
Selepas sarapan bersama, Rumanah dan Andre ikut dengan Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis ke kebun bunga yang berukuran sangat luas. Para pekerja sudah menyibukkan diri mereka memetik bunga-bunga dengan alat dan dengan tangan juga.
"Huhhhhh, dingin sekali. Benar dugaanku, di luar lebih dingin. Hrrrrrrr," celoteh Andre saat ia keluar dari pintu gerbang.
Cuaca pagi memang begitu sejuk dan dingin. Embun pagi pun masih menitik membasahi bumi.
"Hallo, bos. Anda seperti sedang di Korea, bos. Keluar asap dari mulut Anda. He he he," Sapa Leo yang baru saja keluar dari mobil.
"Hallo, Le. Bagaimana tidurmu semalam? Sorry, aku hampir melupakan kalian berdua." Balas Andre sambil menepuk pundak asisten pribadinya itu. "Ah iya, aku sampai terpukau. Gila, di desa ini benar-benar dingin, coy." Lanjutnya.
Leo dan sopir tersenyum kecut dan saling beradu pandang.
"Kami tidur di villa, bos. Untung saja para anak buah mertua Anda berbaik hati mengajak kami tidur bersama mereka di villa." Jawab Leo. "Anda tidak perlu tidak enak hati, bos. Karena kami sangat memaklumi. Beruntungnya, kami tidak nekat meninggalkan Anda ke Jakarta. He he he," lanjutnya disertai cengengesnya.
Andre memutar bola matanya dan membuang wajahnya ke tempat lain. Di hadapannya, perkebunan bunga yang sepertinya bukan sembarang bunga, tampak sudah ramai oleh para pekerja ayah mertuanya.
"Itu tidak masalah bagiku. Tapi, jika itu terjadi, siap-siap saja tubuhmu akan aku giling menjadi sosis!" sungut Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Leo dan sopir membulatkan kedua bola mata mereka dan menatap ekstream pada bos keduanya.
"Oh ya, kau tadi bilang apa? Tidur di villa? Memangnya di sini ada villa?" tanya Andre dengan ekspresi penasaran.
"Tentu saja ada, hubby." Terdengar suara Rumanah yang menjawab.
Andre menolehkan wajahnya. "Di mana itu, darling? Kenapa aku tidak melihatnya. Apakah itu villa gaib?" tanyanya begitu memberondong.
Rumanah tersenyum, setiap kali mereka bicara, keluar asap dari mulut mereka. Ya, sama persis seperti di Korea saat musim dingin. Bedanya, di desa hanya terjadi saat pagi saja. Karena, cuaca pagi memang sangat dingin dan berembun.
"Ha ha ha, villa gaib? Astaga, kenapa pikiranmu sejauh itu, sayang." Rumanah tertawa kecil sambil menabrakkan kepalanya pada dada bidang suami tampannya itu.
Andre terkekeh sembari mengacak rambut istrinya. "Lantas, di mana villa nya, darling?" tanyanya penasaran. Pasalnya, sedari tadi ia tak menemukan villa di sana.
"Bos, Anda pasti terkejut. Ternyata, bukan hanya kebun bunga. Tapi di tengah-tengahnya ada—" Sopian belum selesai bicara, dengan cepat Rumanah menyelanya.
"Stop! Jangan kau ceritakan semuanya pada suamiku. Biarkan dia melihat sendiri bagaimana kejutan di dalam kebun bunga ini." Sela Rumanah seraya tersenyum penuh teka-teki.
"Apa sih, darling? Jangan bikin aku penasaran, deh!" cicit Andre sembari menarik tangan istrinya hingga membuatnya masuk ke dalam pelukan. "Katakan! Atau, ajak aku ke sana sekarang juga." desaknya yang tampak begitu penasaran.
Leo dan sopir tertawa kecil melihat sikap bos mereka yang begitu manis pada istrinya.
"Mau ke sana?" tanya Rumanah sambil menatap genit pada suaminya.
Andre cepat mengangguk. Memang dia sangat penasaran dengan villa yang dimaksud oleh Leo dan Sopian tadi. Tentu saja ia ingin segera melihatnya sendiri.
"Ya, darling. Bisakah kau ajak aku sekarang?" jawabnya.
Rumanah tersenyum manis serta mengangguk. "Mohon maaf, aku tidak bisa mengajakmu sekarang. Soalnya, aku akan—" ucapannya terputus saat tiba-tiba terdengar suara Phoo Boon-Nam menyela.
"Pagi-pagi sudah sibuk pacaran saja. Hmmm! Memang kalau pasangan muda mudi selalu semangat di mana pun berada." Goda Phoo Boon-Nam yang berhasil membuat Rumanah dan Andre tersenyum kikuk dan saling memalingkan wajah masing-masing.
Rumanah melipat bibirnya ke dalam dan memalingkan wajahnya pada perkebunan bunga yang belum ia injak tanahnya. Sementara rona merah di pipi sudah tercipta sedari tadi.
"Ya, begitulah kalau sepasang manusia yang sedang dimabuk asrama. Eh, asmara maksudnya." Timpal Maae Lilis. "Mereka pasti selalu ingin bermesraan di mana pun berada." Lanjutnya.
"Emh, bukan seperti itu, Maae. Tadi saya hanya bertanya soal villa di tengah-tengah kebun bunga ini," ucap Andre menjelaskan pada kedua mertuanya.
"Ya, menantu Phoo dan Maae ingin ke sana." Timpal Rumanah.
__ADS_1
Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam tersenyum kecil.
"Boleh saja. Tapi, kalian harus membantu kami memetik bunga. Sisanya, kalian boleh membawa bunga yang kalian inginkan." Ucap Phoo Boon-Nam penuh penegasan.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan tampak sumringah. "Yes! Kalau ini sih, jangan diragukan lagi. Kami pasti akan membantu Phoo dan Maae!" ucapnya penuh semangat.
"Ya sudah, kalau gitu, ayo kita ke kebun. Lihat para karyawan sudah bekerja sedari tadi," ajak Phoo Boon-Nam yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kebun bunga di hadapannya.
Tak membuang waktu lagi, Andre pun turut berjalan bersama sang istri menuju kebun bunga milik mertuanya.
"Ini hanya dikirim ke Thailand atau ke luar kota juga, darling?" tanya Andre saat ia baru saja menginjakkan kaki di kebun bunga itu.
"Ya, ke Thailand juga ke luar kota." Jawab Rumanah seraya menyentuh satu bunga yang sangat indah.
Andre manggut-manggut tanda mengerti. Ia pun melangkahkan kaki menjauh dari istrinya yang sedang sibuk mencium dan mengamati bunga-bunga indah di sana.
Andre tampak terpukau melihat bunga-bunga yang sangat indah. Harum baunya begitu menusuk masuk ke dalam indera penciumannya.
"Ya Tuhan, indah sekali." Andre terpukau dengan keindahan bunga-bunga di kebun itu. Manik matanya tak henti menatap setiap bunga yang ada di hadapannya.
"Siapa yang indah, hubby?" tanya Rumanah seraya mendekati suaminya.
Andre menoleh dan tersenyum manis. "Menurutmu, siapa?" tanyanya sembari menangkap tangan istrinya dan menempelkannya di dada bidangnya.
Rumanah tersenyum kecil. "Tentu saja bunga-bunga di kebun ini, sayang." Jawabnya sembari mengusap lembut dada bidang suaminya sambil menatap lembut manik mata yang indah milik suaminya.
"Ya, kau benar."Balas Andre seraya menyelipkan anak rambut Rumanah pada telinganya. "Tapi, keindahanmu lebih memukau dan mampu mengalahkan bunga-bunga yang menjadi penghuni kebun ini, darling. Keindahan dirimu tidak dapat terkalahkan. Muaach!" Lanjutnya dengan gombalan yang paripurna. Diselipi kecupan manis di kening sang istri, membuat wanita cantik itu tersenyum manis dan tersipu malu.
"Kamu bisa saja." Desis Rumanah sembari mendorong kecil dada bidang suaminya. Lalu ia melangkahkan kaki mendekati bunga lili. "Tentu saja keindahanku dengan bunga-bunga tidaklah sama, sayang. Aku indah sebagai manusia berjenis kelamin wanita. Sedangkan bunga-bunga ini, indah sebagai bunga yang akan menjadi hiasan." Lanjutnya sembari memetik setangkai bunga lili yang harumnya ke mana-mana.
Andre tersenyum lantas menggapai pinggang ramping istrinya. Memeluknya dari belakang dan menghirup aroma tubuh istrinya yang seakan mampu mengalahkan aroma bunga lili di hadapannya.
"Ish, jangan seperti ini, sayang. Di sini banyak orang, lho. Nanti kalau ada yang melihat kita, gimana?" desis Rumanah sembari melepaskan tangan suaminya yang memeluk pinggang rampingnya. Ia memutar badannya menghadap sang suami yang tersenyum manis padanya.
"Memangnya kenapa kalau ada yang melihat kita? Akan dilaporkan ke polisi? Atau ke ketua RT di sini?" desak Andre memberondong dengan pertanyaannya.
Rumanah memutar bola matanya malas dan menatap serius wajah tampan suaminya. "Jelas itu tidak akan terjadi, suamiku sayang. Aku hanya malu saja jika ada yang melihat kemesraan kita yang cetar membahana badai. Kau tahu? Di desa ini, kemesraan suami istri tidak pernah diumbar di tempat umum. Mereka sangat menjaga rasa malu mereka. Jadi, kita pun harus seperti itu. Kau paham 'kan?" Jelasnya berharap sang suami dapat mengerti.
Andre tersenyum kecil dan menangkap tangan istrinya. "Itu karena mereka semua memang tidak pernah bermesraan di mana pun berada, darling." Ucapnya sembari meletakkan tangan istrinya di wajah tampannya.
Rumanah menautkan alisnya. "Ish, tidak seperti itu. Ya, karena mereka semua malu, sayang. Ah, sudahlah jangan menggodaku terus menerus. Nanti aku terpancing dan gak tahan, lho!" desisnya mengomel kesal.
Andre terkekeh mendengar omelan istrinya itu. Ia pun membiarkan sang istri memetik bunga lili di hadapannya.
"Permisi, Nangsaw." Ucap seorang pelayan yang tiba-tiba mendekati Rumanah dan Andre.
"Ya, ada apa, Santi?" tanya Rumanah.
"Anda dan Tuan Andre dipanggil oleh Than di sebelah barat." Ucapnya memberitahu.
"Oh, begitu. Baiklah, kami akan ke sana," jawab Rumanah seraya tersenyum.
"Mau ke mana, darling?" tanya Andre.
"Phoo memanggil kita. Ayo!" ajak Rumanah seraya menarik tangan suaminya agar mengikuti langkah kakinya.
Andre pasrah dan melangkah mengikuti istri cantiknya itu.
__ADS_1
"Ada apa, Phoo?" tanya Rumanah saat ia sudah berada di hadapan Phoo Boon-Nam.
"Sanee, bisakah kau bantu Maae mendata bunga apa saja yang akan dikirim ke Thailand dan ke luar kota?" tanya Phoo Boon-Nam serius.
Rumanah mengangguk serta tersenyum. "Tentu saja, Phoo. Sanee akan melakukannya." Jawabnya sembari menyambar notebook dan duduk di sebuah kursi.
Sementara Andre tampak bingung dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Apa yang akan dia lakukan?
"Dan kau." Phoo Boon-Nam menunjuk pada menantunya yang sedang bingung.
"Ya," jawab Andre dengan wajah serius.
"Tolong bantu para karyawan mengunjal bunga-bunga dalam keranjang dan dibawa ke sini. Agar pekerjaan cepat selesai," ucap Phoo Boon-Nam yang disambut dengan anggukan oleh menantunya.
Rumanah tersenyum kecil melihat suaminya yang berjalan mengikuti Phoo Boon-Nam. Ia tampak senang melihat keakraban ayahnya dengan suaminya. Tapi, ada hal yang membuatnya mengganjal. Apakah suaminya bisa melakukan tugas yang ayahnya perintahkan?
"Good luck, hubby!" teriak Rumanah sedikit terlambat. Ia ingin menyemangati suami tampannya itu.
Andre menolehkan wajahnya dan menyatukan telunjuk dengan ibu jarinya membentuk huruf O yang artinya oke. Ia tersenyum pada sang istri yang juga melemparkan senyuman manis padanya.
"Andre, sekarang kau angkut dua keranjang ini ke tempat Sanee tadi. Pelan-pelan saja, ya. Jangan sampai terjatuh dan berantakan, nanti bunga-bunganya akan rusak." Ucap Phoo Boon-Nam sambil menunjuk pada dua keranjang bunga yang sudah ada di hadapn mereka.
Andre tampak mengangguk dengan pasti. Tanpa pikir panjang ia menyanggupi. Dilihat dari ukurannya, sepertinya tidak terlalu berat.
"Baik, Phoo." Jawabnya seraya menyiapkan tenaganya untuk mengangkut dua keranjang di hadapannya.
Phoo Boon-Nam mengangguk kecil lalu duduk di kursi, memantau para pekerja yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka.
Sementara itu, Andre tampak dengan mudah memanggul dua keranjang bunga yang tidak terlalu berat. Namun, tetap saja ia sedikit kaku dan kesulitan. Pekerjaan seperti itu belum pernah ia lakukan seumur hidupnya.
"Astaga! Bos. Apa yang sedang Anda lakukan? Apakah Anda sekarang beralih pekerjaan?" ucap Leo yang tiba-tiba muncul di hadapan Andre.
Andre menatap tajam pada asisten pribadinya yang sedang meledeknya. Sementara dua keranjang bunga masih berada di atas pundak kanan dan pundak kirinya.
"Jangan banyak bicara! Aku melakukan ini karena berbakti pada ayah mertuaku!" sungut Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Leo terkekeh kecil dan mengangguk. "He he he, ya sudah kalau begitu silakan dilanjut, Tuan. Jika seperti ini, saya tidak bisa mengambil alih pekerjaan Anda, Tuan. Jadi, maaf sekali, ya." ucapnya yang hanya dibalas dengan desisan kecil dari Andre.
Selepas itu, Andre kembali melangkahkan kakinya menuju tempat istrinya duduk. Tentu saja ia berjalan dengan pelan dan hati-hati karena takut terjatuh sehingga membuat bunga-bunga yang ia bawa berantakan.
Di jarak lima meter, Rumanah tersenyum kecil dan kagum pada suaminya yang terlihat serius dengan kegiatannya. Ia menatap penuh cinta dan menunggu suaminya datang membawa dua keranjang bunga ke hadapannya.
"Dia terlihat serius sekali. Hm, Phoo pasti akan menjadikannya menantu idaman dan tidak akan ada yang mengalahkan." Ucap Rumanah dalam hati.
Jelas saja menantu idaman dan tidak akan ada yang mengalahkan. Sebab, Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tidak akan memiliki menantu lain lagi selain suami dari putri tunggalnya yaitu Rumanah sendiri.
"Darling, ini bunganya." Ucap Andre seraya meletakan keranjang berisi bunga satu persatu dengan pelan dan hati-hati.
"Good job! Apakah kau merasa kesulitan, hubby?" Tanya Rumanah seraya mengusap keringat yang mengalir di dahi suaminya.
Secepat kilat Andre menggeleng. "No! Ini sangat mudah sekali, darling. Aku rasa melakukannya sepuluh kali lagi pun aku tidak akan pingsan," jawabnya penuh percaya diri.
Rumanah terkekeh kecil dan bangkit dari duduknya. "Apakah kau yakin? Aku sangat tertarik mendengarnya. Aku penasaran, apakah kau bisa atau tidak, ya." tantangnya penuh desakan.
"Wah, jangan meragukanku, darling. Tentu saja aku sanggup. Emh, jika aku sanggup, apa yang akan kau berikan padaku?" balas Andre sambil memainkan jari jemarinya pada wajah cantik istrinya.
Rumanah tersenyum genit dan mengusap lembut dada bidang suaminya. "Lima ronde!" jawabnya disertai kedipan genitnya.
__ADS_1
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terlihat sumringah. "Aku setuju!" ucapnya yang kemudian berlari kecil ke tempat tadi untuk mengunjal keranjang-keranjang bunga.
BERSAMBUNG...