
"Princess sekolah dulu ya, Dadd," ucap Sandrina pada sang Daddy yang mengantarkannya ke sekolah.
"Ya, sayang. Belajar yang benar ya. Nanti Daddy jemput lagi," sahut Andre seraya mengusap lembut puncak kepala putri mahkotanya itu.
Sandrina mengangguk lantas tersenyum. Ia pun menyalami tangan Daddy nya lalu mencium manja Daddy nya itu.
"Annabelle, pelajaran apa princess hari ini?" tanya Andre pada istri sirrinya.
"Pelajaran olahraga, Tuan," jawab Rumanah.
"Baiklah, kalau ada apa-apa, jangan segan untuk menghubungiku, ya." Andre berkta diiringi senyuman manisnya.
Rumanah menyengir kuda serta menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Hehehe, tapi saya tidak punya ponsel, Tuan." ucapnya.
Andre terjingkat kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh. "What? Tidak punya ponsel?" tanyanya memastikan.
Rumanah mengangguk mengiyakan. "Ya, Tuan." jawabnya.
"Astaga, kau terlahir di zaman apa, Annabelle? Masak, manusia di zaman ini tidak memiliki ponsel. Benar-benar kuno!" sungut Andre yang tampak keheranan.
Rumanah tersenyum kecil. "Sebenarnya bukan tidak punya, tapi ... ketinggalan di rumah." ucapnya dalam hati.
"Dewi peri tidak punya ponsel, ya?" Sandrina menatap kasihan pada dewi peri nya.
Rumanah mengangguk kecil.
"Kalau gitu, Daddy yang harus membelikan dewi peri ponsel," celetuk gadis kecil itu yang selalu tepat sasaran.
Andre melirikkan matanya pada Rumanah dan sedetik kemudian ia pun mengangguk mengiyakan. "Tentu saja, sayang. Daddy akan memberikan apa pun yang dewi peri mu butuhkan. Daddy janji!" ucapnya seraya sesekali menatap penuh cinta pada istri sirrinya itu.
Rumanah tersenyum manis mendengar itu. Sementara Sandrina tampak bersorak kegirangan.
"Yeeeaaay! Daddy baik deh!" sorak gadis kecil itu.
Andre tersenyum. "Tentu saja, sayang." ucapnya.
Setelah dirasa cukup, Andre pun bergegas berangkat ke perusahaannya. Sementara Rumanah dan Sandrina masuk ke sekolahan.
"Benar juga, semestinya aku sigap membelikan Annabelle ponsel untuk keperluan sehari-hari. Tentu saja ia akan membutuhkan ponsel untuk menghubungiku dan menghubungi orang tuanya. Eh tapi ... selama ia tinggal di rumahku, bagaimana caranya dia menghubungi orang tuanya di desa? Dan, bagaimana caranya mengirimkan uang untuk orang tuanya? Aku jadi penasaran. Sebenarnya, bagaimana kehidupannya di desa. Aku jadi semakin ingin segera menemui kedua orang tuanya. Hm, mungkin aku harus membahas ini dengan Annabelle." Andre tampak bermonolog dengan dirinya sendiri.
•
•
"Le, aku ingin kau membelikan ponsel untuk Rumanah," ucap Andre pada asisten pribadinya yaitu Leo.
Leo mengerutkan dahi dan sempat tidak percaya. Namun walaupun begitu, ia tidak berani bertanya apa-apa pada bosnya itu.
"Baik, bos. Akan saya belikan sekarang juga!" jawab Leo dengan sigap.
Andre mengangguk. "Le, satu lagi." ucapnya yang membuat Leo menghentikan langkahnya.
"Apa lagi, Tuan?" tanya Leo.
Andre terdiam sejenak. Sebenarnya ia sangat bingung harus bicara atau tidak.
"Tuan, ada apa?" tanya Leo yang sebenarnya sangat penasaran.
"Ah itu, emh, kemarilah!" ucap Andre meminta Leo untuk mendekatinya.
Leo pun menurut, dan Andre langsung membisiki apa yang dia perintahkan pada Leo.
"Oooooh, baiklah, Tuan. Kalau gitu, saya permisi." Leo mengerti dan langsung bergegas melakukan apa yang bosnya perintahkan.
Selepas kepergian Leo, Andre menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
"Akhirnya Leo tahu pernikahanku dengan Annabelle. Tapi, itu tidak masalah. Dia adalah orang yang tepat. Tanpanya, aku tidak akan bisa melakukan apa pun sendiri," ucap Andre seraya menatap langit-langit ruangannya.
Ya, Andre memang baru saja memberitahu Leo perihal pernikahannya dengan Rumanah. Tentu saja ia beritahu, sebab ia meminta Leo untuk membeli bebetapa stel pakaian tidur yang seksinya bukan main.
Tak berapa lama, seseorang masuk ke dalam ruangannya.
Dan hal itu membuat Andre meninggalkan lamunannya.
"Permisi, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap Ririn pada bos tampannya itu.
"Hm, siapa?" tanya Andre.
"Kak Meliza, Pak," jawab Ririn.
"Meliza? Suruh dia masuk," perintah Andre.
Ririn mengangguk mengiyakan.
Tak berapa lama...
__ADS_1
Meliza masuk ke dalam ruangan Andre. Namun, ia tidak sendiri. Terlihat seorang pria berwajah asing berjalan bersejajar dengannya. Dan hal itu membuat Andre mengerutkan dahi.
"Selamat siang, Pak Andre," sapa Meliza dengan senyuman hangatnya.
Andre beranjak dari duduknya lalu menyunggingkan senyuman ramahnya. "Siang, Mel. Sudah lama sekali tidak bertemu. Dan ini, pria asing itu kah?" sahut Andre.
Meliza mengangguk serta tersenyum.
"Oh, oke oke. Aku rasa ada hal yang penting yang akan kau bicarakan padaku." Andre melangkahkan kakinya lalu mendudukkan bokongnya di sofa. "Ayo, silakan duduk." ucapnya.
Meliza mengangguk, lalu ia pun mendudukkan bokongnya di sofa. Begitu pun dengan pria di sampingnya itu.
"Bagaimana kabar Anda, Tuan?" tanya Meliza.
"Seperti yang kau lihat, Mel. Aku sehat wal'afiyat." Andre menjawab disertai senyumannya. "Dan kau, kapan akan menikah dengan pria ini?" tanyanya sembari menyunggingkan senyumannya pada calon suami Meliza.
Meliza tersenyum hangat, lama tak jumpa dengan sang mantan bosnya. Membuat wanita cantik itu sedikit merasa canggung.
Sementara itu yang terjadi di bawah...
"Biarkan aku masuk!" ucap Luna pada kedua security yang menghalanginya untuk masuk ke dalam perusahaan mantan suaminya.
"Tidak bisa,Pak Andre melarang Anda untuk menemuinya!" ujar security penuh penegasan.
"Sialaaan! Jangan membuatku marah!" teriak Luna yang tampak emosi jiwa.
"Sebaiknya Anda pergi sebelum kami menyeret Anda dari sini!" ucap si security.
Luna menatap bengis pada para security dan para karyawan yang menatapnya sinis.
"Bagaimana pun aku harus masuk ke dalam ruangan Andre." Luna membatin.
Di ruangan Andre...
"Jadi, dua minggu lagi kalian akan menikah? Oh My Good, secepat itu ya. Aku ikut bahagia, Mel," seru Andre yang tampak sedikit kaget mendengar tanggal pernikahan Meliza.
"Ya, Pak. Kami memang tidak berniat untuk menunda-nunda. Terima kasih, Pak. Saya harap Anda dapat hadir di acara pernikahan kami nanti," jawab Meliza.
Andre tersenyum serta mengangguk. "Tentu saja, Mel. Aku pasti akan hadir. Princess pasti akan terkejut mendengar hal ini." sahutnya.
"Sykurlah, saya sangat senang sekali mendengarnya. Semoga princess pun bisa ikut dengan Anda, Pak," ucap Meliza.
"Ya, itu pasti, Mel," jawab Andre. "Bahkan aku akan mengajak istriku ke acara pernikahanmu," gumamnya dalam hati.
Tak berapa lama...
"Ada apa, Rin?" tanya Andre.
"Di bawah, anu, mantan istri Anda....,"
"Ck, lintah darat itu benar-benar kurang ajar!" umpat Andre penuh emosi.
"Astaga, wanita rubah itu masih saja mengusik hidup Anda, Pak. Benar-benar tak tahu diri!" cicit Meliza yang juga tampak kesal.
"What happend, beybi?" tanya si pria asing yaitu calon suami Meliza.
Meliza membisiki calon suaminya agar dapat mengerti.
"Sepertinya aku harus turun tangan!" ucap Andre yang kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangannya.
Meliza, Ririn dan pria asing calon suami Meliza mengekori Andre dari belakang. Tentu saja mereka ingin tahu kejadian di bawah sana.
Luna melempari para security dan para karyawan yang menghalanginya menggunakan bebatuan. Tentu saja hal itu semakin menimbulkan kegaduhan yang haqiqi. Benar-benar tak memiliki urat malu, wanita itu bahkan beteriak-teriak seperti orang gila.
"Katakan pada bos kalian jika mantan istrinya ingin bertemu dengannya!" teriak Luna membabi buta.
Para security dan para karyawan tampak tak ada yang menanggapi. Mereka hanya menghalangi Luna agar tidak bisa masuk ke dalam perusahaan milik mantan suaminya itu.
"Andreeee! Keluar lah kau! Jangan berpura-pura cuek padaku!" pekik Luna semakin merajalela.
"Ada apa ini?" suara bariton itu seketika memecah keramaian yang terjadi di sana. Para karyawan dan security menunduk dan bergeser memberi jalan untuk bos mereka semua.
Luna menolehkan wajahnya dan seketika ia tersenyum penuh kejahatan.
"Andreee, mereka melukaiku," ucap wanita rubah itu seraya berlari menghampiri mantan suaminya. Tanpa malu ia memeluk tubuh kekar yang ia rindukan.
Andre benar-benar dibuat kesal dan marah oleh wanita yang telah lancang itu. Dengan kasar ia mendorong tubuh mantan istrinya sehingga membuat wanita itu terjerembab di hamparan papingblock.
"Jaga sikapmu, lintah darat!" tegas Andre seraya menatap marah pada mantan istrinya itu.
"Andre, kau jangan berpura-pura, aku tahu jika kau masih mencintaiku." Luna bangun dari tempatnya lalu melangkah mendekati mantan suaminya.
"Jangan mendekatiku! Aku jijik padamu!" ucap Andre yang tampak mengeraskan rahangnya menahan emosi.
Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu merasa malu pada semua orang yang ada di sana. Wajahnya begitu merah padam menahan malu dan menahan emosi. Sementara semua orang tampak berbisik-bisik dan menatap sinis padanya.
__ADS_1
"Ternyata kau masih tidak punya malu, Luna!" ucap Meliza.
Luna memelototkan matanya dan mengepalkan tangannya menahan emosi yang bersarang di dalam setiap aliran darahnya.
"Oooh, dan ternyata si ******* ini masih di sini. Hmm, apa jangan-jangan kau berusaha keras menjadi pengganti diriku!?" tuding Luna dengan tatapan penuh permusuhan.
"Jaga ucapanmu, Luna!" tegur Andre dengan nada yang tinggi.
Luna memutar bola matanya jengah. "Aku bicara yang sebenarnya. Karena memang wanita ini sangat menginginkan dirimu, Andre!" ucapnya penuh percaya diri.
"Kau salah menebak, rubah betina!" cicit Meliza. "Aku sudah akan menikah dengan pria ini," lanjutnya seraya merangkul manja lengan calon suaminya yang tampan itu.
Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap sengit pada Meliza.
"Sebaiknya kau hapus tuduhanmu yang selalu bersarang di hati dan di kepalamu itu! Karena hal itu hanya akan membuatmu malu!" ucap Meliza penuh penegasan.
"Sekarang sudah jelas. Meliza tidak seperti yang kau pikirkan. Dan, sebaiknya sekarang kau pergi dari perusahaanku! Kau hanya mengotori wilayahku!" cicit Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kau kembali padaku, Andre!" ucap wanita yang tidak tahu malu itu.
Andre tampak memutar bola matanya jengah dan membuang napasnya kasar. Sementara Meliza tampak tersenyum sinis dan menatap penuh ejekan pada wanita rubah itu.
"Kau sangat tidak tahu malu, Luna! Dulu, kau sendiri yang mengkhianati Pak Andre. Kau membagi cinta dengan atasanmu yang sudah bau tanah itu. Hanya karena menginginkan popularitas dan ketenatan, kau bahkan berani menduakan Pak Andre. Seolah semua cinta dan kasih sayang yang Pak Andre berikan untukmu tidak ada apa-apanya di matamu. Dan kini, kau sendiri yang mengejar-ngejar mantan suamimu dengan tidak punya rasa malu! Rupanya, kau telah menjilat ludahmu sendiri. Benar-benar tak tahu diri!" ungkap Meliza yang sangat kesal dan emosi pada mantan suami Andre.
Mendengar hal itu membuat Luna naik pitam dan tak terima. Walaupun memang kenyataannya seperti itu, tapi dia benar-benar tidak terima dipermalukan seperti itu oleh Meliza.
"Sialan kau! Berani sekali kau menghinaku seperti itu! Tak akan kuampuni kau, ja*lang sialan!" umpat Luna seraya menyerang Meliza dengan mendorong tubuhnya.
Meliza tampak terhenyak kaget mendengar serangan dari Luna, untung saja sang calon suami dengan sigap menangkap tubuhnya sehingga ia aman dan tidak terjatuh begitu saja.
Andre yang melihat tindakkan brutalis Luna benar-benar sudah tak tahan lagi. Jika tidak memikirkan nasib putrinya, mungkin saja ia sudah melakukan apa pun pada mantan istrinya itu.
"Kau sudah melebihi batas, Luna. Aku harap ini kali terakhirnya kau berbuat ulah. Jika masih terulang kembali, aku sungguh tidak akan segan-segan menghukummu seberat-beratnya!" ucap Andre dengan tatapan penuh permusuhan.
"Ha ha ha ha! Aku tidak takut, Andre! Karena kuyakin kau dan princess akan kembali padaku. Ha ha ha!" balas Luna diiringi tawa jahatnya.
"Security, seret dia sekarang juga! Aku jijik melihatnya!" perintah Andre pada security.
"Baik, Pak!" jawab para security itu. Tanpa membuang waktu lagi, para security itu pun menangkap tangan Luna lalu menyeretnya keluar dari wilayah perusahaan milik Andre.
"Huhhh! Benar-benar tidak tahu malu!" cicit Andre saat Luna sudah enyah dari pandangan matanya.
"Saya benar-benar tidak habis pikir pada wanita itu, Pak. Dia yang mencoba mendua, tetapi dia juga yang mengemis cinta dari Anda," ucap Meliza.
"Entahlah! Dia memang bukan manusia, Mel." Andre berucap dengan ekspresi penuh kemarahan.
"Saya takut dia akan berbuat nekat pada princess, Pak," ucap Meliza.
"Itu tidak akan kubiarkan, Mel," balas Andre. "Aku akan selalu mengawasi dan menjaga princess dari kejahatannya." lanjutnya.
"Semoga saja tidak terjadi," ucap Meliza.
•
•
Malam hari di kediaman Andre...
Ceklek!
Andre membuka pintu kamar putrinya. Di dalam, hanya ada sang putri yang sedang duduk menghadap meja belajarnya.
"Princess, ke mana dewi peri mu?" tanya Andre seraya mendekati putri mahkotanya.
"Dewi peri sedang membuatkan susu untuk princess, Dadd." gadis kecil itu menjawab seraya menolehkan wajahnya pada Daddynya.
"Hmmmm, baiklah. Kalau gitu Daddy akan berdiri di dekat pintu dan akan mengejutkannya," ucap Andre usil.
"Hati-hati, Dadd. Jangan sampai dewi peri jantungan," celetuk Sandrina.
"Hehe, tidak akan, sayang. Dia hanya akan latah saja," jawab Andre seraya melangkahkan kakinya ke dekat pintu.
Sementara Sandrina tampak serius dengan alat tulisnya.
Tak berapa lama...
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, Rumanah melangkah masuk, dan...
"Duuuaaaaaaaarrrr!!!!" Andre mengejutkan istri sirrinya.
"Huwaaa, muonyong luuuuu!!!" sontak saja Rumanah menyiramkan segelas susu hangat di tangannya pada wajah suami tampannya itu. Ia benar-benar terkejut sehingga membuatnya refleks melakukan itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1