
Rumanah mondar-mandir di dalam kamar yang akan menjadi tempat tidurnya.
Pikirannya berkeliaran ke mana-mana.
"Kenapa aku bisa semudah ini mendapatkan pekerjaan. Ya Tuhan, rezeky memang tidak akan tertukar." bisik Rumanah.
Gadis desa yang lugu dan cupu itu tampak sedikit memikirkan tentang ibu Sandrina. Pasalnya sedari tadi ia tidak melihat sosok seorang wanita di rumah itu. Ditambah saat Sandrina mengatakan jika dia akan mendapatkan teman di rumahnya, itu artinya..
"Sebenarnya ke mana ibu Sandrina? Kenapa dia terlihat sangat bahagia saat aku hadir di kehidupannya. Apakah ibunya sudah meninggal? Atau berpisah? Argh, kepalaku sakit memikirkan hal ini." cerocos Rumanah dalam hati.
**
Keesokan harinya..
Rumanah melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang begitu banyak. Kepalanya sedikit pusing saat manik matanya memperhatikan satu persatu anak tangga yang transparan itu.
"Eleuh-eleuh, ini kenapa kepalaku pusing sekali. Huft.. Aku harus terbiasa dengan tangga memusingkan ini." bisik Rumanah sembari memegangi kepalanya yang terasa berputar.
Ia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur. Di sana, ada seorang pria yang sudah tak lagi muda. Kira-kira usianya empat puluh tahunan.
"Permisi Pak, di mana letak penyimpanan sapu?" tanya Rumanah pada seorang pelayan pria di rumah itu.
"Hei, bisakah kau ulangi?" pinta pelayan itu.
"Maksudnya bagaimana? Kenapa dia banyak mau. Sepertinya dia tukang masak di rumah ini." batin Rumanah berucap.
"Ehem." tiba-tiba terdengar suara deheman dari meja makan.
Rumanah menolehkan wajahnya, begitu pula dengan pelayan pria yang bernama Muhsin itu.
"Selamat pagi Tuan, sarapannya sudah kami siapkan." ucap Muhsin dengan segenap rasa hormat.
Rumanah menatap heran pada Muhsin, sementara Muhsin tampak menundukkan kepalanya dalam.
"Kenapa dia menunduk seperti itu?"Rumanah bertanya dalam hati.
"Baik, terima kasih. Silakan kembali bekerja. Dan, suruh siapa kau berada di sana?! Lakukan tugasmu dengan benar!" tegas Andre dengan ekspresi datarnya. Mata elang itu tampak menatap tajam pada Rumanah yang sedang mematung seperti orang be*o.
"Saya?" tanya Rumanah dengan polosnya.
Andre mendelikkan matanya dan menghentikan kunyahannya.
"Kau pikir siapa? Teko air?" sungut Andre ketus.
Rumanah menelan ludahnya kasar.
"He he, saya sedang mencari sapu, Pak."jawab Rumanah diiringi cengengesnya.
Andre terjingkat kaget saat Rumanah menyebutnya "Pak", begitu pun dengan Muhsin. Ia tampak memelototi Rumanah penuh ancaman.
"Kenapa dia memelototiku? Dan, si pemilik rumah ini juga kenapa terlihat tak terima begitu. Sssh, aneh!" celoteh Rumanah dalam hati.
__ADS_1
Muhsin menarik lengan baju yang dikenakan Rumanah. Rumanah pun menolehkan wajahnya.
"Jangan kau panggil dia dengan sebutan "Pak", itu terdengar tidak sopan."bisik Muhsin memberi tahu Rumanah.
Rumanah sedikit terjingkat kaget, ternyata dia telah salah bicara.
"Lantas, kupanggil apa dia?" tanya Rumanah penuh selidik.
"Tuan, kau panggil dia dengan sebutan Tuan. Dan, janganlah kau berani mengangkat wajahmu di hadapannya, itu sangat tidak sopan. Satu lagi, jangan berani menatap wajah dan matanya." jelas Muhsin memberikan pencerahan pada baby siter baru itu.
Rumanah menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Cepat kau minta maaf padanya."perintah Muhsin.
"Apa? Minta maaf? Memangnya aku salah apa?" protes Rumanah dalam hati.
"Tapi aku tidak melakukan kesalahan." tolak Rumanah.
Muhsin berdecak kesal.
"Jangan banyak bicara, cepat lakukan saja."paksa Muhsin yang sedikit menakan setiap ucapannya.
Rumanah masih terdiam, wajahnya sudah ia tundukkan sedari tadi.
"Hei kalian, suruh siapa mengobrol seperti itu!?" semprot Andre yang berhasil membuat Rumanah dan Muhsin terjingkat kaget.
"Maaf Tuan, saya hanya memberi tahu padanya jika.."belum sampai Muhsin menjelaskan, dengan cepat Andre menyelanya.
Rumanah terjingkat kaget. Tiba-tiba bulu kuduknya upacara semua.
"Kenapa jadi tegang seperti ini." bisik Rumanah dalam hati.
"Kau, siapa namamu?" tanya Andre dengan suara yang datar.
"Rumanah, Tuan." jawab Rumanah pelan.
"Siapa?" tanya Andre lagi.
"Rumanah Tuan."jawab Rumanah yang Ansij kurang jelas di telinga Andre.
"Lebih jelas!" pinta Andre.
"Rumanah Tuan!" jawab Rumanah yang tampak menaikkan suaranya.
Andre tercengang mendapatkan bentakan dari baby siter baru itu.
Begitu pun dengan Muhsin, ia tampak melongo tak percaya atas keberanian gadis desa yang cupu itu.
"Berani sekali kau menaikkan suaramu di hadapanku."tegur Andre sembari beranjak dari duduknya.
Rumanah tampak sedikit syok dan gemetaran. Sementara langkah kaki Andre begitu terdengar seperti alunan musik kematian baginya.
__ADS_1
"Coba katakan sekali lagi!" pinta Andre yang kini tampak sudah berdiri di hadapan Rumanah.
Rumanah terdiam sejenak. Ia tampak kaku dan membatu di tempatnya.
Tatapannya terpokus pada kaki Andre yang begitu kekar dan putih bersih.
"Haaaa, itu kaki.. Kenapa menggiurkan sekali." batin Rumanah memandang takjub.
"Jawab!" gertak Andre yang tampak menaikkan suaranya.
"Monyong lu! Eh, monyong." Rumanah tampak terjingkat kaget dan latahnya seketika muncul.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Sementara Muhsin tampak menepuk jidatnya pening.
"Berani sekali kau mengataiku monyong. Apakah matamu buta, hah? Wajahku sudah setampan dan sesempurna ini, kau bilang monyong!? Astagah, baru kali ini saya menemukan wanita pemberani seperti ini." sungut Andre yang tampak tak terima.
Rumanah meremas jari-jarinya, kakinya tampak sudah bergetar ketakutan.
"Maaf Tuan, saya tidak mengatai Tuan monyong. Saya tadi terkejut dan latah pun tiba-tiba datang."jelas Rumanah dengan suara yang bergetar.
Andre menyunggingkan seringainya.
"Setelah ini kau tidak boleh latah lagi." perintah Andre.
Rumanah terhenyak kaget.
"Haaaa, siapa elu di mata gue? Belek??" protes Rumanah dalam hati.
Muhsin menyenggol lengan Rumanah memberi kode agar menjawab perintah Tuannya.
Rumanah tersentak kaget, namun ia mengerti dengan yang dimaksud oleh Muhsin.
"Baaa, baik Tuan." jawab Rumanah dengan terbata.
"Bagus. Bay the way, apa yang kau lakukan di sini? Tugasmu mengurus putri kecilku, bukan mejeng di dapur seperti ini." tegur Andre yang kemudian melangkahkan kakinya lalu kembali duduk di kursi depan meja makan.
"Anu, saya sedang mencari sapu, Tuan. Saya ingin menyapu seluruh ruangan di rumah ini." jawab Rumanah berkata jujur.
Andre tertawa ngakak.
Sedangkan Muhsin pun ikut tertawa.
"Kenapa mereka malah tertawa."batin Rumanah berucap.
"Kau ini lucu sekali. Kau pikir gampang menyapu semua ruangan di rumah ini. Haha, ada-ada saja."ucap Andre di sela-sela tawanya.
"Haha, jika kau ingin encok dan patah tulang, maka lakukan saja." sambung Muhsin menimpali.
Rumanah terdiam dan mencerna setiap ucapan Andre dan Muhsin.
"Sepertinya otaknya yang dangkal sulit untuk mencerna ucapan kita, Muh. Sebaiknya kau jelaskan saja padanya." ucap Andre yang terdengar menjengkelkan di telinga Rumanah.
__ADS_1
****