Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Aku bisa apa


__ADS_3

Sandrina menatap heran pada kedua manusia yang sedang berargumen di hadapannya.


"Sepertinya kau mantan sekretaris dukun santet ya. Hahahhaha." cibir Ferhat disertai tawa ngakaknya.


Rumanah tampak terlonjak kaget, kedua bola matanya tampak membulat penuh. Gadis desa itu benar-benar kesal mendengar tawa menyebalkan pria tampan yang ia anggap orang jahat itu.


"Tertawalah sepuas Anda, penculik!" rutuk Rumanah seraya menarik paksa Sandrina dari pangkuan Ferhat. Sementara itu Ferhat tampak terkejut mendengar rutukan Rumanah.


"Hah, penculik? Dia menganggapku seorang penculik, pantas saja dia tadi berlari menghindariku. Hahahaha." cerocos Ferhat dalam hati.


"Ayo sayang kita tunggu Daddy di sana saja." ajak Rumanah setengah berbisik.


"Memangnya kenapa, dewi peri? Princess masih ingin bermain dengan Uncle Fer." rengek Sandrina seraya melepaskan tangannya dari genggaman Rumanah. Gadis kecil itu pun berlari mendekati Unclenya.


Ferhat tampak tersenyum dengan puas dan menatap sinis pada Rumanah. Sementara Rumanah tampak heran pada asuhannya yang seperti sudah lengket pada pria di hadapannya.


"Benar-benar penculik profesional!" dengus Rumanah dalam hati.


"Oke princess, apakah kau ingin pergi ke taman bermain bersama Uncle?" tanya Ferhat seraya berjongkok agar bisa lebih mudah berhadapan dengan keponakannya.

__ADS_1


"Mau mau! Princess sangat mau." sorak Sandrina seraya meloncat-loncat kegirangan.


"Astaga, princess. Kamu jangan mudah terperangkap oleh rayuan maut penculik itu. Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum penculik ini membawa pergi princess dan menjadikan princess gelandangan di jalanan." cerocos Rumanah yang tampak menekan ucapannya. Ia benar-benar mengira Ferhat adalah seorang penculik.


Ferhat dan Sandrina tampak mengerutkan dahi mereka masing-masing dan saling beradu pandang. Sekian detik berlalu, keduanya tampak tertawa serempak.


"Hahahhaahaha." gelak tawa antara paman dengan keponakan itu membuat Rumanah semakin heran dan tidak mengerti. Tentu saja karena ia melihat Sandrina yang sama sekali tidak merasa takut pada pria yang dia anggap seorang penculik.


"Astaga, ada apa dengan mereka." ucap Rumanah dalam hati.


"Hei, gadis cupu! Sebaiknya kau tarik kembali tuduhanmu itu sebelum kau menanggung malu seumur hidupmu." ujar Ferhat setengah menaikkan suaranya.


"Princess sayang, sepertinya dewi perimu tidak mengerti pada ucapan Uncle. Sebaiknya kau saja yang menjelaskan pada dewi perimu itu." ucap Ferhat pada keponakannya.


"Baiklah Uncle." jawab princess Sandrina seraya melangkahkan kakinya menghampiri dewi perinya.


Sementara itu Rumanah tampak masih mematung penuh tanda tanya.


"Dewi peri, kau jangan berprasangka buruk pada Uncle Fer. Uncle Fer bukanlah penculik, dia adalah Uncle princess. Jadi dewi peri tidak usah takut padanya." terang Sandrina mencoba menjelaskan pada pengasuhnya.

__ADS_1


Rumanah tampak mengernyitkan dahinya setengah tak mengerti. Otaknya tampak terus berpikir keras.


"Jika kau tidak mengerti Uncle, biar aku yang menjelaskannya. Aku adalah paman atau om princess Sandrina. Jika kau masih kurang paham, aku akan menjelaskan dengan cara lain." ujar Ferhat yang tampak menimpali.


Rumanah tampak sedikit terhenyak kaget mendengar penjelasan Ferhat. Tentu saja ia tak menyangka jika ternyata pria yang ia kira penculik itu adalah paman asuhannya. Pantas saja mereka sangat akrab. Pikirnya.


"Eeemh, tidak perlu. Saya sudah mengerti, Akang." ucap Rumanah yang kini tampak sedikit merendahkan suaranya. Tentu saja sangat berbeda dengan ketika ia menganggap Ferhat adalah seorang penculik.


"Hah, Akang?" Ferhat tampak sedikit merasa aneh dengan panggilan yang Rumanah sematkan padanya.


Dengan ekspresi kaku Rumanah tampak meremas jari jemarinya dan melipat bibirnya ke dalam. Tentu saja ia kini merasa canggung dan tidak enak pada paman princess.


"Sudahlah kalian jangan ngobrol terus. Kapan kita berangkat ke taman bermain, Uncle." Sandrina kembali merengek seraya ngelendot pada pinggang pamannya.


"Oh iya, Uncle sampai lupa. Baiklah, jika begitu jangan buang-buang waktu lagi. Markicuuuuuusss.. Mari kita capcuuus!" seru Ferhat seraya menggendong tubuh Sandrina penuh manja.


Sandrina tampak heboh dan kegirangan. Sementara Rumanah tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan hanya bisa membatin.


"Hadeeeeuuuh, jika sudah seperti ini, aku bisa apa??" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2