Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Sinting


__ADS_3

Rumanah menendang-nendang kakinya. Ia begitu kesal karena si Joker yang menculiknya itu kini mengurungnya di sebuah kamar yang luas dan nyaman. Apa maksud dari sebuah penculikan ini? Sungguh Rumanah begitu dibuat bingung dan ingin kabur dari tempat itu.


"Mana gawaikuuuuu!" teriak Rumanah sembari menggedor pintu kamar itu.


Gawai yang ia bawa ternyata sudah diamankan oleh anak buah si Joker. Tentu saja ia semakin kesal karena tidak bisa menghubungi suaminya.


"Astaga! Kalau seperti ini terus, aku sungguh tak bisa kabur dari sini. Aku yakin suamiku juga pasti akan kesulitan mencari diriku." Rumanah berkata sembari mengedarkan pandangannya ke sana kemari.


Sialnya, di dalam kamar itu sungguh tak ada jendela satu pun. Tentu saja hal itu membuat Rumanah semakin kesulitan mencari cara untuk keluar dari kamar terkutuk itu.


"Sial! Di sini bahkan tak ada celah untuk kabur." Rumanah berdecak kesal.


Satu hari sudah wanita cantik itu berada di dalam kurungan si Joker yang entah siapa. Rumanah sendiri sungguh tidak tahu sosok si Joker yang menculiknya itu. Bagaimana ia bisa tahu sementara si Joker itu memakai topeng menutup wajah aslinya dan memakai sarung tangan serta seragam lengkap yang sangat sulit diprediksi oleh pandangan mata.


Beberapa piring makanan tersedia di atas meja. Minuman dan camilan lainnya pun berserakan di mana-mana. Tak akan mengalami kelaparan Rumanah walau sedang dikurung seperti itu. Jika perutnya lapar, wanita cantik itu akan tetap makan semua makanan yang ada di atas meja. Karena ia bukan lah orang yang bisa menahan lapar. Baginya, makanan lezat dan rasa lapar itu adalah suatu rezeki yang tidak boleh dilewati.


Ceklek!


Pintu kamar itu terbuka. Sontak saja Rumanah melangkah mundur saat seseorang masuk ke dalam kamar yang ia tempati.


"Oh Tuhan, Nona cantik ini ternyata masih setia di sini. Aku sungguh tak tahan ingin me ... menidurinya!" ucap si Joker sembari melangkah mendekati Rumanah yang semakin mundur menjauh darinya.


"Sinting! Siapa yang membolehkanmu bicara seperti itu, pria bertopeng jelek!" omel Rumanah sembari menatap dingin pada penculik di hadapannya.


"He he he, memang tak ada yang menyuruhku, Nona cantik. Tapi, aku sungguh tak perlu meminta izin pada siapa pun termasuk dirimu. Karena, ini mulutku, jadi sesuka hatiku mau bicara apa." Joker itu membalas dengan seringai liciknya.


Rumanah memutar bola matanya malas dan terus mundur hingga kini ia tersudutkan pada dinding yang menghadangnya. Sementara si Joker terus melangkah mendekatinya. Suasana seketika mencekam saat pria pemakai topeng Joker itu menangkap tangan Rumanah dan mencengkramnya dengan erat.


"Lepaskan aku! Kau jangan pengecut jadi pria! Jika berani, buka topengmu sekarang juga!" ujar Rumanah yang tampak menaikkan suaranya.


Si Joker berseringai lagi, tentu saja Rumanah tak dapat melihat seringainya karena terhalang oleh topeng yang memiliki pengamanan ketat itu.

__ADS_1


"Jika kubuka topeng ini, apa yang akan kau lakukan, Nona?" tanya si Joker itu.


Rumanah berdesis kecil, "Hng! Tentu saja aku akan menyakar wajahmu itu!" ujarnya sebal.


"Hahaha! Menyeramkan sekali. Tapi, aku suka wanita tangguh seperti dirimu ini, Nona. Sepertinya sangat menarik jika kita tidur berdua di ranjang itu. Apakah kau tertarik dengan tawaranku? Kupastikan kau akan menjerit di bawahku," kata Joker itu sambil memepet wajah Rumanah yang mulai tegang.


Tentu saja Rumanah sangat takut diperkosa oleh pria yang tidak tahu siapa. Kali ini dadanya benar-benar berdetak dengan kencang. Keringat dingin mulai mengucur di wajahnya.


"Kau begitu cantik. Sayang sekali kalau tidak kunikmati," bisik Joker sambil mengusap wajah cantik Rumanah.


Rumanah tampak memalingkan wajahnya dan berekspresi dingin. Sementara tangannya masih dicengkeram oleh si Joker.


"Ya Tuhan, lepaskan aku dari sini. Tolong aku, aku tidak mau memberikan apa-apa pada pria jahat ini!" ucap Rumanah di dalam hati.


"Mau layani aku di atas ranjang ini, tidak? Kalau mau, aku akan langsung membebaskanmu dari sini," bisik si Joker yang terdengar memuakkan di telinga Rumanah.


"Jangan bermimpi! Aku bukan wanita murahan seperti yang kau kira!" cicit Rumanah sambil menendang aset berharga milik si Joker menggunakan pahanya.


"Hwaaaaaaaaa!" pekik si Joker yang tampak kesakitan saat aset berharganya tiba-tiba ditendang tanpa perlawanan.


"Aaargh! Sakiiit! Hei, mau ke mana kau!?" pekik si Joker sembari bergulingan memegangi aset berharganya yang terasa sakit.


Rumanah berlari keluar dari kamar itu. Tentu saja ia harus menggunakan kesempatan emas yang sedang berpihak kepadanya.


"Huft! Syukurlah aku masih bisa membuat penculik itu tumbang! Pokoknya aku harus cari jalan untuk kabur," gumam Rumanah dalam hati.


Wanita cantik itu pun buru-buru berlari menjauhi kamar. Namun, pada saat ia hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba saja...


"Hei, mau ke mana, Nona?" terdengar suara anak buah si Joker yang berhasil membuat Rumanah tersentak kaget.


Refleks Rumanah menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Sementara di depannya kini ada tangga yang begitu panjang. Hal itu semakin membuatnya kesulitan untuk kabur.

__ADS_1


"Jangan coba-coba untuk kabur, Anda tidak akan bisa kabur dari sini, Nona. Sangat percuma sekali. Sudah! Sekarang kembali ke kamar jika Anda masih ingin hidup," ucap si pria itu sambil melangkahkan kakinya mendekati Rumanah.


Rumanah menggeleng, "Tidak! Aku tidak mau masuk kamar. Enak saja kau bicara seperti itu. Coba kau pikirkan nasibku ini wahai pria kurang ajar! Aku ini punya suami, punya anak dan keluarga. Mereka pasti sangat khawatir padaku. Jadi, aku mohon jangan halangi aku untuk pergi dari sini. Pleeease, yaaa!" sanggahnya dengan cepat. Ia berusaha membujuk pria di hadapannya agar luluh.


"Aduh, saya sangat mengerti, Nona. Tapi, ini semua karena pekerjaan saya. Jadi, saya tidak bisa—" belum sampai si pria itu menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Rumanah menyelanya.


"Coba kau bayangkan jika apa yang terjadi padaku saat ini terjadi pula pada ibumu, atau anakmu, atau adikmu, keponakanmu, istrimu, kekasihmu, pokoknya bayangkan kalau orang yang kau sayangi mengalami seperti aku ini. Bagaimana perasaanmu? Bagaimana, hah? Apakah kau pernah berpikir ke sana? Kau pasti kalangkabut mencari orang yang kau sayangi itu. Ya, mungkin seperti suami dan keluargaku saat ini, mereka pasti kalangkabut dan panik mencariku ke mana-mana!"


Kali ini Rumanah berkata sambil berderaian air mata. Ia harus bisa meluluhkan pria di hadapannya itu.


"Ya Tuhan, saya jadi sedih. Saya mengerti, Nona. Pasti saya sangat panik dan khawatir. Huhuhu," ucap si pria itu sembari mengusap matanya yang sedikit berair. Entah menangis benaran apa hanya akting saja.


"Hahaha, dia sepertinya akan luluh padaku," ucap Rumanah dalam hati.


Sementara itu, si Joker yang sudah mulai siuman junior miliknya itu, kini ia berlari mencari tawanannya. Hingga pada saat ia menemukan...


"Astaga, kenapa mereka saling mengucurkan air mata seperti itu? Ada apa dengan mereka berdua?" gumam Joker dalam hati.


Ia pun melangkahkan kakinya semakin mendekat. Dan hal itu membuat Rumanah kaget dan sontak saja ia berlari menuruni anak tangga tanpa memikirkan bahaya apa pun.


"Astag! Hei, jangan berlari. Itu bahayaaaaaa!" teriak si Joker yang tampak panik.


"Waduh! Bagaimana ini, bos?" tanya si pria yang tadi menangis.


Joker membuka topengnya, "Plak!" Ia langsung sabetkan pada wajah anak buahnya.


"Aauuwh! Sakit atuh, bos," ringis si pria itu.


"Bodo amat! Sekarang, tangkap dia! Jangan sampai kabur! Selesaikan semuanya, jangan sampai membuatku kecewa dan marah besar!" ujar Joker pada anak buahnya.


Pria itu mengangguk dengan sigap. Setelah itu ia pun berlari menuruni anak tangga mengejar Rumanah yang kini sedang mencari jalan keluar.

__ADS_1


Ih, sebal deh! 😂


BERSAMBUNG...


__ADS_2