Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Luna dan pria berondong


__ADS_3

Rumanah memotret beberapa kali pemandangan indah di pantai itu. Senyumnya terus mengembang kala ia mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.


"Berposelah sekali lagi denganku, sayang." Andre berkata sembari memeluk manja pinggang ramping istrinya.


Rumanah tersenyum. "Hari ini kita mendadak jadi TS ya, Tuan."ucapnya seraya menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


Andre mengerutkan dahi. "TS? Team sukses?" tanyanya tak mengerti.


Rumanah terkekeh kecil. "Hehehe, bukan. Tapi, TUKANG SELFIE!" jawabnya yang berhasil membuat Andre tertawa renyah.


"Hahaha! Sialan!" desisnya diiringi tawa renyahnya.


"Hahaha, Anda sangat cocok jadi pria-pria artis sosial media yang lebay dan cari sensasi, Tuan. Hahaha!" ucap Rumanah disertai tawa ngakaknya.


"Hahaha, kurang ajar! Memangnya kau pikir uangku tidak cukup untuk bergaya sehingga membuatku harus menjadi artis sosial media!? Astaga," cicit Andre seraya menciumi pipi mulus istrinya.


"Hahahaha!" Rumanah masih tertawa terbahak-bahak.


"Ah sudahlah, jangan tertawa lagi. Sebaiknya cepat berselfie dengan gaya seperti ini," ucap Andre tak sabaran.


Rumanah tersenyum. Ia pun mulai mengarahkan ponselnya pada wajah mereka berdua. Andre tampak memeluk mesra pinggang istrinya sembari menumpangkan dagunya pada bahu istrinya. Sungguh mesra dan romantisnya mereka berdua. Belum lagi pemandangan laut dan pegunungan membuat foto mereka semakin hidup.


Cekrek!


"Yeah! Foto yang sangat keren, Darling," ucap Andre seraya memeluk leher istrinya.


"Ya, Tuan. Saya rasa ini sangat cocok dijadikan wallpaper," sahut Rumanah yang tampak gembira.


"Hmmm, benar juga. Jangan lupa kirimkan ke whatsappku, ya!" balas Andre.


"Baik, suami tampanku!" jawab Rumanah sedikit menyinggung suaminya. Ya, nomor telepon Andre disimpan dengan nama 'Suami Tampanku'. Dan tentunya yang menyimpan nomor pria tampan itu adalah Andre sendiri.


"Hehehe, dan kau tahu nomor ponselmu kuberi nama apa?" ucap Andre penuh teka-teki.


"Tidak tahu. Memangnya siapa?" tanya Rumanah.


Andre tersenyum usil. "Annabelle menyebalkan! Hahahaha!" jawabnya disertai tawa ngakaknya.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan mengerucutkan bibirnya bertingkah manja. "Kok gitu sii, tidak adil sekali!" protesnya sebal.


"Hahahaha, dasar Annabelle!" Andre masih tertawa terbahak-bahak. Sementara Rumanah hanya mendengus kesal dan tidak menanggapi suaminya.




"Tunggu di sini ya. Aku akan menemui kepala pemegang wilayah ini," ucap Andre pada istrinya.


"Mau ngapain, Tuan? Jangan bilang Tuan benar-benar akan membeli villa di sini?" selidik Rumanah.


"Hah? Tidak, bukan itu. Aku hanya akan sedikit membicarakan bisnis. Sepertinya aku tertarik membuka tempat hiburan di sini," jawab Andre.


"Apa? Tempat hiburan? Astaga, apa yang Anda pikirkan, Tuan? Saya tidak setuju! Saya tidak ingin Anda mendirikan tempat hiburan yang tidak ada manfaatnya!" protes Rumanah yang tampak terjingkat kaget.


"Apa? Tempat hiburan seperti apa maksudmu? Seperti club malam, begitu?" tanya Andre.

__ADS_1


"Ya, memang seperti apa?"


"Astaga! Kau benar-benar berburuk sangka." Andre mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya berat. "Maksudku, tempat hiburan seperti pusat belanja, arena bermain, dan sebagainya. Kenapa otakmu sangat dangkal sekali sii!" terangnya yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah melipat bibirnya ke dalam dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Ooooh, begitu rupanya. Maaf telah salah sangka. Hehehe," ucapnya disertai cengenges tanpa dosa.


Andre memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. "Hmmmm, tunggu di sini, ya! Jangan ke mana-mana, kalau ada apa-apa, telepon saja." ucapnya mengaskan.


Rumanah mengangguk. "Baik, bos!" jawabnya.


Setelah dirasa cukup, Andre pun bergegas menemui kepala pemegang wilayah di sana. Sementara Rumanah tampak menunggu di tempat tamu.


"Katanya dua puluh menit untuk mandi dan makan. Nyatanya, dipakai untuk bisnis segala. Hum, pasti ngaret ni! Bisa-bisa pulang lebih sore dan pastinya keduluan oleh princess," cerocos Rumanah sembari mendudukkan bokongnya di sofa.


Rumanah tampak duduk manis sembari memainkan jari jemarinya pada layar ponselnya. Menunggu sang suami yang entah berapa lama lagi di sana.


Sementara itu, tanpa Rumanah duga, seorang wanita yang sudah tak asing lagi baginya tampak berjalan santai ke arahnya. Wanita itu tampak tidak sendirian, ia berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria yang terlihat lebih muda darinya.


"Check in, beb." Luna berkata sembari mengusap manja dagu pria berondong itu.


"Okey, sayang. Aku tunggu di sana, ya!" ucap pria berondong itu seraya menunjuk pada sofa.


"Baiklah, pria tampan seperti dirimu hanya perlu menunggu. Hehehe," balas Luna yang kemudian melangkahkan kakinya ke resepsionis.


Sementara pria berondong itu tampak melangkahkan kakinya menuju sofa.


"Ehem, boleh duduk di sini?" tanya pria yang memiliki nama Dimas.


Rumanah mendongakkan wajahnya. "Boleh, silakan."jawabnya santai.


"Mau ke mana?" tanya Dimas.


"Ke sana,"jawab Rumanah singkat dan tampak cuek. Ia pun melangkahkan kakinya lalu berpindah ke sofa lainnya. "Sofa di sini masih banyak, kenapa dia harus duduk di sampingku. Menyebalkan!" cerocosnya dalam hati.


"Menarik sekali wanita ini," ucap Dimas sembari memperhatikan wajah cantik Rumanah.


Sementara itu Luna tampak belum selesai dengan kegiatannya.


"Berapa nomor teleponmu?" Dimas bertanya sembari menghampiri Rumanah dan menyodorkan ponselnya pada wanita cantik itu.


Rumanah mendongakkan wajahnya dan menatap malas pada pria tampan di hadapannya. Ya, Dimas memang tampan, dan sepertinya dia pria bayaran Luna.


"Kita tidak ada urusan apa-apa. Jangan menggangguku!" ucap Rumanah ketus.


Dimas tersenyum kecil dan semakin penasaran. Ia pun mendudukkan bokongnya di samping Rumanah.


"Berapa tarif satu jam? Aku tertarik padamu," ucap Dimas yang berhasil membuat Rumanah naik pitam.


Plaakk!!


Dengan kesal Rumanah melayangkan tangannya pada wajah tampan pria di hadapannya itu.


"Aku bukan wanita murahan seperti seleramu!" ucap Rumanah dengan sorot mata yang berkilat marah.


Dimas tampak terjingkat kaget mendapatkan tamparan dari wanita cantik yang berusaha ia dekati. Namun, bukan marah, ia malah semakin penasaran pada sosok Rumanah.

__ADS_1


"Karena kau sudah berani menamparku, maka itu artinya kau berurusan denganku!" ucap Dimas seraya menggenggam tangan Rumanah.


"Sialan! Lepaskan!" Rumanah tampak menatap marah dan berusaha melepaskan tangannya. Suaranya tampak berhasil membuat gaduh di sana.


"Tidak akan! Kau sudah berani menamparku, cantik!" ucap Dimas seraya tersenyum licik.


"Dasar berengsek! Lepaskan! Toloooong!" teriak Rumanah yang akhirnya meminta tolong.


"Hei, apa yang kau lakukan pada kekasihku?" sosor Luna yang tiba-tiba datang.


Rumanah tampak terjingkat kaget saat mendengar suara wanita yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Hah, kau!" ucap Rumanah yang tampak terbelalak kaget saat melihat wajah mantan istri suaminya.


"Kau! Wanita kampungan!" Luna tak kalah kagetnya dengan Rumanah. "Hng, apa yang kau lakukan pada kekasihku!?" bentaknya sembari menatap tajam pada Rumanah.


Rumanah terdiam dan benar-benar bingung harus berkata apa. Sementara ia ke sana bersama suaminya. Tentu saja Luna pasti akan terkejut jika tahu dirinya datang bersama Andre.


"Kalian saling kenal, ya?" tanya Dimas.


"Tidak! Dia hanya pengasuh putriku, beb." Luna menjawab dengan ekspresi juteknya.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Sepertinya aku harus kabur," ucap Rumanah di dalam hati.


Ssmentara Dimas tampak sedikit kaget saat tahu Rumanah adalah pengasuh putri Luna.


"Hei, kampungan!" Luna mendorong tubuh Rumanah. "Sedang apa kau di sini? Siapa yang mengajakmu ke sini? Atau, kau memiliki pekerjaan sampingan? Haha, aku tidak menyangka! Siapa yang kau layani di sini, hah!?" serbu Luna dengan beberapa pertanyaannya.


Rumanah tampak menelan ludahnya kasar dan menatap jengah pada mantan istri suaminya itu. "Kenapa mereka menganggapku seperti itu? Apakah tempat ini untuk orang-orang yang begitu? Astaga!" cicit Rumanah dalam hati.


"Hei, kenapa kau diam? Kau terkejut dan takut? Bagaimana kalau aku beritahu majikanmu tentang pekerjaanmu di sini?" ucap Luna penuh tantangan.


Rumanah memutar bola matanya jengah dan membuang napasnya kasar. "Jangan sembarangan bicara, Tante!" ucapnya seraya menatap tajam pada Luna.


Luna tampak memelototkan matanya dan sangat kesal ketika Rumanah memanggilnya Tante.


"Aku tidak seperti dirimu yang datang ke sini bersama pria bayaranmu! Aku bukan wanita seperti dirimu, Tante. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan princess saat tahu Mommy nya seperti ini!" ujar Rumanah yang tampak menaikkan suaranya. Ia begitu kesal pada Luna dan pria menyebalkan di hadapannya.


"Sialan! Jangan bawa-bawa princess-ku!" bentak Luna yang semakin geram dan tak terima.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini. Aku tidak ingin membuat Tuan Andre sampai bertemu dengan wanita ini," ucap Rumanah dalam hati.


"Aku penasaran, apa yang sedang kau lakukan di sini, wanita kampungan!?" desak Luna dengan tatapan penuh selidik.


"Sudahlah, mungkin dia ke sini ada urusan penting. Lagipula, tadi aku yang mengganggunya." Dimas mencoba melerai.


"Kamu!" Luna menatap kesal pada berondong bayarannya itu.


Rumanah tampak membuang napasnya kasar dan melemparkan pandangannya ke arah tempat suaminya berada. Ia berharap sang suami tidak mendengar keributan yang terjadi di antara dirinya dengan Luna.


"Sorry, tadi kupikir dia adik temanku, tapi ternyata bukan." Dimas tampak beralasan dan mencoba membuat Luna tidak marah padanya.


"Cih, alasan. Tapi, kasihan sekali kau, wanita soang! Hahaha," ucap Rumanah dalam hati.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2