Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Jangan banyak gerak!


__ADS_3

Setelah Rumanah menyetujui perihal operasi yang akan di lakukan pada jari manisnya, Andre dengan sigap dan siaga mengantar pengasuh putrinya ke dalam ruangan rawat inap. Tentu saja Rumanah harus bermalam dulu dan melakukan puasa beberapa jam menjelang operasi di lakukan.


Setelah melakukan beberapa ragam rangkaian medis, mulai dari suntik alergi, suntik vaksin tetanus, pemasangan alat infus, melakukan scan di bagian dada, perut dan tangannya, gadis desa itu tinggal menunggu waktu operasi dilangsungkan.


"Annabelle, malam ini kau tidur di sini dulu. Besok pagi pukul sepuluh dokter akan melakukan operasi pada jari manismu itu." ucap Andre pada pengasuh putrinya.


Rumanah mengangguk seraya mendudukkan bokongnya di tempat tidur pasien. "Baik Tuan." ucapnya. "Tapi, setelah operasi apakah bisa langsung pulang?" tanyanya.


"Entah, aku juga tidak pernah mengalami yang namanya operasi." jawab Andre sedapatnya.


Rumanah membuang napasnya kasar. "Saya ingin pulang setelah operasi, Tuan. Saya tidak bisa jauh-jauh dari princess." ucapnya dengan raut wajah yang memelas.


Andre menghempaskan tubuhnya di sofa, duda tampan itu memang memilih ruangan kelas vvip agar kenyamanan dan fasilitasnya terjaga.


"Kau tidak bisa pulang jika tidak di sarankan oleh dokter, Belle." ucap duda tampan itu seraya menghidupkan pendingin ruangan.


"Huuummmmmm," Rumanah membaringkan tubuhnya, selang infus yang terpasang membuatnya kesulitan untuk bergerak bebas.


"Annabelle, kau tidak boleh banyak bergerak." ucap Andre mengingatkan Rumanah.


"Kenapa, Tuan?" tanya Rumanah.


"Kau tidak mendengar penjelasan dokter tadi?" Andre malah balik bertanya.


"Tidak, Tuan. Soalnya kan Tuan yang menemui dokter." jawab Rumanah yang berhasil membuat Andre sedikit tengsin.


"Hmmmm, benar juga sii. Dia memang tidak menemui dokter. Ada apa denganku hari ini." ucap Andre dalam hati, duda tampan itu tampak menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.


"Tuan, saya ingin tidur." ucap Rumanah manja. Sedang dalam situasi seperti ini gadis desa itu tidak lagi memandang siapa dirinya dan siapa duda tampan yang ada dengannya.


"Ya sudah tidurlah, memangnya aku harus berbuat apa saat kau ingin tidur?" seloroh Andre.

__ADS_1


"Harus ngelonin saya, Tuan. Hi hi hi hi." ucap Rumanah dalam hati.


Rumanah menyunggingkan senyuman usilnya. "Tidak ada Tuan. Saya hanya memberitahu Tuan saja," jawab Rumanah seraya meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Namun, nampaknya gadis desa itu sepertinya kesulitan untuk meraih selimut yang ada di bawah kakinya.


"Duh, susah sekali. Ini selang infus juga ngapain ikut - ikut." gerutu Rumanah dalam hati.


Andre melirikkan matanya pada pengasuh putri kecilnya. Selang infus yang terpasang tampak bergoyang dan membuat kantung cairan infus yang menggantung pun ikut bergoyang. Tentu saja hal itu membuat Andre kesal.


"Annabelle! Sudah kukatakan jangan banyak bergerak. Kenapa kau bandel sekali sii. Lihat itu, infus di tanganmu darahnya naik!" kali ini Andre tampak menaikkan suaranya dan beranjak dari duduknya. Melangkahkan kakinya menghampiri pengasuh putrinya dengan raut wajah yang terlihat kesal dan marah.


Rumanah menggigit bibirnya seraya melirikkan matanya pada selang infus yang terpasang di tangan kanannya. "Astaga, benar ternyata darahnya naik. Aduh, gimana ini." ucap Rumanah dalam hati.


"Ck, kau ini memang ngeyel sureyel, Annabelle!" dengus Andre sebal.


"Bagaimana saya tidak bergerak, Tuan. Saya ingin meraih selimut itu, tapi susah sekali." protes Rumanah.


"Ck, kenapa kau tidak bilang padaku, Annabelle!" sungut Andre seraya meraih selimut lalu mulai menyelimuti tubuh Rumanah menggunakan selimut itu.


Andre mendelikkan matanya dan membuang napasnya kesal. "Ge to the er, GE'ERRR!!!!!" sungut Andre seraya menyonyorin kepala Rumanah dengan kekuatan yang tidak terlalu tinggi.


Rumanah mengerlingkan manik matanya dan mengusap kepalanya yang tadi dinyonyorin oleh majikan galaknya.


"Kau diam di sini dan jangan banyak bergerak. Aku akan memanggil suster untuk memeriksa keadaanmu." ucap Andre yang kemudian memencet alat pemanggil perawat.


Rumanah tersenyum kecil dan menatap punggung majikan galaknya itu. "Hi hi hi, senangnya hati ini. Biar pun Tuan galak itu masih galak dan terkadang sewot padaku, tapi aku tetap senang karena aku bisa mendapatkan perhatian darinya. Uuuuuuuh, rasanya aku ingin seperti ini terus untuk beberapa waktu." ucap Rumanah dalam hati.


Tak berselang lama seorang perawat datang ke dalam ruangan yang ditempati oleh Rumanah.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya suster dengan suara yang lembut.


"Ini, lihat selang infusnya, dok." ucap Andre seraya menunjukkan tangan Rumanah pada suster itu.

__ADS_1


"Oh, ini darahnya naik, pasti karena Mbaknya tidak mau diam ya." suster membenarkan selang infusnya kembali agar darah di tangan Rumanah tidak semakin naik.


"Iya, sus. Dia susah sekali dikasih tahu. Apakah ini berbahaya, sus?" ucap Andre seraya memperhatikan suster menyentrikkan jarinya pada selang infus.


"Tidak apa-apa, Pak. Ini tidak berbahaya dan bisa ditangani. Tidak usah khawatir ya, jika ada yang di butuhkan maka jangan sungkan-sungkan untuk memanggil kami." ujar perawat itu.


"Baik, sus. Terima kasih." jawab Andre.


Suster tersenyum. "Si Mbaknya bisa istirahat ya, mulai jam dua dini hari Mbak sudah mulai berpuasa, ya. Besok pukul sepuluh operasi akan seger dilakukan." ucap perawat itu menjelaskan.


"Baik, sus." jawab Rumanah seraya tersenyum.


"Kau dengar, Annabelle. Lebih baik sekarang kau pejamkan mata dan berkelana ke alam barzakh. Eh, maksudnya ke alam mimpi." ujar Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah membulatkan kedua bola matanya syok mendengar ucapan majikan galaknya. "Astaga, Tuan ingin saya cepat mati, ya?" sungut Rumanah dengan ekspresi wajah yang penuh keterkejutan.


"Ah, tidak. Kau cepat mati ataupun terlambat mati itu bukan urusanku." ketus Andre seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Haaaaaahh, benar-benar menjengkelkan!" desis Rumanah kesal.


Gadis desa itu memutar bola matanya kesal dan membuang napasnya kasar. Memejamkan matanya dan mulai terbang ke alam mimpi. Sementara Andre tampak sedang memainkan jari jemarinya pada layar ponselnya.


"Princess sedang apa yang sekarang. Apakah dia mau ditemani oleh Meliza." gumam Andre seraya membuka aplikasi whatsappnya lalu mencari kontak yang ia beri mama sekretaris Meliza.


"Sebaiknya aku telphon saja wanita ini." ucap Andre yang kemudian mulai menghubungi nomor whatsapp sekretaris cantiknya itu. Panggilan terhubung, tetapi nampaknya duda tampan itu masih harus menunggu Meliza unjuk menjawab panggilannya.


"Si Tuan sedang menghubungi siapa itu." ucap Rumanah dalam hati.


"Kenapa lama sekali tidak dijawab. Hmmm, sepertinya mereka sudah terpejam. Syukurlah, itu artinya princess tidak rewel di rumah." cerocos Andre dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2