
Rumanah melangkahkan kakinya ke dalam kamar putri sambungnya. Semalam, ia tidur di dalam kamar suaminya. Tentu saja ia tidak menemani putri sambungnya. Untung saja gadis kecil itu termasuk anak yang anteng dan tidak pernah bangun jika tidak ada hal yang mendesak.
"Syukurlah princess belum bangun," ucap Rumanah seraya mendudukkan bokongnya di samping putri sambungnya.
Istri sirri Tuan Andre itu langsung membangunkan putri sambungnya. "Princess, bangun sayang. Ini sudah pagi, ayo bangun, princess sekolah hari ini." ucapnya membangunkn gadis kecil yang sangat cantik dan menggemaskan.
"Eeeeemh, dewi peri, princess masih mengantuk," ucap gadis kecil itu sembari menggeliat dan membalikkan badannya.
"Eh eh eh eh, kok malas bangun begini siii. Ayo cepat bangun, sayang. Nanti dewi peri panggilkan Daddy, lhooo. Biarin, nanti princess kena marah sama Daddy!" tegas Rumanah sedikit menakut-nakuti putri sambungnya itu.
Sontak saja Sandrina menyibakkan selimutnya dan beringsut bangun dari tidurnya. "Tidak! Jangan panggil Daddy! Princess akan bangun dan bergegas mandi," ucapnya seraya menurunkan kakinya dari ranjangnya.
"Bagus, ayo bergegaslah! Sementara dewi peri akan menyiapkan bekal princess," balas Rumanah seraya melipat selimut yang Sandrina gunakan.
"Siap dewi peri ku yang paling cantiiiiiiik," sahut Sandrina yang tampak menggodai dewi peri nya itu.
Rumanah menaikkan alisnya. "Benarkah dewi peri paling cantik?" tanyanya.
"Ya, dong! Paling cantik dan paling baiiiik." Sandrina menjawab seraya memeluk manja dewi peri nya itu.
Rumanah tersenyum hangat seraya mengusap lembut puncak kepala putri sambungnya itu. "Dan dewi peri mu ini sekarang sudah menjadi ibu sambungmu, princess," ucapnya di dalam hati.
Setelah dirasa cukup, gadis kecil itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sementara Rumanah bergegas ke bawah untuk menyiapkan bekal yang akan dibawa ke sekolah.
"Oh ya, hari ini princess pelajaran olahraga. Sepertinya aku harus membawa bekal yang banyak. Sebab, princess suka kelaparan sehabis olahraga. Dan, aku juga tidak tahu olahraga apa yang akan Bu Guru ajarkan pada anak-anak nanti," cerocos Rumanah sembari menuruni anak tangga satu persatu.
Di meja makan, sang pemilik rumah yang bagaikan istana itu tampak sedang menikmati sarapan paginya. Pria tampan itu tampak terlihat ceria dan berseri-seri. Mungkin karena Rumanah sudah tak marah lagi padanya.
"Hmmm, suamiku sudah di sini saja," gumam Rumanah di dalam hati.
Andre melirikkan matanya pada sang istri yang melintasinya dengan sikap sopan santun dan benar-benar terlihat seperti tidak ada hubungan apa-apa selain majikan dan pengasuh.
"Princess sudah bangun, Belle?" tanya Andre.
Rumanah menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya. "Sudah, Tuan. Dia sedang mandi," jawabnya.
"Mandi? Dia sudah bisa mandi sendiri?" tanya Andre yang tampak kaget.
Rumanah mengangguk. "Ya, Tuan. Semenjak tangan saya dioperasi, princess belajar mandi sendiri. Dan sekarang dia sudah bisa mandi sendiri," jawabnya.
Andre tampak manggut-manggut tanda mengerti. "Bagus, itu artinya dia semakin pintar dan mandiri." ucapnya.
Rumanah mengangguk. Setelah itu ia pun bergegas melanjutkan langkahnya kembali menuju mini bar dan mulai mencari apa yang ia butuhkan.
"Apa menu bekal princess hari ini, Pak Muh?" tanya Rumanah pada chef dingin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa yang setiap pagi chef itu lakukan, rasanya tiada henti tangannya bergerak membuat sesuatu. Padahal, di meja makan sudah banyak makanan hasil buatannya sendiri.
Muhsin menolehkan wajahnya pada Rumanah dan menatap tajam pada wanita cantik itu. Tatapannya begitu mengintimidasi, entah apa yang chef dingin itu pikirkan.
"Ada apa dia menatap lama istriku seperti itu, apakah dia jatuh cinta pada istriku?" ucap Andre dalam hati. Tentu saja ia memperhatikan apa yang terjadi.
Rumanah tampak heran dengan tatapan Muhsin padanya dan dengan kediaman lelaki itu.
__ADS_1
"Hei, apa yang kalian lakukan di sana? Kenapa kalian malah saling nopeng seperti ikan cup*ang yang akan bergulat?" tegur Andre yang berhasil membuat Muhsin dan Rumanah terjingkat kaget.
Keduanya tampak mengerjapkan mata mereka dan membuyarkan lamunan masing-masing.
"Maafkan saya, Tuan." Muhsin membungkuk serta meminta maaf. Ia sangat takut akan kemarahan majikannya itu. Sementara Rumanah tampak memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar.
"Tentu saja aku tidak akan bisa memaafkanmu jika kau ... argh, awas saja kalau hal itu benar-benar terjadi!" cicit Andre dalam hati. Rupanya ia sangat kesal karena Muhsin berani menatap lama istri cantiknya itu.
"Sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu, Rum. Kau lihat saja sendiri di meja makan. Sudah kutaruh di sana semua," ucap Muhsin dengan gayanya yang selalu cuek bebek dan tanpa senyum.
"Hah? Kenapa ditaruh di sana, Pak Muh? Biasanya 'kan di minibar ini, astaga!" protes Rumanah yang tampak heran.
Muhsin menolehkan wajahnya dan menatap dingin pada Rumanah. "Terserah aku saja!" jawabnya ketus.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan membuang napasnya berat. Sementara Andre, diam-diam pria itu masih memperhatikan gerak gerik istri dan chef yang bekerja untuknya.
"Ck, dia selalu seperti ini setiap hari. Terlalu akrab juga tidak mengenakan!" decak Andre dalam hati.
Rumanah melangkahkan kakinya ke meja makan, tentu saja ia akan menyiapkan bekal untuk putri sambungnya.
"Permisi, Tuan. Saya akan menyiapkan bekal untuk princess," ucap Rumanah seraya menatap datar pada suaminya.
"Hm, lakukan saja. Tidak usah canggung," jawab Andre yang bertingkah sok cuek.
Rumanah mengangguk, kemudian ia mulai mengerjakan tugasnya.
"Besok waktunya kau check up ke rumah sakit, Belle." Andre berucap seraya melirikkan matanya pada Muhsin yang sedang sibuk dengan alat masaknya. Kebetulan pria itu membelakanginya.
Rumanah mendongakkan wajahnya dan menatap intens suaminya itu. "Benarkah? Saya bahkan tidak mengingatnya," ucapnya.
Rumanah mengangguk serta tersenyum. Tangannya masih bergerak ke sana kemari.
"Apakah kau sudah sarapan?" tanya Andre yang setelahnya melirikkan matanya pada Muhsin yang masih membelakanginya. Aman!
Rumanah menggeleng. "Mungkin bersama princess nanti," jawabnya.
Andre melirikkan matanya pada Muhsin yang masih di posisi semula. Kemudian ia menyendok sepotong sandwich, setelah itu ia kembali melirikkan matanya pada Muhsin. Aman, chef itu masih menghadap tempat masak yang artinya membelakangi Andre dan Rumanah.
"Buka mulutmu, aaaaaa!" bisik Andre seraya mengarahkan sepotong sandwich pada mulut Rumanah.
"Hah??" Rumanah terjingkat kaget, ia pun menolehkan wajahnya pada Muhsin yang masih dalam posisi semula.
"Ayo, makan ini," bisik Andre.
Tak membuang waktu lagi Rumanah pun membuka mulutnya dan siap menerima suapan dari suaminya. Namun naasnya, saat itu Muhsin memutar tubuhnya dan tentu saja melihat apa yang bosnya lakukan. Dan Andre, sangat terkejut saat menyadari jika chef itu sudah berbalik arah.
Plak!
Refleks Andre menepuk pipi Rumanah dan menjatuhkan sendok yang ia pegang begitu saja.
"Uhuk uhuk uhuk!" Rumanah terbatuk kecil karena syok dengan apa yang suaminya lakukan.
__ADS_1
"Astaga, apa yang telah terjadi, Rum?" ucap Muhsin sembari melangkahkan kaki membawa segelas air mineral.
"Sorry, tadi kulihat ada nyamuk di pipimu, aku rasa itu nyamuk demam berdarah." Andre berpura-pura.
Rumanah melirikkan matanya pada suaminya dan menatap kesal karena tiba-tiba saja pipinya ditepuk dan alhasil ia tidak sempat melahap sandwich yang suaminya berikan tadi.
"Ini minum dulu, sepertinya kau terlalu buru-buru, Rum." Muhsin memberikan segelas air mineral pada Rumanah. Dan Rumanah pun menerimanya lalu meneguknya sampai habis.
"Emh, terima kasih, Pak Muh," ucap Rumanah.
Muhsin mengangguk.
"Apakah pipi saya merah?" tanya Rumanah pada Muhsin.
"Merah!"
"Tidak!"
Muhsin dan Andre menjawab secara bersamaan. Dan lucunya, jawaban antara keduanya sangatlah berbeda. Muhsin menjawab merah, dan Andre menjawab tidak.
Andre dan Muhsin tampak saling beradu pandang, sementara Rumanah tampak bengong tak mengerti.
"Merah atau tidak? Siapa yang benar di sini?" tanya Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Emh, tunggu sebentar. Coba sini aku lihat dulu," ucap Muhsin seraya mendekatkan wajahnya pada Rumanah dan menggerakkan tangannya hendak menyentuh pipi wanita cantik itu. Sementara matanya tampak menatap intens pada pipi Rumanah yang ditepuk oleh majikannya.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan sangat kesal melihat Muhsin menyentuh pipi istrinya. Belum lagi wajah Muhsin kini sangat dekat dengan wajah istri cantiknya itu.
"Sialan, berani sekali dia menyentuh milikku!" cicit Andre di dalam hati.
"Ini sedikit merah, Rum. Apakah terasa sakit?" ucap Muhsin setengah berbisik.
Rumanah menggeleng. "Tidak, Pak Muh. Hanya—" belum sampai ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Andre menyelanya.
"Cut! Sudah sudah sudah! Akting kalian sudah berakhir. Sekarang kembali kerjakan tugas kalian masing-masing!" ucap Andre yang berhasil membuat Muhsin melangkah mundur dan menjauhi Rumanah.
"Baik, Tuan." Rumanah dan Muhsin menjawab secara bersamaan.
"Annabelle, jika sudah selesai, cepat kau temui princess di kamarnya!" perintah Andre penuh penegasan.
Rumanah mengangguk. "Ba–baik, Tuan," jawabnya yang kemudian merapikan bekal putri sambungnya dan setelah itu ia bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar princess Sandrina.
Sementara itu, Andre tampak menatap sengit pada si chef yang berani menyentuh pipi istrinya. Ingin rasanya ia mematahkan tangan chef yang sudah bekerja untuknya selama lima belas tahun itu.
"Sepertinya kapan-kapan aku perlu menginterogasi pria ini. Awas saja jika dia benar-benar jatuh cinta pada istriku!" ucap Andre dalam hati.
Sementara itu Rumanah tampak mendengus kesal dan mengoceh tiada henti.
"Apa-apaan pria itu. Hish, bisa-bisanya dia menepuk pipiku seperti itu. Untung saja sendoknya tidak masuk dan nyangkut di tenggoroknku. Dasar, menyebalkan!" gerutu Rumanah dalam hati. Ia sangat kesal pada sang suami yang tiba-tiba menepuk pipinya.
Ceklek!
__ADS_1
Rumanah membuka pintu kamar putri sambungnya. Gadis kecil itu semakin pintar dan belajar mandiri, ia tampak sudah memakai kaos dan short nya.
BERSAMBUNG...