Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Pastikan keselamatannya


__ADS_3

"Siapa yang membiarkan wanita itu masuk ke dalam ruanganku?" tanya Andre pada sekretarisnya yaitu Ririn.


Ririn menundukkan kepalanya dan terlihat sangat ketakutan. Ia baru pertama kali mendapat bentakan dan kemarahan dari bos tampannya itu.


"Ma... maafkan saya, Pak. Saya tidak tahu jika Anda sangat tidak ingin kedatangan mantan istri Anda." Ririn berkata dengan suara yang bergetar menahan takut. Ia sama sekali tak berani mendongakkan wajahnya atau hanya sekedar menatap wajah bos tampannya itu.


"Lancang! Harusnya kau beritahu aku dulu! Kau benar-benar membuat kesalahan, Ririn!" bentak Andre dengan kilatan api kemarahan.


Ririn meremas jari jemarinya dan sangat tegang menghadapi amukan sang bos yang sangat galak itu.


"Maafkan saya, Pak. Saya berani menerima hukuman yang Anda berikan karena kesalahan yang sudah saya lakukan..Tapi, saya berani bersumpah jika wanita itu mengatakan bahwa Anda sudah menyuruhnya untuk langsung masuk ke dalam ruangan Anda. Sekali lagi saya minta maaf, Pak." Ririn benar-benar memelas dan memohon ampunan dari bos tampannya itu. Bahkan kali ini ia bersimpuh dan bertekuk lutut di hadapan bos tampannya.


Andre tampak terdiam dan mencerna setiap ucapan sekretarisnya itu. Lengkap sudah kekesalannya hari ini. Bermula kekesalan pada sang istri yang mengacuhkannya, ditambah kekesalan pada sang mantan istri yang dengan lancang menemuinya dan bahkan berniat untuk mengusik hidupnya lagi. Dan kini, si sekretaris baru pun telah berani menambah kekesalannya di hari ini.


"Permisi, bos. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Leo yang baru saja tiba.


Andre mengusap wajahnya kasar dan menatap sengit pada asisten pribadinya itu. Sementara Ririn masih bersimpuh di hadapan bos tampan yang galak itu.


"Ada apa dengan sekretaris baru ini? Kenapa dia bertekuk lutut seperti ini? Apakah dia telah melakukan kesalahan? Astaga, kasihan sekali." Leo tampak bicara di dalam hati.


"Dari mana saja kau, tikus got??" Andre bertanya seraya meninju kecil perut asisten pribadinya.


"Huwa!" Leo sedikit terpental karena terkejut.


"Si bedebah itu kembali muncul di hadapanku! Berani-beraninya dia berniat untuk merebut princess dari hidupku!" ucap Andre dengan suara dan wajah yang dingin.

__ADS_1


Leo tampak mengerutkan dahinya berusaha mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut bosnya itu. "Si bedebah? Oh, rupanya mantan istri si bos yang membuat situasi panas dan gaduh seperti ini," ucap pria itu di dalam hati.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan, bos?" tanya Leo seraya berdiri tegak dan siap melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang bosnya itu.


Andre terdiam sejenak dan memainkan jari jemarinya. Nampak jelas jika dirinya sedang cemas dan panik.


"Kau, kembali ke ruang kerjamu," ucap Andre pada sekretarisnya yang tidak tahu apa-apa.


Ririn mengangguk dan kemudian ia beranjak dari tempatnya lalu melenggang pergi meninggalkan dua orang pria yang ada di dalam.


"Leo!" panggil Andre dengan suara yang dingin namun sangat terdengar menyeramkan.


"Ya, bos!" jawab Leo dengan sigap.


"Pergilah ke sekolah princess. Pastikan para bodyguard menjaga baik princess dan dewi peri nya si sana. Pastikan juga si bedebah lintah darat itu tidak menemui princess dan Rumanah. Kalaupun dia benar-benar menemui mereka, jangan biarkan dia melukai princess dan dewi peri nya. Kau harus pastikan keselamatan keduanya!" perintah Andre penuh penegasan.


"Jangan sampai lintah darat itu menyentuh Rumanah ataupun menyakitinya!" tegas Andre yang tampak kembali mengingatkan.


"Baa... baik, bos!" jawab Leo yang tampak sedikit heran dengan sikap Andre yang seperti sangat perhatian pada Rumanah.


Dirasa sudah cukup, Leo pun bergegas ke sekolah putri kecil bos tampannya itu.


Sementara itu di sekolah...


Rumanah duduk manis menunggu sang putri sambungnya yang sedang mengikuti pelajaran di dalam kelas. Sesekali wanita cantik itu menguap karena mengantuk. Ya, jelas saja ia mengantuk. Sebab, ia tidur jam tiga dinihari dan bangun di jam lima pagi. Tambah lagi, setelah bangun tidur ia harus melayani sang suami di atas ranjang. Sungguh benar-benar melelahkan bagi Rumanah.

__ADS_1


"Ya Tuhan, bagaimana dengan diriku ini? Semoga saja aku tidak hamil. Bukannya aku tak mau menerima pemberian dari-Mu, tapi ... aku hanya merasa belum siap dengan semua ini," rintih Rumanah di dalam hati.


Di depan kelas Sandrina, para orang tua murid memang diperbolehkan menunggu siswa siswi yang sedang belajar di dalam kelas. Maka hal itu membuat Rumanah tidak merasa kesepian. Terkadang ia mengobrol dengan para orang tua ataupun para pengasuh yang menunggu anak-anak yang sedang belajar di dalam kelas.


"Beberapa hari lagi asuhanmu akan mengikuti lomba antar Kota, ya. Aku turut bahagia dan sangat berharap Sandrina bisa mendapatkan juara terbaik yang akan membawa nama sekolah ini," ucap seorang wanita yang diperkirakan berusia tiga puluh tahunan.


Rumanah tersenyum serta mengangguk. "Ya, Mbak. Terima kasih atas doa dan harapannya." ucapnya. "Princess memang anak yang berbakat. Maka tak heran jika ia terpilih untuk mengikuti lomba ballet antar kota." lanjutnya.


"Ya, kau benar. Aku melihat asuhanmu itu anak yang baik dan tidak neko-neko. Apakah kau yang selalu mengajarinya?" tanya wanita itu.


Rumanah tersenyum simpul dan tidak menjawab apa-apa. Sebuah senyuman sudah cukup mewakili jawabannya.


"Sialan! Kenapa si cupu itu yang mendapat pujian dari orang-orang mengenai prestasi dan sifat putriku. Ini sungguh tidak dapat dibiarkan! Akulah yang telah melahirkannya ke dunia ini. Maka, akulah yang berhak mendapatkan pujian dari semua orang. Bukan dia!" ucap Luna yang ternyata sedang mengawasi dan menguping percakapan antara Rumanah dengan wanita di sampingnya.


Tentu saja Rumanah tidak tahu jika mantan istri suaminya berada di sana dan mengawasinya. Dan hal itu membuatnya terkejut saat tiba-tiba Luna berdiri di hadapannya.


"Jangan bersikap seolah kau wanita yang melahirkan princessku Sandrina," ucap Luna dengan nada yang sinis dan dingin.


Rumanah tampak terbelalak kaget melihat kehadiran Luna yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


"Maaf ya, jeng, ibu-ibu, Sandrina adalah putri saya. Dan wanita ini hanyalah pengasuhnya, jadi tidak pantas kalian semua membangga-banggakan Sandrina padanya. Tentu saja semua bakat dan sikap Sandrina diwariskan dari saya sendiri. Bukan dia!" ucap Luna pada semua yang ada di sana. Dan ia tampak menatap sengit pada Rumanah yang hanya diam.


"Oooh, jadi ini Mommy nya Sandrina. Pantas saja Sandrina sangat cantik dan menggemaskan. Rupanya Mommy nya pun sangat cantik seperti ini," ucap seorang wanita yang sepertinya senang berghibah.


Luna tersenyum bangga dan menatap sinis pada Rumanah.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2