Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Memalukan!!


__ADS_3

Setelah insiden terpelesetnya Rumanah, keempat manusia yang sedang mencari Hoka Hoka Bento itu pun kembali melangkahkan kaki mereka melanjutkan perjalanan hingga ke lantai empat.


Rumanah yang sudah berani naik escalator tampak tidak kaku dan tegang lagi. Kali ini gadis desa itu tidak membutuhkan pertolongan siapa pun. Ya, tentu saja dia sudah berani dan sudah bisa.


"Ayo kita masuk, perutku sudah sangat merasa lapar." ajak Andre saat mereka sudah berada di depan resto Hoka Hoka Bento.


"Ya, perut princess juga sudah sangat lapar sekali, Dadd." sahut Sandrina seraya ngelendot manja pada Rumanah.


"Kalau begitu princess bisa makan sepuasnya." ucap Andre yang berhasil membuat Sandrina bersorak.


"Yeaaaaayyy makan sepuasnyaaa!" sorak gadis kecil berusia lima tahun itu.


Sementara itu Rumanah dan Ferhat hanya tersenyum simpul melihat keceriaan Sandrina.


"Duduk di meja sebelah sana." tunjuk Andre pada meja yang berada di sudut kanan.


Mereka semua pun berjalan bersama-sama menuju meja yang Andre tunjuk. Rumanah menarik satu kursi di samping majikan galaknya untuk Sandrina, sementara Ferhat menarik satu kursi di sampingnya untuk Rumanah.


"Silakan." ucap Ferhat mempersilakan Rumanah duduk di sampingnya.


Rumanah mengangguk seraya tersenyum manis, "Uhm, terima kasih. Kau sangat perngertian sekali, Ferfer." usulnya seraya mendudukkan bokongnya di kursi yang telah Ferhat sediakan.


Ferhat hanya tersenyum simpul tanpa menjawab. Ia pun tidak tahu kenapa dirinya perhatian dan pengertian pada gadis desa itu. Yang jelas ia hanya merasa iba dan kasihan pada pengasuh keponakannya itu.


Beberapa porsi makanan khas Jepang itu telah siap di meja yang mereka tempati. Sandrina terus-terusan bersorak saat melihat makanan favoritnya. Gadis kecil itu memilih menu seafood kesukaannya. Sementara Andre tampak memilih menu vagatable yang terkesan lebih sehat. Dan Rumanah, tentu saja ia menyerahkan semuanya pada lelaki tampan di sampingnya. Karena ia benar-benar tidak mengerti dengan menu yang ada di sana.


"Waduh, makanan apa ini? Kenapa nasinya dibuntel-buntel pakai daun seperti ini. Uhm, apakah ini lemper?" cerocos Rumanah dalam hati. Ia tampak tercengang melihat beragam makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Ya, tentu saja beberapa makanan yang ada di hadapannya belum pernah ia jumpai sebelumnya. Maka tak heran jika sepotong sushi dia katakan lemper.


Sandrina dan Andre tampak sudah mulai memasukkan makanan yang ada di hadapan mereka ke dalam mulut menggunakan sumpit. Dan Ferhat pun sudah mulai melakukan kegiatan yang sama dengan Andre dan Sandrina.


Sementara itu Rumanah tampak melongo seperti orang beg*. Tentu saja gadis desa itu tidak pandai makan menggunakan sumpit. Biasanya ia hanya menggunakan tangannya tanpa sendok, namun kali ini sepertinya wanita itu benar-benar diperlihatkan kekatroannya.


"Annabelle, kenapa kau diam saja? Cepat habiskan makananmu, setelah ini princess pasti ingin bermain di time zone, dan kau harus menemaninya." tegur Andre yang tampak heran pada pengasuh putrinya itu. Pasalnya sedari tadi Rumanah hanya memandangi makanannya dan sesekali memperhatikan ketiga manusia yang sedang makan menggunakan sumpit.


"Emh, iya Tuan. Pasti saya habiskan," jawab Rumanah seraya tersenyum kaku.


"Jangan bilang kau tidak bisa menggunakan sumpit, Rumrum." ucap Ferhat dalam hati.


Rumanah pun mulai meraih dua sumpit sekaligus, gadis desa itu tampak gugup dan gemetar saat tangannya harus memegang sumpit yang sama sekali tidak bisa ia gunakan.


"Aduh, gimana ini? Aku benar-benar tidak bisa makan menggunakan sumpit. Astaga, kenapa orang kaya seperti kalian selalu menyulitkanku sii!?" gerutu Rumanah dalam hati.


"Ha ha ha ha ha." tawa Ferhat pecah saat itu juga. Tentu saja hal itu membuat Andre, Rumanah dan juga Sandrina tampak menatap heran dan penuh tanya pada lelaki yang masih muda itu.


"Ada apa, Uncle?" tanya Sandrina penuh selidik.


"Kalau makan ya makan saja, tidak boleh sambil bicara apalagi tertawa seperti itu. Nanti setannya pada ikutan makan lhooo." tegur Rumanah yang tampak meletakan sumpitnya kembali. Gadis desa itu merasa tersinggung oleh tawa renyah Ferhat. Ya, ia merasa jika Ferhat sedang menertawakannya.


"Tuh, dengar kata penceramah kondang kondangan ustadzah Rumanah Annabelle, nanti makanannya cepat habis karena dimakanin setan. Ha ha." timpal Andre yang tampak ikut tertawa.


Rumanah tampak mendelikkan matanya kesal, sementara Sandrina tampak menatap heran pada Daddy dan Uncle-nya.


"Tertawalah sepuas kalian, lebih baik aku makan semua makanan ini menggunakan tangan kosong. Bodo amatlah mau dibilang apa sama mereka yang melihatku, yang penting aku makan masih menggunakan tangan kanan dan tidak menggunakan kaki." celoteh Rumanah dalam hati.

__ADS_1


Saat Andre dan Ferhat masih tertawa ngakak, gadis desa yang cupu itu benar-benar mulai meraih makanannya satu per satu menggunakan tangan kosong. Tentu saja saat itu Ferhat dan Andre tidak menyadarinya, berbeda dengan pengunjung yang lain. Mereka yang melihat aksi Rumanah tampak tertawa kecil namun ada juga yang berusaha menahan tawanya.


"Aku tak perduli pada kalian yang menatapku dan menertawakanku seperti itu. Yang peting aku bisa makan dan pulang dalam keadaan kenyang. Hahay." kembali Rumanah mengoceh dalam hati.


Sandrina menolehkan wajahnya pada pengasuhnya yang sedang asyik makan tanpa menggunakan sumpit, tentu saja hal itu membuatnya terkejut bukan main, "Hah, dewi peri! Kenapa kau makan seperti itu?" tegur Sandrina yang tampak tidak paham jika pengasuhnya memang tidak bisa menggunakan sumpit.


Sontak saja hal itu membuat Andre dan Ferhat menghentikan tawanya lalu menatap Rumanah yang sedang ayik makan sushi dan menu yang lainnya.


"Astaga, Annabelle! Apa yang kau lakukan?" sungut Andre yang tampak terkejut.


Rumanah menghentikan kunyahannya dan menatap datar pada ketiga orang yang sedang mengintimidasinya.


"Ya Tuhan, dia benar-benar melepaskan sumpitnya." desis Ferhat seraya menepuk jidatnya.


"Ada apa?" tanya Rumanah santai.


Andre mengusap wajahnya dan menatap sebal pada Rumanah. Pria itu tampak melirikkan matanya ke sana kemari, memantau apa yang para pengunjung katakan tentangnya. Tentu saja ia malu pada para pengunjung yang sedang menertawakan Rumanah diam-diam.


"Memalukan! Berhenti makan dan gunakan sumpit itu!" perintah Andre dengan sorot mata yang terlihat kesal.


Rumanah tampak terhenyak kaget mendengar ucapan majikan galaknya, "Ti.. Tidak bisa. Saya.." belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.


"Kalau tahu begini caranya, lebih baik aku tidak usah mengajakmu! Dasar kampungan!" Hardik Andre yang kini tampak sudah terlihat sangat kesal.


Rumanah tampak terdiam dan menundukkan wajahnya yang kini sudah memerah menahan malu dan sedih. Ya, dia sangat sedih karena majikan galaknya selalu menghinanya di mana pun mereka berada.


***

__ADS_1


__ADS_2