
Satu bulan sudah selepas Rumanah mengalami keguguran. Setiap hari ia mencoba untuk tetap tegar walau sebenarnya hayalan demi hayalan masih bersarang di kepalanya. Beruntungnya, ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sayang kepadanya.
Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis pun masih setia menemani putrinya yang dalam keadaan terpuruk. Tentu saja mereka masih begitu khawatir pada putri mereka yang sangat mereka cintai.
Andre yang sama terpuruknya dengan Rumanah pun selalu menguatkan dirinya. Jika ia tidak bisa kuat di hadapan istrinya, ia yakin bahwa istrinya itu akan selalu terpuruk dan bahkan tak semangat menjalani hidup.
Si cantik Sandrina pun sangat merasa sedih dengan kepergian calon adiknya. Ia sangat tak menyangka jika dirinya tidak bisa menggendong serta mencium manja adiknya. Tetapi, seperti Daddy dan Bunda nya, akan mencoba tetap tegar dan terima.
Hari ini, rencananya Rumanah akan pergi ke tempat Luna saat ini. Di mana tempat wanita rubah itu? Ya tentu saja di penjara. Wanita licik itu telah divonis mendapatkan hukuman selama dua puluh tahun lamanya. Tentu saja itu pun sudah melalui berbagai sidang dan tawar menawar. Tetap saja, Andre tidak akan membiarkan mantan istrinya yang bagaikan nenek sihir itu bebas dan lepas dari hukum.
"Bagaimana, darling. Apakah kau benar-benar akan menemui wanita rubah itu?" tanya Andre pada istrinya.
Rumanah yang sedang tiduran pun menolehkan wajahnya pada suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi, "Entahlah, sayang. Aku rasa hatiku begitu sakit dan entah apa yang akan aku lakukan pada wanita itu jika aku bertemu dengannya," jawabnya seperti bingung dan ragu.
Ya, tentunya Rumanah begitu merasakan sakit yang luar biasa. Ia juga wajar jika harus benci sebenci-bencinya pada wanita rubah itu. Karena kejahatan Luna yang berniat membunuh dirinya, akhirnya sang calon baby yang malah terbunuh. Pantas jika Rumanah marah besar pada wanita yang begitu jahat kepadanya.
Andre membuang napasnya berat dan mendudukkan bokongnya di sisi ranjang, samping istrinya. Ia begitu mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya itu.
"Aku mengerti, sayang. Tapi, kemarin polisi menghubungiku, dia bilang kalau wanita rubah itu tak henti-hentinya menangis dan ingin bertemu denganmu. Katanya dia ingin minta maaf padamu, darling. Tapi, aku tidak seberapa yakin, sih. Wanita seperti dia bisa saja menjadi lemah dan pura-pura menyesal hanya demi bebas dari hukumannya." Andre berkata panjang lebar sembari menatap serius wajah cantik istrinya.
Rumanah diam namun mendengarkan secara saksama. Ya, memang benar yang suaminya katakan, ia pun sempat berpikir demikian. Maka dari itu ia sedikit malas untuk menemui wanita rubah itu.
"Itu yang selalu aku pikirkan, hubby. Dia pasti hanya berpura-pura saja, ya 'kan. Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, bagaimana dengan princess? Haruskah kita terus-terusan menutupi hal ini dari gadis kecil itu?" ujar Rumanah yang masih berpikir keras.
Andre tampak mengerutkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya. Tentu saja ia pun terus berpikir soal ini. Bagaimana pun, Sandrina tetap putri kandung mantan istrinya itu. Tapi, berbagai macam pertimbangan masih ia pikirkan.
"Hubby, aku rasa princess harus tahu akan hal ini. Bagaimana pun, dia tetap anak kandung wanita rubah itu. Tidak mungkin kita akan terus menutupi sampai dua puluh tahun lamanya. Dia juga akan tumbuh besar dan dewasa, mustahil jika princess tidak kepikiran tentang Mommy nya itu. Ya, walaupun princess sangat membenci Mommy nya sendiri, tapi kita harus tetap beritahu dia soal ini. Bukan apa-apa, aku hanya takut princess marah besar dan kecewa bahkan membenci kita semua jika dia tahu akan hal ini ... saat dia sudah besar dan tahu dari orang lain."
Rumanah bicara panjang lebar, ia memberikan masukan pada suaminya itu. Tentu saja sebagai seorang wanita yang sudah mulai berpikir dewasa dan matang, Rumanah tidak ingin mengambil jalan yang akan menjadi rumit nantinya.
Andre tampak diam namun berusaha berpikir keras. Tentunya ia juga mesti mempertimbangkan semua yang akan ia lakukan.
"Dia akan besar dan dewasa, aku yakin suatu saat nanti dia akan heran dan bertanya-tanya soal Mommy nya yang tidak pernah muncul di hadapannya. Jika dia bertanya pada kita, apa yang akan kita katakan padanya? Kita akan berbohong soal Mommy nya? Bagaimana jika dia mencari tahu atau mungkin tak sengaja tahu dari kerabatnya dari Mommy nya? Aku yakin dia pasti sangat marah dan kecewa pada kita, hubby!" lanjut Rumanah yang tampak masih memberikan masukan dan saran pada suaminya.
Pria tampan itu menarik napasnya dalam lalu membuangnya berat, ditatapnya wajah cantik istrinya yang selalu membuatnya tenang, "Kasihan sekali istriku ini, harus memikirkan semua yang akan terjadi. Ck, kau benar-benar istri idaman, darling," pujinya sembari menangkap tangan mungil istrinya itu lalu menciumnya manja.
Rumanah tersenyum dengan tatapan manis penuh manja, "Terkadang, kita memang harus memikirkan bagaimana dan apa yang akan terjadi selanjutnya dalam kehidupan ini. Ya, walaupun semuanya memang Tuhan yang akan menentukan takdir kita," ucapnya dengan suara yang lembut dan menenangkan.
Andre tersenyum lantas mengangguk kecil, "Kau memang pintar, darling. Baiklah, kalau gitu, kita akan bicara pada princess. Tapi, itu artinya kau bersedia menemui Luna ke—" belum sampai ia selesai bicara, dengan cepat Rumanah menyelanya.
"Jangan sebut namanya! Aku tidak suka kau menyebut namanya seperti itu!" ujar Rumanah penuh penegasan.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Sejurus kemudian, ia pun tersenyum manis dan mengangguk kecil, "Maaf, aku salah. Ya, maksudku wanita rubah itu, darling," ucapnya sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya.
Rumanah mengangguk kecil, "Kepalaku sakit kalau kamu sebut nama dia," cicitnya sembari mengerucutkan bibirnya bertingkah manja.
Andre terkekeh kecil sembari mengusel pada dada istrinya, "Hehehe, ternyata kau memiliki rasa cemburu, darling," kekehnya.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar, "Tentu lah, hubby. Kalau aku tidak memiliki rasa cemburu, itu artinya aku tidak cinta padamu," ujarnya sembari mengelus lembut rambut suaminya yang masih basah.
Andre tersenyum sembari merebahkan kepalanya di dada istrinya. Sejurus kemudian ia mendongakkan wajahnya, "Benar. Eh, tapi ... sepertinya kemarin-kemarin kau tidak pernah cemburu, tuh. Apa jangan-jangan kau baru saja mencintaiku?" celetuknya penuh sindiran.
Rumanah terkekeh kecil dan menjewer kecil telinga suaminya, "Ngasal, ya!" cicitnya, "Kemarin-kemarin, aku itu hanya diam dan memendam rasa cemburuku, tahu! Kalau sekarang, aku sudah tak memendamnya lagi. Aku akan mengatakan semua rasa yang masuk ke dalam hatiku," ujarnya penuh penekanan.
"Hehehe, iya iya, darling. Aku mengerti," ucap Andre sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya.
Rumanah mengangguk lantas tersenyum, "Ya sudah, kalau gitu...." Ia menggantung ucapanna.
Netra kecoklatan itu tampak membulat penuh. Tiba-tiba saja dadanya berdetak dan desiran kedewasaannya pun kini menyapanya. Wajar lah, dia wanita normal yang sudah lama tidak melakukannya. Wajar saja jika dia langsung merinding walau Andre hanya merabanya sedikit.
"Ada apa? Kenapa kau tegang begini, darling?" goda Andre dengan tatapan datarnya.
__ADS_1
Rumanah tampak tersentak kaget dan mengerjapkan matanya berkali-kali, "Emh, tidak ada, sayang. Sebaiknya jangan macam-macam dengan tanganmu itu, hubby! Aku malas kalau begini," desisnya.
"Hah? Malas, malas kenapa, darling? Apa yang membuatmu malas?" tanya Andre sembari mengangkat kepalanya.
Rumanah memutar bola matanya malas dan menghempaskan tangan suaminya, "Jangan macam-macam, ya! Kita belum bisa melakukannya, tahu!" omelnya yang tampak kesal.
Andre terkekeh kecil dan menangkap tangan mungil istrinya, "Kamu kenapa? Kok sensi begitu, sih? Jangan-jangan kau kesal karena belum bisa melakukannya denganku. Benar begitu, 'kan? Hehehe," tudingnya.
Rumanah mendelikan matanya dan menatap sebal pada suaminya, "Tidak! Mungkin kau bicara sesuai dengan apa yang kau rasakan saat ini. Hahaha," sanggahnya di iringi tawa renyahnya.
"Hahaha! Tahu saja kau ini," balas Andre disertai tawa ngakaknya.
Rumanah tersenyum kecil dan bergegas bangun dari tidurannya, "Sudah cepat pakai baju, hubby. Kau tidak menggigil seperti itu?" ucapnya sembari mengusap punggung suaminya.
Andre menggeleng kecil, "Tidak, darling. Karena melihat senyumanmu dan menggenggam tanganmu seperti ini...," ucapnya yang kemudian menggenggam tangan mungil istrinya, "Kau sudah membuatku merasa hangat," lanjutnya sembari mengecup tangan istrinya lalu menempelkan pada wajahnya.
Rumanah tersenyum kecil dan memalingkan wajahnya yang bersemu merah karena malu, "Gombal," desisnya sembari meninju kecil punggung suaminya.
Andre tersenyum dan mengusap lembut wajah cantik istrinya.
"Tapi, aku suka!" lanjut Rumanah sembari mengusel pada punggung suaminya.
Andre terkekeh kecil mendengar ucapan istrinya, "Aku bukan hanya gombal, darling. Tapi, memang kenyataannya begitu," ungkapnya.
"Oke, aku percaya," jawab Rumanah sembari menurunkan kakinya dari ranjang, "Ya sudah, lebih baik sekarang kau pakai baju, ya. Kita harus sarapan, mungkin setelah itu kita bicarakan tentang Luna pada princess," lanjutnya.
"Baiklah. Lantas, setelah itu kau akan menemui Luna, eh maksudku wanita rubah itu ke penjara?" tanya Andre dengan tampang seriusnya.
Rumanah terdiam sejenak. Sejurus kemudian ia pun mengangguk, "Ya! Sepertinya princess juga harus bertemu dengan Mommy nya, sayang," jawabnya.
Andre mengangguk kecil tanda memahami, "Ya sudah. Kalau gitu, aku pakai baju dulu, ya. Sayang tunggu di meja makan saja sana," ucapnya.
Rumanah mengangguk, "Baiklah," jawabnya seraya mencubit kecil pipi suaminya.
Selepas itu, Rumanah pun bergegas keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan.
Di meja makan, besan membesan tampak sudah berkumpul menikmati sarapan pagi mereka. Seperti itu yang selalu terjadi dan tercipta di pagi hari di rumah milik Andre. Si cantik Sandrina tampak duduk di dekat Omma dan Oppa nya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Rumanah dengan sebuah senyuman manisnya.
"Pagi," sahut mereka semua secara bersamaan.
"Lho, kok sendirian, sayang? Suamimu belum bangun, kah?" tanya Maae Lilis sembari menatap heran.
Rumanah tersenyum lantas mendudukkan bokongnya di kursi, "Sudah, Maae. Dia sedang memakai baju. Hari ini kami akan mengunjungi anu," jawabnya seraya melirikan matanya pada putri kecilnya yang sedang menikmati sandwich.
"Mengunjungi siapa, Rumanah?" tanya Mami Purwati.
"Emh, mengunjungi ... Mommy nya princess," bisiknya sangat pelan.
Mami Purwati tampak mengangguk tanda mengerti, "Ya sudah, sekarang sarapan dulu," ucapnya.
Rumanah mengangguk mengiyakan. Tak berselang lama, Andre datang dan langsung duduk di samping istrinya.
"Kau sudah bilang pada mereka semua, darling?" tanya Andre pada istrinya.
Rumanah menggeleng, "Nanti saja, setelah selesai sarapan, ya," jawabnya.
Andre mengangguk, "Oke," balasnya yang kemudian meraih secangkir kopi di hadapannya.
Mereka semua pun sarapan sembari mengobrol ringan.
__ADS_1
"Ndre, Rumanah, sepertinya Mami punya sebuah rencana untuk kalian," ucap Mami Purwati yang tampak menatap serius pada putra dan menantunya.
"Rencana apa, Mam?" tanya Andre.
Mami Purwati tersenyum untuk sesaat, "Sepertinya kalian perlu berbulan madu lagi," ucapnya yang berhasil membuat Rumanah dan Andre saling beradu pandang dan melongo secara bersamaan.
"Nah, ini yang sempat aku pikirkan," timpal Maae Lilis yang tampak mendukung.
"Bulan madu? Memang di bulan ada madunya?" tanya si cantik Sandrina yang masih polos.
Rumanah dan Andre tampak terkekeh kecil, begitupun dengan yang lainnya.
"Bukan, sayang. Bulan madu itu, bersenang-senang. Emh, membuat adik." Mami Purwati menjawab dengan halus agar dapat dimengerti oleh cucunya itu.
Sandrina tampak manggut-manggut tanda mengerti, "Ooooh gitu, ya," ucapnya.
"Ya, sayang. Jadi, kau setuju atau tidak jika Bunda dan Daddy berbulan madu?" tanya Maae Lilis dengan senyuman kecilnya.
Sandrina terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras, "Setuju apa tidak, ya?" ucapnya sembari menaikkan bola matanya ke atas.
"Setuju saja lah, cantiiiik," sosor Papi Dargono mendesak.
"Oke! Princess setuju! Tapi, kalau sudah jadi adik bayinya, Bunda jangan hilangin lagi, ya!" jawab si cantik Sandrina penuh penekanan.
Rumanah tersenyum hangat dan mengangguk kecil, "Bunda janji!" ucapnya tanpa ragu.
"Okey!" balas Sandrina sembari tersenyum sumringah.
Rumanah dan Andre tersenyum manis dan mengangguk kecil.
"Nah, princess sudah setuju. Sekarang, tinggal kalian berdua," ucap Mami Purwati penuh desakan.
Rumanah tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal, "Gimana, ya? Mungkin kami akan melakukannya. Tapi, nanti!" jawabnya sembari menolehkan wajahnya pada suaminya.
Andre tersenyum dan mengangguk.
"Oh, gitu. Ya sudah tidak apa-apa. Tapi nanti kalian harus melakukannya, ya!" desak Mami Purwati.
Rumanah dan Andre mengangguk mengiyakan.
"Sebenarnya, kami ingin mengatakan sesuatu pada princess," ucap Andre yang kini tampak berekspresi serius.
"Bicara apa? Apakah kalian ingin mengungkap soal Mommy nya?" tanya Mami Purwati penuh selidik.
Rumanah dan Andre mengangguk secara bersamaan.
"Apakah sudah dipikirkan matang-matang?" tanya Phoo Boon-Nam.
"Sudah, Phoo," jawab Andre tanpa ragu.
"Memangnya ada apa dengan Mommy?" tanya Sandrina sejurus kemudian.
Seketika mereka semua terdiam sejenak. Saling beradu pandang dan seperti sedang berpikir keras. Setelah beberapa saat...
"Princess, sebenarnya ada sesuatu yang terjadi pada Mommy mu," ungkap Andre dengan pelan dan lembut.
Sandrina tampak mengerutkan dahinya dan menatap tak mengerti, "Terjadi sesuatu?" tanyanya dengan wajah herannya.
Andre mengangguk, "Ya, sayang. Maaf karena Daddy baru akan mengatakannya sekarang," jawabnya.
Sandrina mengangguk kecil dan siap mendengarkan apa yang Daddy nya katakan padanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...