
Andre memarkirkan kendaraannya di parkiran sekolah TK putrinya. Sekitar pukul empat sore Andre baru sempat menjemput princessnya, tentu saja Meliza turut bersamanya.
Namun saat itu sekolah telah kosong, pintu-pintu kelas telah tertutup semua. Tak ada satu pun anak-anak yang berlalu lalang di sana. Bahkan suara bising pun tak mereka dengar.
"Mel, sepertinya sekolahan sudah sepi." ucap Andre.
"Iya, Pak. Sepertinya para murid sudah pulang semua." jawab Meliza seraya mengedarkan pandangannya ke sana kemari.
"Astaga, lantas ke mana perginya princess dengan dewi perinya?" ucap Andre yang kini tampak mulai panik. Pasalnya ia benar-benar tidak tahu jika princess dibawa pergi oleh uncle-nya.
"Kalau begitu saya coba cari ke arah sana, Pak." Meliza mulai melalukan pencarian.
Andre mengangguk. Single daddy itu pun turut mencoba mencari putrinya yang entah ke mana.
Beberapa menit berlalu, keduanya tampak tidak menemukan princess di setiap sudut sekolah TK itu. Sempat bertanya pada OB di sana, jawabannya tidak tahu dan semua murid sudah pulang sedari tadi.
"Astaga, apa yang wanita itu lakukan pada putriku! Sekarang apa yang harus aku lakukan. Argh, aku tidak ingin kehilangan princess. Bagaimana kalau Luna sudah lebih dulu membawa princess pergi bersamanya. Shiiittt!!!" Andre tampak terlihat panik dan frustasi.
"Tenang Pak, jangan berpikir buruk. Coba tarik napas dan keluarkan perlahan, saya yakin princess dalam keadaan baik-baik saja." ucap Meliza mencoba menenangkan bosnya.
Andre mengusap wajahnya kasar lalu menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
"Apakah princess membawa handphone?" tanya Meliza.
"Astaga, aku lupa!" ucap Andre seraya merogoh saku celananya dan meraih sebuah benda pipih di sana. Tentu saja ia akan mencoba menghubungi putrinya.
"Itu karena Pak Andre terlalu panik." celetuk Meliza seraya tersenyum kecil.
__ADS_1
Andre mulai menghubungi nomor ponsel putrinya. Sambungan telephon pun terhubung. Namun tak ada jawaban di seberang sana. Tentu saja hal itu kembali membuat Andre semakin panik.
"Argh, lihatlah! Princess tidak mengangkat telephonnya, Mel. Aku yakin ada yang tidak beres dengan putriku. Ck, bagaimana kerjanya wanita desa itu. Masak mengurus anak kecil saja tidak becus! Dasar sialan!" kali ini Andre tampak tersulut emosi dan malah menyalahkan Rumanah.
"Tenang Pak, kita harus.."
"Bagaimana aku bisa tenang, Mel. Sekarang harta berhargaku sedang dalam bahaya." ujar Andre menyela ucapan Meliza.
Meliza terdiam dan bingung harus berbuat apa.
Suasana hening seketika, hingga pada saat itu Meliza pun mulai mendapatkan sebuah ide yang cemerlang.
"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja, Pak." usul Meliza.
Andre sedikit terjingkat kaget, namun usulan Meliza saat ini memang jalan yang tepat. Tak membuang waktu lagi mereka pun bergegas ke kantor polisi untuk melaporkan kasus princess. Dalam keadaan panik Andre tampak masih melirikkan manik matanya mencari putrinya di jalan yang ia lintasi.
Ferhat menggendong Sandrina dan membawanya ke sebuah pameran yang selalu membuat jantung berdetak kencang. Ya, Ferhat mengajak Sandrina dan Rumanah berkunjung ke rumah hantu.
"Uncle, princess takut." rengek princess Sandrina.
"Tidak usah takut sayang, kan ada uncle." jawab Ferhat mencoba menenangkan keponakannya.
Sandrina semakin mengeratkan pegangannya. Sementara Rumanah tampak penasaran apa yang ada di dalam sana.
Setelah mereka membeli tiket untuk masuk ke dalam, tak membuang waktu lagi mereka pun masuk ke dalam rumah hantu itu.
"Aduuuuh, kenapa gelap sekali." ucap Rumanah yang kini tampak mulai curiga.
__ADS_1
"Kenapa? Kau takut gelap?" sindir Ferhat yang tampak santai.
"Bu, bukan takut gelap. Tapi, ini ruangan apa ya?" Rumanah tampak masih penasaran. Namun lututnya tampak sudah bergetar hebat karena mendengar suara kuntilanak cekikikan.
"Aaaaa, uncle ada apa itu!" princess Sandrina tampak menjerit histeris dan mengarahkan telunjuknya pada sesosok manusia yang mengenakan kostum pocong.
Sontak saja Rumanah memepet pada Ferhat dan menarik lengan kemejanya. Kemudian mereka berdua menolehkan wajahnya pada objek yang ditunjuk oleh Sandrina, dan pada saat itu..
"Aaaaaaaaa, copooooooong!" pekik Rumanah yang kini tampak ngelendot pada Ferhat. Jantungnya semakin berlarian, kakinya semakin gemetaran. Gadis desa itu tak ingat lagi pada pria yang ia peluk saat ini.
"Pocooooong, dodol! Sejak kapan dia berubah nama menjadi copong." ucap Ferhat yang tampak santai.
"Uncle, ayok kita pulang saja. Princess takut." lagi-lagi Sandrina merengek meminta pulang.
"Iya bener, dewi peri juga takut." timpal Rumanah yang tampak masih mengusel pada Ferhat.
"Astaga, kalian ini cemen sekali. Sudah tak perlu takut, mereka tidak jahat." ucap Ferhat yang kemudian melangkahkan kakinya kembali.
Rumanah tampak mengeratkan tangannya yang memeluk lengan Ferhat. Sesekali kedua matanya terpejam dan sesekali ia mengintip apa yang ada di hadapannya.
"Ya Tuhan, aku tidak ingin mati di tempat ini. Astaga, kenapa kau bawa kami ke tempat luknut seperti ini." cerocos Rumanah yang masih merasa takut.
Ferhat tampak tersenyum geli mendengar ucapan Rumanah. Namun ia sangat terlihat puas karena telah mengerjai pengasuh keponakannya itu.
Di saat situasi seperti itu, Andre mencoba menghubungi ponsel Sandrina. Tentu saja Rumanah tak menyadarinya, karena ponselnya ia letakan di dalam tas milik Sandrina.
***
__ADS_1