Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Sadar


__ADS_3

Andre mondar-mandir di depan ruangan operasi. Duda tampan itu nampak sedikit gelisah menunggu pengasuh putri cantiknya yang sedang di operasi oleh dokter.


"Semoga gadis desa itu baik-baik saja." ucap Andre seraya mendudukkan bokongnya di kursi.


Tiga puluh menit berlalu, Rumanah nampak beluk juga selesai di operasi. Nampaknya melakukan operasi pada jari manis sama halnya dengan operasi lainnya. Duda tampan itu mengira jika operasinya bisa dilakukan beberapa saat saja, namun nyatanya lumayan lama dan membuat Andre sedikit tegang.


"Bagaimana, bos? Apakah sudah selesai?" tanya Leo yang baru saja tiba ke sana.


Andre menolehkan wajahnya. "Jika sudah selesai maka aku tidak akan berada di sini." jawab Andre ketus.


Leo menelan ludahnya kasar. "Glek!" nampaknya asisten pribadi itu memilih pertanyaan yang salah.


"Sudah tiga puluh menit gadis desa itu berada di dalam sana. Aku tidak mengerti, kenapa sangat lama sekali para dokter itu melakukan operasi pada jari manis gadis desa itu." ucap Andre yang nampak kusut.


"Nampaknya Anda sangat khawatir sekali pada gadis desa itu, Tuan." celetuk Leo yang berhasil membuat Andre menolehkan wajahnya dan menatap sangar pada asisten pribadinya itu.


"Bicara apa kau, kamver!" sungut Andre dengan nada suara yang dingin. "Tentu saja aku mencemaskannya dan merasa bersalah padanya, karena apa yang telah terjadi padanya itu karena permasalahanku dengan Mommy putriku yaitu Luna." ucap duda tampan itu yang nampak menekan setiap ucapannya.


Leo manggut-manggut tanda mengerti. Tentu saja ia sangat paham pada watak dan kepribadian bos dudanya itu. Andre memang orang yang selalu bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan.


"Saya mengerti, Tuan. Tapi sebaiknya Anda tetap tenang dan sabar menunggu gadis desa itu. Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada Rumanah, ini hanya operasi kecil." ucap Leo yang mencoba menegarkan hati bos dudanya.


Andre mengangguk dan mengusap wajahnya kasar. "Tentu saja aku harus bertanggung jawab pada gadis desa itu. Bagaimana pun ini semua karena keteledoranku." ucap Andre dalam hati.


"Emh, maaf Tuan. Mengenai wanita yang mendaftar menjadi sekretaris baru itu sudah mengirimkan formulir dan segala syarat pengajuan diri pada perusahaan." ucap Leo yang nampaknya memiliki sebuah info mengenai sekretaris baru yang Meliza utus untuk menggantikannya.


Andre mendelikkan matanya dan menatap tajam pada vas bunga besar yang ada di sudut ruangan. "Nampaknya Meliza benar-benar berniat pergi dari kehidupanku." ucapnya dengan suara yang sangat rendah namun dapat terdengar oleh Leo.


"Ya, hal itu karena Meliza ingin segera menikah, Tuan." jawab Leo yang berhasil membuat Andre berdecak kesal.


"Ck, itu alasan yang tidak masuk akal." decak duda tampan itu.


"Tapi benar, Tuan. Saya dengar bahwa Meliza sudah memiliki kenalan seorang pria yang berasal dari Prancis." ucap Leo yang berhasil membuat Andre terbelalak kaget.


"Apa??? Kenalan seorang pria yang berasal dari Prancis??" Andre nampak terkejut dan bangkit dari duduknya.


Leo mengangguk. "Benar, Tuan." jawab asisten pribadi itu.

__ADS_1


Andre mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya penuh emosi. Tentu saja ia sangat marah dan merasa cemburu mendengar penuturan asisten pribadinya itu.


"Beraninya wanita itu!" desis Andre yang berhasil membuat Leo mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Ada apa dengan si bos? Kenapa dia terlihat marah begini." ucap Leo dalam hati.


"Emh, soal pendaftar sekretaris itu, besok aku akan mewawancarainya." ucap Andre seraya mendudukkan bokongnya kembali.


Leo mengangguk. "Baik, Tuan." jawab Leo.


***


Dua jam kemudian...


"Dengan orang tua pasien Rumanah?" tanya seorang pria yang sepertinya adalah dokter yang mengoperasi jari manis Rumanah.


"Ah, bukan. Saya majikannya." jawab Andre.


"Oooh, majikan yang dermawan." ucap lelaki itu.


Andre hanya tersenyum kecut.


"Baik, dok. Terima kasih banyak, dok." ucap Andre yang nampak sedikit tenang dan lega.


"Syukurlah gadis desa itu sudah selesai di operasi. Saya rasa Tuan sudah bisa bernapas lega sekarang." ucap Leo.


"Ya, tentu saja, aku sudah merasa tenang karena gadis desa itu tidak kenapa-kenapa. Princess pasti senang mendengar kabar ini." jawab Andre yang kini nampak bisa menyunggingkan senyumannya.


"Tentu saja, Tuan. Apakah Anda ingin saya menjemput princess sekarang?" tanya Leo.


"Oh, bisa saja, Le. Katakan padanya bahwa aku sedang menunggu dewi perinya yang telah selesai melakukan operasi." jawab Andre.


"Baik, Tuan." Leo mengangguk seraya memberi hormat. Asisten pribadi itu pun bergegas melangkahkan kakinya hendak menjemput putri bos dudanya.


Beberapa menit berlalu...


"Pak Andre, Anda sudah bisa melihat pasien Rumanah." ucap seorang asisten dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.

__ADS_1


Andre menolehkan wajahnya dan langsung beranjak dari duduknya. "Ah, baik." ucap duda tampan itu yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang operasi.


Di dalam, Rumanah nampak masih berbaring di atas brankar. Kali ini ketiga jarinya sudah diperbaiki dan sudah dibalut rapi menggunakan kain kasa dan perban anti air.


"Dia belum sadar, sus?" tanya Andre pada seorang suster.


"Belum, Tuan. Namun Anda bisa membangunkannya secara perlahan. Boleh ditepuk-tepuk wajah atau bahunya agar pasien cepat sadar." jawab suster itu begitu mendetail.


Andre manggut-manggut tanda mengerti. "Baiklah, akan kucoba." jawab Andre yang kemudian mendekati Rumanah yang masih terbaring lemah tak berdaya.


"Emh, Tuan Andre, sebaiknya pasien kita pindahkan dulu ke ruangan rawat inap agar bisa berbaring dengan tenang di sana." ucap si petugas mengantarkan pasien.


"Oh begitu, baiklah." jawab Andre mengiyakan.


Andre pun mengekori si petugas yang mendorong brankar hingga ke ruangab vvip yang Rumanah tempati. Selepas para petugas dan suster selesai melakukan tugas mereka. Andre pun mendudukkan bokongnya di kursi samping tempat tidur Rumanah.


"Tangannya sudah terlihat tidak berantakan dengan darah dan betadine." ucap Andre dalam hati.


Duda tampan itu nampak mengamati wajah gadis desa yang belum sadarkan diri itu. Diam-diam duda tampan itu kembali mengingat tubuh mulus Rumanah, dan hal itu membuatnya tersenyum kecil kala mengingatnya.


"Astaga, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku memikirkan apa yang aku lihat dari tubuh gadis desa ini." ucap Andre setengah berbisik.


Andre mengusap wajahnya kasar. Duda tampan itu kini nampak menepuk-nepuk wajah Rumanah dan memanggil namanya agar cepat bangun.


"Annabelle, bangunlah. Kau sudah selesai di operasi. Ayo bangun." ucap duda tampan itu yang nampak berusaha membangunkan pengasuh putrinya.


Namun, Rumanah masih diam tanpa kata. Nampaknya gadis desa itu belum sadar dan masih betah dalam zona ketidak sadarannya.


"Ck, benar-benar kebo." decak Andre yang kemudian menepuk pundak Rumanah agar cepat bangun.


Beberapa kali hal itu ia lakukan, hingga pada menit ke lima belas Rumanah pun terbangun dari tidur panjangnya.


"Annabelle, kau sudah sadar?" Andre nampak antusias melihat Rumanah membuka kelopak matanya secara perlahan.


Rumanah menatap langit-langit ruangan vvip yang ia tempati dua hari ini. Matanya masih terasa berat dan kepalanya sedikit terasa pusing. Bahkan tangannya yang habis di operasi pun tidak terasa apa-apa saat itu.


***

__ADS_1


#Rumanah



__ADS_2