Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Bonyok dan berantakan


__ADS_3

Seorang wanita cantik terisak kecil di balik pintu kamarnya. Badannya gemetar dan dadanya naik turun tak beraturan. Beberapa kali umpatan dan makian lolos keluar dari mulutnya. Namun sayang, tak ada yang peduli dengan kekacauannya saat ini. Kaki yang sedari tadi ia gunakan untuk menendang pintu itu kini terasa sakit dan berdenyut. Merah dan mungkin akan bengkak jika dibiarkan begitu saja. Sakit itu, tidak sesakit yang hatinya rasakan saat ini. Tidak sesakit yang dirinya rasakan saat harus dipisahkan dengan pria yang sangat ia cintai.


"Oh Tuhan, inikah yang namanya cinta? Kenapa sesakit ini. Tapi, tidak! Bukan cinta yang menyakitiku. Tapi, keegoisan ayahku yang membuat cinta ini begitu terasa sakit!" rintih wanita cantik itu di dalam hati.


Kedua matanya tak lepas dari air mata yang mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Wajahnya sudah memerah dan hidungnya pun ikut berwarna. Bagaimana dengan kedua matanya? Sudah pasti bengkak dan sembab karena menangis yang tiada henti.


"Aku harus keluar dari sini. Ya Tuhan, tolong bantu aku. Aku sangat mencintai suamiku. Jangan pisahkan kami," lirih Rumanah seraya menatap kosong pada kaca jendela kamarnya.


Wanita cantik itu benar-benar berharap sang ayah akan membuka hatinya. Bagaimana pun, ia sangat tidak mau menikah dengan Chaisay yang hanya ia anggap sebagai sahabatnya.


Dengan perlahan ia beringsut bangun dari duduknya. Melangkahkan kakinya mendekati jendela yang terbuka lebar. Sayup-sayup, ia mendengar suara keributan di bawah sana. Tentu saja hal itu membuatnya panik dan cemas. Ia merasa jika sang suami sedang dalam bahaya.


"Astaga, ada apa di bawah ribut-ribut? Jangan-jangan, suamiku sedang dikroyok oleh anak buah Phoo," ucap Rumanah seraya mendekati jendela yang terbuka.


Dan, betapa terkejutnya ia saat melihat sang suami sedang bertarung dengan kelima anak buah ayahnya. Andre tampak sudah terlihat kelelahan dan wajahnya terluka akibat tinjuan yang terkena wajahnya. Tentu saja hal itu membuat Rumanah sangat syok dan panik.


"Tidaaaaak!" pekiknya dengan tubuh yang gemetar. Ia sangat tidak rela melihat suaminya terluka seperti itu. Hatinya benar-benar terasa sakit melihat apa yang terjadi pada suaminya.


"Hubby! Hentikaaaaaan! Jangan lukai suamikuuuu!" teriak Rumanah mencoba menghentikan pertarungan sengit yang masih berlangsung.


Namun sayang, tak ada seorang pun yang dapat mendengar teriakan wanita cantik itu. Mereka semua masih bertarung saling mencari kemenangan masing-masing.


"Ya Tuhan, suamiku. Maafkan aku, hiks hiks hiks," ucap Rumanah di tengah-tengah isak tangisnya.


Ceklek!


Terdengar pintu terbuka. Dengan cepat Rumanah menolehkan wajahnya. Dan ternyata, sang ibu masuk dengan raut wajah yang terlihat cemas.


"Sanee, Ya Tuhan. Maafkan Maae, sayang." Maae Lilis berjalan cepat mendekati putrinya yang sedang menangis di dekat jendela.


"Maae," lirih Rumanah seraya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan ibunya.


Maae Lilis mengusap lembut puncak kepala putri tunggalnya. "Tenang, Nak. Maae akan membujuk Phoo untuk tidak memaksamu. Maae sangat mengerti apa yang sedang kau rasakan saat ini." Ucapnya menenangkan putri tunggalnya itu.

__ADS_1


Rumanah melepaskan pelukannya dan menatap lekat dan memelas pada ibunya. "Maae janji?" desaknya.


Maae Lilis mengangguk mengiyakan. "Ya, Maae janji!" jawabnya.


Rumanah tersenyum. Namun, keselamatan suaminya yang lebih penting saat ini.


"Tapi, Maae. Lihat itu," ucap Rumanah seraya menunjuk ke bawah.


Maae Lilis mengedarkan pandangannya. Sontak saja ia terkesiap melihat apa yang terjadi di bawah.


"Ya Tuhan, apa yang mereka lakukan. Astaga!" ucapnya dengan ekspresi yang sangat terkejut.


"Maae, katakan pada Phoo untuk menyudahi kegilaan ini!" pinta Rumanah memohon.


Maae Lilis mengangguk. "Maae akan menemui Phoo. Tapi, sepertinya ini bukan perintah Phoo, Nak. Phoo tidak mungkin menyuruh pengawal untuk mengeroyok orang baru yang belum tentu bersalah seperti pria tua yang datang bersamamu itu." Ucapnya.


"Stop, Maae. Jangan panggil dia pria tua! Dia suami Sanee, menantu Maae. Astaga!" desis Rumanah yang tampak sedikit kesal.


Maae Lilis mengerutkan dahinya dan membuang napasnya berat. "Apa pun itu, sekarang Maae akan menemui Phoo. Kau diam di sini, ya!" ucapnya yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar putrinya.


"Oh Ya Tuhan, suamiku." Rumanah mengatupkan tangannya dan meletakkannya di wajahnya. "Hubby!" panggilnya dengan nada yang tinggi.


Andre celingukan ke sana kemari mencari sosok seorang yang memanggilnya. Tapi, di mana?


"Hubby! Aku di atas!" teriak Rumanah sekali lagi.


Andre mendongakkan wajahnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat istrinya sedang melambaikan tangannya.


"Darliiiiing!" panggil Andre seraya berlari ke arah kamar istrinya. Tentu saja Rumanah berada di kamarnya yang berada di lantai tiga.


"Hubby, tolong akuuuuu!" teriak Rumanah dengan air mata yang kembali mengalir.


Andre meloncat loncat berharap bisa menggapai istrinya. Namun sayang, tentu saja hal itu sangat sulit ia lakukan.

__ADS_1


"Darling, aku akan membawamu bersamaku! Kau tenang saja, jangan menangis seperti itu karena kau sangat terlihat jelek!" ucap Andre seraya mendongakkan wajahnya menatap istrinya yang sedang menangis.


Rumanah mengusap air matanya. "Enak saja kau! Kau tuh yang jelek! Wajahmu bonyok dan berantakan. Huwaaaaaa! Maafkan aku, hubby. Aku ingin kau naik ke kamarku! Hu hu hu," balasnya disertai tangisannya yang membahana.


"Ini tidak apa-apa, darling. Jangan kau pikirkan. Pikirkan saja bagaimana caranya agar aku bisa naik ke kamarmu. Aku sangat mencintaimu, darling. Aku sungguh tidak akan bisa hidup tanpamu!" ucap Andre sembari menahan sakit di wajahnya.


Rumanah terdiam dan mengedarkan pandangannya ke luar kamarnya. Mencari cara agar suaminya bisa naik ke kamarnya.


"Hubby, itu ada tangga, kau bisa menggunakan itu. Tapi, bagaimana kalau kau terjatuh? Karena, kau pasti tidak pandai memanjat." Ucap Rumanah seraya menunjuk pada sebuah tangga besi yang lumayan tinggi. Tangga itu berdiri di dekat pohon pakis yang tinggi.


"Jangan asal bicara, darling. Aku sungguh pandai memanjat apa pun. Jangankan tembok dan tangga itu, kau pun sudah sering aku panjat!" ujar Andre seraya melangkahkan kakinya mendekati tangga yang akan ia gunakan untuk naik ke kamar istrinya.


"Hati-hati, hubby. Jangan sampai ketahuan oleh Phoo dan anak buahnya!" teriak Rumanah.


Andre mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Ia pun meminta bantuan pada Leo dan Pak sopir yang sedang duduk lemas di hamparan rumput jepang.


"Tapi, bos. Bagaimana kalau tiba-tiba Anda ketahuan? Ini bisa berabe urusannya." Ucap Leo.


"Aku tidak peduli, Le. Yang penting aku bisa menemui istriku dan membawanya pergi bersamaku!" Jawab Andre kekeh.


"Tapi, bos. Saya takut saat Anda masih memanjat di tengah-tengah tangga, tiba-tiba anak buah ayahnya Nyonya melihat Anda. Saya yakin Anda akan terjatuh saat itu juga, bos. Ini sangat membahayakan sekali, bos." Balas Leo.


Andre membuang napasnya kasar. "Kau terlalu banyak bicara! Lakukan saja perintahku!" tegasnya.


Leo dan Pak sopir saling beradu pandang. Keduanya tampak sedikit keberatan. Namun, tetap saja mereka harus menuruti perintah bos mereka itu.


"Bos, apa tidak sebaiknya luka Anda diobati terlebih dahulu?" ucap Pak sopir yang kini sudah menggotong tangga yang lumayan berat itu.


"Siapa yang akan mengobati lukaku?" tanyanya.


"Kami!" jawab Leo dan sopir secara bersamaan.


Andre memutar bola matanya malas. "Ck, tidak sudi! Aku hanya ingin istriku yang mengobati lukaku ini!" ujarnya yang berhasil membuat Leo dan sopir terdiam tak mampu membalas lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2