Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Hari check up


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Rumanah memakai baju santainya. Hari ini jadwal kontrolnya ke rumah sakit. Tentu saja ia akan diantar oleh sang majikan galak yaitu Andre. Sesuai jadwal yang dokter tentukan, pukul sembilan pagi ia sudah harus berada di rumah sakit. Itu artinya ia tidak bisa menemani princess belajar di sekolah.


"Hufffttt!!!" gadis desa itu membuang napas pelan. Mencoba merelax-kan sendi-sendinya. Menghadapi situasi yang sepertinya akan membuatnya tegang, gadis desa itu tampak sedikit gugup.


"Semoga jariku cepat kering dan sembuh. Aku sudah tidak tahan dengan balutan perban dan kain kasa ini. Semoga saja dokter menyarankanku untuk cepat melepas jahitan ini. Tapi ... aku kan baru beberapa hari pasca operasi. Hmmm, sudahlah! Dengarkan dan terima apa kata dokter saja!" celoteh gadis desa itu seraya menyisir rambutnya yang panjang dan hitam lebat.


Ya, hari ini pas ke tiga harinya setelah Rumanah pulang dari rumah sakit. Tentu saja pasca melakukan operasi pada jari manis sebelah kirinya. Sesuai perintah dokter yang menanganinya, gadis desa itu harus check up ke rumah sakit setelah tiga hari berada di rumah. Tepat pada hari ini, gadis desa itu akan diantar oleh majikan galaknya yaitu Andre.


"Princess, maafkan dewi peri, karena hari ini dewi peri check up ke rumah sakit. Emh, itu artinya dewi peri tidak bisa menemani princess di sekolah. Bagaimana? Apakah princess tidak keberatan?" ucap Rumanah pada asuhannya saat sedang menyantap sarapan pagi.


Princess Sandrina menghentikan kunyahannya. Seketika matanya berputar dan ekspresinya datar. "Dewi peri mau diperiksa oleh dokter, ya?" tanya gadis kecil itu.


Rumanah mengangguk serta tersenyum hangat. "Ya, sayang. Dewi peri akan diperiksa oleh dokter. Mudah-mudahan luka di jari manis dewi peri bisa cepat sembuh dan jahitannya bisa cepat dilepas." jawab gadis desa itu.


"Ooooh, gitu ya!" ucap Sandrina seraya manggut-manggut tanda mengerti. "Kalau gitu ... princess sama Uncle Fer aja!" lanjut gadis kecil itu seraya melirikkan matanya pada Ferhat yang sedang mengunyah makanan.


"Tentu saja, sayang. Selama dewi perimu dalam kesulitan, Uncle Fer akan berusaha membantunya. Princess tenang saja, oke!" ujar Ferhat yang tampak semangat.


Sandrina mengangguk serta tersenyum.


"Oh ya, dewi peri berangkat bersama Daddy, ya?" tanya Sandrina.


"Ya, sayang. Tapi mungkin Daddy akan mengantarkan princess terlebih dahulu," jawab Rumanah.


"Emh, tidak perlu, Rumrum. Princess biar berangkat denganku saja!" sela Ferhat.


"Ya, princess tidak apa-apa berangkat dengan Uncle Fer. Daddy biar menemani dewi peri periksa ke dokter," timpal gadis kecil itu. Orang yang sedang dibahas memang sedang tidak ada di sana. Seperti biasa duda tampan itu akan kembali ke kamar setelah ia menyantap secangkir kopi dan sepotong sandwich.


Rumanah mengangguk kecil serta tersenyum. Gadis desa itu lantas mengusap lembut puncak kepala asuhannya itu.

__ADS_1


"Permisi, Rumahan." Deni yang tak lain pelayan pribadi Andre menghampiri Rumanah dengan panggilan yang membuat Rumanah jengkel.


"Rumanaaaaah! Bukan Rumahan!" protes Rumanah terima.


"Ha ha ha ha, Rumahan. Loe kira muka dia kayak rumah-rumahan kelumang! Ha ha," Ferhat tertawa terbahak-bahak.


"He he he, iya Tuan. Saya kira dia rumah-rumahan buat mainan," jawab Deni disertai cengenges tanpa dosa.


"Gila loe!" umpat Rumanah.


Deni tersenyum usil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Anu, Tuan besar memintamu agar mengantarkan segelas air hangat untuknya." ucap pria itu sedikit gugup.


Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh. "Haaaahhh???" gadis desa itu sedikit tercengang.


"Ya, katanya jangan lama-lama." Deni mendesak.


"Duh! Kamu saja sii, aku kan—" Rumanah belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Ferhat menyelanya.


Tapi, bagaimana dengan Rumanah? Tentu saja ia sedikit merasa tegang dan ketar-ketir. Ia sudah menduga jika majikan galaknya itu akan...


Hmm, pastinya kalian semua sudah tahu. Hi hi hi hi,


"Nah, jadi sekarang cepat kau bawakan segelas air hangat untuk Tuan Andre," timpal Deni.


"Pergilah, dewi peri. Sekalian katakan padanya jika princess akan berangkat bersama Uncle Fer," sambung Sandrina.


Rumanah mematung dengan raut wajah yang tegang. Kenapa semua orang mendukungnya untuk bertemu dengan majikan galaknya itu? Astaga, ini benar-benar menegangkan!


"Ba... baiklah, princess. Kalau gitu dewi peri mengantarkan air hangat dulu, ya!" ucap Rumanah yang akhirnya pasrah.


Sandrina mengangguk mengiyakan. Tanpa membuang-buang waktu lagi Rumanah pun menyambar segelas air hangat yang telah Deni siapkan.

__ADS_1


"Huuffffftt, entah apa yang ada di dalam pikiran majikan galak itu!" ucap Rumanah dalam hati. Gadis desa itu kini sudah berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam lift yang ada di lantai dua.


Selama berada di dalam lift, gadis desa itu tiada henti berdoa dalam hati. Berharap majikan galaknya tidak melakukan apa-apa padanya. Tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karena, tidak bisa ia pungkiri jika dirinya bukanlah wanita yang munafik dan mampu menahan hasratnya ketika ia berhadapan dengan majikan galaknya itu. Maka hal itu lah yang membuatnya selalu merasa takut jika harus bertemu secara langsung dan hanya berdua bersama majikan galaknya itu.


"Duh, kenapa aku berkeringat begini, ya? Ya Tuhan, lihat wajahku. Kenapa tegang sekali," celoteh gadis desa itu dalam hati.


Diam-diam gadis desa itu memperhatikan wajah dan penampilannya. Ia menatap bayangan dirinya pada pantulan dinding lift.


"Uumh, badanku bau gak ya?" gumam gadis desa itu seraya mengendus-enduskan indera penciumannya pada tubuhnya.


"Aman, sepertinya wangi dan segar," ucapnya lagi. "Tunggu-tunggu! Tapi kenapa aku begitu memperhatikan penampilan dan aroma tubuhku? Astaga, ada-ada saja kau ini, Rumanah!" cicit gadis desa itu.


Tring!


Pintu lift terbuka. Gadis desa itu menyibakkan rambut panjangnya yang sengaja ia urai begitu saja. Tak membuang waktu lagi ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar yang tiada kamar lagi selain kamar majikan galaknya.


Ting tooooong!


Gadis desa itu menekan tombol bell. Sudah tidak kaku dan bodoh lagi ia dengan keadaan di rumah mewah itu.


Srrreeeeettttt!


Seperti biasa pintu akan terbuka dengan sendirinya. Dan, pada saat itu juga sang pemilik kamar menyerukan suaranya.


"Masuk!" perintah yang tak dapat dibantah.


Rumanah menarik napas lantas membuangnya perlahan. Tanpa pikir panjang ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang sudah beberapa kali ia singgahi itu.


Di dalam, Andre tampak sedang berdiri di depan jendela. Wajahnya yang tampan tak terlihat kala itu. Sebab, ia sedang membelakangi gadis desa yang baru saja datang.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2