
"Pak Muh, apakah segini sudah hangat?" tanya Rumanah pada Pak Muhsin seraya menyodorkan segelas air hangat pada chef itu.
Pak Muhsin meraih sendok lalu menyendok air hangat yang Rumanah sodorkan padanya. "Emh, sudah cukup. Jangan tambah air panas lagi, ya. Soalnya nanti kurang hangat. Dan juga jangan ditambah air panas, nanti kepanasan." ucap Pak Muhsin memberi penjelasan.
"Oke siap!" jawab Rumanah bersorak. "Jadi, sekarang saya sudah bisa mengantarkan air hangat ini?" tanyanya kemudian.
Muhsin mengangguk mengiyakan. Dengan begitu Rumanah pun bergegas melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan bergegas masuk ke dalam lift menuju lantai lima. Tentu saja kamar majikan galaknya berada di lantai lima. Tinggi sekali ya! Itu rumah atau hotel sii?
"Tumben sekali majikan galak ini menyuruhku mengantarkan air hangat untuknya. Biasanya kan si Deni, bukan aku." ucap Rumanah dalam hati.
Tring!
Sampai pula Rumanah di lantai lima. Gadis desa itu tampak gerogi dan gemetaran. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Yang jelas, Rumanah sangat curiga dan sedikit merasa ngeri pada majikan galaknya itu.
"Mau ke mana, Rumanah?" tanya seorang pria yang tak lain adalah anak buah Andre.
"Eh, aku mau ke..." Rumanah menggantung ucapannya dan seperti sedang dalam keraguan. "Mungkin lebih baik aku meminta bantuan pria ini saja untuk mengantarkan air hangat ini." ucapnya dalam hati.
"Apakah air itu untuk Tuan?" tanya si pria itu.
"Ya, benar sekali. Dan, bisakah kau tolong aku. Emh, tolong antarkan air hangat ini pada Tuan Andre." Rumanah menjawab seraya meminta tolong.
Pria itu menggeleng dengan ekspresi wajah penuh penolakan. "Sorry, hal itu tidak bisa kulakukan, Rumanah. Silakan kau antarkan sendiri, kau harus tahu jika Tuan paling tidak suka kalau memerintah satu orang yang ia tunjuk namun yang datang adalah orang lain. Kau harus mengerti akan hal itu, jika kupaksakan diri untuk menolongmu, maka segala konsekwensinya akan ditanggung olehku dan oleh dirimu." ujar pria itu panjang lebar.
Rumanah tampak terhenyak kaget, namun gadis desa itu sudah tidak dapat berkomentar lagi. Dan si pria itu pun sudah berlalu dari hadapannya. Lalu, apa yang harus Rumanah lakukan saat ini? Memaksakan dirinya untuk melangkah maju dan masuk ke dalam kamar majikan galaknya itu? Atau ia harus melarikan diri dari ketakutan ini? Astaga, sungguh jalan yang rumit.
Sementara itu Andre tampak menunggu Rumanah di dalam kamarnya. Duda tampan itu tampak sedang memakai kemeja putihnya, memasang satu persatu kancing kemejanya.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali. Ck, apa yang dia lakukan? Atau jangan-jangan gadis desa itu tidak melakukan perintahku." decak Andre sedikit merasa jengkel.
Tak mau mati penasaran, duda tampan itu pun bergegas mengunjungi komputernya. Tak ada yang lain yang ia cari selain mengecek cctv di seluruh ruangan yang ada di dalam rumah mewah miliknya itu.
"Di mana gadis desa itu sekarang, awas saja kalau dia berleha-leha dan tidak melakukan apa yang aku perintahkan." gerutu Andre seraya mulai mengecek cctv melalui layar komputernya.
Pada saat Andre mengecek satu persatu ruangan yang ada di dalam rumahnya, seketika senyumnya mengembang dengan sempurna. Sosok gadis desa yang manis itu tampak sedang berdiri tegak sembari membawa segelas air hangat di tangan kanannya. Duh, ngeri jatuh saja!
"Hemm, ternyata dia sudah berada di depan kamarku. Dan kenapa dia mematung dan melongo seperti orang dongo begitu? Astaga, apakah dia belum tahu cara membuka pintu kamarku?" cerocos Andre seraya melangkahkan kakinya menyambar sebuah remote untuk membuka pintu.
"Sebaiknya kubuka saja pintunya agar gadis desa itu bisa langsung masuk ke dalam kamarku." ucap Andre yang kemudian menekan tombol di remote itu.
Sssrreeeeetttttt!!!
Seketika pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya. Jangan heran dengan pintu semacam ini, maklum lah namanya juga orang tajir melintir. Hi hi hi.
Rumanah masih mematung, kembali ia teringat ucapan si pria yang bertemu dengannya tadi. "Ah, sebaiknya aku segera masuk ke dalam kamar ini sebelum majikan galak itu murka kepadaku." ucap gadis desa itu yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar majikan galaknya.
Di dalam, Andre tampak tersenyum lebar saat sosok Rumanah berjalan pelan menelusuri lantai bening sebening embun pagi yang ada di kamar majikan galaknya itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Andre yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
"Muonyooong, eh monyong lagi." latah gadis desa itu seketika muncul bersamaan dengan rasa terkejutnya. "Astaga, Tuan. Anda mengejutkan saya, untung saja saya tidak memiliki penyakit jantung." cicit gadis desa itu.
Andre tersenyum kecil seraya memutar bola matanya cool. "Jika kau seperti ini terus, maka kuyakin kau akan memiliki penyakit jantung, Annabelle." seloroh duda tampan itu seraya melangkahkan kaki mendekati Rumanah.
Gadis desa itu mengerucutkan bibirnya dan membuang napasnya kasar. Sementara Andre kembali menekan tombol yang ada di remote itu, tentu saja ia kembali menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Hah, kenapa ditutup, Tuan?" tanya Rumanah yang tampak terbelalak kaget dan mulai panik.
Andre tersenyum usil. "Suka-suka gue!" jawabnya sewot.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh. "Tapi kita hanya berdua di sini, Tuan." protes gadis desa itu.
"Lantas, kenapa jika kita hanya berdua saja? Bukan kah beberapa hari belakangan kita selalu berdua dalam satu ruangan?" desak duda tampan itu yang semakin membuat Rumanah kalah telak.
"Ya Tuhan, ada apa dengan majikan galak ini?Kenapa dia membiarkan aku di dalam kamarnya? Kenapa bukan Mbak Meliza?" ucap Rumanah dalam hati.
Andre meraih segelas air hangat di tangan Rumanah lalu meletakkannya di atas meja.
"Kalau begitu saya pamit ke—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.
"Tetap di sini!" tegas Andre penuh penekanan.
Rumanah tampak terhenyak kaget dan menatap heran pada majikan galaknya itu. "Ta.. tapi saya harus keluar, Tuan. Tugas saya sudah selesai." ucap gadis desa itu sedikit tergagap.
"Tidak bisa! Kau harus menuruti perintahku, Annabelle. Oh ya, setelah kupikir-pikir, tampaknya aku tertarik pada kemeja yang kau kenakan ini." Andre berkata seraya menatap mesum pada dada gadis desa itu.
Rumanah tersentak kaget dan refleks menundukkan wajahnya. "Hah! Kenapa aku sampai lupa mengenakan tanktop sii. Sialan, majikan galak ini pasti sudah melihat bra yang kupakai. Oh Ya Tuhan, bahkan mungkin Pak Muhsin juga melihatnya. Argh, sial sial sial!" dengus Rumanah dalam hati. Gadis desa itu kini tampak menutupi dadanya menggunakan tangannya.
"Kenapa kau tutupi?" tanya Andre seraya menatap tajam pada pengasuh putri cantiknya itu.
Rumanah menggeleng. "Saya harus keluar, Tuan." ucap gadis desa itu seraya memutar tubuhnya dan hendak melangkahkan kakinya. Namun sialnya, majikan galak itu tiba-tiba menarik tangannya sehingga membuat Rumanah menghentikan langkahnya.
***
__ADS_1