Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Jangan mendewakan diri


__ADS_3

Rumanah menaiki anak tangga satu persatu dengan kecepatan yang sangat tinggi dan gesit. Tak ada yang dia pikirkan selain asuhannya. Saat gadis desa itu masuk ke dalam kamar Sandrina, asuhannya tidak ada di sana. Tentu saja hal itu membuat Rumanah panik dan cemas.


"Waduh, ke mana princess? Apakah dia sudah berangkat sekolah? Astaga, bisa-bisa aku dihukum pancung oleh majikan galak itu." gumam Rumanah seraya celingukan mencari asuhannya.


Beberapa detik berlalu, Rumanah tampak belum menemukan Sandrina. Seragam sekolah dan peralatan sekolah gadis kecil itu pun sudah tidak ada di sana.


"Ya Tuhan, sepertinya dia benar-benar sudah berangkat ke sekolah. Aduh, apa yang harus saya lakukan." ucap Rumanah yang kini tampak semakin panik.


Tak membuang waktu lagi gadis desa itu pun bergegas keluar dari kamar asuhannya. Dengan cepat ia berlari menuruni anak tangga dan melangkahkan kaki ke ruang makan.


Di sana, Sandrina tampak sedang menyantap sarapannya dengan santai. Di sampingnya, Andre yang tak lain adalah Daddynya pun sedang menyantap sarapannya yang sempat ia jeda beberapa menit yang lalu. Aneh, padahal ini sudah jam delapan, tentu saja gadis kecil itu sudah harus berada di sekolah karena pasti pelajaran sudah dimulai.


"Hahh?? Princess masih di sini, jadi dia belum berangkat. Dan, kenapa majikan galak itu sekarang sudah ada di sana? Astaga," ucap Rumanah dalam hati.


Rumanah melangkahkan kakinya menghampiri Andre dengan Sandrina. Sebuah senyuman kaku mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Ehem, princess cantik ternyata sedang sarapan. Dewi peri begitu kesulitan mencari princess di kamar." ucap Rumanah basa-basi.


Sandrina menolehkan wajahnya, senyuman hangat ia lemparkan untuk pengasuhnya, "Dewi peri sudah sarapan?" tanyanya.


Rumanah tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya, melihat Andre yang dengan tajam menatapnya dan menampakan api permusuhan padanya.


"Kalau begitu ayo sar.." belum sampai Sandrina menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.


"Princess, matahari sudah semakin naik ke permukaan. Lebih baik sekarang kita berangkat ke sekolah karena kau sudah terlambat. Untung saja Daddy sekolah itu milik Omma dan Oppamu, jadi semua orang tidak akan ada yang berani menghukummu. Jadi, ayo berangkat!" sela Andre mengajak putri kecilnya berangkat sekolah.


Rumanah tampak terjingkat kaget mendengar ucapan majikan galaknya, tentu saja ia baru tahu jika sekolah yang Sandrina tempati adalah milik orang tua Andre.


"Huuummm, itu urusan dia dengan perutnya, sayang." jawab Andre seraya mengelap mulutnya menggunakan tissue, "Kau dengar, princess. Siapa cepat dia dapat, begitulah bunyinya." lanjut Andre yang berhasil membuat Rumanah kesal dan geram.


"Emh, princess, lebih baik sekarang kita berangkat sekolah. Maafkan dewi peri yang terlambat bangun dan terlambat membangunkanmu. Setelah ini dewi peri berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi sehingga membuat princess terlambat sekolah. Dan, dengarkan dewi peri baik-baik, walaupun sekolah itu milik Omma dan Oppamu, tapi kau tetap harus disiplin dan menjadi siswa yang baik tanpa harus mendewakan dirimu di sekolah itu. Raihlah prestasi dengan cara yang baik dan benar, oke!?" tutur Rumanah panjang lebar.

__ADS_1


Sandrina tampak manggut-manggut tanda mengerti, sementara Andre tampak tercengang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut pengasuh putrinya.


"Oooh, begitu ya, dewi peri. Jadi princess tidak boleh sombong dan licik ya?" ucap gadis kecil berusia lima tahun itu.


"Ya, benar sekali sayang. Bersainglah dengan cara yang bersih, oke!" jawab Rumanah seraya menyambar kotak makan untuk bekal Sandrina.


"Oke dewi periiii!" sorak Sandrina seraya menyatukan telunjuk dan jempolnya membentuk huruf 'O' yang artinya oke.


"Bagus, anak yang baik." puji Rumanah seraya memasukkan bekal untuk Sandrina. Kali ini ia membuat dua kotak bekal dengan menu yang sama, satu untuk asuhannya, satu lagi untuk dirinya.


Andre menatap punggung gadis desa yang masih berusia sembilan belas tahun itu. Diam-diam dia selalu tertegun dan kagum pada ucapan Rumanah yang penuh kebijakan.


"Jika sudah selesai, cepatlah bergegas." ucap Andre seraya bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai 5, lantai di mana kamarnya terletak di sana.


"Baik, Tuan." jawab Rumanah seraya menolehkan wajahnya pada Andre yang sudah berlalu dari sana.

__ADS_1


"Sebaiknya aku makan sandwich bekas princess, mumpung majikan galak itu tidak ada. Lumayan bisa mengganjal perutku sampai siang nanti." cerocos Rumanah dalam hati.


***


__ADS_2