
"Nangsaw, Anda ditunggu oleh Than di ruang tamu," ucap seorang pelayan wanita pada Rumanah yang sedang duduk bersama ibunya di dalam kamar.
"Ah, yang benar?" tanya Rumanah dengan ekspresi kaget dan juga harap-harap cemas.
"Ya, Nangsaw. Sepertinya ada kabar baik untuk Anda," jawab si pelayan itu.
Rumanah tersenyum lebar dan manik matanya begitu berbinar.
"Sudah Maae duga. Phoo tidak sejahat yang kamu kira," ucap Maae Lilis dengan senyuman hangatnya.
Rumanah mengangguk lalu memeluk manja ibunya. "Terima kasih, Maae. Ini semua berkat doa dan juga dukungan Maae," ucapnya yang tampak bahagia. Padahal, ia belum tahu kabar bahagia apa yang dimaksud oleh pelayan itu.
"Sama-sama, sayang. Itu sudah menjadi kewajiban Maae sebagai seorang ibu. Ya sudah, sekarang kita temui Phoo dan suamimu di sana," balas Maae Lilis yang kemudian mengajak putrinya untuk menemui Phoo Boon-Nam dan Andre.
Di ruang tamu...
"Aku sungguh tertegun pada kesungguhanmu dalam mencintai putriku. Setelah kulihat perjuanganmu, aku tidak berpikir ulang lagi." Ucap Phoo Boon-Nam pada menantunya.
Andre tersenyum hangat dan penuh kebahagiaan. Ia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan istri cantiknya itu.
"Tentu saja, Phoo. Karena saya sangat mencintainya," jawab Andre.
"Hubby!" teriak Rumanah memanggil suaminya. Ia berlari menuruni anak tangga dan begitu semangat empat lima.
Sontak saja Andre menolehkan wajahnya dan seketika senyumnya mengembang dengan sempurna. Ia beranjak dari duduknya dan menatap penuh cinta pada istri cantiknya itu.
"Darling. Oh my God. Aku sangat mencintaimu!" ucap Andre seraya mendekap erat tubuh istrinya.
Rumanah tersenyum senang dan membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Sementara Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tampak tersenyum hangat dan penuh makna.
"Aku juga sangat mencintaimu, hubby," balas Rumanah seraya mendongakkan wajahnya dan menatap penuh cinta pada suaminya.
Andre tersenyum, dielusnya puncak kepala istrinya dengan lembut. Ia sangat bahagia karena mertuanya sudah memberikan restu padanya.
"Ehem, jangan lupa bahwa ada manusia lain di depan kalian," sindir Phoo Boon-Nam dengan senyuman usilnya.
Rumanah dan Andre tampak tersentak kaget dan buru-buru melepaskan pelukan masing-masing.
"Mereka seperti pasangan yang terpisah selama seratus tahun, Phoo." Ucap Maae Lilis meledek putri dan menantunya.
Andre dan Rumanah tampak tersenyum kikuk dan terlihat malu-malu.
"Biasalah, namanya juga baru merasakan cinta, sayang." Jawab Phoo Boon-Nam.
"He he he, bukan begitu. Ini karena Sanee sangat bahagia." Ucap Rumanah sembari menyengir kudanil.
Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tersenyum kecil.
"Memangnya, apa yang membuatmu bahagia, Sanee?" tanya Maae Lilis.
Rumanah tersenyum kecil dan melirikkan matanya pada ayahnya. "Karena ... Phoo sudah merestui hubungan kami. He he he," jawabnya disertai cengengesnya.
Phoo Boon-Nam mengerutkan kedua alisnya dan menatap absurd pada putrinya. "Siapa yang mengatakan itu? Phoo tidak pernah mengatakannya." Ucapnya.
Rumanah menatap serius pada ayahnya dan mengerucutkan bibirnya. "Jadi, apa tujuan Phoo memanggil Sanee ke sini. Jangan suka bercanda,deh! Phoo sudah tua! Jadi, banyak-banyak lah keseriusan." Cicitnya yang tampak terlihat kesal.
Phoo Boon-Nam terkekeh kecil mendengar ocehan putri satu-satunya ini. "Ha ha ha, rupanya putri Phoo yang manja kini sudah berubah menjadi wanita yang dewasa, ya. Bay the way, apa saja yang kamu makan selama tinggal bersama pria tengil ini? Tampaknya kini kau semakin cerdas," ucapnya panjang kali lebar kali tinggi.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya perlahan. "Tentu saja. Selama Sanee minggat dari rumah, Sanee belajar banyak hal. Dan, pria ini, suami Sanee ini, memberi makan cinta pada Sanee. He he he," jawabnya disertai cengengesnya.
Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tersenyum geli mendengar ucapan putri mereka.
"Ya Tuhan, anak kita sudah besar, Phoo. Maae benar-benar tidak menyangka. Secepat ini dia akan mengerti yang namanya cinta. Perasaan, baru kemarin Maae melahirkan dia." Cerocos Maae Lilis dengan tatapan sedih namun bahagia.
Rumanah tersenyum simpul mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut ibunya. Tentu saja ia pun merasa waktu begitu cepat berputar. Dia yang manja dan cengeng, kini sudah berubah menjadi wanita kuat dan mandiri.
"Putri Maae memang sudah besar dan dewasa. Bahkan, dia sangat mandiri dan bertanggung jawab. Ini semua pasti karena Phoo dan Maae yang mendidiknya dengan baik dan benar." Timpal Andre seraya memeluk hangat istrinya itu.
Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis tersenyum.
"Ya, kami memang selalu mengajarkan padanya agar tidak menjadi anak yang manja dan mendewakan diri. Walaupun dia serba ada, tapi, kami mendidiknya agar menjadi anak yang kuat dan mandiri. Bekerja keras dalam mencapai tujuannya." Jawab Maae Lilis.
__ADS_1
Andre tersenyum hangat dan begitu bangga dengan keluarga istrinya itu. Ia juga sangat bangga karena mendapat mertua yang memiliki kepribadian yang baik.
"Ya sudah, kalau begitu, sekarang ayo kita makan malam dulu. Sepertinya kau belum makan dari tadi." Ucap Phoo Boon-Nam mengajak mereka makan.
Andre tersenyum kecil. Mendengar kata makan, tiba-tiba saja perutnya berbunyi meminta di isi.
Kreweeeek!
"Hah, perutmu!" ucap Rumanah seraya menyentuh perut sixpack suaminya.
Andre tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "He he he, sepertinya cacing di dalam perutku sedang berdemo, darling." Ucapnya.
Rumanah tersenyum. "Itu pasti karena sedari tadi kau menahan lapar, ya. Ya Tuhan, kasihan sekali suamiku ini." Ucapnya seraya mengusap lembut wajah tampan suaminya.
Andre mengangguk kecil.
"Atsaga, kenapa tidak makan? Apakah kau tidak membawa uang?" celetuk Maae Lilis.
Andre dan Rumanah tampak saling beradu pandang dan tersenyum kecil.
"Jangan tanyakan soal uang padanya, Maae. Suami Sanee ini seorang pengusaha kaya dan sukses di mana-mana." Ucap Rumanah membanggakan suaminya.
Maae Lilis menaikan kedua alisnya dan menatap seolah tak percaya.
"Benarkah begitu?" selidik Phoo Boon-Nam.
Andre tersenyum kecil dan mengangguk kaku. "Orang-orang berkata seperti itu tentang saya, Phoo." Jawabnya.
"Waaah, jika seperti itu. Sepertinya kita bisa bekerja sama." Ucap Phoo Boon-Nam.
Andre tersenyum seraya mengangguk. "Tentu saja, Phoo." jawabnya.
Setelah dirasa cukup, mereka pun bergegas menuju meja makan. Para pelayan sudah menyiapkan makan malam di atas meja. Setelah makan, tak lupa Andre mengutarakan apa yang menjadi tujuannya. Ya, tentunya ia meminta restu dari kedua orang tua istrinya dan membicarakan soal resepsi pernikahan yang akan mereka selenggarakan secepatnya.
"Jika begitu, kau harus mengurus pernikahanmu terlebih dahulu, Andre. Setelah status pernikahan kalian berubah menjadi pasangan suami istri sah secara hukum agama dan negara, maka setelah itu kalian baru bisa menyelenggarakan resepsi pernikahan kalian. Tenang saja, Phoo akan bawakan beragam macam bunga untuk menjadi hiasan di acara resepsi pernikahan kalian," ucap Phoo Boon-Nam panjang kali lebar kali tinggi.
Andre dan Rumanah mengangguk tanpa ragu.
"Bunganya bawa yang bisa ditanam juga, Phoo." Timpal Rumanah.
"Memangnya kau ingin menanam bunga?" tanya Maae Lilis.
Rumanah mengangguk. "Tentu saja. Sanee 'kan sangat menyukai bunga." Jawabnya.
Maae Lilis tersenyum. "Tapi, sepertinya kau tidak perlu menanam bunga, Sanee. Itu bukan waktunya." ucapnya.
Rumanah mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa, Maae? Tidak boleh menanam bunga kalau sudah menikah? Apakah ada efek sampingnya?" tanyanya penuh selidik.
"Tentu saja, sayang. Kau tidak boleh terlalu sibuk menanam bunga atau pun apalah yang kau tanam. Semestinya kau sibuk bercocok tanam di dalam kamar dengan suamimu saja. He he he," jawab Maae Lilis yang tampak tersenyum usil.
Rumanah dan Andre tersenyum kecut dan saling beradu pandang. Untuk sesaat keduanya terdiam. Ya, mereka mengerti maksud ucapan Maae Lilis.
"Kalau itu mah jangan diragukan lagi. Setiap hari aku bercocok tanam degannya. Ha ha ha," ucap Andre di dalam hati.
"Apakah harus dilakukan oleh mereka saja, sayang?" tanya Phoo Boon-Nam mengandung sindiran.
Maae Lilis menolehkan wajahnya dan menatap malas pada suaminya. "Lantas, kau pun mau?" desaknya.
Phoo Boon-Nam tersenyum usil dan mengangguk.
"Ck, jangan gila! Aku sudah hampir bosan melakukannya." Decak Maae Lilis sok cuek.
Andre dan Rumanah tampak tersenyum geli melihat kekonyolan kedua orang tua di hadapannya. Ternyata, kedua orang tua Rumanah pun sama seperti kedua orang tua Andre yang hobby bergurau.
"Cih, bosan-bosan! Tapi selepas nonton film barat, kau pergi menemuiku dan memaksaku. Astaga!" desis Phoo Boon-Nam yang berhasil membuat Andre dan Rumanah tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha!" tawa Rumanah dan Andre pecah saat itu juga.
Maae Lilis menatap sebal pada suaminya dan memutar bola matanya malas. "Pencemaran nama baik!" desisnya.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Rumanah menarik tangan suaminya dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya. Senyuman bahagianya tak henti-hentinya mengembang dari bibirnya.
"Ayo masuk, hubby. Ini kamarku, eh, kamar kita. He he he," ucap Rumanah yang tampak semangat dan antusias.
Andre tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. "Wah, kamarmu tidak sebesar kamarku, darling. Tapi, suasananya strategis sekali, ya. Sepertinya sangat cocok untuk ... ehem-ehem," ucapnya seraya memepet istrinya dan meraba perut ratanya.
Rumanah tersenyum kecil dan bergidik geli. "Pikirkan luka di wajahmu itu, sayang. Untuk malam ini mungkin kau tidak akan bisa menziarahi tubuhku ini. He he he," balasnya seraya menjauhkan dirinya dari suaminya itu.
Andre tersenyum gemas dan melangkahkan kakinya mendekati istrinya. "Luka ini sudah tidak terasa sakit lagi, darling. Kau tahu? Aku sangat bahagia karena kedua orang tuamu sudah merestui kita." Ucapnya seraya menangkap tubuh istrinya lalu mendekapnya dengan erat.
Rumanah tersenyum. Tentu saja ia pun sangat bahagia sekali. "Aku juga sangat bahagia dan tidak menyangka, hubby. Akhirnya Phoo mengizinkan aku untuk tetap hidup bersamamu. Kupikir, setelah ini Tuhan akan memisahkan kita. Ternyata tidak!" balasnya.
"Ya, karena aku berusaha keras membujuk dan berjuang untuk mendapatkan dirimu, darling." Ucap Andre seraya mengecup manis ubun-ubun istrinya.
Rumanah memejamkan matanya sejenak. Sementara Andre tampak menghirup aroma tubuh istrinya.
"Humm, kau sangat harum sekali, darling. Aku jadi insecure ni. He he he," ucap Andre disertai cengengesnya.
Rumanah terkekeh kecil dan mencubit gemas pinggang suaminya. "Sana mandi dulu! Untung saja istrimu ini tidak fanatik." ujarnya seraya melepaskan dirinya.
Andre tersenyum. "Baiklah, tapi ... habis mandi...," ucapnya seraya menangkap tangan istrinya lalu mengecupnya lembut. "Aku ingin merasakan bercinta di dalam kamar ini, hmmmm." Lanjutnya dengan tatapan mesumnya.
Rumanah tersenyum kecil dan memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Sudah pernah melakukannya beberapa kali pun, ketika sang suami mengatakan hal itu, Rumanah selalu tersipu malu.
"Ya sudah, kalau gitu, aku mandi dulu, ya. Dan kau, silakan tunggu di atas ranjang ini." Ucap Andre yang kemudian mengedipkan sebelah matanya genit.
"Ish! Menyebalkan! Sudah sana masuk kamar mandi!" desis Rumanah seraya mendorong tubuh suaminya dan mengusirnya agar cepat mandi.
Andre terkekeh dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Hubby! Jangan lupa luka di wajahmu. Hati-hati nanti terkena air. Pelan-pelan saja, ya!" teriak Rumanah dari luar.
"Okeee!" balas Andre singkat.
Rumanah tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya menuju ranjang. Ia benar-benar tidak menyangka jika sang suami akan masuk ke dalam kamarnya itu. Ini, seperti mimpi baginya.
Beberapa menit kemudian...
"Darling, darling, kau di mana, darling?" panggil Andre saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Manik matanya tidak mendapati istrinya di sana.
Pria tampan itu tampak celingukan ke sana kemari mencari sang istri yang tidak ada di hadapan matanya.
"Hng, ke mana perginya Annabelle." Gumamnya dalam hati.
"Hubby!" terdengar suara Rumanah memanggil suaminya.
Sontak saja Andre menolehkan wajahnya pada asal datangnya suara. Dan, pada saat itu manik matanya tampak membulat penuh dan begitu tercengang melihat istrinya.
"Wooaaaah! Darling, kau cantik sekali," seru Andre memuji istrinya. Ia tampak terpesona melihat sang istri mengenakan pakaian adat Thailand yang sangat seksi.
Rumanah tersenyum dan melangkahkan kakinya pelan dan sangat anggun.
"Apa yang kau kenakan, darling?" tanya Andre seraya mengusap lengan istrinya dan menyapu seluruh tubuh istrinya dengan tatapannya.
"Ini, pakaian adat Thailand, hubby." Jawab Rumanah seraya tersenyum manis.
"Cantik sekali," ucap Andre seraya membelai lembut wajah cantik istrinya.
Rumanah tersenyum dan menatap lembut manik mata suaminya. Tangannya mengusap lembut dada bidang suaminya.
"I want you!" bisik Andre pada telinga istrinya.
Rumanah tersenyum. "Me too." Ucapnya seraya menangkupkan tangannya pada wajah tampan suaminya.
"Manis," bisik Andre saat ia melepaskan bibirnya.
Rumanah tersenyum kecil tersipu malu. Jantungnya begitu berdetak kencang tak karuan. Ia sangat tidak menyangka akan bercinta di dalam kamarnya itu.
"Kau sangat menggemaskan, darling," ucap Andre seraya melepaskan pakaian yang menempel di tubuh istrinya. Sementara Rumanah tampak membelai lembut dada bidang suaminya.
Malam yang awalnya tegang, kini terasa indah bagi Rumanah dan Andre. Kedua pasangan suami istri itu pun melakukan olahraga di atas ranjang dengan penuh semangat dan gairah yang tinggi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...