
Andre dan Meliza berdiri di depan pintu kamar Luna. Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita yang sedang membujuk gadis kecil yang tak berdosa. Tentu saja hal itu membuat Andre geram dan ingin menggunting lidah wanita itu.
"Dia di dalam, Pak. Sepertinya kita harus segera ke dalam sebelum terlambat." ucap Meliza setengah berbisik.
"Ya, aku juga sudah tidak sabar ingin menggunting lidak wanita rubah itu." cicit Andre seraya mengepalkan tangannya penuh emosi.
Tanpa membuang waktu lagi Andre pun mendorong pintu kamar Meliza. Tentu saja hal itu membuat orang yang ada di dalam begitu terjingkat kaget dan menolehkan wajah mereka secara bersamaan.
"Hah, Andre. Sialan! Bisa-bisanya dia masuk ke sini." desis Luna yang tampak terkejut.
Sementara itu Andre tampak mengepalkan tangannya, mengeraskan rahangnya dan menatap penuh kemarahan pada mantan istrinya. Dan Sandrina? Gadis kecil itu tampak bersorak ria saat melihat kedatangan Daddynya.
"Daddyyyy!!!!" teriak Sandrina memanggil Daddynya. Gadis kecil itu tampak meloncat dari ranjang dan hendak berlari menghampiri Daddynya.
"Tetap di sini, princess!" tukas Luna seraya menarik lengan putri kecilnya agar tidak menghampiri Daddynya.
Andre tampak terhenyak kaget melihat tindakan mantan istrinya yang kini bagaikan nenek sihir di pandangan matanya. "Bedebah gila!" desis Andre yang tampak melemparkan tatapannya dengan tatapan membunuh.
"Daddy, tolong princess. Princess ingin pulang." rengek Sandrina yang kini tampak menangis meminta tolong pada Daddynya.
Andre begitu tidak tahan melihat putrinya menangis dan meminta tolong padanya. Hal itu benar-benar membuat Andre muak dan semakin membenci mantan kekasihnya itu. Sementara Luna kini tampak semakin mengencangkan genggamannya.
"Lepaskan putriku, sialan!" cicit Andre dengan suara yang dingin.
Luna berseringai licik. "Tidak akan! Dia juga anakku, aku berhak mengurusnya dan hidup bersamanya." tolak Luna yang juga tampak menatap tajam pada mantan suaminya.
Andre mendelikkan matanya dan berseringai sinis. "Itu tidak mungkin, sialan. Kau lupa jika hak asuh anak jatuh kepadaku? Lagi pula, princess sangat membencimu dan tidak ingin hidup bersama manusia keji seperti dirimu!" ujar Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Omong kosong! Kau sengaja bicara seperti itu agar princesa senakin menjauhiku. Dasar lelaki tidak tahu diri!" sungut Luna.
Andre mengusap wajahnya kesal. Ingin rasanya ia tinju wajah mantan istrinya itu. Namun hal itu tidak bisa dia lakukan karena di sana da putri kecilnya. Ia tak ingin membuat putri kecilnya melihat kekasarannya pada mantan istrinya atau Mommy putri kecilnya.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak bicara, Luna. Sebaiknya kau lepaskan princess. Apakah kau tidak kasihan pada putrimu itu? Lihat, dia menangis karena tidak ingin hidup denganmu." ucap Meliza yang berhasil membuat Luna semakin geram pada wanita itu.
"Diam kau jala*ng sialan!" maki Luna dengan tatapan yang tajam.
Meliza hanya memutar bola matanya malas dan berseringai sinis.
"Bahkan kau yang ingin melihat keluargaku hancur agar kau bisa menikah dengan mantan suamiku dan hidup bersama putriku. Kau ingin menghancurkan kebahagiaanku! Merebut setiap apa yang aku miliki!" kali ini Luna tampak menaikkan suaranya dan mengatakan hal yang tidak ada gunanya.
"Jaga ucapanmu, sialan!" bentak Andre. "Kau yang telah membuat hidupmu seperti ini. Kau yang telah membuat putrimu membencimu, seharusnya kau sadar diri dan mengakui juga menyesali perbuatanmu!" lanjut Andre penuh penegasan.
Luna berseringai sinis. "Omong kosong!" desisnya.
"Pak, sebaiknya kita rebut saja princesa dari tangannya. Tak ada gunanya kita bicara banyak pada wanita rubah ini." ucap Meliza.
"Ya, kau benar. Aku rasa princess pun sangat tidak ingin berada di rumah ini." jawab Andre.
Luna tampak menyembunyikan putri kecilnya di balik tubuh tingginya. Tentu saja hal itu membuat Andre semakin kesal.
"Kalian tidak akan bisa merebut princess dari tanganku!" desis Luna percaya diri.
Baru saja Andre hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Rumanah masuk sembari memanggil-manggil asuhannya.
"Princesss, apakah kau di sini?" ucap Rumanah yang tampak terhenyak kaget saat melihat Andre, Meliza dan Luna yang sedang menyembunyikan putri kecilnya.
Mendengar suara pengasuhnya membuat Sandrina melongokan kepalanya dan mencari sosok pengasuhnya. Tentu saja ia sangat senang karena dewi perinya telah datang.
"Dewi periiiiiii!" Sandrina kembali berteriak memanggil pengasuhnya.
"Ya Tuhan, princess. Tunggu di sana, dewi peri akan menyelamatkan princess." ucap Rumanah seraya melangkahkan kakinya mendekati mereka berempat.
Luna tampak menatap sengit pada gadis desa yang kini tengah berjalan ke arahnya. Sementara Meliza dan Andre tampak menatap heran dan juga lega karena Rumanah bisa menyusul mereka dengan keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya ampun, Rumanah.Syukurlah kau baik-baik saja. Aku sangat khawatir padamu." ucap Meliza seraya menyambar tangan Rumanah dan menggenggamnya.
Rumanah tersenyum hangat. "Tenang saja, Mbak Mel. Sudah kukatakan jika aku bisa menanganinya." jawab Rumanah seraya mengusap lembut tangan Meliza.
"Oh hebat sekali. Ternyata kau punya dua selir yang sangat istimewa, Andre!" ucap Luna dengan tatapan sinisnya.
"Selir? Jangan asal bicara kau nenek sihir." seloroh Rumanah seraya maju dua langkah.
Luna mendelikkan matanya dan menatap benci pada pengasuh putrinya.
"Aku bukan selir, aku adalah pengasuh putrimu. Kau tahu? Aku datang ke sini ingin membawa princess kembali." tegas Rumanah yang tampak tidak memiliki rasa takut.
Andre tampak tercengang melihat keberanian gadis desa pemilik mata bulat itu. Sementara Sandrina tampak menatapa penuh harap pada pengasuhnya yang sangat ia sayangi.
"Cih, itu tidak akan kubiarkan, wanita cupu!" desis Luna kesal.
"Sebaiknya kau menyarah dan serahkan princess pada kami. Kau lihat, kau sedang diserang oleh kami bertiga. Jadi, cepat lepaskan putriku!" ujar Andre mendesak.
Luna mendelikkan matanya dan berseringai sinis. "Kau pikir aku takut pada kalian?" tantangnya seraya bergerak dan melangkahkan kakinya perlahan secara menyamping.
"Baiklah, kalau begitu aku akan merebut princess kembali." ucap Rumanah yang kemudian melangkahkan kakinya maju untuk merebut Sandrina.
Namun pada saat itu hal mengejutkan terjadi, secara tiba-tiba Luna mengacungkan sebuah pisau kecil ke hadapan Rumanah. Untung saja gadis desa itu cekatan dan refleks mengerem kakinya.
"Jangan mendekat!" ucap Luna seraya mengarahkan pisaunya pada putri kecilnya. Dan hal itu semakin menambah ketegangan dan kepanikan.
Sandrina tampak menatap takut dan kini gadis kecil itu terdiam dengan wajah yang pucat dan tegang.
"Astaga, apa yang kau lakukan, Luna!?" Andre terbelalak kaget melihat tindakan kriminal mantan istrinya.
"Sudah kukatakan untuk tidak mencoba merebut princess dariku. Aku akan mati bersama jika kalian memaksa!" tukas Luna yang tampak membuat Andre marah dan juga bingung.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa wanita ini berhati siluman." ucap Andre dalam hati.
***