Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Meninju


__ADS_3

"Sudah ya, Tante. Kita tidak punya urusan apa-apa lagi. Sebaiknya Anda segera berikan yang terbaik pada pria bayaran Anda!" ucap Rumanah yang kemudian melenggang pergi meninggalkan kedua orang yang membuatnya kesal.


"Dasar sialan!" desis Luna kesal.


"Aku tertarik pada wanita itu," ucap Dimas dalam hati.


Rumanah berlari kecil menjauhi area villa. Wanita cantik itu tampak terlihat tegang dan panik. Ia sangat takut sang suami bertemu dengan mantan istrinya. Tentu saja hal itu akan menimbulkan kecurigaan.


"Huffft!" Rumanah membuang napasnya kasar. Wanita cantik itu berhenti di dekat parkiran mobil.


"Dasar menyebalkan! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita soang itu," cicit Rumanah kesal.


Sementara itu, Andre tampak baru saja selesai berbincang-bincang dengan kepala pemegang wilayah di sana. Ia tampak berjalan cepat menuju tempat duduk istri cantiknya tadi. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat sofa kosong tanpa sang istri di sana.


"Hah, ke mana Annabelle. Kenapa dia tidak ada di sini," ucap Andre yang tampak sedikit terkejut.


Pria tampan itu tampak terlihat panik dan khawatir. Dengan cepat ia berlari ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan istri sirrinya itu.


"Permisi, apakah kalian melihat wanita cantik yang duduk di sana?" tanya Andre pada resepsionis.


"Wanita cantik yang mana, Tuan? Pasalnya, semua wanita yang datang ke sini pasti cantik-cantik." si resepsionis malah balik nanya.


Andre mengusap wajahnya kasar. "Istriku yang paling cantik!" ucapnya kesal.


"Yang paling cantik? Aduh, kami bingung menjawabnya, Tuan. Pasalnya, kami tidak memperhatikan wanita mana yang paling cantik di sini," ucap si resepsinonis yang semakin membuat Andre kesal dan greget.


"Ssh, harusnya kalian memperhatikan istriku yang paling cantik sedang duduk di sana! Duduk manis di sofa itu! Dia memakai dres warna dusty!" omel Andre yang tampak kesal.


"Wanita cantik memakai dress warna dusty? Oooohhh, itu! Tadi dia bertengkar dengan seorang wanita yang lebih tua darinya. Sepertinya dia kalah dan berlalu begitu saja," ungkap si resepsionis yang berwajah tembem.


"Apaaa?? Bertengkar? Dengan wanita yang lebih tua? Astaga! Siapa yang berani macam-macam pada istriku? Mana sekarang orangnya? Biar kupatahkan tangannya nanti!" Andre tampak terbelalak kaget dan sangat geram mendengar apa yang dikatakan oleh resepsionis itu.


"Iiiih, ngerrri!" resepsionis si pipi tembem itu tampak bergidik dan menatap ngeri pada Andre.


"Katakan! Ke mana istriku pergi dan siapa wanita yang berani mengusik istriku?" desak Andre yang tampak emosi.


"Anu, istri Anda sepertinya berlari ke luar. Sementara wanita itu sudah melakukan check in bersama kekasihnya," jawab si resepsionis berhidung minimalis.


Andre mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya berat. Tanpa membuang waktu lagi, dengan cepat ia berlari ke luar mencari istri cantiknya.


"Astaga, apa yang telah terjadi padamu, Annabelle?" ucap Andre yang tampak cemas.


Pria tampan itu terus berlari dan sesekali berhenti, mengedarkan pandangannya ke sana kemari mencari sang istri yang selalu di hati.


Di dekat parkiran...


Rumanah menangis sesenggukkan di bawah pohon besar yang berada di sana. Wanita cantik itu tampak ketakutan dengan keadaan. Ia takut berada di sana sendiri, ia takut sang suami tidak akan menemukannya. Ia takut sang suami akan bertemu dengan Luna. Jangan tanya bagaimana perasaan Rumanah sekarang, pokoknya ia sangat-sangat takuuuuut sekali.


"Hiks hiks hiks, bagaimana ini? Aku takut berada di sini sendiri. Kenapa aku seperti orang hilang begini," ucap Rumanah di sela-sela isak tangisnya.


Dalam situasi seperti itu, Rumanah lupa jika ia punya ponsel. Semestinya ia menghubungi suaminya. Tapi, ia sangat lupa!

__ADS_1


"Hei, kenapa menangis di sini, Dek?" tanya seorang penjaga wilayah pantai.


Rumanah menolehkan wajahnya. "Pak, tolong saya, Pak. Saya ... sa–saya..."


"Kenapa? Apakah kamu kehilangan teman-temannu?" tanya si penjaga itu.


"Tidak, emh ... iya! Maksud saya, kehilangan orang tua saya, Pak." Rumanah menjawab gugup.


"Hah? Kasihan sekali. Lebih baik sekarang ayok ikut saya ke ruang informasi," ajak si Bapak penjaga.


Rumanah mengangguk, ia tampak mengusap air matanya kasar. Tanpa pikir panjang, Rumanah pun mengekori si Bapak penjaga itu.


Sementara itu di tempat lain, Andre tampak kewalahan mencari sosok wanita cantik yang sangat ia sayangi. Pria tampan itu sudah mencari Rumanah ke setiap penjuru wilayah pantai.


"Ya Tuhan, ke mana perginya Annabelle. Kenapa dia sulit sekali ditemukan. Apakah dia menenggelamkan diri di pantai? Astaga," ucap Andre yang tampak cemas.


Pria tampan itu berputar, maju, mundur, melenggok, menyipit, dan berusaha lebih semangat lagi mencari sang istri. Hingga pada saat itu, kedua manik matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang sedang ia cari.


"Hah, Annabelle. Kenapa dia berjalan dengan seorang pria. Bapak-bapak lagi!" ucap Andre yang tampak terjingkat kaget melihat sang istri berjalan dengan bapak-bapak.


Andre menyipitkan matanya, perlahan-lahan ia berjalan ke arah Rumanah yang juga sedang berjalan.


"Astaga! Ini tidak bisa dibiarkan! Kenapa pria itu berani menyentuh milikku! Tak akan kuampuni dia!" cicit Andre saat ia melihat sang istri disentuh bahunya oleh bapak-bapak sang penjaga wilayah pantai.


Yang terjadi pada Rumanah...


"Sudah jangan menangis ya, Dek. Orang tua kamu pasti masih berada di pantai ini," ucap si penjaga wilayah pantai sembari mengusap pundak Rumanah guna menenangkannya.


"Hiks hiks hiks, iya, Pak. Tapi ... saya sangat takut sekali," jawab Rumanah di sela-sela isak tangisnya.


Jedduueeeeerrrrr!!!!!


Dengan kesal Andre melayangkan tinjunya pada wajah bapak-bapak itu. Emosinya seakan meluap-luap melihat sang istri berjalan dan disentuh oleh bapak-bapak itu.


"Aarrghhhh!" bapak-bapak itu meringis dan tampak terjungkal ke belakang. Ia sungguh tidak mengira jika akan mendapat tinjuan yang tiba-tiba.


"Aaaaaaaaa!" dan Rumanah, ia tampak terkaget-kaget melihat sang suami meninju bapak-bapak yang menolongnya.


"Rasakan! Itu balasannya karena kau sudah berani menyentuh milikku!" ucap Andre sembari menatap bengis pada bapak-bapak itu.


"Tuan, apa yang Anda lakukan? Kenapa Anda meninjunya?" tanya Rumanah yang tampak panik.


"Apa yang dia lakukan padamu, sayang?" Andre memeluk tubuh istrinya penuh kehangatan dan kekhawatiran.


"Dia ... tidak melakukan apa-apa, Tuan." Rumanah menjawab sembari melepaskan pelukannya.


"Saya membantu putri Anda yang tersesat,Tuan. Dia menangis sendiri di bawah pohon dan mencari keberadaan orang tuanya. Kenapa Anda tiba-tiba meninju saya? Di mana salah saya?" ungkap si penjaga itu yang tampak kesal.


Andre tampak terhenyak kaget mendengar ucapan bapak-bapak di hadapannya itu. "Apa? Putri Anda? Orang tua?" ucapnya sembari sesekali menatap penuh intimidasi pada istri cantiknya.


"Emh, sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini." Rumanah berkata sembari merangkul lengan suaminya. "Dan, terima kasih karena telah membantu saya. Maaf soal tadi, Pak. Kami permisi!" lanjutnya yang menatap tidak enak pada si penjaga itu.

__ADS_1


Setelah bicara demikian, Rumanah memaksa Andre untuk melangkahkan kakinya. Walau ia sangat tidak enak pada bapak penjaga itu, tapi ia tetap harus buru-buru pergi dari tempat itu.




"Apa yang sebenarnya terjadi, Annabelle?" tanya Andre saat ia telah duduk di kursi depan kemudi.


Rumanah mengusap wajahnya kasar. "Luna!" jawabnya singkat. Dan hal itu membuat Andre mengerutkan dahi.


"Luna? Ada apa dengannya?" tanya Andre tak mengerti.


"Dia! Saya bertemu dengannya, Tuan." Rumanah menjawab tanpa ragu.


"Apaa??? Bertemu dengannya?" Andre tampak terbelalak kaget.


Rumanah mengangguk. "Ya, Tuan. Dia bersama seorang pria yang lebih muda darinya," ungkapnya.


" Seorang pria yang lebih muda darinya? Apa yang dia lakukan di sini?" ucap Andre dalam hati.


"Saya sangat sebal sekali pada mereka berdua, Tuan. Astaga! Tapi, untung saja Tuan tidak bertemu dengannya," ucap Rumanah dengan ekspresi sebalnya.


"Apa yang mereka lakukan padamu, sayang? Jika aku bertemu dengannya, aku akan mengatakan yang sebenarnya padanya!"


"Hah??" Rumanah sedikit terhenyak kaget. "Dia menganggap saya sebagai wanita bayaran yang sedang melayani pelanggannya. Astaga! Saya benar-benar kesaaaaal sekali! Belum lagi, pria itu...," Rumanah tampak menggantung ucapannya dan tampak terlihat ragu.


"Kenapa pria itu?" tanya Andre penasaran.


"Emh, tidak ada, Tuan. Maksud saya, pria itu juga mendukung wanita soang itu untuk menjatuhkan saya. Huhuhu," jawab Rumanah sedikit berbohong.


"Kurang ajar! Jika aku bertemu dengan mereka, pasti akan kuhabisi dua-duanya!" cicit Andre emosi.


Rumanah membuang napasnya kasar dan menyelipkan anak rambut pada sela-sela telinganya.


"Kupikir tadi kau menenggelamkan diri di dasar lautan, Belle." Andre berkata sembari menatap lembut wajah cantik istrinya.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap sebal pada suaminya. "Ish, tidak lucu! Saya tadi sangat ketakutan sekali. Saya takut Anda tidak bisa menemukan saya," ucapnya sedikit merajuk.


Andre tersenyum kecil lantas terkekeh. "Hehehe, tidak mungkin, sayang. Ke mana pun kau pergi, aku pasti akan menemukan dan mendapatkanmu!" ucapnya seraya mendekap erat tubuh istri cantiknya itu.


Rumanah terdiam dan membuang napasnya lega. Tak berselang lama...


Drrrttt drrrttt ddrrrttt...


Ponsel milik Andre berdering, tanda sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya.


"Ponsel Anda, Tuan," ucap Rumanah.


"Ya," jawab Andre seraya meraih ponselnya. "Princess," ucapnya kemudian.


Rumanah sedikit terjingkat kaget. "Waduh, bagaimana ini?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku akan menjawabnya," ucap Andre seraya menggeser layar ponselnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2