Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Dibawa kabur


__ADS_3

Luna membusungkan dadanya dan menatap sengit gadis desa yang pernah menjambak rambut indahnya. Kemarahannya semakin bertambah saat putri kecilnya mendukung gadis desa itu dan malah memojoknnya. Tentu saja hal itu membuat Luna geram dan tak terima.


Sementara itu Rumanah pun tampak menatap ekstream pada wanita cantik yang jauh lebih tua darinya. Namun, keberaniannya dalam melawan manusia dzolim seperti Luna begitu besar. Tak ada yang dia takuti dari sosok Luna saat ini. Apa lagi dia sudah tahu jika Luna adalah mantan istri majikan galaknya. Jika dia mengadu, sudah pasti Luna yang akan di marahi.


"Jangan senang dulu kau, wanita cupu!" hardik Luna seraya menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.


Rumanah menyunggingkan senyuman sinisnya. "Tentu saja aku senang, Tante! Sebab gadis kecil ini telah terang-terangan membela orang yang lemah dan rendah seperti diriku di hadapan ibu kandungnya yang dzolim ini." ujar Rumanah dengan tatapan sinis dan penuh percaya diri.


Luna begitu kesal mendengar ucapan gadis desa di hadapnnya, ingin rasanya ia tarik rambut ikal Rumanah dan memelintirnya hingga rontok semua. Tapi, dia harus menahan keinginan itu karena ada gadis kecil darah dagingnya di sana.


"Sialan! Apa yang kau berikan pada putriku? Dulu, dia tidak pernah seperti ini. Dia selalu menghormati Mommynya. Tapi sekarang? Aku yakin kau yang telah meracuni pikirannya." tuding Luna yang berhasil membuat Rumanah tertawa jahat.


"Ha ha ha ha ha!" tawa Rumanah pecah saat itu juga.


Luna menatap heran dan kesal pada pengasuh putrinya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu ucapan gadis desa itu.


"Tentu saja putrimu yang dulu dan yang sekarang jauh berbeda. Kau tahu kenapa? Karena gadis kecil yang belum memiliki dosa seperti ini sudah tahu kebusukan Mommynya sendiri. Aku rasa kau yang lebih tahu akan hal ini."ucap Rumanah yang berhasil membuat Luna semakin geram dan emosi.


Tanpa membuang waktu lagi Luna pun melayangkan tangannya tepat mengenai wajah manis Rumanah.


"Plaaaakkkkk!" tamparan dahsyat itu berhasil mendarat di wajah gadis desa itu. Luna sudah tak mampu lagi menahan kesal dan amarahnya. Sehingga ia sudah tak lagi memikirkan putrinya yang begitu syok melihat perlakun kasar Mommynya.


"Tidaaaaak! Dewi periiiii!" Sandrina memekik dan langsung memeluk dewi perinya. Hatinya terasa sakit saat melihat pengasuhnya di sakiti seperti itu, walaupun hal itu Ibu kandungnya yang melakukan, tapi Sandrina benar-benar marah pada orang itu.


"Astaga anak ini benar-benar membuatku muak dan menguji kesabaranku." desis Luna seraya mengusap wajahnya kesal.

__ADS_1


"Dewi peri tidak apa-apa?" dengan suara yang bergetar, Sandrina menanyakan keadaan pengasuhnya.


Rumanah menggeleng kecil, "Tidak apa-apa, sayang. Princesa tidak usah khawatir." jawabnya seraya mengusap lembut puncak kepala asuhannya.


Melihat hal itu membuat Luna semakin bertambah kesal dan emosi. Tanpa pikir panjang ia pun menarik paksa lengan putri kecilnya dan membawanya untuk ikut bersamanya.


"Ayo ikut Mommy! Kau tak pantas hidup dengan manusia itu. Mommy yang pantas hidup denganmu." ucap Luna dengan suara yang tajam.


"Tidaaak, aku tidak mau ikut denganmu! Lepaskan aku!" Sandrina memekik dan mencoba melepaskan dirinya dari tahanan Mommynya.


Rumanah terbelalak kaget melihat asuhannya di tarik paksa oleh mantan istri majikan galaknya. Melihat asuhannya menjerit dan meronta membuat hatinya terasa sakit.


"Dasar manusia tak punya hati!" umpat Rumanah yang kemudian berlari mengejar Luna yang menyeret paksa putrinya sendiri.


"Jangan membantah, princess! Kau anak Mommy, bukan anak wanita itu." bentak Luna yang kini berhasil membuat Sandrina menangis sekencang-kencangnya.


Rumanah semakin kesal dan marah, dengan cepat ia berlari dan mencoba menangkap tangan asuhannya.


"Lepaskan princess! Jangan paksa dia untuk ikut denganmu! Lepaskan sialan!" Rumanah menarik tangan Sandrina yang juga di tarik oleh Mommynya.


"Aku tidak akan melepaskan putriku. Dia darah dagingku, aku berhak hidup dengannya." ketus Luna yang kini menginjak kaki Rumanah sehingga membuat gadis desa itu kesakitan dan melepaskan tangannya.


"Aaaauuuwh, dasar sialan! Lepaskan gadis kecil itu. Dia tidak ingin ikut denganmu!" pekik Rumanah yang kembali berlari mengejar Sandrina yang sudah didorong paksa masuk ke dalam mobil oleh mantan istri majikan galaknya.


"Dewi periiiiiiii!" Sandrina memekik memanggil pengasuhnya. Air matanya begitu deras membanjiri wajah imutnya.

__ADS_1


"Hentikan! Jangan bawa princess, dia sungguh tak ingin ikut denganmu, wanita sialan!" Rumanah mencoba menarik tangan Luna agar tidak segera masuk ke dalam mobilnya. Namun yang punya tangan tampak menepis dengan kasar dan sangat kuat, tentu saja hal itu membuat Rumanah sedikit terhempas.


"Jangan ganggu anakku lagi!" ucap Luna seraya naik ke dalam mobilnya lalu buru-buru ia menghidupkan mesin mobilnya dan kemudian mengemudikannya.


"Tungguuuuu! Jangan bawa princess." Rumanah berlari mengejar mobil milik Luna yang telah berhasil membawa kabur asuhannya.


Sementara Sandrina tampak menangis dan meronta, memukuli kaca jendela mobil yang terkunci. Mengintip pengasuhnya yang sedang berlari mengejarnya.


"Dewi periiiiii!" pekik Sandrina dengan suara yang bergetar.


"Hentikan, princess! Dia hanya pengasuhmu, bukan orang tuamu. Jangan menangisinya, ikutlah dengan Mommy dan hidup bahagia di rumah Mommy." tegur Luna yang tampak membentak putri satu-satunya itu.


Sandrina mendelikkan matanya dan menatap tajam pada Mommynya. "Walaupun dia bukan orang tuaku, tapi kasih sayangnya melebihi kasih sayangmu!" ketus gadis kecil berusia lima tahun itu.


Luna tampak terbelalak kaget mendengar ucapan putrinya, hal itu benar-benar membuatnya muak. " Berhenti bicara yang akan membuat Mommy murka, princess! Kau sungguh tidak tahu kebenarannya. Mommy sangat sayang pada princess, tapi Daddylah yang membuat kita berpisah dan berjauhan." ucapnya mencoba membujuk dan mengambil hati putrinya.


"Itu tidak benar." sanggah gadis kecil itu. "Ini semua gara-gara kesalahan Mommy. Mommy terlalu mementingkan pekerjaan dan kekasih gelap Mommy tanpa memikirkan princess." lanjut gadis kecil itu yang berhasil membuat Luna membulatkan kedua bola matanya penuh.


"Diam!" bentak Luna dengan sorot mata yang berkilat marah. "Kau tidak tahu yang sebenarnya, princess. Mommy bekerja untuk princess, apa pun yang princess mau pasti Mommy berikan. Harusnya princess mengerti akan hal itu." lanjut Luna.


"Tidak, princess sudah memiliki segalanya dari Daddy. Tapi, princess sangat kehilangan kasih sayang seorang ibu." ucap Sandrina dengan suara yang serak dan bergetar.


Luna tampak terdiam tanpa kata, ucapan putri kecilnya benar-benar membuat hatinya terasa ngilu. Wanita cantik itu memang menyadari kesalahannya selama ini pada putrinya, maka dari itu Luna akan mengajak putrinya hidup bersamanya dan akan memberikan kasih sayangnya untuk putrinya.


Sementara itu, Rumanah tampak terkulai lemas di aspal. Hatinya terasa sakit dan pikirannya berkelana ke mana-mana. Gadis desa itu sudah berusaha menghentikan Luna dan mencoba merebut asuhannya, tapi ternyata Luna lebih gesit dan berhasil membawa kabur asuhannya.

__ADS_1


"Maafkan dewi peri, princess. Dewi peri tidak tahu jika semuanya akan menjadi seperti ini." bisik Rumanah dengan air mata yang sudah berderai membasahi wajahnya.


***


__ADS_2