
Andre menggeser layar ponselnya, membuka beberapa pesan Whatsapp yang ia terima dari mantan adik iparnya. Tetapi, walaupun sudah mantan, Andre tetap menganggap Ferhat sebagai adiknya.
"Iya, aku sudah tahu kau menjemput princess ke sekolah, kenapa harus ngechat lagi," gerutu duda tampan itu yang tampak menekan setiap ucapannya. Mungkin dia sedikit merasa terganggu atas datangnya beberapa pesan Whatsapp yang masuk ke dalam ponselnya.
Duda tampan itu pun membuka pesan dari Ferhat, dengan hati yang sedikit dongkol, ia tampak malas-malas menatap layar ponselnya. Namun, saat manik matanya menangkap beberapa foto yang Ferhat kirimkan, seketika kelopak matanya ia buka lebar-lebar.
"Hah, Annabelle sedang berenang bersama Ferhat dengan princess," gumam duda tampan itu saat ia melihat foto Ferhat yang sedang menggendong princess Sandrina di kolam berenang. Dan, ke mana gadis desa yang Andre panggil Annabelle?
Andre menekan layar ponselnya dengan dua jarinya, foto yang Ferhat kirimkan kepadanya, ia zoom lebar-lebar. Pokoknya ia ingin melihat seseorang yang sedang duduk di pinggiran kolam renang itu dengan jelas tanpa cela.
Ya, Ferhat memang berniat menunjukkan fotonya dengan princess yang sedang berenang. Sementara Rumanah hanya sedang bermain air di pinggiran kolam berenang yang ada di dalam rumah mewah milik duda tampan itu. Tetapi tak dapat diduga jika ternyata Andre lebih tertarik pada sosok gadis manis yang sedang bermain air tanpa berpose. Ya, tentu saja Rumanah tidak berpose, sebab ia memang tidak diajak berfoto oleh Ferhat.
"Astaga, dia manis sekali memakai daster mini seperti itu," bisik Andre yang tampak tersenyum kecil saat ia memperhatikan si gadis desa yang sedang tidak berenang itu.
Rumanah memang sedang mengenakan daster mini warna merah marun. Daster bahan rayon dengan motif butterfly, model serut di bagian dada hingga diafragma dan model lengan yang lekton. Tentu saja hal itu membuat Andre gemas, gemas pada betis putih mulus yang Rumanah biarkan terkena air kolam. Dan juga pada lengan Rumanah yang begitu putih mulus tanpa cela. Sepertinya gadis desa itu memang tidak pernah mengalami penyakit gatal yang akan mengakibatkan kulit putih mulusnya ternoda oleh korengan. Astaga!
__ADS_1
"Aku harus segera pulang. Aku ingin melihatnya berenang dan ingin mencium bibirnya di dalam kolam renang itu." ucap Andre seraya melipat ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
Tanpa membuang waktu lagi ia pun beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruangannya. Di depan ruangan, sekretaris Meliza yang ditemani oleh adiknya—Ririn tampak bangkit berdiri memberi hormat.
"Selamat sore, Pak," sapa Meliza.
"Selamat sore juga, Mel." sahut Andre. "Aku sudah akan pulang, Mel. Pekerjaanku sedikit lagi selesai, namun sepertinya besok saja akan kukerjakan lagi. Dan kau, jika sudah selesai bisa langsung pulang." lanjut duda tampan itu yang tampak terlihat tampan dan keren dengan gaya rambut yang aduhay.
Meliza tersenyum seraya mengangguk. "Baik, Pak." jawabnya. "Tetapi jika diizinkan maka biarkan saya saja yang akan mengerjakannya, Pak." lanjut wanita cantik itu.
"Tentu saja tidak, Pak. Saya sudah selesai membagi tugas dengan Ririn." jawab Meliza.
"Oh, begitu, baiklah." balas Andre. "Hei, Ririn," duda tampan itu menyapa Ririn, sekretaris barunya.
Ririn tersenyum manis. "Hallo, Pak Andre," sahutnya.
__ADS_1
"Mulai besok kau akan menggantikan Kakakmu ini, jadi kau harus siap dan berlatih dengan matang." ucap Andre yang berhasil membuat Ririn membulatkan kedua bola matanya penuh.
"Emh, ba baik, Pak." jawab Ririn sedikit gugup.
Ya, Andre memang sudah menerima Ririn menjadi sekretarisnya. Saat Meliza izin untuk segera menikah dan mengatakan jika Ririn adalah adik kandungnya, Andre mencoba menerima kepergian Meliza dan mulai menerima orang lain menjadi sekretarisnya. Dan, keputusan telah disepakati hari ini juga bahwa Meliza mulai besok sudah tidak menjadi sekretaris Andre lagi.
"Ya sudah, kalau begitu aku permisi," ucap Andre yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Meliza dan Ririn mengangguk, membungkuk serta tersenyum.
"Gila, Mbak. Jantung gue mau copot saat melihat senyuman mautnya. Astaga! Tampan sekali ketua pimpinan. Loe sudah belasan tahun jadi tangan kanannya tapi tidak merasa tertarik kah pada Pak Andre, Mbak?" cerocos Ririn.
Meliza tersenyum kecil. "Tidak sama sekali. Terkadang, cinta memang tidak selalu datang ketika kita sering bertemu dan berdekatan. Nyatanya, Mbak jatuh cinta pada orang yang sama sekali tidak pernah dekat dengan Mbak." jawab wanita cantik itu.
Ririn manggut-manggut tanda mengerti.
__ADS_1
BERSAMBUNG...