
Rumanah berlari kecil ke kamar mandi yang berada di rumah itu. Kucuran darah segar masih menetes dari tiga jarinya. Sementara Meliza tampak sedang berusaha mencari kotak P3K untuk mengobati luka di jari kelingking, jari manis dan jari tengah Rumanah.
"Ya Tuhan, ini sakit sekali. Aaaaargh!" Rumanah meringis hingga ia memekik saat tangannya ia basuh dengan air yang mengalir.
Andre yang menunggu di luar tampak terjingkat kaget saat mendengar jeritan Rumanah. Dengan cepat ia berlari dan membuka pintu kamar mandi. Sementara Sandrina tampak mengikutinya dari belakang.
"Apa yang terjadi, Annabelle?" tanya Andre yang tampak terlihat panik dan cemas.
Rumanah terdiam menahan sakit, sepertinya goresan pisau itu masuk ke dalam hingga menggores urat kecil di tangan gadis desa itu. Pasalnya, darah yang mengalir itu tak mau berhenti sedari tadi.
"Ya Tuhan, bisa kah kau bertahan, Annabelle? Ayo kita ke rumah sakit saja." ucap Andre yang semakin tegang dan juga panik saat melihat pengasuh putrinya tiba - tiba menyandarkan tubuhnya di dinding dan kini wajahnya begitu pucat pasi.
"Dewi peri, bertahanlah. Dewi peri harus kuat." si cantik princess Sandrina tampak menangis melihat pengasuhnya sedang terluka dan kesakitan.
"Dewi peri kuat kok, sayang. Princess jangan menangis ya, dewi peri nanti ikut menangis jika princess menangis." ucap Rumanah dengan suara yang lemah dan terbata menahan sakit. Walaupun air mata kini telah membanjiri kedua pipinya, tapi gadis desa itu mencoba tetap tegar di hadapan asuhannya.
"Ayo, sebaiknya kita segera ke rumah sakit. Aku rasa kau terluka parah, Annabelle." ajak Andre seraya menggandeng tangan pengasuh putrinya dan membantunya berjalan.
Rumanah mengangguk mengiyakan. Darah segar itu tampak masih mengucur di jari jemarinya. Kini gadis desa itu sangat merasa lemas dan seperti tidak mampu berjalan lagi. Pandangannya kabur dan hanya gumpalan hitam yang ia lihat di pandangan matanya.
"Pak, ini kotak P3K nya. Ayo kita obati tangan Rumanah sekarang juga." Meliza datang membawa kotak P3K yang ia dapatkan di lantai dua tepatnya dekat kamar Luna. Dan sebelum ia turun kembali, sekretaris cantik itu mengunci pintu kamar Luna dari luar.
"Kita obati di mobil saja, Mel. Sepertinya lukanya sangat parah sekali. Aku rasa kita harus segera membawanya ke rumah sakit." sergah Andre.
"Ya Tuhan, baiklah kalau begitu." ucap Meliza.
"Dewi peri, bertahanlah. Hiks hiks hiks." asuhan Rumanah tampak masih menangis.
Rumanah tersenyum kecil, suara asuhannya dan suara lainnya masih dapat ia dengar dengan jelas saat itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, lemas sekali. Dan kini, kenapa kepalaku terasa berdenyut dan ada apa ini? Kenapa bumi ini terasa bergoyang?" ucap Rumanah dalam hati.
Gadis desa itu tampak merasakan sakit di kepalanya dan tubuhnya terasa lunglai. Hingga pada saat itu kesadarannya benar - benar telah hilang saat itu juga.
"Gubrak!"
Zayyanah terjatuh ke lantai secara tiba - tiba. Dan hal itu sangat membuat Andre terkejut dan tidak menyadari jika Rumanah telah pingsan.
"Astaga, Annabelle!" Andre terbelalak kaget melihat gadis desa itu terkapar di lantai.
"Dewi periiiiii!" Sandrina pun ikut memekik histeris melihat pengasuhnya tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, Rumanah." Meliza juga tak kalah terkejutnya.
"Dia pingsan, sepertinya kita harus segera bergegas, Mel." ucap Andre seraya mencoba mengangkat tubuh gadis desa itu lalu menggendongnya sampai ke mobil. Sementara Sandrina di gendong oleh Meliza.
"Baik, Pak. Darahnya masih sangat banyak sekali, saya rasa Rumanah pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Bahkan wajahnya pun sangat pucat sekali." ucap Meliza yang sudah mulai melakukan tugasnya.
"Ya, kemungkinan begitu, Mel. Maka dari itu kita harus membawanya ke rumah sakit. Lukanya harus segera di tangani dan di berikan perawatan yang intensif." timpal Andre.
"Ya, Pak. Mudah - mudahan lukanya tidak terlalu dalam sehingga membuatnya harus di operasi." ucap Meliza.
"Semoga saja." timpal Andre.
Sandrina tampak masih menangis kecil, merasa kasihan dan juga merasa bersalah pada pengasuhnya itu.
"Kasihan sekali dewi peri. Ini semua salah princess. Ini semua gara - gara princess." ucap Sandrina di sela - sela tangisnya. Gadis kecil itu tampak menyalahkan dirinya sendiri.
"Stttt, jangan menangis, sayang. Tenanglah, dewi perimu pasti baik - baik saja." ucap Andre yang berusaha menenangkan putri kecilnya.
__ADS_1
"Ya, benar kata Daddy princess. Dan, ini semua bukan salah princess. Ini semua sudah takdir Tuhan, sayang." timpal Meliza yang juga mencoba menenangkan dan menghibur putri bos dudanya.
Sandrina terdiam dan tampak masih terisak kecil. Sementara Rumanah tampak belum sadarkan diri.
"Cepatlah, Dadd. Princess takut kehilangan dewi peri." rengek Sandrina yang tampak tidak sabaran.
"Ya, sayang. Daddy akan mempercepat. Kau tenang saja, dewi perimu tidak akan pergi." ucap Andre seraya mengusap lembut puncak kepala putri kecilnya.
Sandrina mengangguk mengiyakan. Gadis kecil itu pun kini diam dan tidak banyak bicara. Dan Rumanah, saat telah sebentar lagi akan sampai ke rumah sakit yang di tuju. Gadis desa itu tiba - tiba terbatuk dan tersadar dari pingsannya. Mungkin efek dari alkohol yang Meliza dekatkan pada indra penciuman gadis desa itu.
"Rumanah, kau sudah sadar."ucap Meliza antusias.
"Annabelle, syukurlah kau sudah sadar. Bertahanlan sebentar saja, beberapa detik lagi kita sampai ke rumah sakit." ucap Andre yang tampak sedikit lega karena Rumanag sudah sadarkan diri.
"Dewi peri, kamu sudah bangun. Jangan tidur lagi ya, princesa takut sekali." rengek si cantik Sandrina.
Rumanah tersenyum hangat walau dalam keadaan lemah. "Dewi peri baik - baik saja, princess. Dan, sepertinya kita tidak usah ke rumah sakit, Tuan. Saya sudah merasa lebih.baik. Lagi pula lukanya sudah di perban dan darahnya sudah tidak mengalir lagi." ucap gadis desa itu dengan suara yang lemah menahan sakit.
"Tidak, kau harus ke rumah sakit, Annabelle. Bagaimana pun lukamu harus mendapatkan perawatan yang intensif." tolak Andre tanpa bantahan.
"Ya, benar. Kita tidak bisa membiarkan luka ini begitu saja, Rumanah. Kulihat tadi kulit jarimu sangat terluka parah dan sepertinya harus di jahit." timpal Meliza membenarkan ucapan bos dudanya.
Rumanah tampak terbelalak kaget mendengar ucapan Meliza. Gadis desa itu tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Apaaaaa?? Di jahit????" ucapnya dengan ekspresi wajah yang syok dan tegang.
"Ya, karena ketiga jari tanganmu robek, Annabelle."jawab Andre.
"Haaaah, tidaaaaaak, aku tidak ingin di jahiiit!" Rumanah memekik histeris dan ketakutan.
***
__ADS_1