
Rumanah menghempaskan bobot tubuhnya kembali. Setelah kepergian sang suami dari kamarnya, wanita cantik itu tampak terdiam membisu dan merasa gelisah galau merana.
Ya, ucapan Andre membuatnya tidak enak hati dan tidak enak pikiran. Semua kata yang terucap dari mulut Andre berkali-kali terngiang di kepalanya. Dan tentu saja hal itu membuatnya gelisah dan tak tenang. Apalagi sikap dan raut wajah Andre benar-benar terlihat sedang marah padanya.
Apakah Andre tersinggung? Atau mungkin kecewa pada sikap Rumanah yang terkesan membangkang perintahnya? Entahlah, yang jelas saat ini Rumanah benar-benar sedang galau dan merasa menyesal karena tidak segera menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya tidaklah rumit.
Mungkin saja, jika tadi Rumanah segera menghentikan Andre untuk tidak pergi dari kamarnya, dan dia bergegas menjelaskan apa yang ia inginkan, sudah pasti permasalahan mereka tidak akan sampai sejauh ini. Dan sekarang, Rumanah sedang diterpa gelisah, resah, cemas dan tak tenang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh tidak mau membuatnya marah. Aku gak mau dicuekin sama dia. Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini. Rasanya, aku tidak akan bisa tidur sebelum mendapatkan ciuman manis dan pelukan hangat darinya." Rumanah bicara sendiri sembari menatap kosong pada langit-langit kamarnya.
Untuk beberapa saat ia bermonolog dengan hati dan pikirannya. Apakah ucapannya tadi sangatlah salah di telinga Andre? Padahal, Rumanah hanya ingin sedikit saja diberi kesempatan untuk memiliki teman walau itu seorang lelaki. Nyatanya, Ferhat lah yang selama ini berhasil membuatnya bertahan di rumah itu. Selebihnya adalah karena ia sayang pada princess yang semula adalah asuhannya.
"Sebaiknya aku minta maaf saja padanya. Tapi, aku tidak mungkin naik ke lantai lima. Mungkin, mengirim pesan adalah cara yang terbaik," ucap Rumanah yang kemudian meraih gawainya lalu mulai mencari kontak yang bernama 'Suami Tampanku'.
// Tuan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Anda marah. Saya menyesal karena telah mengecewakan Anda. Saya harap, Anda bisa memaafkan saya, Tuan.
Pesan terkirim. Rumanah membuang napasnya lega. Karena, kemungkinan Andre masih terjaga dan akan membalas pesannya. Sebab, centang dua terpampang nyata di pesan yang telah ia kirimkan pada suaminya.
"Hmmm, terkirim. Sepertinya dia belum tidur. Cepatlah baca pesannya, Tuan." Rumanah tampak harap-harap cemas. Ia sangat tidak sabar menunggu balasan dari suaminya. Namun, centang dua masih berwarna kelabu.
Sekian detik kemudian, Rumanah yang semula terpejam, kini kembali membuka matanya. Melirikkan manik matanya pada layar ponselnya. Seketika ia bersorak ria saat dua centang berwarna biru, yang artinya pesannya sudah dibaca oleh suaminya.
"Yes, dia sudah membacanya. Tapi, kenapa tidak membalas pesanku?" ucap Rumanah yang tampak terlihat murung saat sang suami tidak membalas pesannya.
"Mungkin aku harus menunggu beberapa saat," gumam Rumanah yang kemudian memejamkan matanya.
Tiga detik kemudian, Rumanah membuka mata, menatap layar ponselnya yang masih tetap sama. Belum ada balasan dari sang suami. Hal itu membuatnya semakin gelisah dan merana.
"Kenapa dia tidak membalas pesanku? Apakah dia benar-benar marah padaku? Astaga, aku benar-benar tidak bisa tidur jika seperti ini caranya," cerocos Rumanah yang tampak beringsut bangun dan berekspresi cemas. Sungguh ia tidak tenang malam ini.
Ada yang mengganjal di malam yang kelam, biasanya ia akan dicium manja serta dipeluk hangat oleh suaminya ketika hendak tidur. Namun malam ini, hal itu sungguh sangat ia rindukan. Sepertinya, wanita cantik itu memang sudah terbiasa dengan suaminya. Maka wajar-wajar saja jika ia tidak dapat terpejam dengan tenang sebelum sang suami mencium dan memeluknya.
"Aku benar-benar bisa gila jika seperti ini caranya. Kenapa aku mendadak tidak bisa tidur? Padahal, tadi aku sempat ketiduran. Ya, walaupun hanya tidur-tidur ayam. Dan sekarang, aku malah sangat merindukan suamiku. Astaga, sepertinya aku harus naik ke atas saat ini juga!" ucap Rumanah seraya beringsut turun dari ranjangnya dan tanpa pikir panjang ia pun bergegas keluar dari kamarnya itu.
Dengan pelan ia menaiki anak tangga penghubung ke lantai tiga. Di sanalah lift menuju lantai lima berada. Tak lupa ia menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Ke depan dan ke belakang, mengamati setiap sudut di lantai itu.
"Sepertinya aman. Tidak ada orang di sini. Huft, keputusanku sudah bulat. Aku harus menemui suamiku di kamarnya," ucap Rumanah dalam hati.
Tak membuang waktu lagi, Rumanah pun menekan tombol di samping pintu lift. Dan tak menoleh ke kanan kiri, ia pun bergegas masuk ke dalam lift tersebut. Namun sayang, tanpa Rumanah sadari, seorang pria tampan sedang menatap heran dan penuh tanda tanya saat melihat wanita cantik itu masuk ke dalam lift.
"Rumanah, mau apa dia naik lift?" ucap Ferhat seraya melangkahkan kakinya mendekati lift. Ya, Ferhat baru saja naik dari mengambil minuman. Dan tak sengaja ia melihat sosok wanita cantik masuk ke dalam lift.
"Apa yang akan dia lakukan? Lantai empat dan lima? Mau ke lantai mana wanita itu? Astaga, aku jadi semakin curiga. Jangan-jangan...," ucap Ferhat yang tampak bermonolog dengan hati dan pikirannya sendiri. Seketika kecurigaannya kembali muncul saat itu juga.
•
•
Andre menghempaskan bobot tubuhnya pada ranjang. Entah mengapa ia sangat merasa kecewa pada istrinya. Ya, ucapan sang istri benar-benar membuatnya merasa ragu. Ragu akan perasaan Rumanah padanya. Pria tampan itu tampak menyimpulkan jika sang istri ingin terbebas dari dirinya.
__ADS_1
"Untuk apa dia bicara seperti itu jika pada akhirnya menyesali ucapannya sendiri? Haruskah aku membiarkannya terbebas dariku? Atau mungkin, aku harus bertanya padanya tentang perasaannya padaku. Mungkin saja, ia hanya terpaksa dan tidak tulus mencintaiku juga putriku. Dan, jika itu terjadi, aku sungguh tidak bisa membiarkannya terus-terusan bersamaku," ucap Andre pada dirinya sendiri.
Seusai membaca pesan dari sang istri, pria tampan itu tampak semakin bingung. Sebenarnya, apa yang istrinya inginkan? Sementara saat ini ia masih merasa kesal dan kecwa, maka hal itu pun yang membuatnya malas menggerakkan jari jemarinya hanya untuk membalas pesan dari istri cantiknya.
"Aku butuh udara segar, sepertinya menatap bulan dan bintang adalah cara yang tepat untuk menghilangkan kekesalanku," ucap Andre seraya turun dari ranjangnya lalu mendekati jendela. Ia buka jendela di jadapannya, berdiri tegak di depan jendela yang terbuka. Menghirup udara segar yang menembus hingga ke tulang belulangnya.
Ting tong!
Terdengar bell berbunyi. Tentu saja hal itu membuat Andre sedikit terjingkat kaget dan mengerutkan dahinya. Siapa yang datang malam-malam begini? Ia tidak meminta siapa pun untuk datang ke kamarnya. Namun, pertanyaan di dalam hatinya seketika terjawab saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan sendirinya.
Ssrrreeeeeettttt!
Pintu canggih itu terbuka. Rumanah masuk secara perlahan. Wajahnya ia tundukkan, rasanya tak mampu ia menatap wajah tampan suaminya yang sedang marah dan kecewa padanya.
Pria tampan yang sedang berdiri itu seketika menoleh, menatap intens pada sosok wanita cantik yang berjalan ke arahnya. Benar, dadanya bergemuruh saat manik matanya menatap wajah cantik yang sedap dipandang itu.
"Dia menemuiku? Dapat keberanian dari mana wanita ini? Tapi, aku sungguh tidak menyangka dia akan melakukan ini. Hmmm, bagus sekali. Aku suka dengan keberaniannya!" ucap Andre dalam hati.
Pria tampan itu kembali membuang wajahnya ke udara. Berlagak sok tidak peduli pada seorang wanita yang terlihat sedang gemetar menahan hampa.
"Aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan padaku, Annabelle," ucap Andre dalam hati.
Sementara itu, dalam diam Rumanah menatap punggung pria dewasa di hadapannya. Lututnya bergetar dan dadanya bergejolak ingin mengungkapkan sesuatu. Suasana sepi dan mencekam itu membuatnya nyaris tak mampu mengeluarkan suaranya.
"Ayo, Rumanah. Katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan diam saja! Katakan jika kau menyesal telah membuatnya marah dan kecewa," ucap Rumanah dalam hati.
Sekian detik kemudian...
"Anda marah pada saya, Tuan?" tanya Rumanah dengan suara yang gugup dan bergetar. Tentu saja ia telah mengumpulkan keberanian setinggi mungkin.
Andre memutar bola matanya dan tidak menjawab pertanyaan istrinya. Tentu saja ia ingin melihat sejauh mana perjuangan sang istri untuk mencuri hatinya kembali.
"Kenapa dia diam saja? Apakah dia tidak tahu kalau aku benar-benar sedang tersiksa," cerocos Rumanah dalam hati.
Dengan kasar ia membuang napasnya kembali, mungkin ia harus mengganti ucapannya dengan kata-kata yang lain.
"Tuan, saya sungguh mi–minta maaf karena su–sudah membuat Anda kecewa dan marah. Sejujurnya, saya tidak bermaksud membuat Anda marah ataupun kecewa," ucap Rumanah yang tampak berharap sang suami akan menanggapi ucapannya.
Andre masih terdiam, namun semua kata yang terucap dari mulut istrinya dapat ia rekam dan ia masukkan ke dalam sanubarinya. Ya, ia tahu jika sang istri tidak bermaksud membuatnya marah. Ia sangat mengerti, hanya saja, Rumanah salah cara menyampaikannya.
"Ya Tuhan, dia masih diam. Apakah pria ini mendadak bisu? Atau tuli?" cerocos Rumanah dalam hati.
Rumanah sedikit kesal karena sang suami benar-benar mengacuhkannya. Namun, tetap saja ia harus sabar menghadapi manusia yang sedang marah.
"Tuan,apakah Anda dapat mendengar ucapan saya?" tanya Rumanah penuh sindiran. Dalam mode kesal, ia harus mengontrol emosinya agar tidak semakin genting.
Andre tersenyum kecil dan sangat geli mendengar pertanyaan istri sirrinya itu. Namun, sepertinya ia masih ingin menguji perjuangan sang istri.
"Hmmmmm!" Andre hanya menjawab dengan deheman. Memberi kode jika ia dapat mendengar.
__ADS_1
"Oh, syukurlah jika Anda masih bisa mendengar suara saya, Tuan. Tapi, kenapa Anda diam saja? Apakah Anda benar-benar marah besar pada saya?" ucap Rumanah penuh harap. Berharap sang suami mau bicara dengannya.
Andre masih terdiam tak segera menjawab ucapan istrinya. Ia masih ingin melihat seberapa jauh pengorbanan sang istri. Dan Rumanah, semakin pusing dan uring-uringan dengan sikap suaminya yang cuek bebek bagaikan patung pancoran.
Dengan pelan Rumanah melangkahkan kakinya mendekati suaminya. Dalam keadaan kesal, gelisah, cemas dan juga sedih, Rumanah tampak tak kuasa menahan dirinya. Tiba-tiba saja ia melingkarkan tangannya memeluk tubuh kekar suaminya.
"Tuan, bicaralah walau sepatah dua patah kata. Jangan membuat saya semakin tersiksa dengan kediaman Anda. Saya, sa–saya benar-benar menyesal karena telah membuat Anda marah dan kecewa. Tuan, maafkan saya. Jangan bersikap cuek seperti ini. Hiks hiks hiks," kali ini Rumanah memberanikan dirinya berkata banyak pada suaminya yang sedang marah itu.
Isak tangis yang manja membuat bibir Andre melengkung membentuk senyuman manis dan penuh kepuasan.
"Saya tidak bisa tidur jika Tuan terus-terusan cuek pada saya. Hiks hiks hiks," ucap Rumanah diiringi isakkan kecilnya.
Andre tersenyum geli dan masih ingin mendengar isak tangis serta ocehan istrinya.
"Saya bisa gila jika Tuan tidak mencium dan memeluk saya malam ini, hiks hiks hiks." kembali Rumanah mengoceh mengungkapkan kegundahannya.
Andre tampak tersentak kaget mendengar pengakuan istri sirrinya itu. Namun, hal itu membuatnya tersenyum senang.
"Begitupun dengan diriku. Aku bisa gila jika kau berpaling dariku, Annabelle." Andre menjawab seraya menyentuh tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan sangat tidak menyangka jika suaminya kembali bersuara.
"Tidak, Tuan! Saya tidak akan berpaling dari Anda. Tidak ada yang mengatakan itu selain diri Anda sendiri, Tuan. Saya sama sekali tidak berniat untuk mengkhianati Anda," sanggah Rumanah dengan cepat.
Andre tersenyum. Dengan pelan ia melepaskan tanga istrinya lalu memutar tubuhnya. "Benarkah itu? Lantas, apa maksud ucapanmu tadi? Kenapa kau mengataiku posesif dan bertingkah seolah kau tidak terima dengan perintahku." desaknya seraya menatap lekat wajah cantik istrinya.
Rumanah terdiam sejenak dan menelan ludahnya kasar. "Glek!"
"Kau tahu, kenapa aku sangat tidak suka melihatmu dekat dengan pria mana pun?" tanya Andre kemudian.
Rumanah menggeleng.
"Karena ... aku takut kau akan berpaling dariku, mengkhianatiku, meninggalkanku seperti yang dilakukan oleh—"
"Tidak, Tuan! Jangan samakan saya dengan wanita itu! Saya tidak seperti dia, Tuan." Rumanah tampak menyela ucapan suaminya.
Andre memejamkan matanya sembari menarik napasnya dalam. Kemudian ia membuang napas bersamaan dengan membuka matanya.
"Percaya pada saya, Tuan. Saya tidak berniat untuk mengkhianati Anda. Bagi saya, pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan. Saya hanya ingin memiliki seorang suami satu untuk selamanya," ujar Rumanah yang tampak mencoba meyakinkan suaminya. Ia tahu dan paham jika sang suami sangatlah trauma dengan pernikahannya yang sempat gagal.
Andre menatap lekat manik mata istrinya. Pancaran mata itu memang menampakkan ketulusan. Dengan perlahan ia menggerakkan tangannya, memainkan jari jemarinya pada wajah cantik istrinya.
"Benarkah semua yang kau ucapkan? Kau tidak akan berpaling dariku walau ada seorang pria yang lebih tampan dan lebih kaya dariku menginginkanmu?" tanya Andre penuh selidik.
Rumanah mengangguk tanpa ragu. "Ya, saya tidak akan berpaling dari Anda, Tuan. Karena, ketampanan dan kekayaan tidak menjamin kenyamanan. Saya, sangat merasa nyaman ketika dekat dengan Anda, Tuan. Itu sebabnya saya tidak mau main-main dengan pernikahan ini. Karena, saya sangat mencintai Anda," ungkapnya dengan tatapan yang lembut dan penuh cinta.
Andre tersenyum hangat dan mengusap lembut puncak kepala istrinya. "Aku juga sangat mencintaimu, Annabelle." ucapnya yang kemudian mendekap erat tubuh istri cantiknya itu.
Hallo, dears... Akhirnya othor sempatkan diri untuk triple up. Semoga kalian suka, ya! Jangan lupa dukungannya, dears. Sayang kalian semua. Muacch!
__ADS_1
BERSAMBUNG...