Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Princess yang pintar


__ADS_3

Andre menatap serius pada putri kecilnya. Sejujurnya ia masih bingung harus memulainya dari mana. Di samping kebenciannya pada sang mantan istri, sesungguhnya tersimpan kekhawatiran di dalam hatinya. Ya, tentunya kekhawatiran pada sang putri kecilnya saat nanti tahu jika Mommy nya berada di penjara karena telah membunuh calon adiknya. Apa yang akan gadis kecil itu pikirkan tentang Mommy nya? Sangat tidak sedikit kemungkinan jika gadis kecil itu menjudge jika Mommy nya adalah seorang pembunuh dan narapidana.


Tentu saja berbagai macam pertimbangan masih Andre pikirkan matang-matang. Tentang bagaimana tanggapan putrinya tentang Mommy nya. Tentang kakhawatirannya pada sang putri yang mungkin saja akan merasa malu dan trauma. Ya, bisa saja princess Sandrina merasa malu pada dunia karena Mommy nya berada di penjara karena telah berusaha membunuh Bunda nya dan tak sengaja telah membuat janin yang tidak bersalah itu yang terbunuh.


"Hubby," panggil Rumanah dengan sangat lembut.


Andre menoleh, "Ya," jawabnya sembari mengerjapkan mata.


"Are you oke?" tanya Rumanah sembari menyentuh punggung tangan suami tampannya itu.


Andre mengangguk kecil dan tersenyum manis, "Ya, darling. It's oke," jawabnya sangat pelan.


Mami Purwati, Papi Dargono, Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam tampak saling beradu pandang dan menatap datar pada Andre yang masih diam. Ya, tentu saja mereka mengerti dengan kekhawatiran Andre saat ini.


"Jika masih bingung dan berat, sebaiknya kalian pikirkan saja dulu matang-matang. Karena ini bukanlah hal yang sepele. Kalian harus memikirkan sampai jangka panjang," ucap Papi Dargono penuh kebijakan.


Andre tampak menarik napasnya dalam dan membuangnya berat. Mengusap wajahnya kasar dan mengubah posisi duduknya agar lebih relax.


"Benar, kalian harus memikirkannya matang-matang. Ini pasti sangat berisiko," timpal Maae Lilis mendukung Papi Dargono.


Mami Purwati dan Phoo Boon-Nam pun ikut manggut-manggut tanda setuju dengan ucapan Papi Dargono.


"Memangnya ada apa, sih? Kenapa seperti tegang begini? Apakah Mommy sudah meninggal?" celetuk gadis kecil itu yang berhasil membuat Rumanah, Andre, Phoo Boon-Nam, Maae Lilis, Mami Purwati dan Papi Dargono tampak terbelalak kaget.


"Astaga, kenapa princess bicara seperti itu?" ucap Rumanah sembari menatap intens pada putri kecilnya.


Sandrina tampak santai dan terlihat tidak begitu penasaran.


"Lihat, princess saja sampai mengira Mommy nya meninggal karena kau terlihat bingung, Ndre," ucap Mami Purwati sembari mengusap lembut puncak kepala cucu satu-satunya itu.


"Hehehe, iya, Mam. Mau bagaimana lagi? Andre memang bingung bagaimana cara bicaranya pada princess," jawab Andre disertai cengengesnya.


Mami Purwati tampak tersenyum kecil dan membuang napasnya perlahan, "Pelan dan halus saja, ya. Putrimu adalah anak yang baik dan pintar, dia pasti akan mengerti jika kita menjelaskannya dengan perlahan dan lembut," ujarnya memberi saran.


"Benar kata Mami, hubby. Aku akan membantumu menjelaskan pada princess. Tenang saja, aku juga tidak ingin membuat princess semakin membenci Mommy nya," timpal Rumanah mendukung Mami mertuanya.


Andre tersenyum lantas mengangguk. Sejurus kemudian, ia pun menatap hangat wajah cantik putri kecilnya itu.


"Katakan saja, Dad. Princess akan mendengarkan semua yang Daddy katakan," ucap Sandrina dengan tatapan tenangnya.


Andre mengangguk kecil dan tersenyum hangat pada putrinya. Ia begitu terharu senang mendengar ucapan putri kecilnya yang berusaha mengerti.


"Princess memang anak yang pintar," puji Maae Lilis sembari tersenyum.


Walaupun princess Sandrina bukan cucu kandung dari putri tunggalnya, tetapi Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam sangat mencintai dan menyayangi gadis kecil itu. Bukan karena sebab mereka menyayangi gadis kecil yang kini sudah menjadi bagian hidup mereka. Walaupun Mommy kandungnya begitu jahat dan licik, Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam berharap suatu saat nanti, Rumanah mampu mendidik princess menjadi anak yang baik. Ya, tentunya tidak seperti Luna yang jahat dan licik.


"Ya sudah, kalau begitu Daddy akan mengatakannya sekarang juga pada princess. Princess dengarkan baik-baik apa yang Daddy katakan, ya!" ucap Andre pada putrinya.


"Baik, Dadd!" jawab Sandrina yang tampak serius.


Andre tersenyum lalu menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Sementara Rumanah tampak menatap hangat pada suaminya.


"Princess tahu tidak, kenapa Mommy tidak pernah mengunjungi princess lagi akhir-akhir ini?" tanya Andre secara perlahan.


Sandrina terdiam sejenak dan memutar kedua bola matanya ke atas berpikir keras, "Tidak tahu, Dad," jawabnya singkat.


Andre tersenyum kecil lalu menatap serius wajah cantik putrinya, "Itu karena ... emh, sebelum Daddy katakan ini, sekarang princess janji dulu ya pada Daddy. Princess janji tidak akan berpikir macam-macam dan akan tetap mendengar semua penjelasan dari Daddy dan juga dari Bunda, oke!?" ujarnya penuh penekanan.


Si cantik Sandrina tampak mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.


"Jadi, sebenarnya Mommy princess itu sekarang sedang berada di dalam penjara," ungkap Andre yang berhasil membuat Sandrina terbelalak kaget.


"Haaaah, dipenjara????" ucap Sandrina dengan mata membulatnya.

__ADS_1


Andre mengangguk kecil seraya menatap bingung pada putri cantiknya itu.


"Mommy dipenjara karena sedang menebus kesalahannya pada kalian. Jadi, memang sudah harus berada di dalam penjara, princess. Princess jangan berkecil hati, ya. Yang sedang Mommy alami saat ini, buah dari perbuatannya selama ini. Princess ingat tidak bagaimana Mommy memperlakukan princess? Tentunya princess juga tahu apa yang sudah Mommy lakukan selama ini pada Daddy dan juga Bundamu ini," ujar Mami Purwati panjang lebar. Ia berusaha menjelaskan secara halus agar cucunya dapat mengerti.


Sandrina tampak terdiam namun manggut-manggut seperti paham dengan semua yang Omma nya katakan padanya.


"Ya, princess sayang. Mommy princess pantas berada di dalam penjara karena perbuatan jahatnya pada kalian. Terlebih pada Bunda princess yang hampir saja ... emh, hampir saja tewas karena Mommy princess berusaha melukai Bunda," timpal Maae Lilis yang juga menjelaskan.


Lagi-lagi Sandrina tampak terkejut mendengar ucapan Neneknya. Tentu saja ia sangat tidak menyangka dengan apa yang telah dilakukan oleh Mommy nya. Tapi, ia juga tidak bisa menyangkal atau menyanggah. Dia juga tidak bisa tak percaya, tentunya karena dia sendiri pernah melihat bagaimana jahatnya Mommy nya pada Bunda nya.


"Princess pasti kaget ya mendengar ini semua. Tapi, tidak ada yang bicara bohong di sini, sayang. Kami semua bicara jujur dan sebenarnya bukan bermaksud membuat princess semakin membenci Mommy princess. Bunda harap, princess dapat mengerti, ya. Mommy juga melakukan itu semua karena dorongan dari setan jahat yang menggodanya. Jadi, princess janji untuk tidak semakin membenci Mommy, ya!" kata Rumanah yang juga menjelaskan pada putrinya.


Sandrina manggut-manggut tanda mengerti. Tentu saja anak kecil seumuran princess Sandrina sangat mudah diberi masukan atau dihasud sekalipun. Semoga saja gadis kecil itu benar-benar mengerti dengan keadaan saat ini.


"Oooh, jadi begitu, ya. Oke, princess mengerti. Princess janji tidak akan membenci Mommy sampai ke akar. Tapi, princess juga tahu kok kalau Mommy memang jahat. Princess juga tidak marah kalau Mommy dipenjara," ucap gadis kecil itu yang berhasil membuat keenam orang di sana melongo setengah tak percaya.


Andre tampak menatap intens pada putri kecilnya itu. Ia begitu tak menyangka jika ternyata putri kecilnya akan begitu mengerti dengan mudah semua yang terjadi padanya dan pada Mommy nya saat ini.


"Ya Tuhan, gadis ini benar-benar pintar sekali. Dia begitu mudah mengerti dan tidak banyak bertanya," ucap Mami Purwati di dalam hatinya.


"Princess tidak marah kah pada Daddy? Tidak benci karena sudah membuat Mommy berada di dalam penjara?" tanya Andre dengan tatapan seriusnya.


Sandrina mengangguk tanpa ragu, "Tentu saja tidak, Dad! Mommy 'kan memang jahat. Jadi, Mommy boleh dipenjara karena perbuatan jahatnya. Seperti si Else yang ada di sinetron Ikatan Sayang. Hehehe," ia menjawab dengan menyamakan kejadian di dalam sebuah sinetron yang pernah dia lihat.


Andre tampak menatap binar dan tersenyum lebar. Betapa bersyukurnya ia memiliki putri yang pintar dan bijak.


"Princess pintar sekali!" puji Rumanah sembari beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menghampiri putri kecilnya itu.


"Princess memang pintar seperti Bunda," balas Sandrina disertai senyuman manisnya.


Rumanah tersenyum sumringah lalu memeluk manja putri kecilnya itu, "Terima kasih, sayang," ucapnya kemudian mengecup manja puncak kepala putri kecilnya itu.


Sandrina mengangguk sembari tersenyum ceria. Sementara Andre tampak menitikan air mata karena ia begitu haru melihat putrinya yang begitu akur dan sayang pada istrinya yaitu Rumanah. Ia juga sangat terharu karena putri kecilnya itu sangat menginspirasi istrinya.


Maae Lilis, Phoo Boon-Nam, Mami Purwati dan Papi Dargono tampak menatap haru dan senang melihat senyuman yang tercipta di antara Andre, Rumanah dan Sandrina.


"Bunda, tapi princess boleh minta sesuatu tidak?" tanya Sandrina pada Bunda nya.


Rumanah mengerutkan dahinya dan tersenyum simpul, "Apa yang princess inginkan dari Bunda? Bunda sungguh akan memberikannya jika Bunda mampu," tanyanya dengan tatapan serius.


"Horeeeeee!" belum juga disanggupi, gadis kecil itu sudah bersorak kegirangan.


"Lah, kok langsung hore, princess? Memangnya, apa yang kau inginkan, sayang?" tanya Andre sembari menatap hangat putri kecilnya itu.


"Hehehe, soalnya princess yakin kalau Bunda bisa melakukannya," jawab si cantik Sandrina penuh percaya diri.


Rumanah tersenyum mendengar jawaban putri kecilnya itu, "Ya, memangnya apaan, sih? Bunda sangat penasaran sekali, lhoo!" tanyanya mendesak.


"Sini geh Bunda telinganya deketin," ucap gadis kecil itu sembari menatap serius.


Rumanah tersenyum geli namun mengangguk mengiyakan.


"Aduh-aduuuh, anak kecil ini pengennya bisik-bisik, ya." Phoo Boon-Nam menggoda cucunya.


Sandrina hanya nyengenges lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Bundanya. Lalu ia pun membisiki sesuatu ke telinga Bundanya itu. Tentu saja mereka yang ada di sana tidak dapat mendengar bisikan-bisikan si gadis kecil itu.


Sejurus kemudian, Rumanah tampak terkekeh kecil mendengar permintaan yang putrinya bisikkan pada telinganya.


"Ada apa, darling? Apa yang princess katakan?" tanya Andre penasaran.


Rumanah tersenyum kecil dan mengusap lembut puncak kepala putrinya, "Katakan, tidak?" tanyanya meminta persetujuan.


Sandrina mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Nah, ayo katakan!" desak Andre.


Rumanah tersenyum dan mengangguk, "Oke oke, jadi ... princess bilang, Bunda harus segera memberikan adik lucu untuk princess. Hihihi," jawabnya yang kemudian tertawa kecil.


"Oooooh adik lucuuuu, yaaaa!" ucap kelima orang itu secara bersamaan.


Sandrina dan Rumanah mengangguk.


"Tentu saja, sayang. Daddy akan berusaha keras membuat adik untuk princess!" ujar Andre penuh percaya diri.


"Yeeeeeaay!" Sandrina tampak bersorak kegirangan. Sementara Rumanah dan Andre tampak tersenyum manis dan bahagia.


,


,


,


Di dalam sel tahanan...


Luna tak henti-hentinya menangis meratapi nasibnya yang begitu buruk. Kini ia benar-benar menyesali semua perbuatannya pada Rumanah dan juga pada suami dengan anaknya.


Wanita itu tampak kusut dan berantakan, matanya membengkak dan menghitam. Tubuhnya pun banyak luka lebam karena sering dihajar dan disiksa oleh tahanan lainnya yang sudah lama menetap di sana.


"Sipir, sipiiiiir! Sudah kah kau menghubungi mantan suamiku? Aku ingin bertemu dengannya dan dengan istrinya." Luna tampak mengiba pada sipir yang menjaga di sana.


Sipir wanita itu menyunggingkan senyuman sinisnya, "Sudah kuhubungi, tapi mungkin mereka muak dan malas menemui Anda di sini," ucapnya.


Luna tampak terhenyak kaget dan begitu kesal pada sipir perempuan itu. Namun, ia tak bisa mencaci ataupun memarahi sipir itu. Ia begitu lemah saat ini.


Tak berselang lama...


"Tahanan bernama Luna, ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang sipir pada Luna yang sedang duduk di pojokan.


Secepat kilat Luna mendongakkan wajahnya dan langsung berdiri mendekati sipir, "Benarkah? Apakah itu mantan suami saya dan istrinya?" tanyanya penasaran.


"Keluar saja. Jangan banyak bertanya," jawab sipir itu dengan sinisnya.


Luna mengangguk tanpa bertanya apa pun. Ia pun melangkahkan kakinya mengikuti sipir.


"Princess jangan marah-marah pada Mommy, ya! Kalau Mommy ingin minta maaf, princess harus memaafkannya," ucap Rumanah pada putri sambungnya itu.


Sandrina mengangguk sembari tersenyum, "Oke, Bunda!" jawabnya.


"Sip, pintar anaknya Bunda," puji Rumanah sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya.


Tak berselang lama, Luna datang bersama sipir.


"Silakan, Bu Luna. Kami beri waktu dua puluh menit," ucap sipir mempersilakan Luna duduk di kursi.


Luna mengangguk, ia tampak menatap nanar pada putri kecilnya yang hanya menatap datar padanya. Sementara Andre dan Rumanah tampak bersikap acuh tak acuh padanya.


Suasana hening seketika, tentu saja Rumanah dan Andre tidak akan mulai bicara karena yang meminta bertemu bukan mereka, tapi Luna sendiri.


"Ya Tuhan, dadaku sesak sekali melihat mereka bertiga. Tidak! Bukan karena melihat kebersamaan mereka. Tapi, karena kebencian putriku pada diriku. Lihat, dia bahkan tidak menyapaku sama sekali," rintih Luna di dalam hati.


Waktu dua puluh menit yang sipir berikan kian menipis. Sepuluh menit sudah Luna berada di sana. Namun, sepuluh menit sudah ia hanya diam dan membuat Rumanah, Andre dengan Sandrina tampak terlihat mulai bosan.


"Bu Luna, kami hanya memberikan waktu dua puluh menit. Sekarang sudah sepuluh menit Anda berada di sini, sebaiknya cepat lakukan sesuatu agar tidak membuang-buang waktu," ujar sipir yang berhasil membuat Luna tersentak kaget dan membuyarkan lamunannya.


Luna pun mengangguk mengiyakan. Namun, tetap saja ia bingung harus bicara apa pada ketiga orang di hadapannya itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2