Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Album foto


__ADS_3

Rumanah mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Pagi-pagi sekali ia sudah terbangun dari tidurnya. Hari ini, dia dan suaminya akan berangkat kembali ke Jakarta. Sudah cukup masa liburan, silaturahim, honeymoon dan melepas rindu dengan kedua orang tuanya.


Bersyukur sekali Rumanah, karena kedua orang tuanya tidak mengatur-atur kehidupannya seperti boneka. Pernikahannya dengan Andre sudah direstui dan disetujui oleh kedua orang tuanya. Dan, perihal pernikahan di depan penghulu, para saksi dan para tamu undangan rencananya akan mereka lakukan dua minggu setelah kepulangan mereka dari desa. Tentu saja Rumanah sangat bahagia atas hal ini. Pada akhirnya dia akan menjadi istri yang benar-benar di-sah-kan oleh agama dan negara.


"Sayang, bangun. Sudah pagi ini," ucap Rumanah membangunkan suaminya yang seperti kerbau yang ngorok ketika sedang tidur.


Tak ada tanggapan dan balasan dari Andre. Dan, Rumanah mencoba mengabaikannya. Karena, jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Tentu saja mereka masih memiliki waktu banyak untuk bersantai. Rencananya mereka akan berangkat pukul delapan pagi ini.


"Hng, dasar kerbau! Sudah dibangunkan, masih saja mendengkur!" cicit Rumanah seraya memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya mendekati lemari.


Andre membuka matanya dan tersenyum kecil. "Siapa yang seperti kerbau, darling?" tanyanya dengan suara yang serak khas bangun tidur.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu tersentak kaget mendengar suara suaminya yang tadi masih terpejam.


"Hah, sudah bangun?" ucapnya dalam hati.


Andre menyunggingkan senyuman usilnya dan membalikkan badannya memeluk guling di hadapannya. Matanya masih ia pejamkan dan selimut pun masih menutupi tubuh kekarnya. Cuaca di desa memang selalu dingin di setiap paginya. Hal itu membuat Andre selalu mager di tempat tidur dan akan berleha-leha karena rasa dingin yang menusuk kulit tubuh.


"Sayang, kamu sudah bangun, ya?" tanya Rumanah sembari melangkahkan kakinya menghampiri sang suami yang masih berada di atas ranjang.


Andre menggeleng. "Belum, darling." Jawabnya sembari tersenyum kecil.


Rumanah melebarkan bola matanya dan menggeleng kecil. "Kalau belum, kenapa kamu bisa menyahuti ucapanku, hubby!" protesnya sambil beringsek menyibakkan selimut yang menutupi tubuh suaminya.


"Astaga! Jangan dijauhkan selimutnya dari tubuhku ini, darliiiiing!" pekik Andre sembari meronta ingin meraih selimut yang sudah istrinya jauhkan darinya.


Rumanah terkekeh dan tidak peduli. Ia tetap melepas selimut itu dan melemparkannya ke atas sofa. "Ha ha ha! Jangan selimutan terus, sayang. Lama-lama kau akan menjadi dewa selimut jika selimutan terus. Ha ha ha!" tawanya pecah meledek suaminya.


Andre tampak memutar bola matanya dan membuang napasnya berat. "Hummm! Kau benar-benar menyebalkan, darling. Kau tahu jika di desa ini setiap pagi cuaca seperti di kutub utara. Astaga! Mestinya kau yang memberikan kehangatan padaku, bukan memberikan kedinginan lagi." celotehnya sedikit mengomel.


Rumanah masih terkekeh. Selalu saja seperti itu alasan yang keluar dari mulut suaminya itu. Dan, sepertinya setiap pagi dia sudah menjadi penghangat bagi suaminya. Ya, tentu saja ia selalu memberikan kehangatan pada suaminya dengan cara memeluk dan bahkan memanjakan adik kecil suaminya yang selalu gagah perkasa.


"Sudah jangan sebal seperti itu. Ayo bangun dan bergegas lah mandi. Kamu tidak lupa 'kan jika hari ini kita akan kembali ke Jakarta?" Kata Rumanah sembari mendudukkan bokongnya di samping suaminya.


Andre menekuk wajahnya dan membuka kelopak matanya. "Aku tidak lupa. Tapi, sekarang baru jam enam, darling. Masih banyak waktu untuk bersantai." Jawabnya sembari menarik tangan istrinya sehingga membuat wanita cantik itu ambruk ke dalam pelukannya.


"Sssh, bukannya bangun, kok malah ngajakin aku bobok lagi, sih." Desis Rumanah sembari mencoba melepaskan dirinya. "Ya, sekarang masih jam enam. Tapi 'kan kita pasti akan melewati banyak waktu lagi, sayang. Setelah ini sarapan bersama Phoo dan Maae. Kemudian kita akan ke kebun bunga untuk mengontrol bunga yang kemarin kita tanam. Lagipula, aku rasa lebih baik kita berangkat lebih pagi, sayang. Kau tahu 'kan jarak dari rumah ke kota tidaklah dekat." Ujar Rumanah panjang kali lebar kali tinggi.


Andre tersenyum dan mengusap lembut wajah cantik istrinya. "Ya, kau benar. Aku juga harus segera membawamu pergi dari sini agar si pria Thailand itu tidak mengganggumu lagi." Ucapnya penuh penekanan.


Rumanah tampak mengerutkan dahinya dan menatap absurd pada suaminya. "Ada apa lagi dengannya? Bukankah kemarin kalian sudah bicara banyak? Chaisay 'kan sudah mengikhlaskan aku menjadi istrimu, sayang. Jadi, tidak mungkin dia mengganggu diriku. Apalagi macam-macam seperti yang kau bayangkan." Ujarnya penuh penegasan.


Ya, kemarin Andre dan Chaisay memang sudah bertemu dan mengobrol. Seperti yang Rumanah katakan tadi. Chaisay mengatakan jika dirinya sangat ikhlas melepaskan Rumanah yang tadinya akan menjadi istrinya.


Andre juga telah mendengar dari mulut Chaisay sendiri jika pria Thailand itu sangat berharap Rumanah akan hidup bahagia dengan dirinya. Ya, tentunya ia pun merasa jika Chaisay memang bukan pria yang egois. Bahkan, Chaisay sendiri menitipkan Rumanah pada dirinya.


"Sudah ah, bangun! Aku mau mengemas pakaian yang belum sempat terkemas. Setelah ini kita sarapan bersama Phoo, Maae dan juga Chaisay. Sudah, jangan selalu curiga dan sipek sama Chaisay. Anggap saja dia sahabat barumu. He he he," ucap wanita cantik itu seraya beringsut turun dari ranjang dan mengikat rambutnya.


Andre tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Bu bos!" kekehnya sembari menggeliat nikmat. "Kalau begitu, aku akan mandi dan bersiap-siap." Lanjutnya yang kemudian beringsek turun dari ranjang.


"Sip! Itu baru namanya suami yang penurut." Puji Rumanah sembari meraih handuk untuk suaminya.

__ADS_1


"He he he, suami yang penurut. Lucu sekali aku mendengarnya. Semestinya istri yang lebih harus nurut pada suaminya." Kekeh Andre seraya menangkap tubuh istrinya dan memeluknya dari belakang.


Rumanah terkekeh dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. "Biar adil dong, hubby. Jangan cuma istri saja yang penurut, suami juga harus penurut. He he he," balasnya.


Andre tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Itu benar. Tapi ... kapan perutmu ini buncit karena mengandung baby boy ku?" ucapnya sembari mengusap lembut perut rata istrinya.


Wanita cantik berusia sembilan belas tahun itu tersenyum hangat dan menyentuh tangan suaminya. "Entahlah, sayang. Tapi, aku rasa sebentar lagi perutku membuncit. Sebab, habis ini aku akan mengisi perutku dengan beberapa makanan. He he he," kekehnya yang berhasil membuat Andre gemas dan juga sebal.


"Astaga! Kupikir membuncit karena mengandung anak kita, darling." Desisnya sembari melepaskan pelukannya dan memainkan rambut panjang istrinya.


Rumanah terkekeh. "Ya, itu pun akan terjadi, hubby. Tenang saja. Jika beberapa waktu ke depan aku belum juga hamil, mungkin itu karena Tuhan tahu jika aku masih muda dan belum dipercaya untuk mengandung." Ujarnya panjang lebar.


Andre terdiam dan menyimak, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut istrinya.


"Tenang saja! Aku pasti hamil, kok. Sekarang, usiaku masih sembilan belas tahun. Beberapa bulan lagi, usiaku tepat dua puluh tahun. Mungkin, saat itulah Tuhan mengaruniakan anak padaku." Lanjut wanita cantik itu seraya memutar tubuhnya menghadap suaminya.


Andre tersenyum. "Ya, kau benar. Dan, aku akan tetap sabar menunggu. Kau pun harus tenang dan jangan terbeban, ya." Balasnya sambil mengusap lembut wajah cantik istrinya.


"It's okey, hubby," ucap Rumanah sambil tersenyum.


"Ok, kalau gitu sekarang aku mandi dulu, ya." Andre berkata sambil menyambar handuk di tangan istrinya.


"Sip!" balas Rumanah sambil mengangguk.


Andre pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Rumanah kembali mengemas pakaian yang belum terkemas.


"Oleh-oleh untuk princess, Mami, Papi dan Ferhat sudah dikemas belum, ya?" gumam Rumanah sambil beralih mencari oleh-oleh yang telah ia beli untuk orang-orang yang menunggunya di Jakarta.


Rumanah kembali mundur dan hendak mengemas pakaian yang belum sempat ia kemas tadi, namun pada saat itu manik matanya menangkap sebuah album foto yang tersusun rapi di dalam rak.


Tanpa membuang waktu, ia tertarik ingin membuka dan melihat-lihat album foto yang mungkin banyak menyimpan kenangan di sana. Dengan cepat ia pun meraih album foto tersebut. Seketika senyumnya mengembang saat ia membaca tulisan di cover album foto tersebut.


Album foto Tesanee Sunee. Si wanita cantik yang memilik akhlak yang baik dan mempesona bagaikan bunga teratai.


Seperti itu tulisan yang ada di cover album foto itu. Ya, sebuah makna dari nama yang diberikan oleh orang tua Rumanah dan sanak saudaranya di Thailand sana.


Dengan pelan Rumanah membuka album foto di tangannya. Album foto yang menyimpan banyak kenangan masa kecilnya.


"Oh My God. Ini aku?" desisnya dengan manik mata yang ia buka lebar-lebar.


Gambar anak kecil umuran tiga tahun terpampang nyata di hadapan Rumanah. Ya, tentu saja itu foto dirinya sendiri. Foto saat ia baru berusia tiga tahun.


"Comelnya," gumamnya lagi yang kini tampak tersenyum dan mengusap lembut foto dirnya.


Senyum ceria seorang gadis kecil berusia tiga tahun, memakai gaun putih, topi pantai warna pink dan bunga teratai di tangannya. Sungguh cantik dan menggemaskan.


Kemudian ia membuka lembaran album foto itu kembali satu persatu. Tak lepas, senyuman manis dan kerinduan menghampiri dirinya. Foto-foto saat kedua orang tuanya masih muda dan menggendong dirinya yang masih kecil. Foto-foto saat ia berlibur dengan keluarganya yang di Thailand. Semua itu membuat Rumanah sangat rindu.


"Nenek, sepertinya aku harus mengunjunginya di lain waktu. Aku merasa rindu pada Nenek dan Kakek di Thailand." Gumam Rumanah sambil membuka lembaran lagi.


Sebuah foto yang menampilkan gadis kecil berusia sekitaran lima tahunan sedang duduk menis memegang ice cream di tangannya. Satu orang di sampingnya adalah pria kecil yang sepertinya seumuran dengan dirinya yang juga sama sedang memegang ice cream.

__ADS_1


Lucu, gemas dan sangat manis. Itu kesan pertama yang akan terucap bagi siapa pun yang melihat foto itu.


"Ini aku dengan—" Rumanah menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre menyelanya.


"Apa yang kau lihat, darling?" tanya Andre membuat Rumanah sedikit tersentak. Pria tampan itu melangkahkan kakinya menghampiri istrinya.


"Ah ini, sayang. Hanya album foto," jawab Rumanah sambil menutup album foto yang tadi ia amati.


"Kenapa ditutup? Aku ingin melihatnya," ucap Andre sembari menyambar album foto di tangan istrinya.


"Hah, itu sangat tidak penting, kurasa. He he he," kata Rumanah sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.


Andre tak menanggapi, ia mulai melihat-lihat album foto di tangannya. Seketika alisnya menaut dan senyumnya mengembang kemudian.


"Ini kamu, ya?" tanyanya sambil menengok wajah cantik istrinya.


Rumanah tersenyum masam dan mengangguk kecil.


"Cantik. Aku rasa kau memang sudah cantik dari kecil, ya." Puji Andre yang kembali mengamati foto-foto istrinya.


Rumanah terkekeh. "Tidak, kamu salah, sayang. Yang benar itu ... aku sudah cantik saat masih berada di dalam kandungan Maae." Kekehnya penuh percaya diri.


Andre tertawa kecil dan mencubit gemas hidung mancung istrinya. "Itu pasti. Bahkan mungkin sebelum kau diciptakan oleh Tuhan. Ya, gambarannya cantik seperti ini. He he he," ucapnya.


Rumanah terkekeh dan ikut melihat-lihat album foto yang kini berada di tangan suaminya.


"Dan ini, Phoo dan Maae?" tanya Andre.


Rumanah tersenyum lantas menggeleng. "Kau tidak bisa bedakan, ya? Ini bukan Phoo dan Maae. Ini Nenek dan Kakekku di Thailand, sayang. Kalau Phoo dan Maae itu di...." ia lekas membuka lembaran demi lembaran mencari foto Phoo dan Maae nya.


"Ini dia! Ini Phoo, dan ini Maae. Mereka masih muda, bukan." Lanjut wanita cantik itu menunjukkan foto ayah dan ibunya.


Andre mengerutkan dahi dan begitu mengamati. "Ini, waaah. Maae cantik sekali, ya." gumamnya memuji kecantikan ibu mertuanya.


Rumanah tampak mengerucutkan bibirnya bertingkah sebal. "Sudah, jangan dilihat lagi! Di sini banyak foto Maae memakai baju yang seksi dan menonjol. Pakaian adat Thailand yang kemarin aku pakai itu. Kau pasti akan semakin tercengang. Hmmm!" cicitnya sembari menyambar paksa album foto di tangan suaminya.


Andre tersenyum kecil dan menatap gemas pada tingkah istrinya. Tentu saja ia tidak akan tertarik hanya dengan melihat foto-foto ibu mertuanya saat muda.


"Sudah sana pakai baju! Sebentar lagi kita sarapan. Phoo dan Maae pasti sudah menunggu." Ucap wanita cantik itu sambil meletakkan album foto di tempatnya.


Andre tersenyum dan melangkahkan kakinya menghampiri istrinya. "Kau kenapa? Marah?" tanyanya sambil memeluk tubuh istrinya dengan manja.


Rumanah menggeleng kecil. "Tidak!" dangkalnya.


"Jujur saja. Kau marah karena aku berkata jika Maae cantik?" desak Andre.


Rumanah terdiam dan memutar bola matanya malas. "Katanya tidak boleh memuji wanita lain di hadapan istrinya." Sindirnya dengan tingkah yang manja.


Andre terkekeh kecil dan menangkupkan kedua tangannya di wajah cantik istrinya. "Aku memuji ibu mertuaku sendiri. Kau pun cemburu dan marah? Astaga. Dengar, aku hanya memuji kecantikan ibu mertuaku yang diwariskan padamu. Lihat, wajahmu sangat cantik dan bahkan lebih cantik dari Maae. Kau memiliki dua warisan, dari Maae dan Phoo. Sudah, jangan marah lagi, ya. Kau yang paling cantik." Bujuknya penuh cinta.


Rumanah tersenyum manis dan menatap manja. Ia pun memeluk hangat tubuh suaminya dan merajuk manja.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2