
Setelah selesai melakukan goyang patah-patah di kamar mandi. Rumanah dan Andre bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan Meliza.
"Seperti ini sudah cantik kah?" tanya Rumanah seraya memutar tubuhnya yang sudah dibalut dengan kebaya modern bertaburkan permata dan blink-blink berwarna rose gold.
Andre menatap intens dan mengamati dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Jika kurang cantik maka aku akan mengganti dengan yang lain, tii-rak." Rumanah berkata sembari meletakkan sebelah tangannya di perut ratanya.
"No! Kau sangat cantik dan terlalu cantik untuk dinikmati oleh orang lain, darling." Jawab Andre seraya meletakkan kedua tangannya di pundak istrinya.
"Hah? Jadi gimana?" tanya Rumanah dengan tampang heran.
"Tidak gimana-gimana, kau hanya tidak boleh menebar pesona pada siapa pun selain diriku!" jawab Andre penuh penegasan.
Rumanah tersenyum kecil dan menangkupkan tangannya pada wajah tampan suaminya. "Kau seperti tidak tahu bagaimana aku, hubby." ucapnya dengan lembut.
"Yes, i know. Kau selalu diam dan menjaga pandanganmu dari pria lain. Tapi, pria-pria jelek di luaran sana yang selalu memperhatikan kecantikan dirimu, darling. Aku sungguh tidak rela," cicit Andre dengan ekspresi cemas.
Rumanah tersenyum manis. "Tidak usah khawatir, mereka memperhatikanku karena kebingungan dengan hubungan kita, sayang. Mungkin saja mereka sangat heran dan bertanya-tanya, sebenarnya pria di sampingnya itu siapa? Suaminya kah? Kekasihnya kah? Kakaknya kah? Atau Ayahnya? Seperti itu mungkin yang mereka pikirkan setiap kali melihat aku jalan bersamamu, hubby." ujarnya panjang kali lebar kali tinggi.
Andre tampak memelototkan kedua matanya dan menatap sangar pada istrinya yang usil itu. "Sialan! Memangnya wajahku sudah sangat terlihat tua?" sungutnya.
Rumanah terkekeh kecil dan menggeleng dengan cepat. "He he he, tentu saja tidak, hubby. Kau tidak tua, hanya setengah tua. Ha ha ha!" ucapnya yang kini tampak tertawa renyah.
"Ck, sialan! Senang sekali kau mengataiku seperti itu! Begini-begini juga, aku masih kuat bertempur sampai dua puluh empat jam bersamamu di atas ranjang!" decak Andre yang tampak kesal dan menekan setiap ucapannya.
Rumanah tak bisa berhenti tertawa dibuatnya. "Ha ha ha, iya benar sekali. Astaga, aku sampai lupa." ucapnya yang tak mau memperpanjang kekesalan suaminya.
"Jangan bangga kau dengan kemudaanmu, Annabelle! Nyatanya, kau yang masih sangat muda pun tertarik pada pria yang kau katai setengah tua! Ck, dasar menyebalkan!" kembali Andre menggerutu kesal dan mengomeli istri cantiknya itu.
"He he he, iya iya, hubby. Maafkan aku, aku hanya bercanda. Karena, semakin tua seorang pria, ia akan terlihat semakin seksi! Ha ha ha!" ucap Rumanah yang tampak masih tertawa ngakak.
Andre tersenyum sinis dan memutar bola matanya malas. "Tertawalah sampai kau ngompol di celana, darling." ucapnya seraya melepaskan tangannya dan kembali mengenakan pakaiannya.
"Ha ha ha, lah kok kesal. Sudah ah, aku gak mau dapat hukuman lagi. Sudah hampir remuk ini badan." Ucap Rumanah yang juga mulai kembali menghias dirinya.
Andre tak menanggapi, pria tampan itu kini sedang sibuk menghubungi pemake up pribadinya. Tentu saja ia harus terlihat rapi dan tampan di acara pernikahan mantan sekretarisnya itu.
****
Rumanah, Andre dan Sandrina berjalan bersamaan menuju hotel yang dipakai oleh Meliza untuk melaksanakan pernikahannya. Ketiga orang itu tampak terlihat ceria dan bahagia.
Andre dan Rumanah menggandeng tangan putri mereka. Sementara Leo, sang asisten pribadi mengikuti dari belakang.
"Aunty Meliza pasti sangat cantik," ucap si cantik Sandrina.
"Ya, sayang. Cantik seperti Bunda," jawab Rumanah penuh percaya diri.
Sandrina tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bunda memang sangat cantik." ucapnya.
"Tentu tidak, Belle. Menurutku lebih cantik dirimu daripada Meliza. Kau tidak ada tandingannya di dunia ini," sela Andre menimpali.
Rumanah tersenyum kecil dan tampak malu-malu mendengar pujian bersifat gombalan dari suaminya itu.
"Ehem, si bos gombal juga dengan yang muda. Dulu saat dengan Luna, sepertinya tidak seperti ini." ucap Leo dalam hati.
"Kamu terlalu berlebihan, hubby. Tentu saja Mbak Meliza lebih cantik dari saya." Sanggah Rumanah yang tampak terlihat kikuk.
"Tidak, darling. Aku berkata jujur, kau memang yang paling cantik sedunia." Sangkal Andre seraya menatap penuh cinta pada istrinya.
Rumanah tersenyum kecil.
"Sorry, Tuan. Menurut saya, masih cantik istri saya. Hmmmm, saya juga berpikir seperti Anda, Tuan. Hanya istri saya yang paling cantik di dunia ini," protes Leo di dalam hati.
__ADS_1
"Sudah ah jangan terlalu banyak dan sering memujiku, nanti aku bisa sombong." Ujar Rumanah penuh penegasan.
Andre tersenyum serta melirikkan matanya pada Leo yang berekspresi datar.
***
Meliza mencium tangan suaminya, satu persatu acara telah dilaksanakan. Dan kini, Meliza telah sah menjadi istri dari seorang pria tampan berasal dari Prancis.
"Ya Tuhan, aku merinding sekali melihatnya. Mbak Meliza begitu terlihat bahagia dan sumringah juga senyumannya begitu berseri-seri." Rumanah berucap seraya meletakkan tangannya di dadanya.
Andre tersenyum serta mengangguk. "Setiap pengantin baru pasti seperti itu, darling. Mereka bagaikan masuk ke dalam dunia kebahagiaan yang sesungguhnya. Tak lepas dari senyum dan harapan-harapan kebahagiaan yang mereka inginkan." balas Andre seraya menatap Meliza dan suaminya yang sudah naik ke atas pelaminan.
Rumanah menolehkan wajahnya dan tersenyum nanar. "Itu mereka, bahkan mungkin dengan Anda dulu. Tapi bagaimana dengan saya? Tentu saja tidak seperti yang dirasakan oleh Mbak Meliza saat ini." Ucapnya penuh sindiran dan penekanan.
Andre tampak sedikit terlonjak. Tentu saja ia tersinggung dengan ucapan istri cantiknya itu. Ya, mereka memang menikah sirri tanpa dihadiri oleh keluarga dan orang-orang yang berpengaruh bagi mereka. Dan tentunya saat itu Rumanah melakukannya karena desakan dan paksaan. Pantaskah Rumanah bahagia saat itu? Tentu saja tidak. Ia bahkan selalu bingung dan ketakutan setelah sah menjadi istri rahasia Andre Wijaya Rakadewa.
"Benar yang kau katakan, darling. Kau mungkin tidak sebahagia Meliza saat menikah denganku. Tapi, aku berjanji, sebentar lagi kau akan merasakan apa yang dirasakan oleh pengantin baru." Ucap Andre dalam hati.
Rumanah menatap sembari tersenyum pada Meliza yang sedang duduk berdua di pelaminan bersama suaminya. Senyuman kebahagiaan itu tak henti-hentinya merekah di wajah cantiknya.
"Darling," panggil Andre seraya menangkap tangan mungil istrinya dan menggenggamnya erat.
"Ya," jawab Rumanah seraya menolehkan wajahnya pada suaminya.
"Maafkan aku. Kau pasti kecewa dengan ini semua. Tapi, aku berjanji akan membuatmu tersenyum bahagia seperti Meliza saat ini. Sebentar lagi aku akan menemui kedua orang tuamu, dan setelah itu kita akan melaksanakan pernikahan seperti yang Meliza lakukan. Kau tidak usah khawatir, semua orang akan menyaksikan sumpah janji suciku kepadamu dan kepada Tuhan." Ucap Andre yang tampak menatap serius pada istri cantiknya itu.
Rumanah tersenyum hangat serta mengangguk. "No problem, hubby. Yang lalu biarlah berlalu. Aku rasa, tidak melakukan itu pun tidak apa-apa. Aku sudah sangat merasa bahagia bersamamu, bersama princess." Ucapnya seraya mengusap lembut wajah tampan suaminya.
Andre tersenyum hangat. "Tetap saja, kita harus menikah lagi, darling. Aku ingin menunjukkan perasaanku padamu di hadapan kedua orang tuaku dan kedua orang tuamu. Kau pasti akan merasakan apa yang saat ini Meliza rasakan," ucapnya dalam hati.
"Hei, kalian ini. Gak di rumah gak di tempat umum, selalu saja bermesraan. Seolah tidak mengerti pada nasib kaum jomblowers seperti aku ini. Ck!" semprot Ferhat yang baru saja menghampiri Andre dengan Rumanah.
Andre dan Rumanah tampak tersenyum usil dan menatap geli pada Ferhat si jomblo bahagia.
Ferhat tampak memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Astaga, malah disengaja." desisnya. "Ya, memang benar katamu, Bang. Kalian sudah sah dan tidak akan ada yang memarahi. Tapi, tetap saja kalian berdosa karena sudah membuat kami para jomblowers menginginkan hal itu. Astaga!" lanjutnya yang tampak mengomel.
"Ah sudahlah, Ferfer. Percuma saja kamu protes seperti itu. Hal itu tidak akan membuat Bang Andre luluh padamu. Jalan terbaiknya saat ini adalah ... kau harus segera mencari pasangan abadi!" sela Rumanah menimpali.
"Hah?" Ferhat sedikit terperangah.
"Iya, Uncle kapan punya pasangan seperti Daddy? Uncle sudah tua dan sudah cocok memiliki pasangan." Si Cantik Sandrina ikut menimpali.
Ferhat tampak membulatkan kedua bola matanya penuh saat mendengar ucapan gadis kecil keponakannya itu. Sementara Andre dan Rumanah tampak tersenyum usil.
"Tuh, dengar kata princess. Kau sudah tua, Fer. Cepat cari seorang cewek yang mau nikah sama loe!" desak Andre.
Ferhat mendelikan matanya tak peduli. "Cewek cantik tidak mesti dicari, Bang. Mereka semua mengantre ingin menjadi istriku. Astaga!" desisnya.
"Jika begitu, cepat kau pilih satu cewek dan menikahlah." Rumanah menimpali.
Ferhat terdiam sejenak. Dipandanginya wajah cantik milik Meliza. "Dia benar-benar cantik dan dewasa. Smart dan begitu bijak. Aku suka wanita seperti dia. Tapi sayang, sekarang dia benar-benar sudah menjadi milik pria di sampingnya itu." ucapnya dalam hati.
Rumanah dan Andre saling lirik-lirikan satu sama lain. Mereka mengerti apa yang ada dalam hati Ferhat.
"Ehem, sudahlah, Fer. Sebaiknya kau move on. Jangan berlarut-larut dalam satu perasaan. Segeralah buka lagi hatimu untuk wanita lain." Ucap Andre penuh kebijakan.
Ferhat menolehkan wajahnya dan tersenyum getir. "Kau benar, Bang. Tapi, belum ada wanita yang mampu membuatku jatuh cinta. Walau, pada kenyataannya istrimu ini hampir saja membuatku jatuh cinta padanya." Ungkapnya yang berhasil membuat Andre dan Rumanah tampak tersentak kaget.
"Apaaa?" keduanya tampak membulatkan kedua bola mata penuh.
"Peace, aku hanya berkata jujur. Tapi, setelah kutahu jika kalian sudah menikah. Maka saat itu juga aku hilangkan perasaan itu dari diriku." Ucap Ferhat memgakui apa yang terjadi.
"Dasar kau bedebah! Untung saja istriku sering kuperingatkan untuk tidak terlalu dekat denganmu! Sialan kau!" sungut Andre yang tampak memarahi mantan adik iparnya itu.
__ADS_1
"Ha ha, santai saja. Sekarang aku tidak berminat padanya." Ferhat bicara dengan santai.
"Tentu saja, aku jika tidak akan tertarik pada siapa pun selain suamiku ini!" ucap Rumanah penuh penekanan.
Andre tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Apakah kau berjanji?" desaknya.
Rumanah mengangguk. "I'm promise!" jawabnya tanpa ragu.
Andre tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya. "I love you so much!" ucapnya.
"I love you too!" jawab Rumanah dengan senyuman manisnya.
Ferhat memutar bola matanya dan membuang wajahnya ke udara. Pura-pura tidak melihat kemesraan dua sejoli di hadapannya itu.
"Uncle, bersabarlah. Ini hanya cobaan." Si cantik Sandrina kembali nyeletuk nyeleneh.
"Ah, iya sayang. Tentu saja Uncle akan bersabar sampai Uncle mendapatkan seorang wanita cantik yang akan menjadi Aunty untuk princess," ucap Ferhat seraya mencubit gemas hidung mancung keponakannya itu.
"Good!" jawab Sandrina seraya mengacungkan jempolnya.
Ferhat tersenyum, sementara Andre dan Rumanah tampak tertawa kecil melihat ekspresi jomblowers itu.
"Ya sudah, sebaiknya kita temui pengantin baru yang sedang berbahagia. Mumpung mereka sedang bersantai tuh." Rumanah mengajak Andre dan Ferhat untuk menemui Meliza dengan suaminya.
"Ayo. Tapi, hadiahnya mana ya?" jawab Andre yang tampak teringat dengan hadiah.
"Mungkin masih di mobil, hubby." Jawab Rumanah.
"Astaga! Si Leo ke mana perginya?" desis Andre seraya mengedarkan pandangannya mencari asisten pribadinya itu.
"Dia sedang ke kamar mandi, Dad." Ucap Sandrina memberitahu.
"Biar aku yang mengambilnya. Oh ya, kalian memberi hadiah apa untuk Meliza?" tanya Ferhat penasaran.
"Kami memberi hadiah kecil berupa mobil BMW terbaru, Fer. Dan hadiah lainnya kami berikan juga untuknya dengan suaminya." Andre menjawab sembari menunjukkan sebuah kunci mobil yang akan ia berikan pada Meliza.
"Whaaat???" Ferhat benar-benar terkejut mendengar hadiah yang Andre berikan pada Meliza. Mobil BMW keluaran terbaru, guys. Siapa yang tidak mau?
"Biasa saja, Fer. Pengorbanan dan perjuangannya membantuku tidak sebanding dengan hadiah yang aku berikan padanya," ucap Andre dengan entengnya.
Glek!
Ferhat tampak menelan ludahnya kasar. Tentu saja dia pun ingin menadapat hadiah spesial saat ia menikah nanti.
"Ya sudah, cepat kau ambil hadiah kecil di dalam mobil!" perintah Andre.
"Oke!" jawab Ferhat yang kemudian melangkahkan kakinya hendak mengambil hadiah di dalam mobil.
Pria tampan itu berjalan cepat menuju mobil Lamborghini Aventador milik Andre. Manik matanya terkadang melirik sana sini mencari wanita cantik. Namun, tetap saja tidak ada yang nyantol di hatinya.
"Gile, hadiahnya saja berupa mobil BMW keluaran terbaru. Hmmm, aku juga ingin hadiah spesial dari Bang Andre saat aku menikah nanti. Huhuy!" cerocos Ferhat saat ia telah mengambil hadiah di dalam mobil Andre.
Setelah didapat, ia pun kembali melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Hingga dirinya tak sengaja menabrak seorang wanita yang sepertinya sedang mengawal tamu undangan.
Brugh!
"Auwh!" wanita itu meringis kecil tanpa sakit.
"Eh, sorry-sorry. Aku tidak sengaja." Ferhat berkata dengan raut wajah merasa bersalah.
Wanita itu menatapnya lembut dan tersenyum manis. "No problem, boy." ucapnya santai dan seolah tidak terjadi apa-apa. Lembut dan baik sekali. Ia membungkuk kecil lalu pergi meninggalkan Ferhat yang mematung di tempat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1