
Angin sore menerpa bunga-bunga yang mekar mewangi. Segerombolan burung mengepakan sayap mereka. Terbang bersama angin mengelilingi dunia. Sinar matahari yang kian sore kian berwarna keemasan pun kini tampak bersembunyi di balik awan. Sebentar lagi, terang matahari tergantikan oleh gelapnya malam. Di waktu ini, Andre tampak masih setia menunggu sang istri di depan gerbang rumah besar itu.
Berharap sang istri tiba-tiba datang menghampiri dirinya dengan cinta ya g masih sama. Namun, sepertinya yang ditunggu tidaklah nampak. Sampai senja berganti malam, wanita cantik yang ia tunggu tidak menampakkan batang hidungnya. Lantas, haruskah Andre menyerah? Sepertinya tidak. Pria tampan itu masih setia mondar-mandir di depan pintu gerbang yang tertutup rapat. Walau sesekali ia mengintip dan berusaha naik, tapi ia tidak bisa menemukan sang istri di sana.
"Bos, ada panggilan dari Papi Anda," ucap Leo seraya menunjukkan gawai milik bosnya itu.
Andre menggigit kecil bibir bawahnya. Menatap nanar pada gawai yang ada di genggaman asisten pribadinya itu. Ia tahu, kedua orang tuanya pasti penasaran dan ingin mendengar kabar darinya. Tentunya, kabar bahagia yang mereka inginkan. Juga, sang putri kecil yang ia tinggalkan di rumah, pasti itu juga yang membuat sang Papi menelponnya.
"Berikan," ucap Andre seraya mengulurkan tangannya.
Leo pun memberikan gawai milik bosnya. Setelah itu, ia kembali duduk di dekat kebun bunga bersama sopir. Mereka berdua tampak lemas karena belum makan sedari tadi. Ya, tentu saja mereka tidak membawa makanan. Hendak membeli makan ke warung-warung ata rumah makan pun tidak sempat mereka lakukan. Sebab, sang bos sedang dalam zona terpuruk dan frustasi. Mereka tidak berani mengisi perut tanpa perintah dan persetujuan bos mereka. Lagipula, bos mereka pun tidak makan sedari tadi.
"Hallo, Pap," ucap Andre setelah ia menarik napasnya dalam dan berusaha merelax-kan dirinya.
["Hallo, Ndre. Bagaimana di sana? Apakah kalian sudah sampai? Kenapa tidak menghubungi kami?"]
Terdengar suara Papi Dargono di seberang sana.
Andre terdiam sejenak dan membuang napasnya berat. "Sudah, Pap. Kami sudah sampai sedari tadi. Emh, maaf tidak menghubungi. Emh, apakah princess tidak menanyakan kami?" ucapnya.
["Princess mencarimu dan Rumanah. Dia terus-terusan menanyakan kalian. 'Kapan pulang, kapan pulang' begitu saja yang selalu dia tanyakan. Sepertinya dia sangat merindukan kalian berdua"]
Papi Dargono membalas.
"Ya Tuhan." Andre tampak memejamkan matanya dan kemudian membuang wajahnya ke udara. Ia benar-benar sedih mengingat putrinya.
["Ya sudah, kalau sudah selesai, cepatlah pulang, boy. Kami menunggu kalian. Jangan lupa sampaikan salamku pada besanku!"]
Terdengar nada sumringah dan semangat dari sang Papi. Hal itu benar-benar membuat Andre semakin sedih dengan keadaan yang menimpanya.
"Baik, Pap." Jawabnya singkat.
__ADS_1
Selepas mengakhiri teleponnya. Andre mengacak rambutnya kasar dan mengusap wajahnya frustasi. Ia benar-benar membenci keadaan saat ini. Lantas, apa yang harus ia lakukan sebenarnya?
Ssreeeettt!
Terdengar pintu gerbang terbuka. Sontak saja Andre menolehkan wajahnya dan menatap tajam pada seorang pengawal yang berjalan ke arahnya.
"Ikut aku sekarang. Juragan ingin bertemu denganmu!" ucap pengawal itu dengan ekspresi datar.
Andre tampak terhenyak kaget dan setengah tidak percaya dengan ucapan pengawal di hadapannya.
"Demi apa? Juraganmu ingin menemuiku?" ucapnya memastikan.
"Demi cintaku padamu! Astaga!" desis pengawal itu seraya memutar bola matanya malas. "Ya, juragan ingin bertemu denganmu. Ayo ikuti aku!" lanjutnya.
Andre mengangguk dan tampak sumringah. Ia berharap ada keajaiban di sana.
"Bos, apakah tidak apa-apa?" tanya Leo seraya berlari menghampiri bosnya.
Leo tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Tidak, bos! Anda tidak boleh mati sebelum mendapatkan Nyonya kembali. Jika begitu, biarkan saya yang menemui juragan itu." cegahnya yang tampak khawatir pada bosnya.
"Hei, tidak usah berlebihan! Juragan hanya ingin mengobrol dengannya. Bukan ingin membunuhnya!" tegur si pengawal.
Leo menatap intens dan terdiam mendengar ucapan si pengawal. Sementara Andre tampak tersenyum cerah dan bergegas melangkahkan kakinya.
Di dalam kamar...
"Maae, kira-kira, apa yang akan Phoo katakan pada suami Sanee? Akankah Phoo merestui pernikahan kami?" tanya Rumanah yang tampak harap-harap cemas.
Ya, Rumanah sudah tahu jika suaminya masih menunggunya di depan rumahnya. Tentu saja ia pun tahu jika sang Phoo akan bicara dengan suaminya.
Maae Lilis tersenyum hangat dan mengusap lembut wajah cantik putrinya. "Maae juga tidak tahu, sayang. Tapi, Maae berharap kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Jawabnya dengan lembut.
__ADS_1
Rumanah tersenyum senang lalu memeluk hangat ibunya itu. "Aamiin, terima kasih ya, Maae." Ucapnya.
Maae Lilis mengangguk dan tersenyum hangat.
_______________
Andre mengatur napasnya agar relax dan tenang. Di hadapannya, ayah mertua tampak sedang menatap tajam dan penuh intimidasi padanya.
"Apa yang membuatmu bersitegang untuk mendapatkan putriku?" tanya Phoo Boon-Nam dengan suara yang terdengar dingin.
Andre menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Tentu saja ia tidak boleh salah menjawab.
"Karena saya sangat mencintai putri Anda," jawabnya.
Phoo Boon-Nam melipat kedua tangannya di dadanya. "Apa yang kau miliki sehingga kau sangat percaya diri untuk mendapatkan putriku seutuhnya!?" tanyanya lagi.
Andre terdiam sejenak dan tampak berpikir keras. Ia rasa, harta, tahta dan segalanya sudah ia miliki. Tapi, sepertinya ia ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.
"Saya hanya memiliki cinta seluas dunia serta isinya. Kasih sayang yang dalam dan tidak ada batasnya. Tanggung jawab yang tinggi dan melindunginya dengan segenap jiwa dan raga saya." Jawab Andre dengan lugas dan penuh percaya diri.
Phoo Boon-Nam memainkan kumis tebalnya dan menatap kagum pada menantunya. "Apa yang membuatmu jatuh cinta pada putriku?" tanyanya sekali lagi. Sepertinya ia belum puas menginterogasi menantunya itu.
"Saya mencintainya tanpa sebab dan alasan. Saya mencintainya apa adanya. Kalau soal wajah dan penampilan, putri Anda memang sangat cantik. Tapi, bukan itu yang membuat saya jatuh cinta. Jika saya mencintainya karena rupa, maka cinta itu akan terkikis dan hilang ketika istri saya wajahnya berubah karena menua. Saya mencintainya tan—" Andre tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Phoo Boon-Nam menyelanya.
"Cukup! Aku tak mau lagi mendengar ucapanmu!" sela Phoo Boon-Nam seraya bangkit dari duduknya.
Andre tampak terhenyak kaget dan menatap heran pada mertuanya. Manik matanya tampak membulat penuh dan seketika perasaannya mulai merasa tidak enak.
"Kau berhak mendapatkan putriku," ucap Phoo Boon-Nam dengan sebuah senyuman yang ramah dan hangat.
"Haaaaah???" Andre tampak tercengang dan membulatkan kedua bola matanya setengah tak percaya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...