
Andre melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Sekitar pukul empat ia baru saja selesai meeting dengan segenap direksi perusahaannya. Dan kini, pria tampan itu hendak menemui kliennya yang sudah menunggu di sebuah hotel ternama di ibu kota.
"Jalan, Le," perintah Andre pada asisten pribadinya.
"Baik, bos," jawab Leo dengan sigap.
"Hotel A, ya. Klient-ku sudah menunggu di sana," ucap Andre sembari merogoh gawai di dalam tas kerjanya, "Sepertinya saat aku menjadi pengantin nanti, tubuhku akan terlihat kurus karena terlalu giat bekerja keras," lanjutnya berceletuk.
Leo terkekeh kecil dan menutup mulutnya agar tidak tertawa lepas, "Tidak masalah bagi Anda, bos. Anda akan tetap terlihat gagah dan tampan. Yang penting ... masih kuat menyiksa Nona di atas ranjang. Hihihi," ledeknya disertai cekikikannya.
"Sialan loe!" desis Andre sembari sedikit melonggarkan dasinya.
Gawai bermerek i-phen itu kini sudah berada di tangan pemiliknya. Dengan pelan ia menekan objek untuk menyalakannya. Dan pada saat itu, betapa terkejutnya ia saat melihat beberapa panggilan masuk ke dalam gawainya. Ya, tentu saja panggilan masuk yang tak sempat ia jawab.
"Astaga, banyak sekali yang menelponku, Le. Ada apa ini? Tumben sekali." Andre tampak terjingkat kaget saat melihat beberapa nomor telepon penting yang menghubungi dirinya.
Ya, satu missed call dari Rumanah saat ia berada di sekolah. Setengah jam setelah itu missed call dari sopir pribadi Rumanah. Setengah jam setelah itu, missed call dari Mami serta Papi nya. Hal itu benar-benar membuat Andre sangat cemas dan merasa tidak tenang.
"Ada apa, bos? Apakah ada yang mencurigakan?" tanya Leo.
Andre terdiam sejenak dan memegangi dadanya yang terasa bergemuruh bagaikan ombak di tepi pantai.
"Entah, Le. Sepertinya ada yang tidak beres. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak tenang, Le." Andre menjawab sembari mengetik pesan pada istrinya. Namun, ceklis satu warna abu, artinya WhatsApp sang istri sedang tidak daring.
"Coba saja Anda telepon Nona, bos. Tapi, tadi juga Sopian menelpon saya, bos. Sayangnya tidak sempat saya jawab karena saya sedang di kamar mandi," ucap Leo.
"Astaga! Ada apa ini? Nomor istriku sedang tidak aktif. Sebentar, aku telepon Mami saja," ujar Andre yang bergegas menelpon nomor Maminya.
Tak lama berselang...
"Hallo, Mam. Ada apa tadi nelpon Andre beberapa kali? Maaf tadi Andre sedang meeting, jadi tidak memegang gawai," ucap Andre pada Maminya di seberang sana.
"Ndre, sebaiknya sekarang kau ke rumah sakit, ya. Sudah kerjaannya ditunda saja dulu. Kau bicara saja baik-baik dengan klienmu. Pokoknya Mami tunggu di rumah sakit Sentosa. Kalau kau tidak datang, kau Mami pecat sebagai anak!" terdengar desakan dan paksaan dari sang Mami yang membuat Andre semakin panik namun juga penasaran.
"Tapi, Mam. Siapa yang sa—"
Tut tut tut tut!
Andre tampak menjeda ucapannya saat tiba-tiba sang Mami memutus sambungan telepon secara sepihak.
"Aarghh!" desis Andre kesal. Raut wajahnya kini berubah panik dan tegang.
"Ada apa, bos?" tanya Leo penasaran.
"Putar balik arah ke rumah sakit Sentosa!" perintah Andre dengan nada yang terdengar panik.
"Baik, bos!" jawab Leo dengan sigap.
Walau penasaran, Leo tidak bertanya siapa yang sakit. Yang jelas, saat ini ia merasa jika telah terjadi sesuatu dengan keluarga bos nya itu.
"Hallo, Pak Rony. Mohon maaf sore ini saya tidak bisa menemui Anda. Sebab, tiba-tiba saja ada emergency di keluarga saya. Mohon maaf sekali, sebenarnya saya tidak ingin mengecewakan Anda. Tapi, sesuatu telah terjadi sehingga membuat saya tidak bisa menemui Anda sore ini, Pak." Andre bicara dengan kliennya melalui telepon.
"Begitu rupanya. Ya sudah, tidak apa-apa, Pak Andre. Saya sangat memaklumi. Kita bisa bertemu besok atau lusa. Karena saya akan menghabiskan waktu satu minggu di sini. Tenang saja, Pak." Pak Rony menjawab dengan santai dan penuh pengertian.
Andre tampak lega karena kliennya bisa mengerti dirinya. Sekarang, dia hanya merasa tegang dan penasaran dengan apa yang terjadi dengan keluarganya. Entah istri, anak, Papi atau siapa yang sedang berada di rumah sakit. Tanpa dia sadari, sang putri mahkotanya kini sedang bersama dengan Mommy nya yaitu Luna.
Di rumah sakit, Rumanah tampak terbaring lemah di atas brankar. Sore tadi, saat ia pingsan, tak berapa lama Sopian datang dan begitu terkejut saat melihat Nona mudanya terbaring lemah di ruang UKS sekolah. Beruntungnya para staf di sekolah itu melihat Rumanah dan menolongnya.
"Kenapa bisa seperti ini, Sopian?" tanya Mami Purwati yang tampak cemas karena sang menantu terlihat lemas dan pucat.
"Saya juga tidak tahu, Omma. Tapi, saya dengar dari penjaga keamanan di sana, Nona berebut dengan seorang wanita yang memaksa princess ikut dengannya. Saya rasa itu Nona Luna, Omma." Sopian menjawab dengan tangan yang bergetar.
"Ya Tuhan. Anak itu benar-benar!" geram Mami Purwati sembari mengepalkan tangannya.
"Jadi, princess dibawa oleh Luna? Astaga, aku harap wanita itu tidak melukai cucu kesayanganku!" ujar Papi Dargono dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Princess! Princess! Tidaaaaak!" pekik Rumanah yang baru saja tersadar dari tidur panjangnya.
Mami Purwati, Papi Dargono dan Sopian tampak terjingkat kaget mendengar pekikan Rumanah. Dengan cepat mereka membuka ruang inap Rumanah dan masuk ke dalamnya.
__ADS_1
"Rumanah, sayang. Apa yang terjadi, Nak? Tenang, ada Mami di sini," ucap Mami Purwati sembari menggenggam tangan menantu satu-satunya itu.
"Rumanah harus mencari princess, Mam. Princess tidak boleh menangis, Mam. Luna membawa princess! Ini semua gara-gara Rumanah. Jadi, Rumanah harus bertanggung jawab, Mam. Biarkan Rumanah mencari princess," ujar Rumanah dengan ekspresi wajah yang terlihat murung dan cemas.
"Sudah, Nak. Jangan dipikirkan. Biarkan princess bersama Mommy nya. Dia pasti baik-baik saja di sana. Lihat, sekarang kau sedang lemah seperti ini, sayang. Sebentar lagi suamimu datang. Jangan memaksakan diri, ya." Mami Purwati berkata dengan nada yang lembut dan penuh perhatian.
Rumanah menggeleng dengan cepat, "Tidak, Mam. Putra Mami pasti akan marah pada Rumanah. Rumanah harus mencari princess sekarang juga," ucapnya yang berusaha untuk turun dari brankarnya.
"Jangan, Rumanah! Kau tidak perlu melakukan itu. Andre tidak akan marah, kok. Tenang saja, ya. Mami yang akan memarahinya jika dia marah padamu," tegas Mami Purwati membujuk menantunya agar tidak nekad.
Rumanah mengangguk pasrah dan kembali merebahkan dirinya.
"Jangan pikirkan yang lain-lain dulu, Rumanah. Sekarang pikirkan saja kesehatanmu. Dokter pun belum memberitahu kami apa yang terjadi padamu," timpal Papi Dargono.
"Baik, Pap." Rumanah menjawab lirih.
Walaupun ia memikirkan putri kecilnya yang kini tengah bersama Luna. Tapi, mengingat kondisinya yang begitu lemah membuatnya tak berdaya. Sakit di kepalanya masih sangat terasa. Bahkan saat ia membuka mata, sakit itu begitu menyiksanya.
Tak berapa lama...
Ceklek!
Pintu ruang inap Rumanah terbuka. Orang-orang di dalam sana tampak menoleh ke arah pintu. Dan ternyata, Andre yang datang.
"Darling!" Andre tampak tersentak kaget saat melihat sang istri sedang terbaring lemah di atas brankar.
Dengan cepat ia berlari menghampiri istri cantiknya itu. Raut wajahnya semakin tegang dan panik.
"Sayang, apa yang terjadi padamu?" tanya Andre sembari menggenggam tangan istrinya lalu mengusap lembut puncak kepalanya.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan seketika perutnya kembali terasa mual saat mencium aroma parfum suaminya yang begitu menyengat.
"Uuweeeekkk!"
Andre tampak terkejut dan heran. Namun ia sangat penasaran, mengapa tiba-tiba istrinya seperti hendak muntah seperti itu.
Andre semakin heran dan tak mengerti dibuatnya. Padahal, ia selalu memakai parfum kesukaan istrinya. Tapi sekarang, kenapa dikatai bau?
"Darling, ada apa denganmu? Ini parfum kesukaanmu. Aneh sekali," desis Andre yang tampak heran.
Mami Purwati dan Papi Dargono pun tampak heran pada Rumanah yang tiba-tiba mual dan hendak muntah.
"Tidak! Ini bukan parfum kesukaanku, sayang. Duh! Parfumnya bau dan membuatku eneg!" sungut Rumanah sembari mengipaskan tangannya.
"Astaga. Sepertinya ada yang aneh pada dirimu, darling. Jelas-jelas ini parfum kesukaanmu. Kalau kau tak percaya, akan kusemprotkan lagi," ucap Andre yang tampak jengkel karena parfumnya dibilang bau.
"No no no! Jangan lakukan itu! Sebaiknya cepat carikan masker untuk menutupi hidungku ini," cegah Rumanah dengan cepat.
Andre tampak menatap heran dan penuh tanda tanya. Namun walaupun begitu, ia tetap diam dan hanya bertanya-tanya dalam hati.
"Ini maskernya, Nona." Leo memberikan masker pada Nona mudanya.
"Thank you!" ucap Rumanah sambil meraih masker yang Leo berikan padaku.
"Sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi," bisik Papi Dargono pada istrinya.
"Sepertinya begitu. Ini aneh sekali, Pap. Tapi, dilihat dari gejalanya, sepertinya menantu kita—" Mami Purwati belum selesai bicara, dengan cepat Papi Dargono menyelanya.
"Menderita kerusakan saraf indera penciuman!" tebak Papi Dargono.
Mami Purwati tampak mengerutkan keningnya dan menatap tak mengerti, "Tidak seperti itu yang kupikirkan. Ck," decaknya sembari menggeleng kecil.
Andre mengusap wajahnya dan mendekati istrinya kembali, "Apakah masih bau?" tanyanya dengan pelan dan hati-hati.
Rumanah menggeleng, "Tidak, sayang," jawabnya.
Andre tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepala istrinya, "Maaf ya, tadi aku tidak sempat menjawab teleponmu. Aku sungguh tidak tahu jika kau menelponku," ucapnya.
Rumanah tersenyum nanar dan menatap lemas pada suaminya, "Tidak apa-apa, sayang. Seingatku tadi...." Rumanah menjeda ucapannya dan seperti sedang ragu untuk melanjutkan.
__ADS_1
"Tadi, kenapa, sayang?" tanya Andre penasaran.
Rumanah menggeleng kecil dan menggigit bibir bawahnya. Dan Andre tampak heran juga bingung dengan sikap istrinya.
"Andre, sebaiknya kau jangan banyak bertanya dulu. Sepertinya Rumanah masih lemah dan harus beristirahat," ucap Mami Purwati mencoba memberi pengertian.
Andre mengangguk kecil. Ia belum sadar jika putri kecilnya tidak ada di sana.
"Istirahat ya, sayang. Maafkan aku yang tadi tidak menjawab teleponmu. Aku benar-benar tidak tahu jika kau menelponku." Andre berkata dengan suara yang lembut.
Rumanah mengangguk kecil serta tersenyum, "Tidak apa-apa, sayang. Aku mengerti," jawabnya.
Muach!
Andre mengecup lembut puncak kepala istrinya.
"Andre, Mami mau bicara denganmu sebentar. Sebaiknya kita bicara di luar saja," ucap Mami Purwati pada putranya.
"Baik, Mam," jawab Andre, "Aku ke luar sebentar ya, darling," izinnya pada sang istri.
Rumanah mengangguk mengiyakan. Setelah itu, Andre pun bergegas keluar dengan Mami nya. Leo dan Sopian pun ikut keluar. Sementara Papi Dargono masih berada di dalam ruangan Rumanah.
"Bagaimana ceritanya kok bisa seperti ini, Mam?" tanya Andre to the point.
"Tenang sebentar. Bukan itu yang ingin Mami katakan padamu. Tapi ... coba kau lihat di sekililingmu, apakah ada yang mengganjal? Lihat di sekeliling kita, apakah ada yang tak ada?" ucap Mami Purwati sembari merengkuh lengan putranya.
Andre tampak mengerutkan dahinya tak mengerti. Namun ia bergegas mencerna dan mengingat sekelilingnya. Hingga beberapa detik kemudian...
"Princess! Ya, aku tidak melihat princess di sini," ucap Andre yang kini mulai tersadar.
"Benar, princess memang sedang tidak ada di sini. Karena ... dia dibawa oleh mantan istrimu!" ungkap Mami Purwati yang berhasil membuat Andre tersentak kaget.
"Apaaa????" Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu kaget mendengar ucapan Mami nya.
"Ya, dia sempat berebut dengan istrimu di sekolah. Tapi, saat istrimu pingsan, dia membawa kabur putrimu." Mami Purwati berkata dengan nada yang terdengar cemas.
Andre tampak mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya berat, "Bagaimana bisa, Mam? Kenapa Rumanah tiba-tiba pingsan? Dan, kenapa ini terjadi semudah itu? Astaga," desisnya yang mulai panik.
"Entahlah. Mami rasa, Luna yang telah membuat istrimu pingsan," ucap Mami Purwati.
"Kenapa Mami tidak bilang sedari tadi, Mam? Andre tidak suka jika princess dibawa oleh Mommy nya," sungut Andre.
"Mami merasa jika saat ini lebih baik kau temui istrimu dulu. Soalnya, dokter juga belum memberitahu apa yang terjadi pada istrimu. Dokter akan memberitahu apa yang terjadi saat kau sudah datang. Perihal princess, Mami bukan tidak khawatir. Tapi, Mami tetap positif thinking saja dengan Luna. Dia seorang ibu, Mami yakin dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan putrinya," terang Mami Purwati panjang lebar.
Andre melipat bibirnya dan mengacak rambutnya frustasi, "Luna wanita yang jahat, Mam. Dia bisa melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya. Buktinya, Rumanah sampai terluka karena ulahnya," katanya sembari mengusap wajahnya kasar.
"Tidak, sayang. Nurani ibu ke anak itu berbeda. Mami yakin jika Luna tidak akan melukai cucu Mami. Lagipula, Papi sudah menyuruh anak buahmu untuk mengawasi kediaman Luna dan juga mengikuti wanita itu," ujar Mami Purwati.
"Permisi, Bu. Apakah suami Nona Rumanah sudah datang?" tanya seorang suster.
"Sudah, saya sendiri." Andre yang menjawab.
"Baik. Silakan tunggu di dalam ruangan, ya. Sebentar lagi dokter akan mengatakan apa yang terjadi pada istri Anda," ucap suster dengan lembut dan sopan.
"Baik, Sus," jawab Andre.
"Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang membahayakan pada Rumanah," gumam Mami Purwati.
"Semoga saja, Mam," jawab Andre sembari membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan istrinya.
"Sudahkah bicaranya?" tanya Rumanah.
"Sudah, sayang. Sebentar lagi dokter ke sini," jawab Andre.
"Mau ngapain lagi? Aku gak mau disuntik, sayang," rengek Rumanah manja.
"Tenang, ya. Bukan disuntik, sayang. Dokter akan memberitahu apa yang telah terjadi padamu," ucap Andre sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1