Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Menggemaskan


__ADS_3

Angin sore semakin menusuk sampai tulang belulang. Dinginnya air kolam mampu membuat suasana semakin mencekam. Deru napas dua insan seakan mengalahkan kedinginan.


Rumanah mendesah, menggelinjang dan sesekali mengerang nikmat. Walau permainan itu belum sampai puncaknya, tapi gadis desa itu sangat merasakan sensasi luar biasa.


Seperti yang sudah terjadi, Andre menidurkan Rumanah. Namun, kali ini bukan di atas ranjang atau di atas sofa. Akan tetapi, di pinggir kolam yang hanya beralaskan keramik bercorak bebatuan. Alangkah indahnya sore ini, andai saja setiap hari mereka bisa bergulat manja seperti itu. Sudah pasti burung dan tanaman menatap iri pada mereka.


"Sluuuuurrrp!" Andre melum*at nikmat pucuk balon kembar yang kenyal itu. Seketika Rumanah memejamkan mata, membiarkan pria dewasa itu menguasai tubuhnya.


"You are beautiful," bisik Andre yang kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir mungil pengasuh putri kecilnya itu.


Rumanah tak dapat bicara, hanya gerakan dan ******* yang ia keluarkan untuk mendeskripsikan perasaannya.


"Emmmh," kembali Rumanah bergumam nikmat. Sementara tangan kekar Andre kini sudah berusaha melepas CD yang Rumanah kenakan.


Dan kini, gadis desa itu meremas rambut hitam milik majikan dudanya. Menahan sesuatu yang sudah naik hingga ke ubun-ubun.


"Annabelle, kenapa mis vagsmu tidak memiliki bulu?" tanya Andre seraya mengusap lembut mis vags milik Rumanah.


Rumanah membuka matanya. "Ternyata bukan hanya galak dan mesum, sekarang Anda juga sangat kepo, ya!" sungut Rumanah seraya menutupi wajah majikan galaknya menggunakan tangannya. Mungkin ia malu karena sang majikan mesum itu begitu jeli memperhatikan sekujur tubuhnya.


Andre tersenyum seraya menyingkirkan tangan mungil Rumanah. "Ada apa denganmu? Kau malu padaku?" tanya duda tampan itu seraya menatap lembut wajah manis pengasuh putri kecilnya itu.


Rumanah tersipu malu dan memalingkan wajahnya yang bersemu merah. "Ish, menyebalkan! Sudah ah, saya tidak mau jadi tontotan bagi para burung dan dedaunan di sini," desis gadis desa itu seraya beringsut bangun.


"Hei, kita belum selesai," ucap Andre seraya menarik tangan pengasuh putri kecilnya itu sehingga membuat Rumanah terjatuh ke dalam pangkuan majikan galaknya itu.


Rumanah tersenyum kecil, sementara Andre kini menghujani pipi hingga ke tengkuk Rumanah dengan ciumannya. Duda tampan itu tampak semakin gemas pada pengasuh putri kecilnya itu.


"Iiiiiiiiiyyy, Anda nakal sekali sii, Tuan," desis Rumanah seraya merangkul manja leher majikan galaknya itu.


Andre tersenyum kecil, mereka berdua seperti pasangan pengantin baru yang selalu lengket dan bucin.


"Kamu yang membuatku nakal, Annabelle!" seloroh Andre seraya membenamkan wajahnya pada leher gadis desa itu.


Seketika Rumanah terkekeh menahan geli, majikan galaknya itu ngusel-ngusel leher putih milik gadis desa itu.


"Aha ha ha ha ha ha!" gadis desa itu tak kuasa menahan geli. Badannya bergetar karena tertawa.


"Diam, Belle. Kau akan membuat semua orang mendengar suaramu," tegur Andre seraya menyudahi kegiatannya.


"He he he he, habisnya Tuan membuat saya geli," protes gadis desa itu.

__ADS_1


"Lantas, kau ingin lebih dari sekedar geli?" desak Andre seraya meraba nakal paha mulus gadis desa itu.


"Ish, saya tidak mengatakannya," desis Rumanah seraya menepis tangan kekar Andre.


"Hmmm, kau berbohong," tuding Andre yang kini tampak merebahkan diri dan membiarkan gadis desa itu berada di atas perut sixpacknya.


Rumanah menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya berkata jujur!" sanggah gadis desa itu.


Andre tersenyum kecil dan mendorong tubuh Rumanah sedikit mundur. Tentu saja ia sengaja melakukannya agar adik kecilnya tepat menghadap pada mis vags milik gadis desa itu.


"Annabelle, apakah kau pernah menari?" tanya Andre seraya menangkap tangan kanan pengasuh putri cantiknya itu.


Rumanah menggeleng. "Tidak pernah, saya tidak suka dengan tarian, Tuan." jawab gadis desa itu.


"Hmmm, pantas saja kau begitu kaku sekali, Belle," ucap duda tampan itu seraya meremas balon kenyal milik pengasuh putri kecilnya itu.


"Ish, memangnya saya kanebo kering? Kalau bicara suka ngasal," desis gadis desa itu tak terima.


"Ha ha ha ha, bukan begitu maksudku. Tapi memang kau sangat kaku. Kalau kau tidak kaku, maka sekarang kau akan menguasai diriku," ujar duda tampan itu disertai tawa renyahnya.


Rumanah mengerutkan dahi tak mengerti. "Maksud Tuan bagaimana?" tanya gadis desa itu,


Andre tersenyum usil seraya menatap manja wajah manis gadis desa itu. "Kau akan melakukan seperti apa yang aku lakukan padamu, Annabelle!" ucap duda tampan itu yang kini tampak menarik tubuh gadis desa itu hingga menindih tubuhnya.


"Sekarang kau sudah mengerti. Maka cepat lakukan apa yang kuucapkan tadi!" perintah duda tampan itu sangat mendesak.


Rumanah terdiam dan menelan ludahnya kasar. Tentu saja ia tidak bisa melakukannya. Ia terlalu malu dan tidak lincah. Astaga!


"Emh, sepertinya saya kurang paham, Tuan. Oh ya, hari semakin sore. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, saya takut princess dan Ferhat akan menyusul ke sini," ucap gadis desa itu yang buru-buru bangkit berdiri dan menjauhi majikan dudanya.


"Hei, kenapa kau kabur? Kita belum selesai," protes Andre kesal.


Rumanah tersenyum kecil seraya memakai kembali pakaiannya yang basah. "Hum, saya pikir akan lebih menyenangkan jika kita sudah menikah, Tuan." ucap gadis desa itu yang kemudian melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Andre.


"Sialan, kau tidak bisa pergi begitu saja!" kali ini Andre tampak menaikkan suaranya. Dengan cepat ia berlari menangkap tubuh gadis desa itu dan memeluknya.


"Aaaaa, lepaskan, Tuan! Saya harus keluar dari sini," pinta Rumanah meronta.


"Tapi aku sangat menginginkanmu, calon istriku," ucap Andre.


"Ya, saya paham. Tapi kita bisa melakukannya setelah kita menikah, Tuan," balas Rumanah.

__ADS_1


"Oh begitu. Jadi, kapan aku bisa menikahimu?" tanya Andre.


"Besok pun bisa," jawab Rumanah dengan senyuman manjanya.


Andre tersenyum kecil. "Kau nakal dan tidak sabaran, Annabelle." cicit Andre seraya mencubit gemas hidung yang tidak terlalu mancung milik Rumanah.


"He he he he he, karena saya kasihan pada Anda, Tuan. Saya takut Anda depresi dan masuk rumah sakit jiwa karena ingin merasakan anu dengan saya, astoge!" kelakar Rumanah yang berhasil membuat Andre tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha ha ha, kau lucu sekali, Annabelle," ucap duda tampan itu disertai tawa renyahnya.


Rumanah hanya tersenyum kecil.


"Kenapa kau tidak melamar jadi—" Andre belum selesai bicara, tiba-tiba Rumanah menyelanya.


"Pelawak?" tebak Rumanah.


"Bukan, menjadi sopir taxi!" jawab Andre kesal. Sudah tahu pelawak masih harus bertanya.


"Ha ha ha ha, gak sinkron!" protes Rumanah.


"Kau menyebalkan!" cicit Andre seraya menggigit kecil tengkuk gadis desa itu.


"Aauuw, sakit, Tuan!" ringis Rumanah.


"Mau yang enak?" goda Andre.


Rumanah menggeleng lantas melepaskan diri dari pelukan duda tampan itu. "Saya mau keluar dari tempat ini. Selamat sore, dan bye!" ucap gadis desa itu seraya memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya.


Andre melongo tanpa kata.


"Oh ya, saya lupa," ucap Rumanah yang kemudian memutar tubuhnya kembali dan melangkah menghampiri majikan galaknya.


"Jangan lupa ya, nikahin saya secepatnya. Saya sudah tidak sabar," ucap gadis desa itu seraya membelai manja dada bidang majikan galaknya.


Andre memejamkan mata terhanyut oleh belaian itu.


Muach!


Rumanah mendaratkan bibirnya pada pipi mulus majikan galaknya itu. Dan hal itu membuat Andre terjingkat kaget namun juga semakin gemas pada pengasuh putrinya.


"Jangan lupa, yaaaa!" ucap gadis desa itu seraya berlari kecil menjauhi majikan galaknya.

__ADS_1


Andre tersenyum gemas dan sangat terpesona. "Ck, menggemaskan!" decaknya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2