
"Princess sayang, hari ini Daddy akan mengantar dewi peri check up ke rumah sakit. Jadi, princess akan ditemani oleh Uncle Fer. Princess tidak keberatan, bukan?" ucap Andre pada putri mahkotanya.
"Hmmmm, tidak apa-apa, Dadd. Tapi, jangan lama-lama, ya!" jawab Sandrina.
Andre mengangguk kecil lantas tersenyum, sesaat kemudian ia pun melirikkan matanya pada sang istri yang sedang menikmati sarapannya di dekat mini bar. Tentu saja Rumanah tidak berani duduk bersama di meja makan dengan sang pemilik rumah mewah itu. Walaupun Andre tidak keberatan dan tidak akan melarangnya, tapi tetap saja hal itu harus Rumanah jaga agar tidak ada yang iri ataupun curiga padanya. Kecuali jika ia sedang hanya berdua dengan princess.
"Tentu saja, sayang. Memangnya Daddy akan pergi ke mana dengan dewi peri mu? Kami hanya akan pergi ke rumah sakit saja, dan seperti yang princess tahu jika kami harus mengantri terlebih dahulu," ujar Andre mencoba meyakinkan putri kecilnya itu.
Sandrina manggut-manggut tanda mengerti. Gadis kecil itu memang bukan anak yang sulit diatur. Ia bahkan tidak pernah banyak meminta dan selalu menuruti perintah Daddy nya.
"Hai everybody!" sapa Ferhat yang baru saja tiba. Ia tampak ceria dan semangat. Sudah beberapa hari dia tidak berkunjung ke rumah mantan kakak iparnya itu dikerenakan sibuk dengan sarjananya.
"Haaaaaaaii, Unclee Feeeeer!" Sandrina tampak bersorak ria dan begitu gembira menyambut kedatangan Pamannya itu.
Ferhat tersenyum.
"Kenapa kau baru sampai, Fer? Untung saja princess belum meminta untuk berangkat," tanya Andre seraya meletakkan gelas berisi kopi hangat yang ia nikmati.
"Hehehe, sorry, biasalah cowok ganteng mah selalu saja banyak halangannya," jawab Ferhat ngasal.
"Ciih, ganteng sii ganteng. Tapi ... jones!" ledek Andre.
Ferhat terkekeh. "Hehehe, jangan membahas hal itu. Aku bukan tidak laku, Bang. Tapi, karena aku bingung harus memilih yang mana. Sementara wanita yang mengantre sudah sangat banyak hingga kehabisan nomor antrean. Hahaha!" ucapnya penuh percaya diri.
"Idiih, Uncle kege'eran deh!" seloroh Sandrina.
"Hehehe, bukan kege'eran, sayang. Tapi memang kenyataannya begitu," bela Ferhat. "Oh ya, apakah princess sudah akan berangkat?" tanyanya.
"Tentu saja, Uncle. Tapi, tunggu dewi peri bawakan bekal untuk princess," jawab Sandrina seraya melirikkan menolehkan wajahnya pada dewi peri nya yang sedang duduk di bangku kecil dekat minibar.
Refleks Ferhat pun menolehkan wajahnya, seketika senyumnya mengembang dengan sempurna. "Astaga, ternyata kau di sana, Rumrum!" ucapnya seraya melangkahkan kaki menghampiri Rumanah.
Rumanah tampak tersenyum ramah dan bangun dari duduknya. "Ternyata kau masih ingat jalan menuju rumah ini, Fer." sindirnya.
Ferhat tertawa seraya menepuk pundak Rumanah. "Hahaha, kau pikir aku sudah pikun, Rumrum? Tentu saja aku masih ingat." sslorohnya.
Rumanah menyengir kuda. "Kupikir kau sudah lupa. Makanya kau tidak pernah ke sini lagi," ucapnya.
"Hehehe, bukan lupa. Aku hanya sedang sibuk dengan kegiatanku. Aku sedang mengurus lamaran kerjaku ke perusahaan milik majikanmu itu," ungkap Ferhat.
"Oooh, jadi kau akan bekerja di perusahaan milik Tuan Andre? Waaaah, cocok sekali. Semoga berhasil, ya!" ucap Rumanah antusias.
"Yes, terima kasih doanya, Rumrum," balas Ferhat.
Mereka berdua tampak terlihat akrab dan seperti sedang melepas rindu antara sahabat yang sudah lama tak bertemu. Padahal, Ferhat dan Rumanah baru kenal beberapa bulan yang lalu. Tapi, mereka berdua tampak sangat akrab dan klop.
"Ck, menyebalkan sekali! Dia benar-benar lupa dengan peringatanku! Aku benar-benar tidak suka melihatnya dekat dan akrab dengan pria mana pun!" cicit Andre di dalam hati. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan Rumanah dan Ferhat yang sedang mengobrol dengan akrabnya.
"Baiklah, princess. Jika sudah selesai, ayo kita berangkat. Biarkan Daddy mu mengantar dewi peri," ucap Ferhat pada keponakannya.
Sandrina mengangguk. "Baiklah, Uncle." jawabnya.
__ADS_1
"Ferfer, aku titip princess sama kamu, ya. Maaf sekali sudah merepotkan," ucap Rumanah pada Ferhat.
Ferhat tersenyum hangat serta mengangguk. "Tenang saja, Rumrum. Kau santai saja, oke. Aku sama sekali tidak merasa kerepotan. Lagipula princess adalah keponakanku. Kau tidak usah merasa tidak enak, Rumrum. Semoga tanganmu semakin membaik dan sudah bisa dilepas jahitannya," balasnya panjang lebar.
Rumanah tersenyum. "Terima kasih, mudah-mudahan begitu." ucapnya.
Andre menatap jengah dan kesal pada istrinya yang tidak paham pada kecemburuannya. Tentu saja hal itu membuatnya jengkel.
"Sudah sana berangkat, Ferhat! Kau terlalu membuang-buang waktu," sungut Andre yang tampak sewot.
"Widiiih, ada apa denganmu, Bang? Aku hanya membuang waktu sedikit saja," protes Ferhat.
Andre membuang napasnya kasar. Sementara Rumanah tampak menatap heran dan sedikit merasa tegang. Ia mulai menyadari jika suaminya sedang cemburu.
"Sedikit atau banyak, itu tetap membuatku kesal!" cicit Andre yang kemudian berlalu begitu saja.
Ferhat, Rumanah dan Sandrina tampak saling beradu pandang.
"Astaga, sangat kekanak-kanakkan sekali!" desis Rumanah dalam hati.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia sewot seperti itu?" tanya Ferhat heran.
"Entahlah, mungkin Daddy sedang datang bulan,"celetuk Sandrina yang berhasil membuat Andre dan Rumanah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahaaa!"
•
•
Andre membanting pintu mobilnya dengan kasar. Rumanah yang sudah berada di dalam tampak terkaget-kaget dengan tingkah suami tampannya itu.
"Astaga, apa yang terjadi padanya. Sedari tadi dia sewot dan cemberut seperti itu," ucap Rumanah dalam hati.
"Pakai sabuk pengamanmu!" perintah Andre dengan suara yang dingin.
Rumanah mengangguk tanpa menjawab. Ia pun bergegas memakai sabuk pengamannya. Sementara Andre sudah mulai melajukan mobil sportnya itu.
"Tuan," panggil Rumanah memecah keheningan di antara mereka.
"Hmmmm," jawab Andre cuek.
"Saya ingin bicara sesuatu," ucap Rumanah sedikit gugup.
"Bicaralah!" ketus Andre.
Rumanah terdiam dan seperti sedang mengumpulkan keberanian. Beberapa detik ia terdiam dan berhasil membuat Andre penasaran dan sedikit kesal.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Kau ingin minta izin soal kedekatanmu dengan Ferhat? Sebelum kau mengatakan itu, maka aku yang akan menegaskan lebih dulu. Sebaiknya kau kurangi berbincang dan terlalu dekat dengan pria itu. Tidak menutup kemungkinan jika Ferhat akan jatuh cinta padamu!" ujar Andre yang tampak berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
"Apa? Kenapa dia bicara seperti itu? Apakah dia juga cemburu melihatku dengan Ferhat?" ucap Rumanah dalam hati.
__ADS_1
"Awas saja jika kau melanggar, Annabelle!" ucap Andre dalam hati.
"Tidak, bukan itu yang ingin saya bicarakan, Tuan. Tapi, kenapa Anda tiba-tiba bicara seperti itu? Apakah Anda cemburu?" selidik Rumanah.
Andre menolehkan wajahnya dan menatap sangar pada istri cantiknya itu. "Bukannya sudah kuperingatkan soal ini? Aku tidak suka melihatmu dengan pria lain selain diriku!" tegasnya.
Rumanah menyipitkan matanya dan seketika ia tersenyum geli. "Hah, soal ini, saya mengerti. Tapi Anda tidak mengatakan jika Ferhat pun termasuk pria yang harus saya jauhi. Kemarin Anda hanya melarang saya dekat dengan Muhsin." ucapnya mencoba mengeluarkan pembelaan.
Andre terdiam dan membuang napasnya kasar. "Hmmm, kalau begitu kuperingatkan detik ini juga! Jangan terlalu dekat dengan pria mana pun termasuk Ferhat!" ucapnya penuh penegasan.
Rumanah tersenyum tipis serta mengangguk. "Baiklah, saya mengerti."ucapnya. "Apakah hal itu yang membuat Anda cemberut dan sewot sedari tadi?" selidiknya.
Andre melirikkan matanya dan membuang napasnya kasar. "Sudah tahu, nanya!" cicitnya sebal.
Rumanah tersenyum geli dan menahan tawanya agar tidak meledak. Lucunya pria dewasa di sampingnya itu jika sedang ngambek.
"Uuuunch, ternyata suamiku sedang cemburu. Hihihi, maaf yaaaa, saya 'kan tidak tahu." Rumanah membujuk suaminya seraya ngelendot manja pada suami tampannya itu.
Andre mengerucutkan bibirnya bertingkah manja. "Kau sangat menyebalkan!" sungutnya.
"Hehehe, jika saya menyebalkan, kenapa Anda mau menikahi saya? Hehehe," goda Rumanah.
"Ck, itu beda lagi. Cepat cium berkali-kali di sini, maka aku akan memaafkanmu!" Andre merajuk manja dan meminta istrinya untuk mencium pipi kirinya berkali-kali.
Rumanah tersenyum kecil dan mengangguk mengiyakan. "Padahal Anda sedang menyetir, tapi tetap saja nakal!" ucapnya yang kemudian mendaratkan bibirnya pada pipi kiri suaminya.
Muacchh!
Muaacchh!
Muuuacchh!
Beberapa kali Rumanah menciumi pipi suaminya. Dan hal itu membuat Andre tersenyum senang dan kembali seperti semula.
"Sudah tidak marah, bukan?" tanya Rumanah.
Andre tersenyum. "No! Karena kau sudah memberikan ribuan ciuman manis padaku. Hehehe," jawabnya.
"Hehe, syukurlah. Anda sangat seperti anak kecil yang ngambek karena tidak diizinkan untuk bermain game di warnet oleh orang tuanya. Ha ha ha ha," ucap Rumanah disertai tawa ngakaknya.
"Hahaha, sialan kau, Annabelle!" cicit Andre gemas.
"Hehehe." Rumanah nyengenges tanpa dosa.
"Awas kau, ya! Nanti malam akan kuhukum kau di atas ranjang!" ancam Andre.
"Wooow, menyenangkan sekali. Saya tunggu hukumannya, Tuan." Rumanah malah bersorak kegirangan.
"Hahaha, dasar kau wanita binal!" cicit Andre disertai tawa ngakaknya.
Rumanah hanya terkekeh kecil. Mereka berdua pun kini kembali hangat dan penuh tawa. Andre yang semula ngambek, kini sudah kembali adem.
__ADS_1
BERSAMBUNG...