
"Kesepakatan apa yang kau maksud?" tanya Andre penuh selidik.
Luna menyunggingkan senyuman liciknya, "Tidak banyak, kok. Aku hanya meminta princess untuk selalu ada jika aku ingin bertemu dengannya. Dan, princess meminta agar aku tidak mengganggu Bunda tirinya!" jawabnya sinis.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh, "Apa katamu? Kau meminta princess untuk selalu ada?" sungutnya dengan tatapan tajamnya.
Luna mengangguk mengiyakan.
"Astaga! Itu bukan kesepakatan! Tapi paksaan!" cicit Andre sedikit menaikkan suaranya.
Luna mendelikan matanya dan menatap jengah pada mantan suaminya, "Aku tidak memaksanya! Kami sudah bersepakat seperti itu. Memangnya kenapa sih? Kenapa kau seberat itu membiarkan princess bersama Mommy nya sendiri, hah? Kau pikir aku sudah tidak memiliki rasa keibuan, hah?" sungutnya dengan suara yang kini bernada tinggi.
Andre mengusap wajahnya kasar dan berkacak pinggang, "Ya, benar! Kupikir kau begitu. Sudah tidak memiliki hati nurani sebagai seorang ibu. Kau ... tega menelantarkan putrimu sendiri demi pekerjaan dan pria tua bangka itu!" sungutnya yang tak mau kalah.
Sepertinya kini Andre tampak emosi dan kesal pada mantan istrinya itu. Wajahnya tampak terlihat menyeramkan dengan warna merah menyelimuti setiap inci kulit wajahnya.
"Diam! Aku tidak seperti itu!" bentak Luna yang juga tersulut emosi.
"Kau seperti itu! Kau benar-benar tak tahu malu, wanita rubah!" sungut Andre sembari mengarahkan telunjuknya pada wajah cantik mantan istrinya itu, "Setelah kau telantarkan putrimu, dan kau khianati aku! Kini kau berusaha keras ingin mendapatkan putriku yang begitu berharga ini? Astaga! Aku benar-benar tidak akan membiarkan itu terjadi. Dengar! Setelah ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu menemui putriku lagi! Camkan itu!" ujarnya penuh penekanan.
Luna tampak terhenyak kaget mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut mantan suaminya itu. Ya, memang dia sendiri menyadari kesalahannya pada putri dan mantan suaminya itu. Tetapi, keegoisan dan rasa gengsi membuatnya enggan mengakui kesalahannya. Ia malah berdalih ini dan itu hanya untuk menyelamatkan dirinya dari kata bersalah.
"Ayo kita pulang, sayang. Jangan hiraukan apa yang telah Mommy katakan padamu, ya. Sekarang, kita pulang dan temui Bunda di rumah sakit. Princess pasti akan terkejut mendengar kabar dari Bunda," ucap Andre pada putri kecilnya.
Sandrina mengangguk mengiyakan. Ia memang sudah ingin pulang sedari tadi, "Ya, Dad. Bunda pasti cemas pada princess, ya? Kasihan sekali Bunda harus dirawat di rumah sakit," jawabnya.
"Princess sayang, dengarkan Mommy. Kita sudah menyetujui kesepakatan kita, bukan? Jadi, Mommy harap ... princess tidak berbohong pada Mommy!" ucap Luna pada putri kecilnya dengan tatapan penuh harap.
Sandrina menatap datar dan membuang napasnya kasar, "Hmp! Benar. Kita sudah memiliki kesepakatan, Mom. Tapi ... Mommy harus ingat jika princess ataupun Mommy tidak terikat janji! Jadi ... bohong atau tidak berbohong, itu tidak akan menjadi hutang buat kita!" ujarnya yang berhasil membuat Luna terbelalak kaget dan tampak melongo tak percaya.
Andre tersenyum lebar dan penuh kemenangan. Ia benar-benar bangga pada putrinya yang cerdik dan pintar. Benar juga! Jika tidak ada ikatan perjanjian, maka tidak akan menjadi hutang. Itu artinya, princess tidak perlu menepati ucapannya selagi ia tidak berjanji.
"Pintar dan cerdik putri Daddy." Andre memuji putri kecilnya sembari mengusap lembut puncak kepalanya.
"Tapi, princess—" Luna menggantung ucapannya saat tiba-tiba Sandrina menyelanya.
"Tidak ada janji, Mom! No debat! Debat, no no no!" sela Sandrina sembari menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Sudah macam seorang ibu sedang melarang anaknya.
Luna tampak memejamkan matanya dan membuang napasnya kasar. Sementara Andre dan Leo sudah membawa Sandrina pulang bersama mereka.
"Sialan! Lagu-lagi aku selalu salah dan kalah!" desis Luna sembari menghentakkan kakinya kesal.
Di rumah sakit...
Rumanah tampak berbaring lemas sembari menatap langit-langit ruangan rawat inap yang ia tempati. Karena lemas dan kekurangan cairan, akhirnya Rumanah harus diopname untuk mendapatkan perawatan. Mungkin hanya membutuhkan waktu satu atau dua hari saja untuk menormalkan kembali kondisi tubuhnya.
Janin yang sudah tumbuh di dalam rahimnya pun masih kecil dan belum terdeteksi detak jantungnya. Belum terbentuk setiap organ tubuhnya sehingga membuat Rumanah belum bisa merasakan getaran-getaran di dalam rahimnya.
"Ya Tuhan, benarkah yang Kau berikan padaku ini? Sudah pantaskah aku menjaga karunia darimu ini? Menjaga anugerah yang Kau berikan padaku ini? Aku sungguh tidak menyangka dengan apa yang Kau berikan padaku, Ya Tuhan," ucap Rumanah di dalam hati.
Ya, Rumanah memang benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan menjadi ibu hamil. Ia akan merasakan yang namanya melahirkan. Menggendong bayi, menyus*ui, memandikan bayi dan sebagainya. Tentu saja ia merasa jika dirinya masih terlalu sangat muda. Pasalnya, saat ini usianya belum genap dua puluh tahun. Beberapa bulan lagi ia baru akan sampai ke umur dua puluh tahun. Tentu saja ia berhak dinobatkan sebagai mahmud alias mamah muda.
"Phoo dan Maae sangat senang mendengar kabar ini. Tapi, mereka khawatir padaku. Khawatir aku tidak kuat dan belum siap. Tapi ... mau bagaimana lagi, Tuhan sudah memberikan anugerah ini padaku," ucap Rumanah sembari mengusap lembut perut ratanya.
Ceklek!
Terdengar pintu terbuka, secepat kilat Rumanah menolehkan wajah menatap ambang pintu.
"Bundaaaa!" seru si cantik Sandrina sembari berlari cepat mendekati Bundanya.
__ADS_1
"Princess sayang. Ya Tuhan, Bunda cemas sekali padamu, Nak," ucap Rumanah dengan nada yang lembut. Ia tampak mengusap lembut puncak kepala putrinya.
"Maafkan princess sudah membuat Bunda cemas. Tapi, princess juga cemas karena Bunda pingsan," ujar gadis kecil itu dengan raut wajah yang terlihat murung.
Rumanah tersenyum kecil dan mengusap lembut wajah cantik putri kecilnya, "Tidak apa-apa, princess sayang. Bunda pingsan karena telah terjadi sesuatu pada diri Bunda," ucapnya.
"Ya, karena Mommy nyemprot-nymprotin parfumnya pada Bunda, 'kan?" tebak gadis kecil itu dengan raut wajah yang masih ditekuk.
Rumanah menggeleng kecil, "Itu bukan masalah. Tapi ... princess mau tahu tidak? Eh, Daddy sudah mengatakan pada princess, ya?" ucapnya yang kini mengalihkan pada suaminya.
Andre menggeleng kecil seraya tersenyum, "Tidak sama sekali, darling. Aku sengaja tidak mengatakan pada princess agar kau sendiri yang mengatakannya," ujarnya.
Rumanah mengangguk kecil tanda mengerti, "Oh, begitu. Baiklah, aku yang akan mengatakannya," ucapnya yang berhasil membuat Sandrina penasaran.
"Memangnya ada apa sih, Nda?" tanya Sandrina sambil naik ke atas ranjang Rumanah.
"Eh eh eh, awas hati-hati kena perut Bunda, princess. Pelan-pelan saja naiknya," tegur Andre yang dengan sigap melindungi calon baby di dalam perut istrinya.
"Eh, sorry. Perut Bunda sakit, ya?" tanya gadis kecil itu dengan tatapan cemas.
Rumanah tersenyum kecil serta menggeleng, "Tidak, sayang. Perut Bunda ... emh," ucapnya terbata dan tertahan. Untuk sesaat ia menatap wajah tampan suaminya yang tersenyum manis padanya.
Andre mengangguk dan tersenyum manis. Memberikan kode jika ia mengizinkan istrinya untuk mengatakan kehamilannya pada putri kecilnya.
"Jadi sebenarnya, di dalam perut Bunda ini ... ada dedek bayi calon adik princess," ucap Rumanah yang berhasil membuat Sandrina tercengang dan berbinar ria.
"Dedek bayi? Waaah, Bunda sedang hamil, ya? Aaaaaaa, ye ye ye! Princess mau punya adik. Horeeeeee!!!!" sorak gadis kecil itu yang tampak begitu kegirangan.
Rumanah dan Andre tampak saling beradu pandang dan tersenyum hangat. Bahagia sekali yang mereka rasakan saat ini. Ditambah, keceriaan dan kegembiraan princess yang berhasil membuat mereka berdua semakin merasa bahagia. Itu artinya, princess Sandrina sudah bisa menerima seorang adik di kehidupannya.
"Ya, sayang. Bunda sedang hamil. Sebentar lagi, princess akan punya adik bayi. Apakah princess siap dan senang?" ucap Andre sembari mendudukkan bokongnya di sisi istrinya.
Sandrina mengangguk dengan cepat dan tersenyum lebar, "Ya, Dad. Princess sangat senaaaang sekali. Princess 'kan nanti bakalan punya teman. Nanti adik princess akan princess belikan mainan dan boneka Barbie yang sama seperti milik princess," cerocosnya yang tampak semangat dan begitu antusias.
"Tapi, memangnya adik princess perempuan seperti princess?" tanya Andre penuh sindiran.
Princess Sandrina mengangguk dengan cepat, "Ya dong, Dad! Adik princess harus perempuan seperti princess. Nanti 'kan pakaian kami kembaran semua," jawabnya antusias.
Rumanah tersenyum kecil mendengar ucapan putri kecilnya itu. Sementara Andre tampak terlihat tidak setuju.
"No! Daddy harap, adik princess tidak sama seperti princess. Daddy ingin adik princess seorang laki-laki seperti Daddy!" ujar Andre sembari menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Apa? Laki-laki? No no no! Itu tidak boleh. Pokoknya, harus perempuan seperti princess. Bunda juga mau perempuan 'kan?" ucap Sandrina yang kini menatap Bundanya penuh desakan.
Rumanah tersenyum kecil dan sesaat ia melirikkan matanya pada suaminya, "Emh, kalau Bunda sih ... bagaimana Tuhan Yang Maha Kuasa saja, sayang. Mau perempuan atau laki-laki, Bunda pasti akan terima. Yang penting ... adik princess nanti lahir dalam keadaan sehat dan normal. Aamiin," ucapnya dengan bijak tanpa membela sana sini.
Sandrina tampak manggut-manggut tanda mengerti, "Aamiin, semoga lucu seperti princess," ucapnya.
Andre terkekeh kecil, "Tidak, kalau seperti princess, nanti adik bayinya sangat menyebalkan!" godanya.
"Apa? Ya enggak dong, Dad! Princess 'kan cantik dan lucu." Sandrina tampak protes ria dan menekuk wajahnya.
"Hehehe, iya iya. Princess cantik dan lucu. Dan mulai sekarang, princess harus menjadi anak yang baik, ya. Karena sebentar lagi princess akan punya adik," ucap Andre sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Sandrina mengangguk cepat, "Ya, Dad. Princess akan menjadi anak yang baik dan penurut," jawabnya.
"Jangan manja," timpal Rumanah sembari tersenyum usil.
"Ya, karena nanti kami hanya akan memanjakan adik princess saja," sambung Andre yang berhasil membuat Sandrina terhenyak kaget.
__ADS_1
"Haaaah?? Kok gitu, sih?" Sandrina tampak menekuk wajahnya dan cemberut manja.
"Hehehe, tidak tidak tidak, sayang. Daddy mu hanya bercanda. Tentu saja kami akan selalu menyayangi, mencintai, dan memanjakan kalian," ucap Rumanah sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Sandrina mengangguk dan tersenyum manis. Sementara Andre tampak menatap penuh bahagia pada istri dan putri kecilnya.
*
*
*
Di sebuah Hotel B, seorang pria tampan berjalan santai memasuki ruang VVIP yang telah disewa oleh rekan kerja almarhum ayahnya. Pria itu tampak terlihat tampan dan gagah dengan busana yang formal. Ya, karena ia akan menghadiri sebuah acara pesta ulang tahun putra pemilik Hotel and Resort di daerah Cengkareng.
Ferhat memberikan kartu undangan pada penjaga di depan pintu ruangan tersebut. Ya, tentunya tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam sana.
"Silakan masuk," ucap penjaga mempersilakan Ferhat masuk.
Ferhat mengangguk lalu melangkahkan kakinya masuk setelah ia berterima kasih.
"Sebenarnya aku paling malas menghadiri pesta private seperti ini," gumam Ferhat dalam hati.
Pria tampan itu mulai berbaur dengan para hadirin lainnya. Tak lupa ia mencari sosok pemilik acara di malam itu. Ya, rekan bisnis almarhum Papinya.
"Selamat malam Nak Ferhat. Ini Om Rahman, Nak Ferhat masih ingat, bukan?" sapa Rahman yang tak lain adalah rekan bisnis almarhum Papinya.
"Ya, Om. Ferhat ingat. Tapi ... remang-remang. Hehehe," jawab Ferhat disertai kelakarnya.
"Hahaha, Nak Ferhat bisa saja. Oh ya, kenapa Mami tidak ikut?" tanya Rahman.
"Tidak, Om. Mami sedang tidak enak badan," jawab Ferhat.
"Owalah, ya sudah kalau gitu silakan nikmati pesta dan makanannya, ya. Sebentar lagi acaranya akan dimulai," ucap Rahman.
"Oke, Om." Ferhat menjawab santai disertai anggukannya.
Pria tampan itu pun melangkah ke arah kanan, mencari tempat yang membuatnya tenang serta gembira. Ya, walaupun tempat itu sangat ramai, tapi tidak membuatnya bahagia. Banyak wanita cantik yang menatap ke arahnya dengan senyuman, tetapi ia sama sekali tidak tertarik. Begitulah dia, kalau sudah suka pada satu orang, tidak akan mudah tergantikan dengan yang lain.
"Minum," pinta Ferhat pada bartender perempuan.
"Silakan, Tuan," ucap bartender itu dengan senyum ramahnya.
Ferhat pun menerima lalu meneguknya dengan santai. Sungguh ia merasa jika di sana bukanlah tempatnya.
"Menyesal gue gak ngajak teman gue. Kagak ada teman ngobrol di sini," desis Ferhat dalam hati.
Manik matanya berkeliling ke mana-mana. Entah apa yang ia cari saat ini, yang jelas ia begitu bete walau sedang berada di tempat ramai.
Saat matanya meleset ke sebuah tempat para wanita, tak sengaja ia melihat seorang wanita yang sudah tak asing lagi baginya.
"Ririn," gumamnya sembari menajamkan penglihatannya.
Ferhat mengucek matanya dan melangkahkan kakinya menuju tempat wanita itu. Namun sayang, saat ia melangkah, wanita cantik itu tiba-tiba berjalan menelusup di dalam keramaian dan kelap-kelip lampu disko.
"Aish, kenapa dia pergi. Ke mana dia sekarang? Astaga," desis Ferhat sembari mengedarkan pandangannya ke sana kemari mencari Ririn yang tadi ia lihat di sana.
"Tapi, benarkah itu Ririn? Kenapa dia bisa ada di sini? Apakah dia kenal dengan Om Rahman?" gumam Ferhat bertanya-tanya sendiri.
Tak mau ambil pusing, akhirnya Ferhat pun kembali ke tempatnya semula. Melanjutkan minumnya sambil menunggu acara dimulai.
__ADS_1
"Kalau benar dia Ririn, aku bisa mengajaknya ngobrol di sini. Biar aku tidak seperti orang hilang begini, astaga!" desis Ferhat sembari sesekali mengedarkan pandangannya ke sana kemari.
BERSAMBUNG...