
"Setelah ini bagaimana, bos? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Leo pada bosnya yang sedang frustasi.
Andre menggigit bibir bawahnya dan menatap tajam pada tanaman bunga seruni di hadapannya. Sementara tangannya tampak masih mengepal dengan sempurna. Ia begitu kesal dan juga frustasi dengan keadaan yang menimpanya saat ini.
"Diam di sini dan tetap menunggu takdir Tuhan. Aku tidak akan menyerah! Aku akan membawa kembali istriku." Jawab Andre penuh penegasan.
Leo dan sopir tampak saling beradu pandang dan seperti tidak setuju dengan keputusan bos mereka.
"Tapi, bos. Sepertinya ini sangat sulit dan rumit. Seperti yang bos lihat, ayahnya Nyonya begitu bersikeras mengusir Anda dan mengurung putrinya agar tidak bertemu dengan Anda." Timpal sopir dengan sangat hati-hati.
Andre menyunggingkan seringai sinisnya. "Aku tidak peduli! Sekalipun aku harus mati di sini dan di hadapan istriku, aku sanggup! Aku hanya ingin memberitahu dan membuktikan pada kedua orang tua istriku, jika aku sangat mencintai putrinya itu!" ujarnya tanpa bantahan.
Leo dan sopir sudah tak bisa lagi berkata apa-apa. Dilihat dari segi manapun, Andre memang sangat teguh pendirian dan tidak akan menyerah. Walau wajahnya kini sudah dihiasi oleh perban dan kain kasa, tapi ia tetap semangat untuk meluluhkan hati ayah mertuanya itu.
"Aku yakin sekali jika ayah mertuaku akan luluh dan membuka hatinya untuk menantunya ini." Lanjut Andre seraya berjalan mendekati tanaman bunga yang begitu banyak di hadapannya.
"Saya juga yakin untuk hal itu, Tuan." Jawab Leo.
Semangat dan pendirian Andre memang patut diacungi jempol. Hingga sore menjelang pun ia masih setia menunggu di depan pintu gerbang rumah besar itu. Tak peduli dengan apa pun, bahkan, lapar di perutnya pun ia lupakan saat itu. Padahal, Leo dan sopir sudah menawarinya makan beberapa kali. Tapi, pria tampan itu tidak tertarik sama sekali untuk mengisi perutnya.
Sementara itu di dalam kamar Rumanah, wanita cantik itu tampak sedang duduk di depan jendela kamarnya yang terbuka. Lamunannya melayang ke mana-mana. Ia mengira jika sang suami sudah pergi meninggalkannya. Hal itu benar-benar membuatnya putus asa dan tidak semangat hidup. Lemas dan rapuh yang ia rasakan saat ini. Dadanya terasa sesak dan hatinya begitu ngilu seperti tersayat oleh jarum suntik.
"Hubby, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau berpisah denganmu, hubby. Aku sungguh bisa gila jika berpisah denganmu. Hiks hiks hiks," ucap Rumanah yang tampak masih terisak kecil. Sedari tadi, air matanya tiada henti mengalir membasahi wajah cantiknya.
Kedua matanya begitu memerah bengkak dan sembab. Wajahnya yang cantik berubah menjadi pucat karena terlalu lama menangis. Beberapa kali sang Maae membujuk dan menenangkannya, tapi itu tidak membuat Rumanah tenang dan menghentikan tangisannya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, seseorang masuk dan berjalan dengan cepat mendekati Rumanah yang sedang terpuruk.
"Sanee, sebaiknya kau makan dulu, Nak. Sedari tadi kau tidak mau makan. Nanti kau bisa sakit, sayang," ucap Maae Lilis seraya mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Rumanah menggeleng dengan cepat. "Tidak, Maae. Sanee tidak ingin makan! Yang Sanee inginkan saat ini adalah suami Sanee." Tolaknya tanpa basa-basi.
Maae Lilis menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. "Berhenti untuk bermimpi, Sanee. Phoo benar-benar sudah mengusir pria itu. Lagipula, Maae pun tidak mengerti kenapa kau selalu mengatakan jika pria itu adalah suamimu. Astaga, jangan-jangan kalian belum menikah dan melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, ya!?" sosor Maae Lilis yang berhasil membuat Rumanah terperanjat kaget.
"Apa? Maae jangan asal bicara! Sanee benar-benar tidak sedang bermimpi. Sanee tidak serendah itu, Maae!" ujar Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.
Maae Lilis memutar bola matanya santai. "Baguslah kalau begitu. Itu artinya kau tetap menjalankan prinsip keluarga kita," ucapnya.
"Ya! Tapi, Maae harus tahu dan percaya jika Sanee benar-benar sudah menikah dengan suami Sanee. Pria itu, yang Maae panggil pria tua. Dia adalah pria yang pertama kali bertemu dan menolong Sanee di Jakarta. Dia memang tidak tahu apa-apa tentang Sanee, karena Sanee memang sedang menyamar saat itu. Sanee berpura-pura sedang mencari pekerjaan dan pada akhirnya dia menerima Sanee menjadi pengasuh putrinya." Tegas Rumanah penuh penjelasan.
__ADS_1
Maae Lilis tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Apa? Jangan bilang pria itu seorang duda?" tebaknya penuh selidik. Ia begitu terkejut mendengar penuturan putrinya.
Rumanah melipat bibirnya ke dalam dan meremas jari jemarinya. "Emh, iya, Maae. Dia duda yang sangat hot dan seksi. Eh!" jawabnya keceplosan.
"Hah? Gila kamu! Sepertinya kau sudah pernah melakukan itu, ya!?" tebak Maae Lilis.
Rumanah tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "He he he, tentu saja, Maae. Karena kami suami istri." Jawabnya sedikit malu-malu.
Maae Lilis menatap intens dan begitu penuh analisis pada putrinya. "Suami istri? Maae tidak percaya! Di zaman sekarang, banyak anak muda yang mengaku-ngaku sebagai pasangan suami istri. Padahal, mereka hanya berpacaran saja. Mungkin itu yang terjadi padamu saat ini," ucapnya yang berhasil membuat Rumanah semakin kesal.
"Tidak, Maae! Sanee sungguh tidak berbohong. Sanee menikah secara sirri dengan suami Sanee." Ungkap Rumanah tanpa ragu.
"Apa??? Menikah siri???" terdengar suara Phoo Boon-Nam yang berhasil membuat Rumanah dan Maae Lilis menolehkan wajah masing-masing.
Rumanah menggigit bibir bawahnya dan meremas jari jemarinya.
"Benarkah itu, Sanee? Kau menikah siri dengan pria tua itu?" desak Maae Lilis penuh selidik.
Rumanah mengangguk kecil. "Ya, kami sudah menikah siri beberapa bulan yang lalu. Ini, cincin pernikahan kami," jawabnya yang berhasil membuat Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis terlonjak kaget.
Rumanah melepaskan cincin yang melingkar di jari tengah kaki kanannya. Menunjukkan pada kedua orang tuanya bukti bahwa dia sudah menikah dengan Andre.
"Ya Tuhan, apa yang kau pikirkan, Sanee? Apa kelebihan pria itu sehingga membuatmu nekat melakukan itu? Apa kau pikir dengan menikah sirri, kau akan bahagia? Astaga!" sosor Maae Lilis yang tampak tidak setuju dengan keputusan putrinya yang menikah siri dengan Andre.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan mulai tegang dengan kemarahan ayahnya. "Tidak, Phoo! Jangan lakukan itu. Sanee sungguh bisa jelaskan! Tolong jangan egois. Dengarkan penjelasan Sanee terlebih dahulu." mohon Rumanah dengan raut wajah yang memelas. Air matanya pun kini sudah kembali mengalir membasahi wajah cantiknya.
Phoo Boon-Nam mengusap wajahnya kasar dan tampak terlihat bingung. Sebenarnya ia pun sangat tidak tega melihat putrinya yang sangat mencintai suaminya itu. Tapi, dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa putrinya dinikahi secara siri oleh Andre.
"Phoo, Maae. Sanee benar-benar mencintai suami Sanee. Pun sebaliknya, suami Sanee juga sangat mencintai Sanee. Dengarkan Sanee terlebih dahulu. Sanee sungguh bisa menjelaskan semuanya pada Phoo dan Maae." Kembali Rumanah memohon dan memelas pada kedua orang tuanya.
Maae Lilis menatap iba pada putrinya. Tentu saja ia tidak tega melihat putrinya menderita. Ia pun memeluk hangat putri satu-satunya itu dan mengusap lembut puncak kepalanya.
"Ya sudah, coba jelaskan pada Phoo apa yang sebenarnya terjadi," ucap Phoo Boon-Nam yang berhasil membuat Rumanah tercengang dan berbinar ria.
"Yeaah! Baiklah, Sanee akan menjelaskan agar Phoo dan Maae mengerti," ucap Rumanah penuh semangat.
Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tersenyum. Mereka pun siap mendengarkan penjelasan putri tunggal mereka.
"Sebenarnya, kedatangan Sanee dan suami Sanee ke sini untuk memberitahu Phoo dan Maae mengenai hubungan kami. Dan, suami Sanee berniat ingin menyelenggarakan pernikahan secara resmi dan sah secara hukum agama dan negara. Maka dari itu, kami datang ke sini untuk meminta restu." Ungkap Rumanah penuh penjelasan. Ia berharap kedua orang tuanya akan mengerti.
Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis saling beradu pandang.
__ADS_1
"Maae, Phoo, Sanee benar-benar mencintai suami Sanee. Tidak ada lagi pria yang mampu membuat Sanee jatuh cinta selain suami Sanee. Ya, walaupun dia seorang duda beranak satu, tapi, Sanee sangat mencintainya dan putrinya. Begitupun dengan dirinya, dia juga sangat mencintai Sanee," ucap Rumanah kembali meluluhkan hati kedua orang tuanya.
Phoo Boon-Nam manggut-manggut tanda mengerti. "Hmmm, sudah kuduga. Dari raut wajahnya, dia memang sudah pernah menikah." ucapnya dalam hati.
"Tapi, sayang. Apa yang membuat suamimu itu menjadi duda?" selidik Maae Lilis.
Rumanah terdiam sejenak dan membuang napasnya berat. Haruskah ia membuka aib orang lain? Tapi, bagaimana jika ia tidak menceritakan semuanya? Sudah pasti kedua orang tuanya tidak akan mengerti.
"Itu, istrinya berselingkuh darinya, Maae." Jawab Rumanah tanpa ragu.
Maae Lilis tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Hah? Jadi, sekarang dia masih hidup? Apakah dia tidak datang mengusikmu?" selidiknya lagi.
Rumanah tersenyum kecil. "Sesekali." Jawabnya enteng. "Tapi, Maae tidak usah khawatir. Suami Sanee selalu melindungi Sanee." Lanjutnya meyakinkan.
Maae Lilis mengangguk dan tersenyum. Ia pun mengusap lembut punggung tangan putri tunggalnya itu. Sementara Phoo Boon-Nam tampak beranjak dari duduknya.
"Mau ke mana, Phoo?" tanya Maae Lilis.
"Tidak ke mana-mana." Jawab Phoo Boon-Nam singkat.
"Phoo, bagaimana dengan pernikahan Sanee dengan suami Sanee?" tanya Rumanah penuh harap.
Phoo Boon-Nam menolehkan wajahnya dan menyunggingkan senyuman liciknya. "Masih Phoo pikirkan." Jawabnya yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan istri dan putrinya.
Rumanah membuang napasnya berat dan menekuk wajahnya murung.
"Tenang saja, sayang. Maae yakin, Phoo pasti akan membuka hati." Ucap Maae Lilis menenangkan putrinya.
Rumanah tersenyum kecil dan mengangguk. Ia pun berharap demikian. Sungguh ia tidak bisa membayangkan jika dirinya berpisah dengan suaminya itu.
.
.
.
*Ada udang di balik batu
Readers sayang, I love You
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣❤️❤️❤️❤️*
__ADS_1
BERSAMBUNG...