasi wanita jahat itu. Aku, aku benar-benar merasa bersalah padamu, darling!"
Rintihan Andre begitu kuat dan dalam di hatinya. Ia sangat merasa bersalah pada istrinya. Tentu saja kemungkinan-kemungkinan kini bersarang di dalam pikirannya. Mungkin saja jika dia tidak meninggalkan istrinya sendirian di dalam kamar, Luna tidak akan bisa masuk ke dalam kamarnya. Mungkin saja jika dia selalu ada di sisi istrinya, Luna tidak akan melukai istrinya lagi. Mungkin saja jika dia mengawasi wanita licik itu, Rumanah pasti aman berada di dalam kamar tanpa diganggu dan dilukai oleh Luna.
Menyesal, bersalah, marah, kesal, benci dan dendam. Itu yang saat ini Andre rasakan. Ia begitu marah pada dirinya sendiri. Marah pada kedua penjaga yang telah lalai dan teledor. Marah pada biang kerok yaitu Luna. Entah apa yang akan dia lakukan setelah ini pada Luna, yang pasti dia tidak akan mengampuni wanita rubah itu. Wanita yang sudah berkali-kali mengusik kehidupannya. Mengusik ketenangannya dengan Rumanah. Melukai Rumanah dan bahkan hendak membunuhnya.
"Aku tidak akan pernah mengampunimu, iblis sialan!" umpat Andre sembari mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya.
Maae Lilis dan Mami Purwati tampak tersentak kaget mendengar ucapan Andre. Mereka berdua tampak saling beradu pandang dan menatap cemas dan tegang.
Tak berselang lama, dokter Zahra keluar dari ruang observasi ditemani oleh seorang suster di belakangnya. Tentu saja hal itu membuat Andre, Mami Purwati dan Maae Lilis antusias dan langsung menghampiri dokter kandungan itu.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok? Apakah dia sudah sadar? Janinnya baik-baik saja, 'kan?" Andre memberondong dokter Zahra dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi.
"Apakah itu pendarahan ringan atau berat, dok? Semuanya akan baik-baik saja, 'kan?" Maae Lilis juga tak kalah panik dan antusiasnya. Ia pun turut bertanya pada dokter Zahra yang tampak masih diam dan seperti berat untuk berbicara.
"Apa yang terjadi, dok? Tidak ada yang membahayakan, 'kan?" tanya Mami Purwati yang juga tampak antusias dan penasaran.
Ketiga orang di hadapan dokter Zahra nyaris bagaikan wartawan yang sedang mewawancarai seorang selebriti yang sedang menangani sebuah kasus. Mereka tampak antusias, penasaran dan juga tidak sabar ingin mendengar apa yang terjadi.
Dokter Zahra menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. Lantas ia tersenyum tenang dan mencoba menyesuaikan diri. Sepertinya memang sangat berat apa yang harus ia sampaikan pada Andre dan kedua orang lainnya.
"Baik, saya akan menjelaskan apa yang terjadi. Tetapi, sebelumnya saya minta maaf pada Pak Andre dan juga Ibu-ibu," ucap dokter Zahra sembari menatap bergantian pada Andre, Maae Lilis dan Mami Purwati.
Andre tampak semakin tegang dan penasaran, tiba-tiba saja perasannya semakin tidak enak. Ia merasa jika sang dokter akan mengatakan hal yang buruk.
"Kami selaku petugas medis sudah melakukan pemeriksaan dan perawatan pada Nona Rumanah beserta janin di dalam rahimnya. Setelah kami melakukan pemeriksaan panggul dan USG, kami telah menemukan janin di dalam rahim Nona Rumanah ... mohon maaf sekali, tidak bisa diselamatkan. Janinnya mengalami keguguran karena pengaruh benturan dan guncangan yang begitu dahsyat," ungkap dokter Zahra dengan sangat berat hati.
Jeduueeeeeerrrrr!!!!
Seperti tersambar petir di di dalam laut, seketika dada Andre semakin terasa sesak dan seperti ada beban yang menghimpit di sela-sela dadanya. Kepalanya terasa sakit dan denyut di ulu hatinya semakin bertambah menyakitkan.
__ADS_1
Kakinya yang kuat tampak bergetar dan nyaris tak bisa menopang beban tubuhnya. Netra hitam yang indah itu kini kembali berair dan memerah.
"Tidak! Ini tidak mungkin terjadi. Anakku! Anakku tidak mungkin...." Andre sangat merasa terpukul dengan apa yang ia dengar dari mulut dokter yang menangani istrinya.
Kakinya kini benar-benar tak kuat menahan beban tubuhnya. Ia luruh ke lantai bersama dengan kristal bening yang turun dari celah matanya dan menetes di lantai.
Maae Lilis dan Mami Purwati yang mendengar kabar buruk itu pun sangat terpukul dan hatinya begitu merasa sakit. Mereka menangis lagi, menangisi calon cucu mereka yang tidak dapat diselamatkan. Mereka juga menangis karena kasihan pada Andre dan Rumanah. Tentunya mereka berdua sangat mengerti dengan perasaan Andre dan Rumanah.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini. Calon cucuku ... kenapa harus pergi!?" Maae Lilis menyandarkan tubuhnya pada dinding dan terisak kecil menangisi semua yang telah terjadi.
"Ini benar-benar menyakitkan. Ya Tuhan! Kasihan sekali putra dan menantuku," gumam Mami Purwati di tengah-tengah tangisnya.
"Kami benar-benar minta maaf. Kami semua sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Allah yang lebih memiliki kuasa. Pak Andre harus tabah dan sabar, ini cobaan." Dokter Zahra berkata sembari mengusap air matanya yang juga mengalir. Ia merasa iba pada mereka semua.
"Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus anakku? Kenapa? Kenapaaaa!" kali ini Andre tampak menangis tersedu-sedu. Baru kali ini ia menangis sesedih dan sesakit ini.
"Sabar, sayang. Tuhan sedang menguji kalian," ucap Mami Purwati sembari memeluk putranya yang sedang rapuh dan terpuruk.
"Kalau begitu kami permisi. Kami akan melakukan kuret pada rahim Nona Rumanah untuk membersihkan rahimnya," ucap dokter Zahra yang kemudian melangkah masuk ke dalam ruang observasi.
Andre mengusap air matanya dengan kasar. Dadanya benar-benar terasa sesak dan nyaris sulit bernapas dengan tenang. Kepalanya semakin terasa sakit. Seakan dunia ini sudah tiada artinya lagi bagi dirinya. Betapa sakit hatinya saat tahu anaknya yang masih berada di dalam rahim istrinya harus gugur dan gagal tumbuh sampai besar dan dilahirkan.
Ia begitu menginginkan anak itu. Anak dari hasil peraduannya dengan istrinya. Anak yang ia buat dengan niat dan kesungguhan yang penuh cinta dan ketulusan. Ia begitu mengharapkan kehadiran anak itu. Anak yang akan menjadi adik untuk putri pertamanya yaitu Sandrina.
Andre sedih, sakit, marah dan sangat tidak rela. Akan tetapi, pada siapa dia harus marah? Semua yang terjadi, sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Namun, berbagai kemungkinan itu pun kembali muncul lagi di pikirannya. Kemungkinan yang begitu besar tidak akan terjadi jika dirinya sigap menjaga istrinya dan jika Luna tidak berusaha melukai istrinya itu.
Mungkin, benar yang Andre pikirkan. Mungkin semua itu tidak akan terjadi jika ia tahu bahwa Luna akan melukai Rumanah di malam itu juga. Mungkin Rumanah tidak akan terluka dan nyaris meregang nyawa jika ia tahu bahwa malam itu akan terjadi sesuatu pada istri kesayangannya itu.
Tapi, itu semua hanyalah kemungkinan yang tidak akan pernah terjadi lagi. Semua yang telah terjadi, tidak akan bisa diulangi lagi. Semua yang telah dialami, tidak akan bisa dirubah lagi. Yang terjadi, sudah terjadi.
"Bang, apa yang terjadi? Omma, bagaimana keadaan Rumanah dan janinnya?" Ferhat yang baru saja tiba tampak langsung memberondong Andre dan Mami Purwati dengan pertanyaannya.
Mami Purwati menggeleng kecil dan mengusap air matanya. Sementara Andre tampak mendongakkan wajahnya dan menatap tajam pada adik kandung mantan istrinya.
"Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka semua menangis seperti ini? Ya Tuhan," ucap Ferhat dalam hati.
Andre mengusap kasar wajahnya dan bangkit berdiri dengan payah. Sang Mami membantunya berdiri dan memeluknya agar tidak jatuh lagi. Andre begitu lemah saat ini.
"Bang, apa yang—" belum sampai Ferhat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja...
Jedueeerrrr!!!
Dengan kekesalan yang mendalam, Andre melayangkan tinjunya tepat mengenai wajah tampan Ferhat. Manik matanya tampak menatap tajam dan begitu berkilat marah.
Ferhat yang tidak tahu apa-apa tampak kaget dan tentu saja tidak bisa menghindar atau menangkis serangan dadakan dari Andre. Sementara Maae Lilis dan Mami Purwati tampak kaget dan panik melihat Andre yang tiba-tiba meninju Ferhat.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan, Nak? Sabar! Jangan seperti ini. Dia tidak tahu apa-apa," ucap Mami Purwati mencoba mengingatkan putranya.
Andre mengepalkan tangannya lagi dan menatap penuh api kemarahan pada Ferhat. Seolah ia sedang menatap Luna yang telah melukai dan bahkan membunuh anaknya.
"Apa yang terjadi, Bang? Kenapa kau meninjuku? Apa salahku?" tanya Ferhat sembari mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Ini semua salah kakakmu yang jahat itu! Dia yang sudah membuat istriku terluka dan nyaris meninggal dunia! Dan dia juga yang sudah membuat anakku meninggal. Puas kau!!!" maki Andre dengan suara yang meninggi dan tatapan yang penuh kemarahan.
Degggg!
Ferhat tampak terbelalak kaget mendengar ucapan Andre. Tentu saja ia tidak tahu jika janin di dalam kandungan Rumanah telah tiada.
"A–apa? Anak kalian—" lagi-lagi Ferhat menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre menyelanya.
"Kakakmu harus menanggung semua akibat dari perbuatannya pada istri dan anakku! Aku sungguh tidak akan mengampuninya!" ujar Andre yang begitu marah besar.
"Sudah sudah, Nak. Jangan emosi seperti ini, ya. Kau harus tenang dan sabar," ucap Mami Purwati menenangkan putranya.
"Bagaimana Andre bisa tenang, Mam? Sekarang, anak Andre sudah tiada. Dan, istri Andre pun terluka. Apa yang harus ditenangkan? Anak itu ... kami sangat menginginkannya, Mam! Kami sangat berharap bisa menggendong dan menciumnya. Kami ... kami sangat bahagia atas kehadiran anak kami. Tapi ... sekarang anak itu harus gugur dan kami tidak bisa melihat senyumannya," protes Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Mami Purwati dan Maae Lilis tampak tak kuasa menahan tangis saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Andre. Mereka tahu persis bagaimana bahagianya saat mengetahui jika hasil buah cinta telah tumbuh di dalam rahim. Mereka tahu persis bagaimana rasanya saat berharap dan bermimpi bisa menggendong dan mencium bayi yang lucu dan menggemaskan.
"Aku harus bilang apa pada istriku nanti. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakit dan sedihnya dia saat tahu jika, argh!" Andre tampak tak kuasa melanjutkan ucapannya lagi.
Ia terlalu perih membayangkan apa yang akan terjadi saat istrinya tahu jika janin yang tumbuh di dalam rahimnya telah gugur. Ia terlalu lemah dan terpuruk saat ini.
"Sabar, Bang. Aku sangat mengerti. Aku benar-benar minta maaf atas segala yang telah Kak Luna lakukan pada Rumanah. Aku siap menerima segala kemarahanmu, Bang," ucap Ferhat sembari memeluk hangat mantan kakak iparnya itu.
Andre menggeleng kecil dan terisak dalam pelukan Ferhat. Sementara Ferhat tampak menegarkan mantan kakak iparnya itu.
"Permisi, pasien bernama Rumanah akan kami pindahkan ke ruangan rawat inap, Pak. Silakan pilih akses yang menurut Pak Andre nyaman," ucap seorang perawat yang berjenis kelamin laki-laki.
Andre melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya kasar, "Ruang VVIP saja, Bang," jawabnya dengan suara yang serak karena banyak menangis.
"Baik," balas perawat laki-laki itu yang kemudian kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang observasi.
"Apakah Rumanah sudah sadar?" gumam Mami Purwati.
"Bertanya pada siapa lah kau, Mbak?" seloroh Maae Lilis sembari mendudukkan bokongnya di kursi.
Mami Purwati mendelikan matanya dan membuang napasnya pelan. Benar juga, bertanya pada siapa dia? Sementara mereka semua pun tidak tahu bagaimana kondisi Rumanah saat ini apakah sudah sadar atau belum.
Tak berapa lama, pintu ruangan observasi terbuka dengan lebar. Para petugas medis itu sibuk mendorong brankar yang diisi oleh Rumanah. Mata wanita itu sudah terbuka, namun wajahnya kini masih pucat dan seperti tak bernyawa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1