Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Mungil


__ADS_3

Rumanah mematung di dalam ruangan ganti. Tentu saja gadis desa itu nampak bingung dan canggung pada majikan galaknya itu. Sementara Andre kini nampak berpikir keras, mencari cara agar bisa dengan mudah membuka pakaian gadis desa yang masih berusia sembilan belas tahun itu.


"Bagaimana ini? Apakah aku siap melihat isi di dalam pakaian yang Annebelle kenakan?" ucap Andre dalam hati.


"Ya Tuhan, maafkan aku. Aku sungguh tidak ingin membiarkan seorang lelaki yang bukan mahramku melihat seluruh tubuhku. Tapi, ini sedang dalam mode emergency, Ya Tuhan. Semoga saja ini bukan sebuah malapetaka. Harap dimaklum, Ya Tuhan." ucap Rumanah dalam hati.


Lama mereka berdiam diri di dalam ruangan ganti itu. Keduanya nampak tidak ada yang berani bicara. Ya, mungkin Andre dan Rumanah memang sedang dalam zona kebingungan.


"Tok tok tok tok tok!" terdengar ketukan pintu dari luar. Sepertinya seorang perawat laki-laki yang tadi.


"Siapa itu, Tuan?" tanya Rumanah yang sedikit terjingkat kaget.


"Entah, kau tunggu di sini. Aku akan menemui orang itu." jawab Andre yang kemudian melangkahkan kakinya lalu membuka pintu ruangan ganti itu.


"Pak Andre, apakah sudah selesai? Dokter yang akan menangani operasi pasien itu sudah menunggu di ruang operasi." ucap seorang perawat laki-laki yang tadi.


Andre mengusap wajahnya frustasi. "Argh, bisakah menunggu sebentar lagi? Kenapa kalian semua sangat buru-buru sekali?" sungut Andre yang kini nampak kesal.


"Astaga, Pak Andre ini sepertinya sedang frustasi." cicit si perawat laki-laki itu. "Tentu saja kami buru-buru, karena bukan pasien atas nama Rumanah saja yang membutuhkan tenaga dan pertolongan kami, tapi masih banyak manusia yang sedang menunggu kami. Saya tidak mau tahu, Pak. Dalam lima menit, Anda sudah harus mengantarkan pasien itu ke dalam ruangan operasi. Jika telat, maka dokter akan menangani pasien yang lain." tegas si perawat laki-laki itu yang nampak menekan setiap ucapannya.

__ADS_1


Andre nampak melongo bengong bagaikan orang dongo, sementara si perawat laki-laki itu sudah berlalu dari hadapannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Rumanah yang nampak sangat penasaran.


Andre mengerjapkan matanya. "Diam di sana dan jangan bergerak." ucap duda tampan itu yang kini mulai berekspresi serius tanpa senyum.


Rumanah menelan ludahnya kasar saat melihat wajah sangar majikan galaknya. Ia tahu jika majikan galaknya itu sedang kesal saat itu. Sementara Andre sudah menutup pintu kembali. Sepertinya duda tampan itu sudah bersiap untuk melakukan tugasnya.


"Sudah tidak ada waktu lagi. Dokter sudah menunggumu di ruang operasi. Diam dan pejamkan matamu, aku akan membuka pakaianmu dan menggantinya dengan pakaian operasi." ucap Andre yang nampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah sudah tak mampu lagi mengeluarkan suaranya. Sepertinya majikan galaknya itu sudah sangat siap dan kesal. Tak perduli dengan apa yang akan terjadi, gadis desa itu pun memejamkan matanya dan siap menerima bantuan majikan galaknya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa di antara mereka!


"Ya Tuhan, ini benar-benar terpaksa." rintih gadis desa itu dalam hati.


"Angkat tanganmu dua-duanya." pinta Andre.


Tanpa menjawab, Rumanah pun melakukan apa yang majikan galaknya perintahkan. Tentu saja tangan kanannya memegangi kantung cairan infusnya.


"Akan kumulai. Jangan berpikir macam-macam dan tenanglah." ucap Andre yang kemudian membuka satu persatu kancing kemeja lusuh yang melekat di tubuh gadis desa itu.

__ADS_1


Deggg!!!!


Rumanah nampak bergetar dan jantungnya berdetak lima puluh kali lebih kencang dari biasanya. Bukan berdetak karena rasa cinta, tetapi berdetak karena ia merasa malu setengah mati pada majikan galaknya. Tentu saja tidak ada yang pernah melihat seluruh tubuhnya selain dirinya sendiri. Dan kini, majikan galak yang bukan muhrimnya lah yang harus melihat benda yang dibalut oleh pakaiannya.


Deggggg!!!!


Andre nampak tercengang dan tiba-tiba saja jantungnya ikut berirama. Saat kemeja milik Rumanah sudah terlepas dari tubuh gadis desa itu, tentu saja kedua manik mata duda tampan itu menangkap dua benda yang sudah lama tak ia jumpai.


"Hah, indah sekali." gumam Andre dalam hati.


Dua bukit kembar milik Rumanah yang masih tertutup oleh bra berwarna pink itu nampak sangat indah dan menggemaskan. Kulit putih khas gadis desa berdarah sunda itu sempat membuat Andre tercengang dan terpukau. Hingga hal itu membuat Andre menghentikan kegiatannya dan kini kedua manik matanya menatap dua gundukan mungil di dalam tempurungnya.


"Tuan, apakah sudah selesai?" tanya Rumanah yang masih memejamkan matanya. Dia sungguh malu dan tak sanggup menatap wajah tampan majikannya.


Andre mengerjapkan matanya, tentu saja duda tampan itu harus meninggalkan lamunannya dan kembali mengerjakan tugasnya. "Emh, sebentar lagi, kau tetap diam dan jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan melakukan apa pun pada gadis desa seperti dirimu." ucap duda tampan itu yang kini tengah berusaha melepaskan pengait tempurung penutup dua bukit kembar milik Rumanah.


"Selalu saja bicara begitu. Dia pikir aku senang melakukan ini? Jika kubisa maka kutak akan membiarkannya melakukan ini." sungut Rumanah dalam hati.


Andre sudah berhasil membuka pengait kawat itu. Hal itu benar-benar membuatnya teringat pada sosok Luna yang sudah pernah ia lakukan seperti itu. Bukan karena emergency, tapi karena mereka akan melakukan sebuah pergulatan nikmat di atas ranjang.

__ADS_1


"Argh, sial! Gadis desa ini mengingatkanku pada si wanita rubah itu." desis Andre dalam hati.


Andre mengusap wajahnya kasar. Duda tampan itu kini mencoba melepas penutup dua bukit kembar milik pengasuh putrinya itu. Dengan tangan bergetar dan detak jantung yang tak dapat ia kondisikan, duda tampan itu akhirnya berhasil melepaskan penutup dua bukit kembar milik Rumanah.


__ADS_2