
Andre mendorong tubuh Maolin ke ruang UGD. Di sana, banyak pasien yang sedang menunggu penanganan dokter. Namun, Andre meminta pada petugas kesehatan di sana untuk segera menangani Rumanah.
Dalam ketakutan yang meninggi, Rumanah tampak menggigit bibir bawahnya menahan takut dan panik. Sebenarnya apa yang di takutkan oleh gadis desa itu? Tentu saja sebuah suntikan dan peralatan medis lainnya.
"Segera tangani pasien ini, sus." ucap Andre kepada seorang suster.
"Baik, Pak. Harap tenang ya," jawab si suster.
"Aduh, hati-hati ya, sus. Saya tidak kenapa-kenapa kok." ucap Rumanah pada suster.
"Tenang ya, Dek. Saya buka dulu balutan perbannya ini. Saya tidak bisa mengambil tindakan sebelum saya melihat luka ini." ujar si suster yang kini tengah serius membuka balutan perban di tangan Rumanah.
"Lukanya sangat parah dan dalam, sus." timpal Andre memberitahu.
"Baik saya periksa dulu ya, Pak." ucap suster.
"Hmmmm, tidak usah curhat juga kali, Tuan." batin Rumanah berucap.
Apakah Tuan ini orang tua adek ini?" ucap si suster yang sepertinya mengira jika Andre adalah orang tua Rumanah.
"Hah??" Andre bengong seraya memegangi wajahnya yang keheranan. "Apakah wajah gue sangat terlihat tua? Astaga." desisnya dalam hati.
"Ah, bukan. Saya pengasuh putrinya, sus." jawab Rumanah mewakili majikan galaknya.
"Oh, saya kira orang tua kamu, Dek." ucap si suster. "Tapi kenapa bisa seperti ini, ini lukanya seperti tidak di sengaja." lanjut suster.
"Ya memang tidak di sengaja, sus. Kalau disengaja mah bunuh diri namanya." seloroh Andre.
"Hi hi hi, benar juga ya." ucap si suster yang kini sedang menyiram luka Rumanah dengan etanol.
"Auuuuwwww, sakiitnyaaaaa!" Rumanah memekik dan memejamkan matanya. Gadis desa itu kelojotan karena kesakitan.
"Tahan, Belle. Jangan mengamuk, nanti tanganmu semakin sobek." ucap Andre menenangkan Rumanah.
"Sakit, Tuan. Sakiiit sekali. Hu hu hu hu." Rumanah tampak menahan dirinya agar tidak mengamuk.
"Ya Tuhan, ini lukanya dalam sekali, Pak. Sepertinya kita harus—" suster belum selesai bicara, dengan cepat Fumanah menyelanya.
__ADS_1
"Mau ngapain? Mau di apakan? Aku tidak mau dijahiiit. Hiks hiks hiks, emaaaaak, toloooong!" Rumanah tampak panik dan ketakutan, kali ini gadis desa itu menangis sesenggukkan dan memanggil Ibunya.
Andre mengusap wajahnya kasar. "Diamlah, Belle. Kau harus tenang dalam situasi seperti saat ini. Tidak akan terasa sakit bila kau diam dan tenang." duda tampan itu mencoba menenangkan Rumanah agar mau diam dan bertahan.
"Tidak akan terasa sakit matamu, Tuan!" sungut Rumanah dalam hati.
"Coba jarinya digerakkan, Dek. Kalau tidak bisa gerak dan tidak bisa mengangkat maka itu artinya kamu harus di operasi." ucap suster yang berhasil membuat Rumanah terhenyak kaget.
"Apaaaa??? Operasi? Tidak, tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi. Tanganku baik-baik saja, sus." Rumanah begitu terlihat panik dan tegang.
"Tidak bisa dikatakan baik-baik saja jika seperti ini, Dek. Makanya sekarang cepat adek gerakkan jarinya." ucap suster dengan kelembutan yang bagaikan sutera.
"Benar, sudah jangan ngeyel sureyel, Annabelle! Cepat gerakkan jarimu itu." pinta Andre yang sangat memaksa dan mendesak.
"Hum, baiklah." jawab Rumanah yang mulai pasrah.
Rumanah pun menggerakkan jari-jarinya yang terluka oleh goresan pisau. Jari tengah dapat ia gerakkan dan dapat ia angkat, jari kelingking pun dapat ia gerakkan. Tapi dengan jari manisnya?
"Benar, kita harus segera melakukan operasi." ucap suster itu saat melihat jari manis Rumanah tidak dapat di gerakkan.
"Operasi, sus? Apakah itu tidak terlalu berlebihan?" Andre pun sangat terkejut pada ucapan suster itu.
"Tidak, Pak. Memang harus di operasi jika sudah seperti ini." jawab suster itu.
"Tidaak, aku tidak mau di operasi. Tuaaaan, tolong saya Tuaaan, saya tidak ingin cacaaaat!" kali ini Rumanah tampak memelas pada majikan galaknya. Meloncat dari branka lalu ngelendot manja pada majikan galaknya.
"Astaga, Ya Tuhan. Tenang Annabelle, jangan panik." ucap Andre mencoba menenangkan pengasuh putrinya.
"Justru kalau tidak di operasi nanti malah bakalan cacat, dek." ucap suster itu.
"Hah, kenapa bisa seperti itu, sus?" tanya Andre yang tampak tidak mengerti.
"Karena ini lukanya sangat dalam dan terkena sampai tulang, Pak. Jika kita hanya melakukan jahit luka saja maka jarinya tidak akan bisa bergerak. Jari manisnya akan terasa kaku dan tidak bisa di apa-apakan. Kalau di operasi maka akan memperbaiki tulang dan urat yang telah terluka. Sekarang pilihan ada di tangan kalian," terang suster itu menjelaskan secara mendetail.
Andre terdiam dan mencoba mencerna setiap ucapan suster itu. Sementara Rumanah tampak masih menangis dan memeluk erat majikan galaknya. Seperti seorang anak yang meminta perlindungan pada Ayahnya.
"Bagaimana ini, Annabelle? Kau dengar bukan apa yang dikatakan oleh suster?" ucap Andre pada Rumanah.
__ADS_1
"Ya, saya dengar, Tuan. Tapi saya takut, hiks hiks hiks." Rumanah menjawab disertai isakkan tangisnya.
Andre mengusap wajahnya dan membuang napasnya kasar. "Ssttt, sudah-sudah jangan menangis." ucap Andre seraya mengusap puncak kepala pengasuh putrinya. Duda tampan itu sangat merasa iba dan merasa bersalah pada pengasuh putrinya.
Tentu saja Andre merasa jika kecelakaan yang menimpa Rumanah akibat kelalaiannya. Maka hal itu membuat Andre ingin bertanggungjawab atas segala yang telah terjadi.
"Sebaiknya Anda bicarakan hal ini dengannya, Pak. Saya rasa tidak ada jalan lain selain operasi. Tapi jika Anda ingin membiarkan jari manis pengasuh putri Anda ini cacat tidak bisa di gerakkan, maka sekarang juga akan kami jahit lukanya." ucap suster itu.
"Baik, sus. Akan kami bicarakan terlebih dahulu." ucap Andre.
Rumanah masih terisak kecil. Ucapan suster membuatnya sangat takut namun juga bingung.
"Annabelle, sebaiknya kita bicarakan hal ini terlebih dahulu. Ayo kita ke luar dan temui Meliza dengan princess." ucap Andre yang kemudian mengajak Rumanah ke luar.
Rumanah mengangguk kecil, ia pun melepas pelukannya. Entah sadar atau tidak, saat ini Rumanah memang membutuhkan pelukan seseorang untuk menenangkannya.
Sementara itu Meliza dan princess Sandrina tampak sedang menunggu di luar ruangan. Ke duanya tampak terlihat cemas menunggu Rumanah dengan Andre.
"Princess, Mel." panggil Andre saat ia telah menghampiri ke duanya.
Refleks Meliza dan Sandrina menolehkan wajah mereka secara bersamaan.
"Daddy, dewi peri!" Sandrina langsung berdiri tegak saat melihat kedatangan Daddy dengan pengasuhnya.
Rumanah tersenyum hangat pada asuhannya. Walaupun ia masih muda, tapi ketika bersama Sandrina ia begitu terlihat dewasa dan keibuan.
"Bagaimana, sudah di tangani?" tanya Meliza.
Andre menggeleng.
"Lah, kenapa, Pak?" tanya Meliza yang tampak heran.
"Kita butuh persetujuan." jawab Andre.
Meliza mengernyitkan dahinya dan berpikir keras mencoba mencerna ucapan bos dudanya.
***
__ADS_1