
"Bagaimana keadaan Rumanah, Pak? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Meliza pada bos dudanya.
"Dia baik-baik saja, Mel. Kurasa gadis desa itu sudah kembali ceria." jawab Andre.
"Syukurlah kalau sudah kembali ceria. Semoga saja operasinya lancar dan bisa cepat pulang. Kasihan princess, gadus kecil itu tiada henti memanggil dan menanyakan dewi perinya." ucap Meliza.
Andre membuang napasnya berat. "Semoga saja. Tapi dalam situasi seperti ini kau harus pintar-pintar mengambil hati princess, Mel." ucap Andre yang berhasil membuat Meliza sedikit tidak mengerti.
"Ini kesempatan bagus untukmu, Mel. Kau harus mengambil hati putriku, karena aku ingin kau menjadi Ibu sambungnya." Andre berucap dalam hati.
"Kenapa aku harus mengambil hati princess? Ah, mungkin maksudnya agar princess tidak rewel dan bisa anteng bersamaku di rumah." ucap Meliza dalam hati.
"Mel, aku minta maaf karena harus membuatmu mengurus princess sendiri. Aku benar-benar tidak menyangka akan jadi seperti ini." ucap Andre seraya menatap wajah Meliza dalam-dalam.
Meliza memicingkan matanya untuk sesaat, tak lama kemudian ia tersenyum hangat. "Tidak jadi masalah, Pak. Saya tidak keberatan menemani princess untuk sementara waktu. Dan soal pengganti saya, seorang wanita sudah mendaftar kepada staf untuk menjadi sekretaris Pak Andre." ucap Meliza panjang lebar.
Andre nampak membulatkan kedua bola matanya penuh, duda tampan itu begitu terlihat sangat terkejut mendengar ucapan sekretaris cantiknya. "Apaaaa??? Memangnya siapa yang menyetujui itu semua, Mel?" kali ini Andre berbicara dengan nada yang sedikit tinggi dan semua ucapannya ia tekankan.
Meliza membuang napasnya berat dan tetap bersikap sopan. "Mohon maaf, Pak. Ini semua atas ide saya, saya rasa Pak Andre memang sudah harus menerima seorang sekretaris baru untuk menggantikan saya." ucap sekretaris cantik itu yang nampak tetap santai menghadapi bos dudanya.
Andre benar-benar dibuat kesal oleh sekretaris cantiknya itu. Dengan seperti itu Meliza sangat terlihat berniat sekali untuk cabut dari pekerjaan dan kehidupan Andre. Sementara Andre sendiri sangat menginginkan Meliza tetap menjadi bagian hidupnya.
"Akan kupikirkan nanti. Sekarang kau harus pokus kepada princess dan kepadaku. Ingat! Satu minggu kau tinggal bersama kami. Dan mungkin jika gadis desa itu belum stabil maka artinya kau harus bersabar dan menunggu sampai gadis desa itu benar-benar bisa mengerjakan tugasnya dengan baik dan benar." tegas Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
__ADS_1
Meliza hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkomentar apa-apa. Entah mengapa dia semakin curiga pada bos dudanya itu. Pasalnya, setiap kali ia membahas pekerjaannya, maka bos dudanya itu akan cepat sekali terpancing kemarahannya dan terlihat sekali ketidak terimaannya.
Setelah berkata demikian, Andre pun berlalu dari hadapan Meliza menuju kamarnya. Majikan duda itu bahkan tidak sempat menikmati kopi hangatnya sampai habis.
***
"Princess, sekolah yang baik dan tunggu Daddy di sini, ya. Aunty Meliza akan menemanimu . Saat pulang sekolah nanti, Daddy akan menjemput princess lagi." ucap Andre pada sang putri mahkotanya.
Sandrina mengangguk. "Baiklah, Dadd. Princess akan menunggu Daddy dan akan sekolah yang baik." jawab gadis kecil itu.
Andre tersenyum. "Bagus, itu namanya anak yang baik dan penurut." ucapnya sembari mengusap lembut puncak kepala putri kecilnya.
Sandrina tersenyum ceria. "Dadd, tetapi jangan lupa ajak princess ke rumah sakit. Oh ya, sebaiknya Daddy segera ke rumah sakit untuk menjaga dan menemani dewi peri. Princess tidak mau kalau dewi peri sampai menangis karena kesepian." ucap gadis kecil itu yang nampak sangat peduli dan mengkhawatirkan pengasuhnya yang sebentar lagi akan di operasi.
"Oh ya, aku sampai lupa membawakan pakaian ganti untuk Annabelle. Sepertinya aku harus putar balik arah lagi. Kalau menyuruh asisten pribadi sepertinya dia tidak akan bisa." ucap Andre dalam hati.
"Ya sudah, sebaiknya princess sekarang masuk ke dalam kelas. Sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai." ucap Meliza dengan nada yang sangat lembut.
"Baiklah Aunty." jawab gadis kecil itu yang kemudian menyalami tangan Daddy nya dan juga tangan Meliza. Sehingga hal itu membuat Andre sangat terkejut dan setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tumben sekali anak ini menyalami tanganku. Apakah Meliza yang mengajarinya?" ucap Andre dalam hati.
"Ya sudah, Pak. Sebaiknya Anda segera ke rumah sakit, akan banyak yang Anda lalui di sana. Emh, sebenarnya saya sudah memberitahu Ferhat akan hal ini. Tetapi sayangnya pria itu sedang berada di luar kota. Tadinya saya ingin menyuruhnya untuk menemani Rumanah, tetapi pria itu sedang ada urusan lain." ucap Meliza panjang lebar.
__ADS_1
Andre manggut-manggut tanda mengerti. "Tidak apa-apa, Mel. Aku rasa ini memang tanggung jawabku." ucap duda tampan itu.
Meliza tersenyum simpul. "Ya sudah kalau begitu Pak Andre harus semangat dan tetap jaga kesehatan." ucap Meliza penuh perhatian.
Andre tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Kemudian duda tampan itu melenggang pergi meninggalkan Meliza yang saat ini menjadi pramusiwi dadakan bagi putri bos dudanya.
"Sekarang pergi ke rumah dan masuk ke dalam kamar Annabelle, mengambil pakaian untuk ia berganti di rumah sakit. Aku rasa gadis desa itu kini tengah gelisah menunggu kedatanganku." ucap Andre dalam hati.
Sementara itu Rumanah yang saat ini sedang diperiksa oleh perawat begitu sangat deg-degan dan tidak tenang. Pasalnya sampai saat ini Andre belum kembali ke rumah sakit.
"Mau diapakan, sus? Majikan saya belum kembali, saya harap suster bisa menunggu majikan saya." ucap Rumanah pada perawat yang hendak menyuntikkan cairan ke dalam selang infus yang terpasang di tangan kanan Rumanah.
"Tenang ya, Mbak. Saya hanya akan menyuntikkan antibiotik ke dalam selang infus ini." jawab si suter yang nampak ramah.
"Oooh, pelan-pelan ya, sus. Ini pasti sakit sekali." rengek Rumanah yang terlihat sangat ketakutan. Memang gadis desa itu baru pertama kali merasakan yang namanya dirawat di rumah sakit.
"Tentu saja, Mbak. Ini memang sedikit terasa perih, dan Mbak harus menahannya ya." jawab si perawat yang kemudian menyuntikkan cairan ke dalam saluran selang infus yang terpasang.
"Auuuuuwwwwww, Ya Tuhaaaaan ini sakit sekali. Aaaw, sakitnya sampai ke dalam urat dan tulang." gadis desa itu meringis dan mengeluh kesakitan. Ya, memang cairan itu sedikit ganas dan membuat Rumanah kesakitan.
"Tahan sebentar saja ya, Mbak. Sakitnya tidak akan lama. Saya permisi, ya. Jika ada yang dibutuhkan maka jangan segan-segan untuk memanggil kami." ucap si perawat yang kemudian berlalu meninggalkan Rumanah yang sedang meringis menahan sakit.
***
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, berikan vote dan hadiahnya ya, deaaaaarrs! 😎💞