
"Hallo, Leo. Cepat siapkan pesawat jet milikku! Aku akan terbang ke angkasa malam ini juga!" ucap Andre melalui teleponnya.
"Baik, bos!" jawab Leo di seberang sana.
Rumanah mengemas pakaiannya dengan suaminya. Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa potong pakaian saja.
"Apakah sudah selesai, darling?" tanya Andre seraya melangkahkan kakinya mendekati istrinya.
Rumanah mengangguk serta tersenyum. "Done, hubby." jawabnya.
"Good. Kalau begitu, ayo kita turun. Temui princess terlebih dahulu," ajak Andre seraya menarik tangan istrinya.
"Ayo," jawab Rumanah.
Mereka pun berjalan bersama-sama menuju kamar si cantik Sandrina.
"Bagaimana, apakah kalian benar-benar akan berangkat malam ini juga? Princess sudah tidur beberapa jam yang lalu." Sang Mami menyambut keduanya dengan pertanyaannya.
Rumanah dan Andre mengangguk mengiyakan.
"Ya, Mam. Kami akan berangkat malam ini juga. Tidak ada lagi yang harus kami tunda-tunda. Lebih cepat lebih baik!" jawab Andre seraya mendudukkan bokongnya di sisi putrinya.
"Tapi, princess sudah tidur, sayang. Bagaimana kita mau bicara padanya." Rumanah berkata dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Tidak masalah, Rum. Mami akan bicara dengan princess besok. Dia pasti bisa mengerti," sela Mami Purwati.
"Ya, benar. Lebih baik kalian berangkat saja. Jangan khawatirkan princess, dia anak yang baik. Kami akan menjaganya," timpal Papi Dargono.
Rumanah dan Andre saling beradu pandang dan memberikan isyarat melalui mata mereka. Tak lama kemudian, keduanya pun mengangguk tanda setuju.
"Baiklah, Mam, Pap. Kalau begitu kami akan berangkat. Kami titip princess, ya." Ucap Andre dengan raut wajah yang tampak terlihat sedikit berat.
Mami Purwati dan Papi Dargono mengangguk mengiyakan. Setelah itu, Rumanah dan Andre mencium manja putri mereka. Membisiki pada telinga gadis kecil itu jika mereka akan berangkat menuju kediaman kedua orang tua Rumanah.
Setelah di rasa cukup, Rumanah dan Andre pun bergegas naik ke dalam jet pribadi milik Andre. Tentu saja mereka perlu menggunakan pesawat agar lebih cepat sampai.
"Apakah kita tidak akan menyasar, sayang?" tanya Rumanah seraya menatap bintang di balik jendela pesawat jet.
Andre tersenyum serta menggeleng. "Tentu saja tidak, darling. Kau tenang saja, kita akan sampai di titik lokasi," jawabnya.
Rumanah mengangguk. "Baiklah, kalau gitu, sekarang kau harus menyiapkan mental dan kekuatan untuk menghadapi bapakku," ucapnya seraya mendongakkan wajahnya menatap suami tampannya itu.
Andre mengerutkan dahi. "Kenapa bisa begitu? Memangnya, ada apa dengan bapakmu? Dia sangat menyeramkan?" tanyanya penuh selidik.
Rumanah tersenyum kecil. "Ya, dia sangat menyeramkan sekali kalau sudah memaksa." ucapnya dalam hati.
Rumanah menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. "Tidak, hubby. Aku hanya bercanda. Maksudku, kau pasti akan gugup ketika bertemu dengannya," jawabnya.
__ADS_1
"Ooh, begitu rupanya. Kupikir bapakmu menyeramkan seperti dirimu ketika sedang ngambek padaku, darling. He he he," balas Andre disertai cengengesnya. Ia mengusap lembut puncak kepala istri cantiknya itu.
Rumanah menggeleng, walau dalam hatinya terbersit rasa takut dan khawatir. Tapi, dia akan tetap menghadapi apa pun yang terjadi. Dia akan mempertahankan pernikahannya dengan suami tampannya itu.
Pesawat jet yang mereka tumpangi, kini terbang tinggi di angkasa. Menyapa angin bintang dan bulan yang tidak akan bisa mereka gapai. Dalam malam yang sunyi, pesawat jet itu seakan membawa kepenatan di dalam pikiran Rumanah. Ia sangat penat memikirkan bagaimana nasib rumah tangganya setelah ia dan suaminya bertemu dengan kedua orang tuanya.
Pagi hari, Rumanah terbangun dari tidurnya. Sang suami yang semalam ia rasa berada di dalam pesawat, kini berbaring dengannya di atas ranjang. Di mana itu?
"Astaga, sudah pagi." Wanita cantik itu bergumam. "Tapi, di mana ini?" lanjutnya.
Krriiiiing!
Bunyi alarm membuat Andre membuka matanya. Alarm sengaja ia aktifkan untuk membangunkannya.
"Hoaaaam!" Andre menguap nikmat.
"Good morning, hubby," sapa Rumanah seraya tersenyum manis.
Andre menyipitkan matanya. "Emh, morning, darling." sahutnya dengan suara yang serak khas bangun tidur.
"Kita di mana, sayang? Kenapa aku bisa tidur di sini? Semalam, kita masih berada di dalam jet." Rumanah mulai bertanya.
Andre tersenyum. "Kita sedang berada di hotel, darling. Semalam, kau memang tertidur di pangkuanku. Aku menggendongmu sampai ke dalam kamar ini. Aku sengaja tidak membangunkanmu terlebih dahulu agar kau tidak terganggu." terangnya.
Rumanah tampak sedikit terlonjak kaget. "Hah, jadi kamu menggendongku? Astaga, pasti berat sekali. Maaf, ya!" ucapnya tidak enak hati.
Rumanah terdiam dan mengangguk mengiyakan. Dengan lembut ia membelai rambut suaminya.
"Maafkan aku, hubby. Setelah ini, kau mungkin akan terkejut dan bahkan kecewa padaku. Aku sudah siap dengan hal itu. Aku siap menerima kemarahanmu. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku," ucap Rumanah dalam hati.
***
Mobil Honda Brio milik sebuah rentalan mobil di kota Bandung itu melaju menembus pedesaan yang cukup strategis. Andre tampak antusias dan tak sabar ingin segera bertemu dengan kedua mertuanya..
"Darling, desamu ini benar-benar sejuk. Aku sangat menyukainya. Banyak persawahan dan perkebunan di sini, ya. Aku jadi ingin membuat segudang usaha di desa ini," celoteh Andre antusias dan penuh semangat.
Rumanah tersenyum. "Ya, sayang. Di desa ini memang belum ada yang membangun usaha apa pun selain perkebunan, persawahan, dan peternakan. Hampir semua penduduk desa mendapatkan mata pencaharian dengan berkebun, dan berternak." jawabnya.
Andre manggut-manggut tanda mengerti. "Darling, di sepanjang jalan ini ada perkebunan sawit, teh, dan ubi-ubian. Lahannya luas dan perkebunannya sangat subur-subur. Aku sangat penasaran, siapa pemilik perkebunan yang luas ini? Aku yakin, orang itu pasti memiliki banyak uang dari hasil perkebunan ini." ucapnya yang berhasil membuat Rumanah tersentak kaget.
Glek!
Rumanah menelan ludahnya kasar. Kedua bola matanya tampak membulat penuh. "Duh, kenapa harus penasaran dengan hal ini, astaga!" cicitnya dalam hati.
"Pasti pemiliknya orang terkaya di desa ini, bos." Leo menimpali obrolan Andre denga Rumanah.
"Ya, aku yakin itu. Sepertinya aku tertarik untuk bekerja sama dengan pemilik kebun ini. Gile, kebunnya luas banget, Le. Loe bisa bayangin gak, seberapa luasnya lahan perkebunan yang sudah kita lewati dari bibir gang sampai ke sini? Astaga, gue rasa pemiliknya kini sedang bersenang-senang dengan uangnya dan bisa bersenang-senang dengan para wanita penghibur. Ha ha ha!" cerocos Andre ngalur ngidul.
__ADS_1
"Ha ha ha, benar sekali, bos. Saya rasa lahannya ber-ratus-ratus hektar ini, bos. Duh, saya tidak bisa membayangkan seberapa besar keuntungan dari hasil perkebunan ini." Balas Leo yang juga tampak antusias.
Rumanah tampak terdiam dan membusungkan dadanya sebal. Tapi, kenapa dia bisa sebal?
"Hei, darling. Aku sangat penasaran, siapa pemilik perkebunan ini?" ucap Andre penuh desakan.
Rumanah memutar bola matanya malas dan menekuk wajahnya bertingkah sebal. "Tidak tahu! Memangnya, itu penting buat kamu?" jawabnya sewot.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap heran pada istrinya itu. "What? Ada apa ini? Kenapa kau sewot sekali, darling?" tanyanya penasaran.
"Entahlah!" desis Rumanah seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Andre tampak menatap heran pada istrinya yang seperti sedang bete. "Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat seperti sedang bete begitu. Apa ada yang salah dari bicaraku?" ucapnya dalam hati.
Rumanah menatap jalanan pedesaan yang sudah lama ia tinggalkan. Ada rasa rindu yang menggelayut di hatinya. Tentu saja ia sangat merindukan desanya itu. Ya, walaupun Rumanah tidak dilahirkan di desa itu, tapi, dia benar-benar mencintai desanya itu.
"Darling, ayolah bicara. Kau kenapa? Jangan seperti orang tidak punya uang, darling. Kau benar-benar tersinggungan. Dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit uring-uringan. Astaga! Katakan, kenapa kau cemberut seperti itu?" desak Andre yang tampak penasaran.
Rumanah hanya diam dan menatap jengkel pada suaminya. Sementara Leo yang mendengar dan melihat ekspresi Nyonya mudanya itu tampak ikut-ikutan heran dan bertanya-tanya.
"Bos, mungkin Nyonya sebal karena Anda terlalu sibuk dengan perkebunan. Emh, maksudnya, Anda terlalu hebring menanyai ini dan itu tentang perkebunan itu tanpa mengatur strategi untuk menemui kedua mertua Anda. Mungkin begitu, bos." Timpal Leo yang tampak menebak-nebak.
"Ck, sok tahu juga kau, Leo kripik kentang asli!" decak Rumanah dalam hati.
Andre menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Namun, ia mencoba mencerna ucapan asisten pribadinya itu.
"Benar begitu, darling?" tanya Andre seraya menatap serius wajah cantik istrinya.
Rumanah memutar bola matanya malas. "Salah satunya!" jawabnya singkat dan dingin.
Andre menatap tidak mengerti. "Hmm, kalau gitu, aku minta maaf, darling. Oh ya, berapa lama lagi kita sampai?" tanyanya.
"Sebentar lagi, di depan ada pertigaan, nanti belok kanan, ya." Jawab Rumanah.
"Ooh, sebentar lagi, ya. Duh, aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan kedua mertuaku. Ehm, jadi gerogi begini, ya. Hehehe," ucap Andre dengan tingkah konyolnya.
Rumanah tersenyum kecil melihat tingkah suaminya. Sang suami tampak tak berhenti tersenyum ceria. Ya, dia sangat terlihat bahagia.
"Sekarang, kau boleh gerogi, hubby. Tapi, saat bertemu dengan Ayahku, kau pasti akan tegang dan deg-degan." Ucap Rumanah dalam hati.
.
.
.
Yuhuuu, sebentar lagi, Andre akan tahu siapa sebenarnya Rumanah. Gimana? Kalian semua penasaran, gak? Terima kasih, ya, sudah mengikuti jejak Rumanah sampai ke sini. Hmmmm, sarangheooooo! ❤️❤️❤️🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
BERSAMBUNG...