
Andre menangkupkan kedua tangannya pada wajah cantik istrinya. Ditatapnya lekat-lekat wajah cantik istrinya itu. Senyuman hangat penuh cinta terukir di wajah tampannya.
"Aku akan membahagiakanmu selalu, sayang. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku!" pinta Andre seraya mengusap lembut wajah cantik istrinya itu.
Rumanah tersenyum manis. "Saya berjanji tidak akan meninggalkan Anda, Tuan." ucapnya seraya memeluk hangat tubuh suaminya.
"Jangan lagi membuatku cemburu buta, darling. Aku bisa frustasi dan gila karena takut kehilanganmu," kembali Andre meminta. Ia tampak bicara dengan nada yang sangat memelas.
Rumanah mengangguk kecil. "Tidak akan, Tuan. Tapi..." wanita cantik itu melepaskan pelukannya. "Anda terlalu berlebihan. Hehehe," lanjutnya disertai cengengesnya.
Andre membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap intens pada istrinya. "Kenapa kau bicara seperti itu lagi? Kau masih keberatan?" selidiknya.
"Hehehe, tidak begitu. Emh, maksud saya begini, Tuan." Rumnah melangkahkan kakinya lalu duduk di tepi ranjang. "Semestinya kita saling percaya satu sama lain. Walaupun saya dekat dengan Ferhat atau yang lainnya, tapi saya berjanji tidak akan macam-macam. Saya akan tetap menjaga hati dan cinta saya hanya untuk Anda, Tuan. Dan, Tuan semestinya percaya pada saya. Karena, kepercayaan dalam pernikahan itu sangatlah penting," ujarnya panjang lebar.
Andre tampak diam dan seperti sedang berpikir keras. Ia pun melangkahkan kaki mendekati istrinya. "Benar apa yang kau katakan, darling. Tapi ... aku takut Ferhat akan jatuh cinta padamu. Jika itu terjadi—" belum sampai Andre menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Rumanah menyelanya.
"Jika itu terjadi, maka saat itu juga kita ungkap pernikahan kita ini, Tuan!" sela Rumanah tanpa ragu.
Andre tampak terhenyak kaget mendengar ucapan istrinya. "Whatt??? Apakah kau tidak bercanda?" selidiknya.
Rumanah menggeleng. "Tidak! Dengan begitu, dia tidak akan berani macam-macam. Dan lagipula, tidak mungkin Ferhat jatuh cinta pada saya, Tuan. Sebab, ternyata dia memiliki perasaan pada Mbak Meliza," ungkapnya tanpa ragu.
Andre tampak terjingkat kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh. "Apa??? Memiliki perasaan pada Meliza? Dia bicara begitu padamu?" tanyanya yang benar-benar syok dan setengah tidak percaya.
Rumanah mengangguk. "Ya, malam ini saya baru mengetahuinya, Tuan. Dia menceritakan semuanya pada saya," ucapnya.
"Apakah dia belum tahu kalau Meliza akan menikah?" ucap Rumanah dalam hati.
"Kasihan sekali pria itu. Dia sedang patah hati, karena—" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.
"Meliza akan menikah dua minggu lagi, Darling. Apakah Ferhat belum tahu?" ucap Andre menyela.
"Justru itu, Tuan. Dia sedang patah hati karena sebentar lagi Mbak Meliza akan menikah," ungkap Rumanah.
__ADS_1
Andre manggut-manggut tanda mengerti. "Nah, maka dari itu, aku harap kau bisa menjaga hati, sayang. Sebab, bisa saja Ferhat langsung berpaling padamu," tegasnya.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Hah? Tidak tidak tidak, Tuan. Dia itu sudah menganggap saya sebagai adiknya sendiri. Dan, saya juga menganggapnya sebagai kakak saya sendiri. Jadi, dia tidak akan jatuh cinta pada saya. Tenang saja, suamiku sayang. Hehehe," jelasnya.
"Kalian adik kakak?" tanya Andre seraya mendudukkan bokongnya di samping istrinya.
"Ya, seperti itu Tuan," jawab Rumanah.
"Oh, bagus deh! Tapi, aku penasaran, apakah kau punya kakak kandung?" tanya Andre penuh selidik.
Rumanah terjingkat kaget mendengar pertanyaan suaminya. Tumben sekali. "Emh, saya ... saya anak tunggal, Tuan." jawabnya.
"Waw, anak tunggal? Aku jadi penasaran bagaimana kedua orang tuamu, darling. Kenapa mereka sampai tega membiarkanmu pergi jauh ke kota ini hanya untuk mencari beberapa lembar uang. Astaga! Untung saja kau bertemu denganku, darling. Jadi, nasibmu tidak terlalu buruk," ucap Andre yang tampak antusias.
Rumanah tersenyum kecil. "Ya, benar sekali. Anda membuat nasib saya lebih baik. Tapi, tidak tahu setelah ini," ucapnya dalam hati.
"Oh ya, aku belum sempat mengirim uang untuk orang tuamu, sayang. Bisa berikan nomor rekening orang tuamu?" ucap Andre yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
Andre mengerutkan dahi. "Tidak punya rekening? Lalu, bagaimana caranya dia mengirim uang. Padahal, dia bilang ingin membantu keungan keluarganya. Hmmmm," ucapnya dalam hati.
"Kenapa sii akhir-akhir ini dia sering banget nanyain soal.orang tuaku? Astaga," ucap Rumanah dalam hati.
"Mereka tidak punya rekening? Jadi, bagaimana caramu untuk mengirim uang pada mereka, Darling?" selidik Andre.
"Emh, saya tidak pernah mengirim mereka uang. Karena, mereka tidak butuh uang dari saya, Tuan. Hehehe," jawab Rumanah disertai cengengesnya.
Andre tampak berpikir keras dan benar-benar tidak mengerti dengan wanita di hadapannya itu.
"Oh ya, kenapa Tuan tidak memberitahu saya tentang pernikahan Mbak Meliza?" tanya Rumanah mengalihkan pembicaraan.
Andre mengerjapkan matanya. "Itu, aku lupa. Tapi, aku berniat untuk mengajakmu dengan princess ke acara pernikahan Meliza nanti. Dia juga menitip salam untukmu, Sayang," jawabnya.
"Waaaah, saya benar-benar akan diajak? Yeeeaaayy, pasti menyenangkan sekali," sorak Rumanah. "Hmm, pantas saja Mbak Mel tidak pernah ke sini lagi, ternyata dia sibuk menyiapkan pernikahannya," lanjutnya.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Kau akan menjadi pendampingku di acara pernikahan Meliza nanti." Andre bicara sembari menangkap tangan Rumanah lalu menggenggamnya erat.
Rumanah tersenyum manis sembari menyandarkan kepalanya pada lengan kekar suaminya. "Tuan, saya harap Anda tidak bersikap seperti tadi lagi. Saya benar-benar bisa gila jika Anda mengacuhkan saya." rajuknya manja.
"Itu tidak akan terjadi selama kau menjadi istriku yang baik dan penurut. Dan soal Ferhat, kau boleh akrab dengannya. Asalkan, tidak ada perasaan cinta di antara kalian berdua," ucap Andre penuh penegasan.
Rumanah sedikit terhenyak kaget mendengar ucapan suaminya. Ia tampak beranjam dari duduknya dan berdiri di hadapan suaminya. Tatapannya begitu sumringah pada suaminya.
"Baiklah, Tuan. Saya tidak akan macam-macam. Saya akan menjadi istri yang baik dan penurut," ucap Rumanah yang kemudian bergegas memeluk manja tubuh suaminya.
Andre tersenyum sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya. "Bagus, dan hal itu membuatku semakin cinta padamu, darling. Apalagi...," ucapnya seraya melepaskan pelukannya lalu mendudukkan istrinya dalam pangkuannya.
Rumanah tersenyum senang dan menggenggam tangan suaminya yang memeluk pinggang rampingnya.
"Keberanianmu tadi, aku sangat takjub sekali. Kau berani menemuiku karena pesanmu tidak segera kubalas. Hehehe," lanjut Andre sembari menciumi tengkuk istrinya yang putih mulus dan harum.
Rumanah terkekeh kecil dan bergidik geli. "Itu karena saya begitu resah dan gelisah, Tuan. Saya tidak biasa tanpa pelukan hangat dan ciuman manja dari Anda," ucapnya sembari menolehkan wajahnya ke belakang dan tangannya meraih wajah suaminya.
"Apakah kau juga sudah keracunan?" bisik Andre pada telinga istrinya. Dan hal itu semakin membuat Rumanah bergidik geli.
"Emmmh, benar sekali. Saya keracunan pelukan dan ciuman dari Anda, Tuan." Rumanah menjawab dengan suara yang seksi dan manja.
Andre tersenyum senang. Pria tampan itu begitu gemas pada istri sirrinya yang kian hari kian manja dan binal.
"Oh sayangku, jangan ragu jika kau inginkan itu. Aku akan selalu memberikannya untukmu," ucap Andre seraya meraba perut rata istrinya hingga balon kenyal milik istrinya itu.
Rumanah semakin bergidik geli dan menggelinjang saat tangan suaminya perlahan meremas dua balon kembarnya. "Emmhhh, Anda berjanji?" desaknya.
Andre mengangguk. "Janji! Apa pun yang kau inginkan, pasti akan kuberikan, darling," jawabnya seraya sesekali menciumi tengkuk, telinga, wajah hingga leher istrinya.
Rumanah memejamkan matanya dan mendekatkan wajah suaminya pada wajahnya. "Muach!" wanita itu mengecup lembut bibir suaminya. Sementara sang suami tampak meremas lembut dua balon kenyal miliknya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1