
Rumanah menghela napas panjang dan menelan ludahnya kasar. Jantungnya semakin berdetak kencang saat sang suami menatapnya tajam dan penuh penyayatan. Dengan perlahan pria tampan itu naik ke atas ranjang dan mendekati istrinya yang sedang tegang.
"Darling, karena kau telah melakukan kesalahan pada hari ini. Maka aku akan menghukummu sampai kau jera!" bisik Andre sembari memainkan jari jemarinya pada wajah cantik istrinya.
Rumanah tampak memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya menahan geli. "I–iya, Tuan." jawabnya.
"Hmmmm, jika begitu..." Andre memainkan jari jemarinya pada perut rata istrinya. "Pijat seluruh tubuhku!" perintahnya tanpa bantahan.
"Hahhh???" Rumanah tampak terjingkat kaget. Sementara sang suami sudah menghempaskan tubuhnya dalam keadaan tengkurap.
"Kenapa? Kau tidak mau?" desak Andre seraya menolehkan wajahnya dan menatap sengit pada sang istri.
Rumanah menggeleng dengan cepat. "No no no no no!" sanggahnya sembari merubah posisi duduknya. "Tentu saja saya mau, Tuan!" ucapnya seraya mulai menggerakkan tangannya dan memijat kecil punggung suaminya.
"Hmmm, bagus! Lakukan dengan baik dan benar. Mungkin aku membutuhkan waktu dua jam untuk menikmati pijatanmu ini, darling," balas Andre seraya memejamkan matanya.
"Apa? Dua jam?" Rumanah tampak terbelalak kaget mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa lagi? Kau ingin protes?" desak Andre.
"Oh, tidak! Maksud saya kenapa tidak tiga jam saja, Tuan. Itu pasti sangat menyenangkan!" sanggah Rumanah seraya tersenyum terpaksa.
Andre tersenyum kecil dan membuka matanya. "Jika kau tidak keberatan. Maka, aku rasa itu ide yang bagus. Hmmmmm," ucapnya yang berhasil membuat Rumanah terhenyak kaget.
"What? Gila aja sampai tiga jam. Hello, dia tidak tahu kalau istrinya ini adalah wanita istimewa. Huwaaaa, seumur hidup gue, baru kali ini gue mijat tubuh manusia," cicit Rumanah dalam hati.
"Darling, kenapa kau diam saja? Tidak tahu kah kau cara memijat yang baik dan benar?" tanya Andre penuh desakan.
__ADS_1
Rumanah tampak terjingkat kaget dan terpaksa meninggalkan lamunannya.
"Ah, tidak Tuan. Bukan begitu, saya hanya sedikit merasa bingung, bagaimana caranya menahan diri saya untuk tidak ... emh, tidak, bukan itu maksud saya. Tapi—"
"Sudah jangan banyak berkicau, Rumanah!" cicit Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Apa? Rumanah? Anda menyebut nama saya, Tuan? Aaaaaa, ini hal yang sangat langka dan mengesankan!" seru wanita cantik itu sembari meninju-ninju kecil punggung suaminya.
Andre tersenyum tipis sembari membalikkan tubuhnya menjadi posisi terlentang menghadap istrinya. "Apakah kau ingin kupanggil demikian? Kau senang dengan panggilan formal seperti itu?" sindirnya.
Rumanah terdiam sembari tersenyum kikuk. Jantungnya berdebar kencang, keringat seakan tak mau kalah oleh siapa pun. Padahal, di dalam kamar itu sangatlah dingin dengan AC. Tapi mengapa rasanya tak berguna sekali bagi wanita yang sedang tegang itu.
Ya, bagaimana dia tidak tegang, sementara kini dirinya dihadapkan dengan pemandangn yang membuat wanita mana pun akan sulit menelan saliva dan mendadak sesak napas.
"Astogeh! Kenapa dia harus berbalik badan. Huh, itu ... itunya! Semestinya mataku tidak jelalatan dan tetap fokus memandang wajah tampannya yang selalu menggiringku untuk menikmati seluruh tubuhnya," cerocos Rumanah dalam hati.
"Hmmm, sepertinya akan menarik jika aku membiarkannya bergairah. Aku ingin melihatnya menahan hasrat yang menimpanya," ucap Andre dalam hati.
Andre tersenyum geli dan menatap wajah istrinya yang memerah tegang dan tak tenang, seperti sedang menahan sesuatu.
"Tentu saja darling, aku akan selalu memanggilmu dengan panggilan yang manis dan penuh cinta," balas Andre seraya mengusap lembut wajah cantik istrinya itu.
Rumanah hanya tersenyum kaku dan menundukkan wajahnya. "Tuan, Anda sudah tidak marah bukan?" tanyanya sembari sedikit melirikkan matanya menatap wajah tampan suaminya. "Kalau gitu, sudahi hukumannya." lanjutnya setengah merajuk.
Andre memutar bola matanya dan menatap datar pada istrinya. "No! Hukuman tetap hukuman. Jangan menawar, Annabelle. Cepatlah kau jalankan hukumanmu. Pijatlah seluruh tubuhku sampai tiga jam!" jawabnya yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan membuang napasnya berat. "Hummm, baik, Tuan." jawabnya pasrah.
__ADS_1
Andre menarik sudut bibir kanannya sembari memutar bola matanya. Kemudian ia memejamkan mata siap menerima pijatan dari istrinya.
"Tuan, tangan kanan saya ... jari manisnya masih sedikit terasa sakit. Jadi, mohon maaf jika memijatnya kurang kuat," ucap Rumanah yang tampak sudah memijat pelan tangan kanan suaminya.
"Aku tidak peduli, Belle. Pokoknya kau pijat saja seluruh tubuhku, ya!" tegas Andre tanpa membuka matanya.
Rumanah mengangguk kecil. "Huffft, benar-benar menyebalkan! Apakah aku perlu memijat senjata tajamnya juga? Astaga," cicitnya dalam hati.
Tak ingin ambil pusing, Rumanah pun terus memijat tanpa bicara. Sesekali manik matanya melirik pada senjata tajam suaminya yang sepertinya sedang tertidur.
"Jangan sampai aku yang bergairah karena pijatannya. Aku ingin dia yang uring-uringan menahan hasrtanya. Hmmm," ucap Andre dalam hati.
Glek!
Rumanah menelan ludahnya kasar saat ia menatap ekstream senjata tajam yang menjadi favoritnya. "Duh, ngejengkelin amat sii! Aku harap tangan ini memiliki rem yang cakram. Jangan sampai tanganku menyentuh si ular berbulu itu," ucapnya dalam hati.
"Pijat yang benar, darling. Apakah kau belum sarapan? Kenapa tidak bertenaga sama sekali?" sindir Andre sembari membuka matanya.
Rumanah tampak terjingkat kaget dan sesegera mungkin ia membuang wajahnya ke udara. Berpura-pura tidak memperhatikan apa pun yang ada di hadapannya.
"Emh, ini sudah kuat, Tuan. Bagaimana lagi, tangan saya—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.
"Sssstttt!" Andre meletakkan telunjuknya pada bibir mungil istrinya. "Jangan banyak alasan! Aku hanya ingin kau memijat dengan cinta dan kasih sayang," ucapnya seraya menatap tajam manik mata istrinya.
Rumanah mengangguk pasrah. Ia pun kembali memijat dengan kekuatan yang ia naikkan.
"Pindah dong, sayang. Jangan di situ saja." Andre meminta penuh desakan.
__ADS_1
Rumanah memutar bola matanya malas. "Ya," jawabnya singkat.
BERSAMBUNG...