
Warning : Terdapat beberapa adegan yang harus dihindari bagi kalian yang belum cukup umur dan bagi yang belum memiliki suami atau istri.
____________
"Apa yang membuatmu takut, Annabelle?" tanya Andre seraya mengusap lembut wajah manis gadis desa itu.
Rumanah menunduk, perlakuan manis dan lembut Andre nyaris membuatnya hampir terhanyut dan termakan oleh rayuannya. Astaga, Rumanah adalah sorang gadis desa yang benar-benar masih gadis alias perawan. Tentu saja akan banyak pertimbangan yang gadis desa itu pikirkan. Dan, akan banyak konsekwensi dan risiko yang akan gadis desa itu hadapi.
Tetapi, kendati demikian gadis desa itu pun tampak penasaran dan ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman. Ah, namanya juga baru pertama kalinya bagi Rumanah. Wajar saja jika ia merasakan sebuah kenikmatan dan rasa penasaran yang begitu tinggi. Gejolak asmaranya yang baru saja ia lontarkan pada pria dewasa yang sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengannya, nyaris membuatnya tak ingin berakhir dalam rasa penasaran yang tinggi.
Namun, gadis desa itu masih waras dan normal. Ia menyadari jika hal itu bukan lah perbuatan yang dibenarkan. Ia menyadari jika hal itu hanya akan membuatnya menyesal dan mungkin sampai membuatnya tak ingin menjalani hidup lagi. Tetapi, akan kah gadis desa itu mampu menahan segala hasratnya? Hasrat yang baru saja ia rasakan pertama kali.
"Aku ingin mencicipimu, Annabelle. Ayolah kau katakan setuju. Tetapi, jika kau menolak dan tidak ingin melakukannya, maka aku tidak akan memaksa. Aku akan mencoba membuatmu berpikir dan akan terus membuatmu semakin penasaran dan menjadi wanita liar di atas ranjang." cerocos Andre di dalam hati.
Dalam suasana yang begitu runyam, Rumanah yang manis tampak harus berargumentasi dengan jiwa dan raganya. Saat jiwanya menolak, tetapi raganya berteriak menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman.
__ADS_1
"Annabelle, jangan banyak berpikir. Aku akan bertanggung jawab. Bukan kah kau juga sangat ingin melakukannya? Ayolah, kau sangat menggemaskan dan menggiurkan." bisik Andre pada telinga gadis desa itu.
"Eeeemhhhh." Rumanah menggeliat dan sedikit bergidik geli. Hembusan napas majikan dudanya begitu menerpa masuk ke dalam telinganya. Dan, Ah! Itu membuat hasrat dan bira*hi gadis desa itu kembali bangkit membakar jiwa.
"Buka matamu." pinta Andre lembut. Kini tangannya sudah mengusap lembut dua balon kenyal milik gadis desa itu. Uh, sedapnya! Kenyal, bulat dan mungil. Tetapi, duda tampan itu tidak akan puas sebelum ia dapat membuka penutup dua balon kenyal itu dan mengulu*m serta menghisap pucuk indah berwarna merah muda itu. Sluurrrrpppp, Andre sampai mengiler membayangkan bagaimana lezatnya dua balon kenyal itu.
Rumanah membuka matanya, deru napasnya sudah bukan lagi napas yang normal. Pancaran matanya sudah terlihat penuh bira*hi yang tinggi. Ya, Rumanah menginginkannya. Tetapi, tidak ada keberanian lebih untuknya mengakui keinginannya.
"Uuuuhm, sudah, Tuan. Saya harus segera menemui princess. Eemh!" gadis desa itu berkata sembari melenguh serta mendes*ah kecil. Bagaimana ia tidak mendes*ah, sementara tangan Andre semakin tak mau diam.
Baru saja seperti itu Rumanah sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa. Apalagi kalau Andre sampai menghentakkan bokongnya dan menancapkan kejantanannya? Sungguh pasti akan membuat gadis desa itu menjerit dan mendes*ah nikmat.
"Sabar sebentar saja, Annabelle." pinta Andre seraya membuka satu persatu kancing kemeja pengasuh putri kecilnya itu.
Rumanah membuang wajah nya ke samping. Sementara napasnya kini sudah naik turun tak beraturan. Napas yang berat dan menyimpan sejuta harapan. Ah, gilanya!
__ADS_1
"Aku harus mendapatkanmu, Annabelle." ucap Andre dalam hati.
Duda tampan itu tampak masih membuka kancing kemeja gadis desa itu. Sementara tangan satunya ia gunakan untuk memalingkan wajah Rumanah agar menatapnya.
"Sudah, Tuan." Rumanah meminta untuk menyudahi, tetapi gelagat dan pancaran matanya mendeskripsikan keinginannya. Dan Andre sangat gemas akan hal itu.
"Kau menginginkannya, Annabelle." ucap Andre dalam hati.
Dalam hitungan detik saja duda tampan itu tampak kembali menyatukan bibirnya dengan bibir ranum pengasuh putri kecilnya itu. Dan, tanpa menolak, gadis desa itu refleks memejamkan matanya. Menyambut dengan hangat hisapan dan lum*atan bibir majikan galaknya.
Ya, beberapa menit mereka berciuman, gadis desa itu tampak sedikit paham dan mulai berani menggerakan bibir dan lidahnya. Mengikuti alur dan gerakkan yang dilakukan oleh bibir serta lidah sang majikan galaknya itu.
Andre sudah selesai membuka kemeja gadis desa itu. Kini, tinggal satu langkah lagi untuknya agar bisa melihat apa yang ada di dalam bra hitam itu. Tentu saja hal itu membuatnya buru-buru membuka pengait bra yang dikenakan Rumanah.
***
__ADS_1