
"Apa yang kau lakukan, Luna? Kau sudah gila! Di mana akal pikiranmu saat ini, hah? Teganya kau ingin melukai putrimu sendiri. Dasar wanita belis!" kali ini Andre sudah tak dapat lagi menahan emosinya. Semua kata kasar dan amarah ia luapkan saat itu juga. Namun, untuk merebut putrinya, ia tampak belum berani karena takut Luna akan melukai putri satu-satunya itu.
"Ha ha ha, biarkan saja. Lebih baik aku mati bersama anakku dari pada aku harus menanggung derita jauh dari anakku sendiri. Lebih baik sekarang kau pergi dari sini! Biarkan aku hidup bersama putriku!" Luna pun semakin kekeh dan tak mau kalah. Wanita itu begitu menatap Andre dengan tatapan permusuhan.
Andre mengusap wajahnya kasar dan menatap putri kecilnya yang sedang menangis dalam diam. Sungguh hatinya terasa ngilu saat ia harus melihat putri kecilnya menangis menahan takut.
"Luna, kau jangan main-main. Sebaiknya kau cepat serahkan princess sebelum kuhubungi nomor polisi." ancam Meliza.
"Ha ha ha ha," Luna tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak takut, jala*ng! Silakan kau hubungi siapa pun yang ingin kau hubungi. Aku, akan tetap pergi bersama putriku." ucapnya dengan sorot mata yang mengerikan bagaikan nenek sihir.
Andre semakin frustasi melihat situasi yang rumit dan genting seperti saat ini. Namun, sungguh ia pun sangat bingung harus berbuat apa.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Kasihan sekali princess. Aku harus menyelamatkannya." ucap Rumanah dalam hati.
"Tante Luna, tolong kembalikan princess pada saya. Dia asuhan saya, lihat wajahnya sangat sedih melihat dewi perinya datang kemari." ucap Rumanah seraya melangkah maju dengan perlahan.
Andre dan Luna tampak terhenyak kaget melihat tindakan Rumanah. Tentu saja mereka sangat takut akan pisau yang digenggam oleh Mommy Sandrina. Bisa saja wanita belis itu menusukkan pisaunya pada perut Rumanah.
"Apa yang kau lakukan, Annabelle!" cicit Andre seraya menarik lengan pengasuh putri kecilnya.
Rumanah terjingkat kaget. Namun tekadnya untuk merebut asuhannya kembali tetap membulat di dalam dadanya.
"Kau bisa terluka olehnya." desis Andre yang tampak khawatir pada pengasuh putrinya.
Rumanah tersenyum kecil. "Tenang saja, Tuan. Saya akan hati-hati dan waspada." ucap Rumanah yang tampak tetap tenang.
"Tidak, Rumanah. Sebaiknya kau tidak usah melakukan apa-apa yang akan melukaimu. Lihat situasi saat ini, jangan sampai wanita rubah itu melukai siapa pun. Lebih baik sekarang kita cari cara terbaik tanpa harus ada yang terluka," tukas Meliza panjang lebar. Ia pun sangat khawtir pada Rumanah.
"Tapi jika begini terus, wanita itu akan tetap kekeh menahan princess, Mbak, Tuan. Saya sungguh tidak tega melihat princess menangis sedih dan ketakutan seperti itu." ucap Rumanah seraya melirikkan matanya pada Sandrina yang masih terisak kecil tak mampu berbuat apa-apa. Sekali saja gadis kecil itu bergerak, mungkin pisau tajam itu akan menancap pada tulang lehernya.
Andre dan Meliza terdiam tak mampu lagi berkata apa-apa. Tentu saja mereka pun sangat kasihan pada Sandrina, tapi situasi yang membuat mereka tak mampu melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Jangan halangi saya, Tuan, Mbak." ucap Rumanah yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati Luna yang sedang menatap sengit padanya.
"Minggir jika kau tidak ingin pisau ini menancap di lehermu itu." ucap Luna dengan suara yang tajam.
"Aku sangat miris sekali melihat seorang ibu yang sangat egois dan tempramen seperti dirimu, Tante." ucap Rumanah yang berhasil membuat Luna membulatkan kedua bola matanya penuh.
"Apa kau bilang? Beraninya kau!" Luna bicara seraya mengarahkan pisaunya pada Rumanah, namun dengan cepat gadis desa itu menghindar sehingga membuat Luna sedikit terhuyung ke depan. Namun, tangannya masih menggenggam tangan putrinya.
"Ck, sialan kau!" decak Luna kesal.
"Annabelle, awaaaaaas!" Andre memekik saat Luna berbalik badan dan hendak mengarahkan pisaunya pada Rumanah.
Rumanah yang sedang berbicara dengan Sandrina tampak terbelalak kaget, gadis desa itu buru-buru menangkap tangan Luna dengan cekatan.
"Lepaskan pisaunya, kau bisa membunuh semua orang, tante!" ucap Rumanah seraya mencoba melepaskan pisau yang ada di genggaman Luna.
"Tidak akan, aku yang akan membunuhmu!" balas Luna yang masih mempertahankan pisau di tangannya.
"Princess, cepat lari! Menjauhlah dan berlindunglah pada Daddy." teriak Rumanah menyuruh asuhannya untuk menjauh dari dirinya dan Luna.
"Princess, diam di sini!" pekik Luna yang kini tampak semakin kesal karena Sandrina sudah berlari mendekati Daddynya.
"Sialan kau!" desis Luna yang kini tampak mencoba mengarahkan pisaunya pada Rumanah. Wanita cantik itu sudah hilang akal sehatnya.
"Lepaskan pisaunya!" cicit Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Tidak akan!" jawab Luna.
Rumanah memegang tangan Luna yang memegang pisau. Dua tangan ia pakai agar lebih kuat. Sementara itu Andre, Meliza dan Sandrina tampak begitu panik dan tegang saat menyaksikan kedua wanita itu sedang merebutkan sebuah pisau.
"Astaga, bagaimana ini, Pak?" ucap Meliza yang terlihat sangat panik dan ketakutan.
__ADS_1
"Ck, kenapa jadi serumit ini sii. Aku juga bingung, Mel." jawab Andre.
"Dadd, bagaimana ini? Cepat bantu dewi peri." rengek gadis kecil itu.
Andre mengusap wajahnya. "Baik, princess. Daddy akan membantu dewi peri mu. Kau tetap di sini ya sayang." ucap Andre seraya mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Andre pun melangkahkan kakinya perlahan, rencananya ia akan menarik tubuh Luna agar terjerembab dan melepaskan pisaunya. Namun pada saat itu..
"Aaaaaaaaaaa!!!" Luna memekik saat Rumanah menginjak kakinya dengan sangat kuat. Sontak saja wanita itu melepaskan pisaunya dan...
"Aaaaaaaaarghh!!!" Rumanah mekekik histeris saat jari-jemarinya tak sengaja tersayat oleh pisau. Hal itu benar-benar membuat Andre, Meliza dan Sandrina tampak terbelalak kaget.
Darah segar mengucur dari haru jemari gadis desa itu. Pisau kecil namun tajam itu kini tergeletak di lantai.
"Astaga!" desis Luna yang tampak terkejut melihat Rumanah yang terluka penuh darah. "Darah, tidak. Uweeeek.. Uweeeek." wanita cantik itu tiba-tiba seperti hendak muntah saat melihat darah.
Ya, Andre sampai lupa jika mantan istrinya memang sangat membenci darah.
"Dewi periii," Sandrina memekik dan langsung berlari menghampiri pengasuhnya. Gadis kecil itu tampak cemas melihat keadaan pengasuhnya.
"Jangan menangis, sayang. Dewi peri baik-baik saja."ucap Rumanah yang tampak sok tegar. Padahal perih di tiga jarinya begitu sangat terasa hingga ke ubun-ubun.
Andre menyambar pisau yang tergeletak di lantai. Dengan cepat ia pun mendekati Rumanah. Sementara Luna sudah berlari ke kamar mandi sedari tadi.
"Annabelle, kau terluka. Ini harus segera di obati." ucap Andre.
"Lebih baik sekarang kita keluar dari tempat ini, aku akan membersihkan luka Rumanah dan kita harus mencari kotak P3K." timpal Meliza.
"Ayo." kata Andre.
Mereka ber empat pun bergegas keluar dari kamar itu. Rumanah tampak meringis kesakitan dan Meliza membantunya berjalan menuruni anak tangga. Sementara princess Sandrina digendong oleh Daddynya.
__ADS_1
***